NovelToon NovelToon
Duke, Tolong Minggir

Duke, Tolong Minggir

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Mengubah Takdir / Menjadi NPC / CEO
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Leel K

Masuk ke dalam dunia novel seharusnya menjadi impian setiap pembaca. Kecuali jika novel itu adalah "Tears of the Caged Bird"—sebuah kisah dark romance di mana pemeran utamanya adalah Duke sosiopat yang hobi meneror gadis yatim piatu.

Sialnya, itulah nasib Vivienne.

Terbangun sebagai sepupu miskin dari tunangan sang Duke, Vivienne seharusnya hanya menjadi figuran yang diam dan mati muda. Tapi, melihat Freya Lark (si female lead) terus-terusan menangis dan Damian von Hart (si male lead) terus-terusan bertingkah seperti penguntit elit, kesabaran Vivienne habis.

Persetan dengan alur asli!

Jika penulis aslinya ingin drama, Vivienne akan memberinya komedi.
Jika Duke ingin bermain dark romance, Vivienne akan menyiramnya dengan air pel.

"Maaf, Duke. Anda menghalangi jalan saya menuju kebebasan finansial. Tolong minggir, atau saya tagih biaya parkir."

Selamat datang di Hartfield, di mana romansa sudah mati, dan digantikan oleh chaos yang sangat menguntungkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leel K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ceramah Motivasi (Mental Breakdown)

Kami duduk di bangku kayu panjang di bawah pohon ek, cukup jauh dari pondok agar Freya tidak bisa mendengar. Oliver duduk dengan tegak, tangannya terlipat sopan di pangkuan, tas dokternya diletakkan rapi di samping.

Dia menatapku dengan ekspresi profesional yang sedikit cemas. "Jadi, Nona Vivienne, bagian mana yang sakit? Kepala? Dada?"

"Hati saya, Dok. Hati saya sakit melihat kebodohan," jawabku datar.

Oliver mengerjap bingung. "Maaf?"

Aku memutar tubuhku menghadapnya sepenuhnya, menatap matanya tajam-tajam. "Dok, kita skip basa-basi medisnya. Saya nggak sakit fisik. Saya cuma mau nanya satu hal, dan saya butuh jawaban jujur. Jawaban laki-laki, bukan jawaban politis."

Oliver menelan ludah, jakunnya bergerak naik turun. "Silakan, Nona."

"Lo suka sama Freya, kan?"

Oliver mengerjap, alisnya bertaut bingung. "Maaf? 'Lo'?"

"Ah, elah." Aku memutar bola mata, lupa kalau lagi ngomong sama orang zaman baheula. "Maksud saya: Anda. Kamu. Kau. Terserah! Intinya: Kamu suka sama Freya, kan?"

Pertanyaan revisi itu meluncur seperti peluru. Oliver tersentak mundur, wajahnya langsung merah padam sampai ke telinga. Matanya panik melirik ke arah pondok.

"S-saya... Freya adalah teman masa kecil saya... kami tumbuh bersama..."

"Stop," potongku sambil mengangkat tangan. "Jangan kasih saya naskah friendzone. Saya punya mata, Dok. Cara lo—maksudku, cara kamu natap dia pas lagi cek suhu, cara suaramu melembut pas ngomong sama dia... itu bukan tatapan abang ke adek. Itu tatapan cowok yang lagi jatuh cinta setengah mati tapi nggak berani ngomong. Bener, kan?"

Oliver menunduk, menatap sepatunya yang sedikit berlumpur. Bahunya merosot. Pertahanannya hancur dalam hitungan detik.

"Apakah... apakah terlihat sejelas itu?" tanyanya lirih.

"Jelas banget. Kayak neon box alfamart di tengah hutan," jawabku.

"Neon... apa?" tanya Oliver, keningnya berkerut dalam. "Alfa... mart?"

"Maksud saya... kayak lampu suar mercusuar yang terang benderang!" ralatku cepat, menyumpahi mulutku yang terlalu modern. "Abaikan istilah kampung saya. Nah, sekarang pertanyaan kedua: Kenapa kamu diem aja?"

Oliver menghela napas panjang, ekspresinya berubah sendu. "Nona, keadaannya tidak sesederhana itu. Saya hanya anak dokter desa. Freya... dia juga memiliki kehidupannya sendiri. Dan yang terpenting, saya harus menyelesaikan studi saya, membangun karir, baru saya pantas..."

"Alasan," potongku lagi, kali ini lebih tajam. "Itu semua alasan klise, Dok. 'Nunggu mapan', 'nunggu waktu yang tepat'. Tau nggak apa yang terjadi pas kamu sibuk nunggu?"

Aku mendekatkan wajahku.

"Serigala masuk kandang."

Mata hijau Oliver melebar. Dia tahu siapa yang kumaksud.

"Duke Hart," bisik Oliver, suaranya mengandung campuran rasa takut dan benci.

"Bingo. Kamu tau Damian tertarik sama Freya. Satu desa juga kayaknya udah mulai curiga. Dan kamu, sebagai orang yang katanya sayang sama Freya, cuma bisa bilang 'hati-hati ya'?" Aku menggelengkan kepala dramatis. "Itu bukan ngelindungin, Oliver. Itu pasrah."

Oliver meremas tangannya sendiri. Urat-urat di punggung tangannya menonjol. "Apa yang bisa saya lakukan, Nona? Dia seorang Duke. Dia penguasa tanah ini. Dia bisa menghancurkan karir ayah saya, mengusir kami dari desa, atau bahkan lebih buruk, hanya dengan menjentikkan jari. Siapa saya jika dibandingkan dengan dia?"

"Nah, ini dia mental bloknya," kataku sambil menunjuk dadanya. "Kamu kalah sebelum perang karena kamu nganggep Damian itu Dewa. Kamu takut sama gelarnya. Kamu takut sama kekuasaannya."

"Itu realita, Nona! Di kekaisaran ini, bangsawan adalah hukum!" seru Oliver, sedikit emosi. "Saya tidak bisa melawannya!"

"Siapa bilang nggak bisa?" tantangku. "Damian itu cuma manusia, Oliver. Dia makan nasi (atau roti), dia tidur, dia buang air. Kalau dicubit, kulitnya biru. Kalau dipotong, dia berdarah."

Aku tersenyum miring.

"Dan kalau disiram air pel, dia basah kuyup kayak kucing kecebur got."

Oliver menatapku bingung. "Apa?"

"Lupakan. Intinya, dia bukan Dewa. Dia punya kelemahan. Kelemahannya adalah dia arogan. Dia pikir dia bisa ambil apa aja yang dia mau tanpa konsekuensi. Dan kamu? Kelemahanmu adalah kamu terlalu baik. Kamu terlalu... lembek."

Aku berdiri, mulai mondar-mandir di depan Oliver seperti sersan pelatih militer.

"Oliver, dengerin gue—eh, dengerin saya baik-baik. Cewek itu butuh kepastian. Freya butuh seseorang yang bisa berdiri di depan dia, bukan di sampingnya sambil gemeteran. Kalau kamu beneran mau sama dia, kamu harus berani ambil risiko."

"Tapi resikonya..."

"Resikonya apa? Mati? Diusir?" Aku berhenti dan menatapnya tajam. "Resiko terbesar itu bukan diusir dari Hartfield, Oliver. Resiko terbesar adalah kamu kehilangan Freya selamanya. Kamu bakal liat dia nikah sama orang lain atau lebih parah, jadi simpanan paksa Duke, dan seumur hidup kamu bakal nyesel sambil mikir 'seandainya dulu aku lebih berani'."

Kata-kata itu menancap telak. Aku bisa melihatnya di mata Oliver. Pupilnya bergetar. Wajahnya pucat. Dia membayangkan skenario itu, dimana Freya hancur di tangan Damian—dan itu menghancurkannya.

Oliver menundukkan kepalanya dalam-dalam, membenamkan wajah di kedua tangannya. Napasnya terdengar berat dan putus-putus.

"Saya... saya pengecut," suaranya pecah. "Selama ini saya berpikir saya sabar. Saya berpikir saya menghormati Freya dengan tidak memburunya. Tapi sebenarnya... saya hanya takut. Saya takut menghadapi Duke. Saya menggunakan 'kesopanan' sebagai tameng ketakutan saya."

"Bagus," kataku pelan. "Pengakuan dosa diterima. Langkah pertama penyembuhan adalah mengakui kalau kamu sakit."

Aku duduk lagi di sebelahnya, kali ini menepuk bahunya dengan sedikit lebih lembut.

"Saya nggak nyuruh kamu ngajak Duke duel pedang besok pagi, Oliver. Itu bunuh diri konyol. Saya nyuruh kamu buat... hadir. Tunjukin ke Freya, dan ke Damian, kalau Freya itu nggak sendirian. Kalau ada yang jagain dia. Kalau Damian mau macem-macem, dia harus ngelangkahin mayat kamu dulu."

Oliver mengangkat wajahnya. Matanya basah, tapi ada api baru yang menyala di sana. Api kecil yang masih rapuh, tapi sudah ada.

"Saya mencintainya," kata Oliver, kali ini suaranya tegas. "Saya ingin menikahinya. Saya ingin membawanya pergi dari tempat terkutuk ini."

"Nah, itu baru laki!" seruku. "Jadi, kapan kamu mau ngelamar? Nunggu dia lulus S3?"

"Saya... saya berencana melamarnya setelah saya resmi menjadi dokter. Tahun depan."

"Kelamaan!" potongku. "Tahun depan Freya udah keburu dimakan serigala! Lamar sekarang! Ikat dia! Kasih cincin, kasih janji, kasih tanda kepemilikan—dalam artian romantis ya, bukan posesif kayak Damian."

"Sekarang?" Oliver terlihat panik lagi.

"Iya, sekarang! Atau secepatnya! Bikin status dia jelas: 'Tunangan Dokter Oliver'. Dengan begitu, kalau Damian mau ganggu, dia ganggu 'calon istri orang', bukan 'anak yatim piatu tanpa perlindungan'. Secara sosial, itu ngasih kamu leverage."

Oliver membuka mulutnya, siap untuk menyetujui, tapi aku mengangkat tangan, menghentikannya.

"Tapi tunggu," kataku, nadaku berubah serius. "Ada satu hal lagi yang lebih bahaya dari Duke."

Oliver menatapku bingung. "Lebih bahaya? Apa itu?"

"Ibumu," jawabku singkat.

Wajah Oliver yang tadi mulai bersemangat, langsung memucat.

"Nyonya Sterling," lanjutku, "Saya denger-denger dia punya standar menantu yang... tinggi. Dia nggak suka Freya, kan? Jujur saja, kamu juga pasti tau kalau ibumu nganggep Freya nggak selevel sama keluarga dokter terhormat kalian?"

Oliver menelan ludah susah payah. "Ibu... memang agak keras soal itu. Dia ingin saya menikah dengan anak rekan sejawatnya atau putri pedagang kaya."

"Agak keras? Oliver, di novel—maksud saya, di penglihatan saya, ibumu itu tipe mertua yang bisa bikin menantu kena serangan jantung. Dia bakal nolak Freya mentah-mentah. Dia bakal bikin Freya nangis darah karena merasa nggak pantes buat kamu."

Aku mencondongkan tubuh ke depan, menatap mata Oliver dalam-dalam.

"Jadi sebelum kamu lari ke pondok buat ngelamar Freya, tanya dulu sama dirimu sendiri: Kamu berani nggak lawan ibumu? Kamu siap nggak pasang badan kalau ibumu ngehina Freya di depan umum? Atau kamu bakal diem aja karena 'menghormati orang tua'?"

Oliver terdiam. Ini adalah ujian mental kedua. Melawan Duke itu satu hal, tapi melawan ibu sendiri? Itu level kesulitan Nightmare.

"Kalau kamu ngelamar Freya tapi ujung-ujungnya kamu ngebiarin dia di-bully sama ibumu, mending jangan, Oliver," kataku tajam. "Itu cuma mindahin dia dari mulut singa ke mulut buaya. Sakitnya sama aja."

Oliver meremas lututnya sendiri. Dia tampak bergulat dengan batinnya. Bayangan wajah ibunya yang galak beradu dengan bayangan wajah Freya yang menangis.

"Saya..." Oliver menarik napas panjang, lalu menghembuskannya kasar. Matanya menyala kembali, kali ini lebih mantap. "Saya akan mengurus Ibu. Saya yang akan menikah, bukan Ibu. Saya yang akan hidup dengan Freya."

"Yakin?"

"Yakin," jawab Oliver tegas. "Mungkin... mungkin saya tidak akan memberitahu Ibu dulu. Kami bisa bertunangan secara rahasia. Hanya di antara kami dan Paman Barney. Setidaknya, sampai saya lulus dan punya penghasilan sendiri. Dengan begitu, Ibu tidak bisa mengancam saya dengan uang kuliah."

Aku tersenyum lebar. Not bad. Solusi pragmatis.

"Pinter," pujiku. "Tunangan rahasia. Itu ngasih Freya kepastian, tapi ngehindarin drama mertua untuk sementara waktu. Win-win solution."

Oliver berdiri. Dia merapikan jasnya, mengencangkan tali tas dokternya. Posturnya berubah. Bahunya lebih tegap. "Terima kasih atas... konsultasinya. Saya rasa resep yang Anda berikan lebih manjur daripada obat apa pun di tas saya."

"Sama-sama. Tagihannya nyusul ya."

Oliver tersenyum kecil, senyum yang lebih percaya diri, lalu membungkuk hormat padaku. Dia berbalik menatap pondok Paman Barney dengan tatapan penuh tekad.

"Saya tidak akan membiarkan dia diambil," gumam Oliver pada dirinya sendiri, tapi aku mendengarnya. "Bahkan oleh Duke sekalipun."

Aku bersandar di bangku taman, menghela napas lega.

Satu lagi karakter berhasil di-reboot.

Golden Retriever sudah berevolusi jadi German Shepherd. Sekarang tinggal kita lihat, apakah dia berani menggigit tuannya.

1
dunia isekai
lucuuu
dunia isekai
halo kak! ceritanya lucu banget! Mau saling mampir like dan komen di cerita masing masing? Mampir di ceritaku The Legend Of Roseanne ya!
takeru lukcy
lanjut thorrrrrr kl gak lanjut aku samper nihh kerumah🤭🤭bagusss 👍
takeru lukcy
baguss cokk bacaa ajaa dehh dijamin gak bakal nyesel
takeru lukcy
thorrr lanjutin gak bagus lohhh😍😍gak bosen aku bacanyaaa
Leel K: aaaa makasih bangetttt 😆😍
total 1 replies
takeru lukcy
lanjut thor
takeru lukcy
anjayy otw bacaa sampe habis nihh😍
takeru lukcy
thorrr bagusss lanjutinn ahh 😍😍😍
Puch🍒❄
astaga akhirnya aku mendapatkan novel yg kusukaaaaaaaaaaaaa yg konyol2 gini nih yg kusuka tp sisi romantisnya jg harus ada pokoknya seru deh bikin gk bosen😌
takeru lukcy: pliss ini novel ke4 yang gue suka suka bangett😍😍
total 1 replies
Puch🍒❄
anjg lucu lg bangke😂🤣😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!