Saat pertarungannya melawan Hukum Langit mencapai puncak, Lin Xinyao seorang taois berbakat yang menentang takdir gugur dalam pertempuran. Namun sebelum jiwanya lenyap, sebuah cahaya putih menariknya ke dimensi lain, mempertemukannya dengan seorang gadis bernama Yao Yao yang memiliki wajah identik dengannya. Yao Yao, yang lemah dan penuh luka batin, menyerahkan tubuhnya kepada Xinyao dan memintanya untuk hidup menggantikan dirinya.
Kini, Lin Xinyao terbangun di kehidupan baru yang bukan miliknya, membawa sumpah untuk suatu hari kembali menantang Hukum Langit sekaligus mengungkap rahasia kelam di balik tubuh yang kini ia huni.
---
CATATAN PENULIS
Karya ini adalah murni hasil khayalan dan imajinasi penulis. Segala nama, karakter, tempat, dan peristiwa tidak memiliki hubungan dengan dunia nyata. Jika ada kesamaan, itu semata-mata kebetulan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blumoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ga niat jadi penjahat mereka
Tubuh Xinyao sedikit terhuyung saat lengannya ditarik kasar. Tarikan itu cukup kuat, namun bukan cukup untuk membuatnya panik—hanya membuat langkahnya mundur setengah tapak.
“Lepas.”
Suaranya tenang, ringan, nyaris terdengar malas.
Ia menarik tangannya kembali dengan kasar, lalu mendongak. Tatapan matanya tajam, bening, penuh keberanian yang sama sekali tak menyisakan rasa gentar. Di hadapannya berdiri tiga pria asing—postur besar, wajah kasar, aroma kesombongan menempel di tubuh mereka.
“Kau—”
Xinyao menatap mereka satu per satu, lalu menghela napas kecil, seolah menahan tawa.
“Kalian ngapain sih tarik-tarik aku?”
Nada bicaranya santai, bahkan sedikit ceria.
“Kita juga nggak kenal. Mau kenalan? Maaf ya… kita nggak cocok.”
Ia mengangkat telunjuknya, menggerakkannya ke kanan dan ke kiri dengan ekspresi polos yang menyebalkan.
“Kalian bertiga tuh bau duitnya… jauh banget.”
Ucapan itu jatuh seperti batu ke air tenang.
Ketiga pria itu spontan membeku.
“Apa?!”
Pria dengan perut menjulang ke depan melangkah maju, wajahnya merah oleh amarah.
“Kita bertiga itu crazy rich! Per hari aja penghasilan kami bisa empat sampai lima ribu yuan!”
Nada suaranya penuh kebanggaan yang dipaksakan.
“Hahahahah!”
Xinyao tertawa terbahak-bahak, tanpa menutup mulut, tanpa rasa sungkan. Tawanya jernih, cerah, dan benar-benar menghina.
“Kacang,” katanya ringan.
“Kalau cuma segitu… bayaran aku sekali panggil bisa seratus juta yuan.”
Ia menjulurkan lidahnya sedikit.
“BLEE~”
“Penghasilan kalian tuh… nggak ada apa-apanya.”
Seketika lorong itu sunyi.
Ketiga pria itu terpaku, seperti harga diri mereka baru saja diinjak tanpa ampun.
Kalimat berikutnya membuat udara berubah dingin.
“Kalau begitu,” ujar pria bertubuh sedang—yang ternyata lebih pendek dari Xinyao sejengkal,
“kamu mangsa empuk buat kami.”
Xinyao menyeringai.
“Barusan kamu bilang apa?”
Ia melangkah maju satu langkah.
“Mangsa empuk? Kalian yakin?”
“Jangan mendekat!”
Pria ketiga mengeluarkan pisau, ujungnya berkilat di bawah cahaya matahari.
“Serahkan harta kamu kalau nggak mau mati!”
“Hahahah!”
Xinyao tertawa lagi—kali ini lebih keras.
“Kalian ini…”
Ia memiringkan kepala, mata berbinar penuh rasa ingin tahu.
“Maksudnya mau ngerampok, ya?”
Ia berdecak dua kali.
“CK. CK.”
Sambil menggeleng pelan.
“Ribet amat.”
“Hei, gadis kecil!”
Pria gendut itu tiba-tiba mengeluarkan pistol, tangannya gemetar.
“Apa maksud sikapmu itu?!”
Xinyao mendesah, benar-benar terlihat kesal.
“Kalian ini kebanyakan ngomong. Buang-buang waktu aku aja.”
WUSSS—
Angin dingin tiba-tiba menyapu lorong sempit itu. Rambut Xinyao berkibar pelan, matanya tetap cerah—tak ada setitik pun rasa takut.
Ia mengeluarkan tiga jimat kecil dari balik lengan bajunya.
“Kalian…”
Langkahnya maju satu tapak lagi.
Sebaliknya, ketiga pria itu justru mundur.
“Bos… kenapa kita mundur?” bisik pria pendek itu panik.
“Aku… aku nggak tahu,” jawab si gendut, keringat dingin mengalir di pelipisnya.
“Tapi firasatku bilang… wanita ini berbahaya.”
WUSSS—
Angin itu berputar, membawa ketiga jimat terbang dan menempel tepat di tengkuk mereka.
CLACK!
Pistol jatuh.
Pisau terlepas.
Tubuh ketiganya mendadak kaku, lalu bergerak tak terkendali.
BUGH!
BUGH!
“AMPUN, BOS!”
“Jangan pukul aku!”
BUGH!
BUGH!
Xinyao menepuk-nepuk tangannya dengan santai.
“Selamat menikmati lima menit ke depan, ya,” katanya ceria.
“Tenang aja, habis itu berhenti sendiri.”
Ia berbalik pergi meninggalkan lorong itu.
“Apa?!” seru ketiganya bersamaan.
BUGH!
BUGH!
Pukulan kembali terdengar, beruntun, hingga lima menit penuh.
Xinyao melangkah keluar dari lorong, menepuk kedua tangannya ringan.
“Huh…”
Ia mendengus kecil.
“Sebenernya mereka niat jadi penjahat nggak sih?” gumamnya kesal.
“Buang-buang waktu aja.”
Namun tak lama kemudian, wajahnya kembali cerah. Matanya berbinar menatap jalanan kota modern di depannya—gedung tinggi, lampu lalu lintas, suara kehidupan.
“Dunia ini seru juga,” katanya sambil tersenyum lebar.
Langkahnya ringan.
Tak ada rasa takut.
Tak ada penyesalan.
Hanya kebebasan.
Setelah meninggalkan lorong sempit itu, langkah Xinyao tetap ringan—bahkan semakin ringan. Tidak ada degup jantung berlebihan, tidak ada napas terengah. Bagi gadis itu, kejadian barusan tak lebih dari gangguan kecil sebelum makan.
Perutnya justru berbunyi pelan.
“Lapar,” gumamnya sambil menepuk perut sendiri.
Tak jauh dari sana, deretan pedagang kaki lima mulai ramai. Asap tipis mengepul, aroma minyak panas bercampur rempah menyebar di udara, memancing senyum Xinyao tanpa sadar.
“Wah… ini baru surga.”
Ia berhenti di depan gerobak chuan’r—sate daging kambing yang ditaburi jintan dan cabai.
“Shifu, sepuluh tusuk chuan’r!” serunya ceria.
Belum selesai, ia sudah melirik ke gerobak sebelah.
“Tambah jianbing guozi satu! Banyakin daun bawang ya!”
Tangannya cekatan menerima tusuk sate yang masih mengepul. Ia meniup pelan ujungnya, lalu menggigit tanpa ragu.
“Hmm—!”
Matanya langsung menyipit bahagia.
“Pedasnya pas, dagingnya empuk, jintannya wangi,” komentarnya serius, seolah juri kuliner.
Ia berdiri santai di pinggir jalan, satu tangan memegang sate, tangan lain menggenggam tahu bau (chòu dòufu) yang baru saja dibelinya.
Orang-orang sekitar melirik heran—aroma tajam tahu itu membuat sebagian mundur selangkah, tapi Xinyao justru tersenyum puas.
“Jangan hina penampilannya,” katanya sambil mengunyah.
“Rasanya lebih setia dari mantan.”
Ia terkekeh sendiri.
Setelah itu, segelas milk tea gula merah dengan boba hitam besar berpindah ke tangannya. Sedotan ditusukkan—slurp.
“Ahh… hidup itu sederhana,” gumamnya.
“Makan enak, perut kenyang, dunia damai.”
Di kejauhan, samar-samar masih terdengar suara ribut—tiga pria yang entah kenapa saling memukul tanpa henti. Namun Xinyao hanya menoleh sekilas.
“Lima menit itu lama ya,” katanya ringan, lalu menggigit sate lagi.
Tak ada rasa bersalah.
Tak ada rasa takut.
Ia bahkan duduk di bangku kecil plastik, menyilangkan kaki dengan santai, menikmati tanghulu—buah hawthorn berlapis gula yang berkilau di bawah matahari.
“Kriuk,” bunyi lapisan gulanya.
Xinyao tersenyum puas.
“Reinkarnasi ke dunia modern ini beneran nggak rugi,” katanya pelan.
“Ada sihir, ada drama… dan yang paling penting—”
Ia mengangkat tusuk sate terakhir.
“Jajanan nya nggak ada lawan.”
Langit siang cerah.
Asap makanan mengepul.
Dan Xinyao—tetap ceria, tetap tak tersentuh oleh rasa takut.
📖 Bersambung…
_____________🥂
Jika hari ini kamu merasa lelah, terpinggirkan, atau pernah disakiti ingatlah…
🌱 masa lalu tidak menentukan siapa dirimu hari ini.
Selama kamu masih berani melangkah, dunia selalu punya kesempatan kedua.
Semoga cerita ini bisa menjadi teman kecil di sela hari-harimu—menghibur, menguatkan, dan membuatmu tersenyum meski sebentar.
💖 Dukung Cerita Ini, ya!
Kalau kamu menikmati kisah Xinyao:
🌸 Like untuk mendukung lanjutan ceritanya
💬 Komentar ceritakan bagian favoritmu atau teori versimu
⭐ Subscribe / Follow supaya nggak ketinggalan episode berikutnya
🔁 Share ke temanmu yang suka drama China, reinkarnasi, dan kisah balas nasib
Setiap dukunganmu adalah alasan Xinyao untuk terus melangkah—dan alasan penulis untuk terus menulis 🤍
restu mendarat dengan mulus...
tapi yao2 gk gmpang ditaklukin 😜
,, saatny beraksi lagi xinyaoo... sembuhin nenek biar dpt restu camer~
bakal ketahuan gk nih masa depan pasangannya siapa 🙃🙃
selamany aja deh kek gitu...