Follow ig author @tulisan_bee 😚
Menggantikan posisi anak majikannya untuk menikah dengan seorang lelaki bangsawan, sungguh tidak pernah terlintas dalam benak Luana Casavia.
Karena lelaki itu menatapnya dengan sorot mata dingin, bahkan ketika ia memasangkan cincin ke jari manis Luana.
My Fake Bride: Jika aku ini palsu, akankah kau bisa mencintaiku meski sedikit saja?
Terima kasih sudah mampir dan selamat jatuh cinta~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NadiraBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 16 - Tentang Pedro Viscout
"Kepulanganku ternyata membawa sesuatu yang aku tunggu. Dadaku berdesir, dan bahkan aku sudah menghapal wangi rambutmu kini." ~Pedro Viscout.
.
.
.
[Seminggu yang lalu di Jakarta, Indonesia]
Ruangan besar itu tampak hening. Ada seorang pria yang duduk di atas kursi single berukuran besar, yang dilapisi dengan material kulit terbaik berwarna coklat muda.
Di depannya terletak satu meja kaca, yang di atasnya menampung beberapa kaleng bir dan aneka minuman dingin.
Lelaki itu melipat satu kaki di atas kaki yang lain, menatap bergantian ke arah sofa di sisi kanan dan kiri yang masing-masing diduduki oleh satu lelaki yang lain.
"Kau sudah memikirkannya matang-matang, Pedro?" Suara Kaisar Lefano--pemimpin salah satu organisasi yang bernama The Reds itu, berhasil memecah keheningan.
Dua lelaki yang berada di depannya refleks sama-sama menolehkan kepala, saat satu diantaranya adalah seorang petarung yang bernama Pedro Viscout.
Lelaki muda dengan rambut hitam legam itu menganggukkan kepala.
"Keluargaku sudah mengetahui jejakku di sini, King," jawabnya tegas. "Penobatanku dua minggu lagi, dan aku benar-benar harus kembali."
Lelaki yang juga dijuluki The King di organisasi mereka itu hanya bisa mengembuskan napas pelan. Kepergian Pedro meninggalkan Indonesia akan membuatnya kekurangan personil, saat Pedro kini tengah dalam kondisi yang begitu fit untuk menjadi garda terdepan organisasi mereka.
Haning dua detik di antara ketiganya, hingga lelaki satu lagi yang mendapat julukan Sang Jaguar terdengar berdehem cukup keras. Lelaki yang memiliki tato di sepanjang kedua lengannya itu membetulkan posisi duduk, melempar pandangan lurus ke arah Pedro yang berada tepat di depannya.
"Jadi, kau akan kembali ke Jerman?" tanyanya memastikan.
Mendapati anggukan dari Pedro Viscout sebagai jawaban, lelaki itu menaikkan kedua alisnya dengan tidak rela.
"Katakan padaku," pinta Roman--orang kedua terpenting di organisasi The Reds itu. "Kau akan melepaskan senjata dan hidup sebagai bangsawan, begitu maksudmu?"
Pedro menyampirkan satu senyum tipis. Kaisar dan Roman, dua petinggi di organisasi yang menempanya sejak setahun yang lalu itu, tampak benar-benar bingung akan keputusan yang Pedro ucapkan dua hari yang lalu.
Tiba-tiba saja Pedro, salah satu petarung paling handal di The Reds, mengungkapkan jati dirinya dan berkata dia harus pergi dari organisasi.
"Aku sesungguhnya tidak ingin kembali, Jaguar," Pedro mulai bersuara. "Aku merasa hidup bersama kalian di sini, dan sangat bersyukur kalian menerimaku untuk menjadi bagian dari organisasi ini sejak setahun yang lalu. Tetapi ternyata pelarianku ini tidak bisa lagi disembunyikan, karena keluarga besarku telah berhasil mengendus dan memaksaku untuk pulang."
Terlihat Kaisar menyugar rambutnya dengan gerakan pelan.
"Aku benar-benar terkejut," ujar pemimpin organisasi itu. "Kau sungguh baik dalam menyembunyikan identitasmu, bahkan kau rela hidup keras seperti ini dan meninggalkan istanamu di Jerman sana. Sebenarnya apa yang kau pikirkan saat kau melarikan diri?"
Pedro semakin melebarkan senyuman. Pembicaraan ini sepertinya tidak lagi terkesan formal, karena kini Roman sudah bergerak untuk membuka satu kaleng bir pertamanya. Lelaki itu kembali bersandar ke kursi, sepertinya siap mendengarkan penuturan dan penjelasan dari Pedro.
"Aku menghindari perjodohan," jawab Pedro jujur. Tidak ada lagi alasannya untuk menyembunyikan identitas. Karena kini dia bukan lagi seorang petarung The Reds, melainkan adalah putra terakhir dari keluarga Viscout yang bertempat tinggal di Jerman.
"Masih terlalu kental tradisi perjodohan di antara para bangsawan seperti kami," lanjut Pedro lagi, tetapi tidak terdengar seperti dia sedang menyombongkan diri. "Dan masih terlalu muda untukku hidup dalam ikatan pernikahan, dengan wanita yang bahkan tidak menggetarkan hatiku sama sekali."
Kaisar dan Roman bertukar pandang. Sedikit terkejut, sebab alasan yang diungkapkan Pedro sungguh tidak pernah disangka oleh keduanya. Yang teringat dari Pedro di benak Kaisar dan Roman adalah, betapa lelaki muda itu punya tubuh yang bagus dan kekuatan di atas rata-rata saat pertama kali meminta bergabung di organisasi mereka.
Pedro juga merupakan salah satu petarung yang lulus dengan waktu cukup cepat, hingga menjadi beberapa petarung paling diandalkan di The Reds.
Kini mendengar bagaimana Pedro berbicara tentang wanita dan cinta, rasanya sedikit aneh saja.
Kaisar kembali menarik napas dalam-dalam. Bertukar pandang beberapa detik dengan Roman, sebelum kemudian lelaki itu juga ikut mengambil kaleng bir pertamanya.
"Aku tidak bisa memintamu untuk tidak pergi," ujar Kaisar kemudian. "Kami menghargai keputusanmu untuk kembali, tetapi ingatlah bahwa organisasi akan selalu menerimamu saat kau datang kapan saja."
Senyuman yang tersampir di wajah tampan Pedro semakin meninggi, seiring dengan kelegaan hatinya setelah mendapatkan izin dari orang yang paling dia hormati di organisasi mereka.
"Terima kasih atas semua bantuan dan bimbinganmu, King," ujar Pedro tulus. "Kalian benar-benar menempaku menjadi seseorang yang baru, dan aku yakin kemampuanku ini tidak akan hilang meski aku tidak lagi bersama kalian."
Roman menganggukkan kepala, sangat setuju dengan apa yang dia dengar baru saja.
"Berada di belakang timmu menjadi kebanggaan terbesar untukku, Jaguar," sambung Pedro lagi. "Semoga kehidupan pernikahanmu akan senantiasa bahagia, dan datanglah ke Jerman kapan pun kalian mau. Aku akan berada di sana, untuk memberikan sambutan yang paling meriah."
Kaisar dan Roman menerbitkan satu senyuman, meski masih ada perasaan mengganjal yang tersisa di hati keduanya. Melepas seorang petarung handal seperti Pedro tidak pernah mudah, tetapi tidak ada lagi yang bisa diberikan kedua lelaki itu selain dukungan tanpa henti.
"Baiklah kalau begitu," ujar Kaisar berniat menyudahi pembicaraan mereka. "Datanglah kapanpun kau--"
Kalimat lelaki itu terputus begitu saja, ketika tiba-tiba dering ponsel yang berasal dari kantong celana Roman terdengar nyaring sekali.
Roman buru-buru merogoh gawainya, memandang bergantian pada Kaisar dan Pedro yang kompak menunggu dalam hening.
Menatap layar ponselnya beberapa detik, Roman tersenyum sembari meminta izin untuk menjawab teleponnya kini.
"Sebentar," kata lelaki itu. "Orang rumah menelepon."
Kini Kaisar dan Pedro yang saling tatap, sebelum kemudian sudah berfokus pada minuman mereka masing-masing. Memberikan ruang bagi Roman untuk menjawab teleponnya, saat lelaki bertato itu sudah bangkit dari sofa dan menuju ke arah sisi ruangan yang lain.
Setelah beberapa detik tersambung di panggilan telepon, Roman kembali dengan raut wajah yang tampak cemas.
Lelaki itu tidak langsung duduk ke tempatnya tadi, tetapi memilih untuk menghampiri Pedro dan mengulurkan tangan ke arah lelaki itu.
"Semua yang terbaik untukmu, Pedro," ujarnya mendoakan. "Aku sungguh tidak bisa mengantarkanmu ke bandara, tetapi pastikan kau mengaktifkan nomor ponselmu jikalau saja nanti kami akan berlibur ke Jerman sana."
Pedro menyambut uluran tangan Roman dan menjabatnya dengan erat, menerima beberapa kali tepukan di pundaknya dari lelaki yang sudah tampak semakin berisi badannya itu.
"Anytime, Jaguar," jawab Pedro cepat.
Roman melepaskan jabat tangan mereka, sudah lebih dulu berdiri tegak dan menatap ke arah Kaisar kini.
"Kai, aku harus pergi. Istriku kembali mual dan sepertinya aku harus berada di sana seharian ini. Kalau tidak keberatan mengurusi organisasi sendiri?"
Kaisar menganggukkan kepala, berdecak pelan dengan tangan yang memberi tanda agar Roman segera berlalu dari sana.
"Baiklah, Rom. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, kembalilah karena keluarga selalu lebih penting dari segalanya."
Roman mengangguk, memberi salam sebelum kemudian ia sudah berbalik badan dan berlalu dari ruang besar itu.
Meninggalkan Kaisar dan Pedro yang masih berada di sana, saat kini Pedro melirik pada arlojinya untuk memeriksa waktu.
"Penerbanganku juga hampir di depan mata, King," ujar lelaki muda itu.
Kaisar lagi-lagi menarik dan mengembuskan napas pelan, benar-benar harus merelakan Pedro untuk kembali ke Jerman pagi itu juga.
"Baiklah, Petarung," Kaisar bangkit dari tempat duduknya. "Ayo kita berpamitan dengan yang lain, dan akan aku antarkan kau ke bandara."
Pedro memamerkan deretan giginya yang putih bersih, meninggalkan setengah impiannya untuk menjadi petarung handal seperti yang dicita-citakannya sejak dia kecil.
Setengah hati untuk kembali ke kediaman besar keluarganya, tetapi sungguh dia tidak bisa lebih lama meninggalkan tempatnya sebagai seorang bangsawan terpandang di kota itu. Bagaimanapun, dia menyandang nama Viscout di belakang namanya, dan kini saatnya kembali ke kehidupan nyata.
Dan di jamuan makan yang dihadirinya tepat setelah dia mendarat ini, Pedro tidak bisa melepaskan tatapan matanya dari seorang gadis yang memakai gaun brukat berwarna merah muda itu.
Gadis yang tadi sempat berada di dekapannya untuk beberapa detik, tetapi entah mengapa sukses membuat dadanya berdebar begitu saja.
Gadis yang kini berjalan pelan dengan seorang perempuan di sampingnya, menuju ke arah pintu keluar bahkan sebelum jamuan makan malam itu dimulai.
"Aku tidak tahu ternyata gadis yang selama ini aku tunggu berada di sini," gumam Pedro sembari memutar gelasnya yang berisi minuman. "Gadis yang membuatku berdebar tanpa alasan yang jelas, dan sepertinya kepulanganku ini membawa sesuatu yang luar biasa."
Lelaki itu masih mematrikan pandangannya hingga siluet tubuh itu berbelok di salah satu pintu. Pedro sungguh tidak menyadari ada sepasang mata yang lain, yang menyorotinya dengan amat tajam sejak tadi.
Tatapan seorang bangsawan muda yang tidak kalah tampannya, yang juga ternyata sudah menjadi suami sah dari gadis yang ditaksir Pedro baru saja.
Rey Lueic.
.
.
.
~Bersambung~
Hari ini Rey & Luana disimpen dulu ya, kita nostalgia sama tokoh di Cassandra. Ada yang kangen enggak?
Terima kasih semua dan sehat selalu 💕
sekarang tanya pada diri kalian jika ada sosok Pedro versi wanita dan menyukai suami kalian, apakah kalian juga akan kagum wanita lain yang itu
pakai ajala biar tidak jadi wanita jablay yang lebih melebih pria lain dari pada suami sendiri
coba dibalik Thor suami mu nyaman duduk dan ngobrol berduaan dengan wanita lain apakah kau anggap itu hal benar juga
pakai akal sehat biar bisa bedakan mana salah mana benar