Gadis kaya raya yang lugu dan kurang kasih sayang, harus menikah dengan rekan bisnis papanya, dan ternyata usia keduanya begitu jauh berbeda. Pernikahan paksa itu hanya untuk pernikahan Bisnis.
Akankah Gadis itu menemukan cinta sejatinya???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uni Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamu Maukan Memulai Semuanya Dari Awal?
Gea baru sampai dirumah, ia segera mandi dan menyegarkan badannya yang sudah terasa lengket. Setelah itu Gea ke dapur untuk membuat cemilan malam.
"Lagi apa non??"
"Buat cookies bik. Oh iya tuan udah pulang ya? mobilnya udah di depan"
"Udah non barusan. Tapi kelihatannya tuan tadi agak pucat non"
"Yang bener bik??"
"Iyaa"
"Coba aku lihat ke kamarnya ya bik. Tolong tungguin ovennya"
"Iya non"
Gea beranjak menuju kamar Angga.
Tok
Tok
"Om?? Om Angga?"
Tak ada jawaban dari Angga, akhirnya gea memberanikan diri membuka pintu kamar dan begitu terkejutnya Gea saat melihat Angga pingsan di depan kamar mandi.
"Om Angga??"
Gea berlari menghampiri Angga dan menyadarkannya, namun Angga begitu pucat dan masih tak sadarkan diri. Gea berusaha menarik badan angga dan membawanya ke ranjang.
"Huh" Gea membuang nafas kasarnya setelah membawa Angga ke ranjang. Gea menyentuh dahi Angga dan terasa begitu panas.
"Ternyata dia demam"
Gea turun ke bawah dan mengambil kompresan kemudian ia kembali ke kamar Angga. Gea mengopres Angga secara berkala, kemudian bibik membawakan obat penurun panas dan segelas air putih.
"Ini non obatnya"
"Makasih ya bik" Gea mengambil obatnya kemudian bibik kembali turun ke bawah.
"Gimana pun caranya dia harus minum obat ini" Gea menambil sebutir obat parasatamol kemudian ia membuka mulut angga dan memasukkan obat kedalam mulutnya. Dengan cepat gea meminum air putih dan memberikannya kepada Angga untuk mendorong obat itu masuk kedalam. Setelah selesai minum obat, gea mengganti kompressnya kemudian ia menyelimuti Angga. Gea meninggalkan Angga untuk menjalankan sholat maghrib.
.
Gea kembali ke kamar Angga setelah makan malam, ia membawakan makanan untuk Angga dan meletakkan di meja. Gea memeriksa suhu badan Angga yang sudah berangsur normal dengan keringat yang keluar begitu banyak.
"Om,,, bangun om"
Gea membangunkan Angga , Angga perlahan membuka matanya.
"Gee..."
"Iya Om, gimana keadaan om? udah mendingan??"
Angga mengangguk pelan
"Om tadi pingsan di depan kamar mandi, terus pas gea periksa ternyata om demam. Kok bisa sih om??"
"Kecapekan aja kayaknya"
"Ohh gitu, Ya udah makan dulu ya om" Gea mengambil piring kemudian menyuapi Angga.
"Makasih ya ge, udah nolongin aku"
"Iya om sama sama". Gea dan Angga saling menatap, gea pun jadi salah tingkah.
"Emmm Gea ke bawah dulu ya om"
"Disini aja temanin aku". Angga menahan tangan gea dan membuatnya tetap duduk.
"Ge,,,,,"
"Iya Om?"
"Kamu mau gak kita mulai lagi dari Awal?"
Deg!
Deg!
Jantung Gea berpacu cepat, saat mendengar ucapan Angga.
"Maksud Om....."
Angga menggenggam erat tangan gea dan menatapnya dengan lembut
"Kita mulai hubungan kita dari awal, hungungan yang serius, hubungan kekasih, hubungan suami istri"
"Tapi Om, Om angga kan punya kekasih??"
"Ntah sejak kapan aku merasa ingin selalu bersamamu. Setiap kali aku melihatmu bersama pria lain seakan aku tak rela. Kamu mau kan memulai semuanya dari awal??"
"Tapi ini terlalu cepat om buat gea"
"Iya aku tau, tapi apa salahnya kita jalani?
Gea mengangguk tanda setuju....
"Hayy... Namaku Angga Surya Agung" Angga mengukurkan tangannya di depan gea.
"Aku Gea Anastasya Utomo" Gea membalas uluran tangan Angga dan bersalaman.
"Senang berkenalan denganmu. Mulai hari ini jangan panggil aku om ya, panggil kakak aja"
Gea mengangguk kan kepalanya tanda setuju.
"Baiklah, untuk merayakan perkenalan kita, emm bagaimana kalau makan ini kita jalan??"
"Tapi kan om eh kak Angga baru sembuh"
"Udah sehat kok, kan habis di rawat sama dokter Gea. Sekarang kamu siap siap ya".
"Habis isya aja ya?"
"Oke, aku mandi dulu ya"
Gea keluar dari kamar Angga dan bersiap untuk jalan malam ini bersama Angga.
.
Angga mengajak Gea ke pasar malam yang tak jauh dari komplek rumah mereka. Disana begitu ramai pengunjung karena malam ini weekend. Angga menggandeng tangan gea seakan mereka tak ingin berpisah. Mereka pun menncoba berbagai macam permainan, dan Angga berhasil mendapat hadiah boneka teddy bear yang besar.
"Ini untuk gea"
"Makasih ya kak"
"Iya, Kita naik komedi putar yuk??"
"Tapi gea takut kak"
"Tenang aja, kan ada kak Angga" Angga mengajak gea naik komedi putar bersama, setelah beberapa kali putaran roda pun berhenti disaat mereka berada diatas. Sontak gea langsung memeluk Angga karena merasa takut ketinggian.
"Gea takut kak"
Angga memeluk erat gea yang bersembunyi di dalam dekapannya. Begitu terasa debaran jantung keduanya.
"Tenang, sebentar lagi pasti kembali muter".
Benar saja, komedi putar kembali bergerak, kemudian mereka menyudahi dan memutuskan pulang karena sudah malam.
Sepanjang perjalanan menuju rumah Angga terus menggenggam erat tangan Gea. Rasanya begitu bahagia malam ini, benar benar bahagia.
Sampainya dirumah,,,
"Gea mau tidur sendiri apa ditemenin??"
"Ini ada temen baru" gea menunjukkan boneka pemberian Angga dan tersenyum begitu manis.
"Berarti kak Angga yang tidur sendirian. Boleh gak ikut tidur dikamar gea??"
Wajah gea langsung bersemu merah dan hanya mengangguk tanpa bersuara. Angga pun ikut masuk ke kamar gea dan tidur bersamanya meski di tengah tengah mereka ada Boneka besar sebagai pembatas, itu bukan masalah besar untuk Angga. Yang terpenting saat ini adalah ia ingin menghabiskan waktu bersama gea malam ini.
.
.
.
.
.
.