Oleh orang tuaku, aku di jadikan sebagai pelunas utang dan menikahkan ku dengan seorang pria kaya. Tidak ada cinta di antara kami. Suatu malam, tanpa sengaja, aku melakukan one night stand dengan bos ku hingga aku harus mengakhiri rumah tangga ku yang masih berumur jagung.
Ternyata, kejadian malam itu adalah jebakan. Jebakan balas dendam yang membuatku terluka dan trauma.
Lima tahun berlalu, aku bertemu lagi dengannya, bertemu dengan pria yang malam itu membuatku tak berdaya karena sentuhannya. Pria yang sangat aku benci dan ingin aku lupakan.
Tapi pertemuan itu kembali membuatku terseret oleh pesonanya.
Mampukah aku tetap membenci atau justru aku malah jatuh cinta padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon farala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17 : Terpuruk
Emilia POV.
Ku langkahkan kakiku bergerak menjauhi rumah mewah itu. Seiring langkahku yang terasa berat, tak luput juga air mataku mengalir dengan deras. Ku hapus dengan kasar, sesekali aku menengadahkan kepalaku ke atas guna menghentikan cairan bening itu.
Ku seret koperku mengikut kemana kakiku melangkah. Ini hampir tengah malam, dan untuk mendapatkan angkutan umum seperti taksi terbilang cukup sulit di sini.
Sesekali aku berhenti, perutku terasa kram jika aku lama berjalan, mungkin karena faktor perutku yang sudah semakin membesar.
Di saat aku sedang memijit betis ku yang terasa sakit, ponselku berdering.
" Kau di mana?"
" Di rumah." Jawabku berbohong.
" Kenapa kau menyimpan semua kartu pemberianku?"
" Karena aku tidak berhak Ludwig. Aku tidak punya hubungan apapun lagi dengan mu, dan ku ucapkan terima kasih karena selama kita menikah, kau selalu baik padaku."
" Tapi Emi... Tunggu.. Kau di mana?"
" Tadi sudah ku katakan kalau aku di rumah."
" Kenapa terdengar suara berisik jika kau sedang di rumah?"
Aku tergagap." A- Aku membuka sedikit jendela kamarku."
" Baiklah, jaga kesehatanmu."
" Iya."
Panggilan berakhir, lima menit kemudian, sebuah notifikasi berbunyi di ponselku.
" Aku sudah mentransfer sejumlah uang, tidak banyak, tapi cukup untuk menghidupi mu selama beberapa bulan. Dan... Lain kali, jangan berbohong seperti tadi, kau tidak pandai melakukannya."
Aku menengok ke kiri dan ke kanan, tapi tak ada kendaraan atau manusia yang aku liat satu pun. Lalu dari mana dia tau kalau aku membohonginya?
*
*
Ludwig memantau pergerakan Emilia dari seberang jalan. Ia memang tidak mengantar mantan istrinya itu pulang karena penolakan Emilia sendiri. Tapi tidak serta merta ia membiarkan Emilia pergi tanpa pengawasannya, mungkin ini adalah hal terakhir yang bisa ia lakukan untuk Emilia.
Beberapa saat, Ludwig melihat Emilia keluar dari dalam rumah dengan menggiring kopernya sendirian.
" Sudah bisa ku prediksi. Bagaimana mungkin kau tidak tau tabiat kedua orangtuamu Emilia? Aku saja yang baru beberapa kali bertemu dengannya sudah bisa menebaknya." Gumam Ludwig geram dan tak mengalihkan perhatiannya dari setiap langkah kaki Emilia.
Jujur, dia kasian dengan mantan istrinya itu. Dia jadi tumbal peperangan dari dua pria yang tak bertanggung jawab. Di satu sisi, Ludwig ingin menjelaskan semuanya pada Emilia tentang apa yang dia ketahui. Semuanya. Tapi kembali lagi, Ludwig merasa tidak punya kekuatan untuk melakukannya.
Entah apa yang membuatnya tak mengatakan apapun. Mungkinkah karena rasa cinta yang dia miliki sehingga tak ingin Emilia bersedih? Tapi sebenarnya, dengan bungkamnya Ludwig, ia tidak sadar sudah membuat Emilia semakin menderita.
Andai bisa, ia ingin sekali menghampiri dan membawa Emilia kembali ke rumah mewahnya, tapi terlalu banyak pertimbangan yang dia pikirkan. Kemarahan Wyn. Belum lagi tentang nyonya Liesel ibunya, ancaman Wyn yang tak main main sungguh membuatnya ketakutan.
" Tanda tangan sekarang juga, atau nyonya Liesel akan merasakan akibatnya. Anda tidak ingin menemukan tubuhnya tiba tiba saja tidak bernyawa kan? Jadi tolong, sebelum tuan Wyn berbuat lebih jauh." Itu adalah kalimat pengacara Wyn yang datang menemui Ludwig di ruangan kerjanya.
Apa mungkin kakaknya itu seorang psikopat atau mafia kelas kakap? Entahlah, tapi pikirannya sudah tidak jauh jauh dari dua pekerjaan mengerikan itu.
" Mungkinkah Laura tidak bunuh diri? Ah mustahil, apa yang sedang aku pikirkan?" Gumamnya membayangkan wajah cantik istri kakaknya.
*
*
" Astaga Emi. Apa yang terjadi padamu?" Heidi panik melihat Emilia yang sedang berdiri di depan pintu rumahnya.
Emilia tersenyum kikuk. " Untuk malam ini, boleh aku tidur di sini?"
" Ayo masuk." Heidi menarik tangan Emilia lalu menutup pintu, tidak menjawab permintaan sahabat baiknya itu.
Emilia duduk tepat di depan Heidi. Heidi menatap wajah pucat itu cukup lama.
" Kau sudah makan?"
Emilia mengangguk.
" Bohong, kita makan dulu."
Meski tak berselera, Emilia tetap mengikuti Heidi yang menggiringnya ke meja makan.
" Makanlah, untuk menjelaskan semua padaku, kamu harus butuh tenaga ekstra." Ucapnya tersenyum, mencoba menghibur Emilia.
Mereka kini duduk di sofa setelah makan malam usai. Beberapa potongan buah dalam piring menemani keduanya.
" Aku baru saja bercerai."
" Uhuk..uhuk.." Heidi tersedak." Kalau mau mulai pakai aba aba Emi, kau mengagetkanku."
Emilia tersenyum." Maafkan aku."
Heidi menghela nafas panjang." Kenapa tiba tiba sekali? Setahuku kalian tidak ada masalah, ya terlepas dari pernikahan kalian yang memang di paksakan. Tapi yang aku pahami adalah, kau mulai terlihat nyaman dengan kehidupan rumah tanggamu itu."
" Kau benar, tapi aku cukup tau diri."
" Maksudmu?"
" Aku hamil Heidi."
" A- Apa !!" Mata Heidi seperti ingin melompat dari tempatnya.
" Emilia..apa apaan ini. Kau bercanda kan?"
Emilia menggeleng. " Aku sedang tidak main main apalagi berbohong padamu."
Heidi syok, untuk beberapa saat, ia membisu.
" Siapa ayahnya?" Akhirnya jiwa reporternya keluar juga.
" Maaf, aku tidak bisa memberitahumu."
"It's okay. Aku sangat mengerti keadaanmu." Lanjutnya.
" Setelah aku hamil dan bercerai, aku memutuskan kembali ke rumahku. Tapi apa yang ku dapatkan tidak sesuai dengan harapanku. Ayah dan ibu mengusirku. Padahal aku sangat butuh support dari mereka."
Heidi menatap iba Emilia." Sudahlah. Kau juga. Apa kau lupa bagaimana sifat kedua orangtuamu? Terkadang aku heran, kalian orang kaya selalu menilai apapun dengan uang, tidak ada ketulusan. Kau buktinya, mereka menjual mu pada keluarga Weber. "
" Aku tau, tapi ku pikir mereka sudah berubah."
" Ckckck, kau terlalu naif Emilia. Jadi apa yang akan kau lakukan ke depannya?"
" Aku belum memikirkannya. Yang pasti aku akan mengundurkan diri dan mencoba mencari peruntungan lain dengan bekerja apapun yang aku bisa."
" Kenapa kau tidak meminta pertanggung jawaban ayahnya?"
" Dia tidak tau kalau aku hamil."
" Astaga Emilia, kau itu kenapa? Aku tidak mengerti dengan jalan pikiranmu." Heidi kesal.
" Tak perlu kau mengerti, jadi sahabat terbaikku itu sudah lebih dari cukup." Ujar Emilia tersenyum.
" Kau ini." Heidi menggelengkan kepalanya." Ayo kita tidur, ini sudah larut." Ajak Heidi, jam memang sudah menunjuk di angka dua belas malam.
" Nanti aku menyusul, kau duluan saja."
" Baiklah, tapi jangan terlalu lama."
Emilia mengangguk. " Oiya, boleh aku pinjam laptop mu?"
" Itu di atas meja." Tunjuk Heidi. Lalu berlalu meninggalkan Emilia sendirian.
Heidi berteman dengan Emilia sejak lama. Heidi bukan penduduk asli kota Munich, meski ayahnya memang tinggal di sini. Begitu orangtuanya bercerai, Heidi memutuskan ikut dengan ibunya dan menetap di Berlin. Mungkin sudah takdir, keduanya kembali di pertemukan di kampus yang sama di kota Berlin. Heidi bukan lah orang kaya seperti Emilia. Tapi kebaikan dan ketulusan Emilia yang tidak memilih milih teman membuat mereka begitu akrab sampai sekarang.
Latar belakang orang tua Emilia dan orang tua Heidi hampir mirip, bedanya, Heidi anak broken home. Tapi sebenarnya, Emilia lebih menyedihkan, Heidi masih mendapatkan kasih sayang dari ibunya, sementara Emilia, tidak ada kasih sayang yang ia dapat dari keduanya.
Dan semua itu adalah sebab utama Emilia jadi pribadi yang tertutup. Meski terlihat humble dan gampang bergaul, tapi sebenarnya itu hanya untuk menutupi kekurangannya yang tidak mudah akrab dengan orang, apalagi yang baru dia kenal.
Fakta nyata adalah, Emilia hanya punya teman satu orang saja, dan itu adalah Heidi. Sifat Heidi yang welcome dan ceria menjadi mood booster bagi Emilia. Dan pertemanan mereka bisa di katakan sangat sehat, Heidi juga tau batasan. Seperti sekarang, jika Emilia tidak ingin menceritakan apapun, dia tidak akan memaksa. Dia yakin jika Emilia punya alasan yang kuat hingga tidak ingin berbagi rahasia meski dengan sahabat sendiri.
...****************...
ayo doong... tamatin..
semangat🔛🔥🔛🔥🔛🔥🔛🔥🔛🔥