“Aku atau dia yang pelakor!” Dia berteriak dengan kerasnya di pinggiran pantai berpasir putih.
Semuanya berawal dari ...
Isyana yang sudah bersuami tidak sengaja bertemu dengan Elvano yang saat itu juga memiliki seorang istri dan putra. Saat mengerjakan proyek bersama. Keduanya menjadi sangat dekat dan perlahan tumbuhlah perasaan cinta itu. Dengan penuh rasa bersalah kepada pasangan masing-masing, mereka menjalin hubungan terlarang itu. Tapi hubungan itu kandas, saat Isyana mulai sadar bahwa mereka tidak ditakdirkan bersatu.
Akan tetapi, disaat yang sama Isyana dan Elvano tidak sadar. Kalau Ikbal suami Isyana dan Nabila istri Elvano ternyata sudah menjalin hubungan lebih dulu dari mereka berdua. Bahkan Ikbal dan Nabila sampai melakukan hubungan intim di belakang mereka.
Kemudian beberapa bulan setelah Isyana dan Elvano berpisah. Isyana mengetahui bahwa Ikbal suaminya telah berselingkuh dengan wanita lain, yang ternyata adalah Nabila istri Elvano. Pria yang dia cintai...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayraa Ibnurafa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17 : Orang gila!
Isyana masuk kedalam kamarnya dengan langkah malas. Sejujurnya Isyana tidak mau bertemu dengan Ikbal. Tapi mau bagaimana lagi, itu tidak mungkin. Karena selama Ikbal masih berstatus suaminya, dia pasti akan bertemu dengan Ikbal terus menerus.
“Kamu sudah pulang, Mas?” sapa Isyana dengan halus dan memaksakan bibirnya tersenyum.
“kamu dari mana saja? Aku dari tadi menunggu mu,” ucap Ikbal tanpa menjawab pertanyaan Isyana.
Isyana menghela nafas nya kemudian naik keatas ranjang. Tubuhnya yang terasa lelah dia rebahkan disebelah Ikbal.
“Aku banyak kerjaan, makanya dari tadi nggak keluar dari ruang kerja,” jelas Isyana.
Isyana memalingkan tubuhnya membelakangi Ikbal. Laki-laki itu lalu memeluknya dari belakang.
“Rasanya aku ingin menendangnya sekarang juga,” batin Isyana memaki.
“Sya, bukankah mobil ku adalah hadiah pemberian dari mu?”
Isyana mengerutkan dahinya. Kemudian menyingkirkan tangan Ikbal yang melingkar di perutnya.
“Memangnya kenapa, Mas?” Isyana terkekeh pelan tanpa dilihat oleh Ikbal.
“Kaca sepion ku patah, entah orang gila mana yang sudah merusaknya,” jelas Ikbal.
Isyana menggigit bibirnya menahan tawanya.
“Ya, aku adalah orang gila yang tidak segan untuk membunuhmu, Mas,” batin Isyana.
“Bagaimana itu bisa terjadi, Mas? Memangnya kamu nggak meriksa cctv?” tanya Isyana dengan nada suara dibuat-buat seakan dia cemas.
“Hmm, cctv nya nggak sampai ke tempat aku parkir?” ucap Ikbal dengan ragu.
“Kamu harus berhati-hati mulai sekarang, Mas. Mungkin saja ada orang yang dendam padamu, dan bahkan nekat ingin membunuhmu,” tutur Isyana dengan raut wajah di buat sekhawatir mungkin.
Ikbal diam tak menjawab. Isyana pun berbalik menatap wajah tegang Ikbal.
“Sudahlah, tidak usah membahas itu,” ucap Ikbal.
“Besok, kamu uruskan perbaikan mobilku ya,” lanjutnya seraya tersenyum.
Isyana terdiam melongo mendengar ucapan Ikbal.
“Brengsek!! Bisa-bisanya dia dengan santai nya memerintahku,” batin Isyana semakin memanas.
Isyana mengusap wajahnya yang memerah karena menahan amarah.
“Baiklah, tidak masalah Mas. Aku akan minta Dira untuk mengurusnya.” Dengan susah payah Isyana menarik sudut bibirnya untuk tersenyum.
“Sya,” panggil Ikbal sambil menahan tangan Isyana yang hendak menelpon Dira.
“Mulai besok, kamu diantar jemput sama Dira ya ... mobil kamu biar aku yang pakai sementara,” ucap Ikbal.
“Tapi Mas....”
“Sudah larut, sebaiknya kamu tidur ... aku juga ngantuk, selamat malam, sayang,” ucap Ikbal memotong perkataan Isyana.
Laki-laki tidak tahu malu itu, lalu berbalik badan, tidur membelakangi Isyana.
*
Keesokan paginya, Isyana bangun terlebih dulu dari pada Ikbal. Isyana sengaja tidak membangunkan Ikbal. Dan pergi kekantor menggunakan mobilnya. Tanpa mendengarkan perkataan Ikbal semalam.
Ikbal pun terbangun dari tidurnya. Dia buru-buru bangun, dan keluar dari kamar. Mengejar Isyana sampai kedepan pintu gerbang rumah. Tapi Isyana tetap melaju dengan kencang menggunakan mobil nya.
“Sialan, apa Isyana sengaja tidak membangunkan ku?” Ikbal mengusap wajahnya dan menggerutu dengan kesal. Dia pun masuk kembali kedalam rumah. Bersiap-siap untuk menjemput Nabila.
Sesampainya di sebuah perempatan jalan. Ikbal membunyikan klakson mobilnya pada seorang wanita yang tak lain adalah Nabila. Wanita itu memasang wajah masam selagi berjalan mendekati mobil Ikbal.
Saat dia sudah masuk ke dalam mobil. Amarahnya meledak.
“Ikbal, kamu itu gimana sih? Kan aku kemarin sudah bilang, perbaiki mobil kamu dan kamu pakai mobil istri kamu dulu!” gerutu Nabila.
“Vi, kamu jangan marah-marah gitu lah. Semalam aku sudah minta dia mengurus mobil ku dan sementara aku pakai mobilnya ... sepertinya Isyana sengaja tidak membangunkan ku tadi pagi,” jelas Ikbal.
“Sialan!” Ikbal mengumpat sambil memukul setir kemudinya.
“Pokoknya aku tidak mau tahu, sekarang juga kamu datangi istrimu ... minta dia mengurus mobilmu ini dan kamu pakai mobilnya,” ucap Nabila kesal dengan tangan yang menyilang di depan dadanya.
“Kamu itu harus tegas dan jangan mau di injak-injak sama istri,” lanjutnya mengompori Ikbal.
Akhirnya pada jam makan siang, Ikbal datang ke kantor Isyana. Dia tergesa-gesa dengan langkah penuh amarah. Mengingat kejadian pagi tadi, Isyana sengaja tidak membangunkan nya.
BRAK.
Ikbal membuka pintu ruangan Isyana dengan hempasan kuat. Membuat Dira yang saat itu ada di dalam ruangan Isyana terkejut, dan hendak menarik Ikbal keluar.
“Pak Ikbal, anda tidak boleh masuk seperti ini,” ucap Dira.
Ikbal mendorong Dira dengan kasar. “Jauh kamu hanya asisten, aku suaminya kenapa aku tidak boleh masuk seperti ini.”
“Bahkan untuk memecahkan guci ini saja itu hak saya,” bentak Ikbal seraya menjatuhkan sebuah guci mahal yang di beli Isyana di Paris ke lantai, hingga pecah berkeping-keping.
Dira berdiri dan hendak menghampiri Ikbal.
“Dira, sebaiknya tinggalkan kami berdua,” perintah Isyana.
“Baik, Bu.” Dira pun pergi meninggalkan Isyana berdua dengan Ikbal.
Isyana beranjak dari tempat duduk nya lalu menghampiri Ikbal. Laki-laki itu nampak sangat marah, dia melotot menatap isyana.
“Kamu kenapa sih, Mas? Datang kok marah-marah seperti ini?” tanya Isyana dengan tegas.
Ikbal teringat kembali dengan perkataan Nabila. ‘Kamu harus tegas dan jangan mau di injak-injak istri’.
“Kamu yang kenapa ... kamu sengaja kan nggak bangunin aku tadi pagi, karena kamu tidak mau pinjami aku mobil,” tukas Ikbal.
Isyana menarik nafas nya dan menyibak rambutnya kebelakang. Tangan nya terasa keras dan mengepal dengan sendirinya. “IYA ... AKU MEMANG SENGAJA! LALU KAMU MAU APA?”
Ikbal terkejut dengan suara Isyana yang lantang. Tidak pernah sebelumnya dia melihat Isyana seperti ini, menentang apa katanya. Yang biasanya Isyana adalah sosok yang anggun dan tidak berbicara dengan kasar.
“Ini kantor ku bukan kantor mu! Seharusnya kamu tidak berperilaku seenak nya seperti ini!” tegas Isyana.
Ikbal merengkuh pergelangan tangan Isyana dengan kuat.
“Lalu kamu mau apa, Sya? aku ini suamimu seharusnya kamu mengikuti apa kata ku,” sahut Ikbal yang tak mau kalah dengan meninggikan suaranya.
Badan Isyana bergetar, seakan-akan ingin menampar wajah Ikbal saat itu juga.
“Suami apa yang kamu maksud, Mas. Mulai sekarang aku sudah tidak menganggap kamu suamiku,” batin Isyana.
Isyana mengepalkan tangan nya dan meneteskan air matanya karena terlalu kesal.
Ikbal berjalan kearah meja kerja Isyana. Lalu mengambil kunci mobil Isyana yang tergeletak diatas meja. Kemudian dia berjalan mendekati Isyana lagi.
“Belajarlah untuk menjaga cara bicaramu padaku,” ucap Ikbal mengancam sambil memperlihatkan kunci mobil Isyana yang ada ditangan nya. lalu pergi begitu saja.
Selepas kepergian Ikbal. Isyana memegangi dadanya dan mengatur nafasnya yang terasa sulit.
“Brengsek kamu, Mas!” makinya pelan dengan air mata nya yang menetes di pipinya.
Memendam rasa sakit nya selama ini. Ternyata tidak semudah yang Isyana bayangkan. Setiap kali Ikbal muncul dihadapan nya, selalu membuat darah di dalam tubuhnya mendidih.
“Bu Isyana, apa anda baik-baik saja?” Dira menerobos masuk kedalam ruangan bos nya.
Melihat Isyana yang berpegangan di sofa sambil memegangi dadanya. Sontak membuat Dira panik. Terlebih saat melihat pergelangan tangan nya yang memar.
Isyana menarik lengan kemejanya untuk menutupi bekas memar yang ada di tangan nya. Lalu dia kembali berdiri dengan tegap, seraya merapikan kemeja serta rambutnya.
“Aku tidak apa-apa, Dir.” Isyana kembali duduk di kursi kerjanya. Raut wajahnya datar seakan-akan tidak pernah terjadi apa-apa tadi.
“Saya akan menyiapkan mobil untuk mengantar anda pulang, Bu Isyana,” ucap Dira berjalan ke arah pintu.
“Tidak perlu, Dir. Kamu pulang saja, aku tahu ibumu sedang sakit kan ... aku naik taksi online saja,” ucap Isyana.
Langkah Dira terhenti dia berbalik menatap Isyana. “Tapi, Bu....”
“Tidak ada tapi-tapi Dira. Ini perintah!”
Dira pun tersenyum kagum dengan kebaikan yang ada didalam diri Isyana. Bersyukurnya Dira bisa bekerja dengan orang yang luar biasa seperti Isyana. Dira berjanji tidak akan mengecewakan kepercayaan Isyana padanya.
To be continued....