Ternyata 8 tahun bersama tidak menjamin cintanya bisa berpaling padaku, Aku tetaplah kalah dengan cinta pertamanya.
Maafkan Aku yang memilih menyerah, bukan karena aku tidak mencintaimu tapi aku lelah, lelah berjuang sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon airarahma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cinta Pertama Agam
12 Tahun lalu…
Musim kemarau telah tiba. Daun-daun kering mulai berguguran. Tempat tinggal Agam tidak sehijau biasanya. Bahkan beberapa puluh kilometer dari kediaman Agam terdapat kebakaran lahan karena kemarau yang tak berkesudahan. Gesekan dari ranting kering membuat hutan tersebut kebakaran. Agam cukup prihatin melihatnya. Dia dan Galih merupakan pecinta Alam. Rasanya sedih melihat hutan yang gundul karena bencana tersebut.
Menghela nafas panjang Agam memandangi asap yang bahkan terlihat dari rumahnya. Asap-asap tentu sangat mengganggu pernafasan.
Galih yang duduk disebelah Agam menepuk pundaknya.
“Kita berdoa saja semoga segera turun hujan” ucap Galih yang sangat paham bagaimana perasaan Agam. Bukan hanya kebakaran hutan yang membuat Agam gundah gulana, tapi juga putus cinta. Dua hal yang membuat hari-hari Agam menjadi begitu buruk.
“Bagaimana kabar dia?” tanya Galih.
“Dia siapa?” tanya Agam pura-pura tidak tahu.
“Siapa lagi? Mantanmu lah” sahut Galih.
Agam hanya mengedikkan bahu. Malas kalau meladeni hal itu.
Melihat respon Agam membuat Galih tertawa. Dia sangat paham kalau Agam tidak mau lagi membahas sang mantan yang membuatnya sakit hati.
“Ayo kita siap-siap ke kampus” Galih beranjak dari duduknya terlebih dahulu dan menyampirkan ransel di punggungnya.
Agam melakukan hal yang sama, mereka pun berangkat ke kampus menggunakan mobil putih milik Galih. Mobil yang sangat mewah untuk anak kuliahan semester awal seperti dirinya. 45 Menit waktu yang mereka tempuh menuju kampus. Cukup lama dengan jarak tempuh yang tidak terlalu panjang. Hanya saja hiruk pikuk lalu lintas yang padat menjadi penyebab lamanya mereka tiba di tujuan.
Agam turun lebih dulu, disusul oleh Galih. Keduanya memang sama-sama tampan. Hingga tak heran banyak gadis yang sampai dua kali melirik ke arah mereka karena terpesona. Apalagi Galih selain tampan juga kaya raya. Itulah kenapa dia menjadi primadona.
Saat tiba di kelas, tanpa sengaja mata Agam bertemu dengan Inez tapi dengan cepat dia mengalihkan pandangannya. Ada rasa marah setiap dia melihat Inez.
“Hai Agam” Inez menghampiri Agam. Agam tidak menjawab. Dia malah beranjak dari duduknya dan keluar dari kelas.
Galih yang melihat itu menepuk pundak Inez.
“Sabar, mungkin Agam masih marah” ucap Galih menenangkan.
Inez pun mengangguk dengan wajah sendu.
Tak jauh dari sana, ada Jemima. Gadis blasteran cantik yang sangat manis berkumpul dengan teman-temannya. Mereka melihat bagaimana tadi Inez menyapa Agam tapi Agam tidak peduli dan pergi.
“Aku dengar mereka dulu berpacaran lalu berpisah. Agam masih marah dengan Inez” Yura menjelaskan apa yang dia pernah dengar.
“Pasti berat ya sekelas dengan mantan” sahut Maria.
“Memangnya mereka putus karena apa?” Jemima tentu sangat penasaran.
“Katanya sih Inez ingin fokus kuliah, alasan klise” jawab Yura. Dia seperti informan yang tahu segalanya.
Jemima pun menganggukkan kepala. Entah dia bisa menerima jawaban Yura atau tidak. Yang penting sudah ada respon saja darinya.
Tak berapa lama dosen mata kuliah memasuki kelas berbarengan dengan Agam yang berjalan di belakangnya.
Agam memang tampan. SANGAT tampan malah. Bahkan melebihi dosen yang katanya dosen tertampan.
Jemima memandang penuh cinta pada pria yang baru dikenalnya belum ada sebulan ini. Pria yang bisa mengalihkan dunia Jemima pada pandangan pertama. Bukan cinta pandangan pertama, awalnya Jemima hanya kagum , sekarang pun dia masih meyakini kalau dirinya hanya sebatas mengagumi . Hanya saja belakangan rasanya Jemima tidak bisa berpaling dari laki-laki tampan dan pendiam itu. Kalau kata Yura, Agam itu adalah pria Kaku. Tapi bagi Jemima, Agam adalah pria yang misterius.
Agam tidak duduk di tempatnya semula, sepertinya dia benar-benar menghindari Inez. Dan beruntung bagi Jemima karena Agam duduk tepat di sebelahnya. Jemima merasa deg degan luar biasa. Ini kali pertama dia berada di jarak sedekat ini dengan Agam.
“Kenapa?” tanya Nicky yang menyadari kalau Jemima yang biasanya tidak bisa diam dan cerewet mendadak jaim.
Jemima hanya menggelengkan kepala kemudian berpura-pura fokus mendengarkan sang dosen berceramah. Nicky mengerutkan keningnya bingung tapi sedetik kemudian senyum nakalnya terbit karena tahu yang menjadi penyebab teman baiknya itu menjadi jaim.
“Pantas saja mendadak kalem, ada Agam toh di sebelahnya” gumam Nicky dalam hati.
Bila biasanya Jemima akan mengantuk ketika mendengar dosen yang mengajar tapi kali ini sangat berbeda. Jika diibaratkan dengan lampu maka bila biasanya dia hanya 5 watt sekarang 1000 watt. On fire sekali dia saat ini. Kupingnya memerah, dadanya berdegup kencang, keringat dingin dan tentunya tegang luar biasa.
“Kenapa cuma gara-gara duduk berdekatan aku bisa seperti ini? Efek Agam begitu luar biasa” gumam Jemima meringis sendiri.
Agam sendiri belum mengenal dengan baik siapa saja teman-teman sekelasnya. Dia memang malas bersosialisasi. Tidak seperti Galih yang bisa akrab dengan siapa saja.
Saat jam mata kuliah telah berakhir, Galih menghampiri Agam yang sedang merapikan buku-bukunya. Galih melirik ke arah Jemima yang juga melakukan hal sama seperti Agam.
“Hai” Sapa Galih pada Jemima. Jemima mendongakkan wajahnya karena merasa ada yang menyapa walau dia tidak tahu sapaan itu untuk siapa. Saat itu juga matanya bertemu pandangan dengan Galih.
“Hai aku Galih” Galih memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya.
Jemima tersenyum kemudian menerima uluran tangan tersebut.
“Aku Jemima” balas Jemima ramah.
“Iya aku tahu, Aku sering mendengar namamu disebut-sebut di kelas ini” ucap Galih terkekeh.
Jemima tertawa kecil. Dia tahu kalau Galih hanya basa basi semata. Sebulan sekelas Jemima sering melihat Galih berkenalan dengan banyak orang seperti yang sekarang mereka lakukan. Galih bukan playboy, dia memang senang berkenalan dengan siapa saja.
“Kalau ini namanya Agam” Galih memperkenalkan Agam pada Jemima sambil menepuk pundak sahabatnya itu. Agam tidak melirik sama sekali. Dia memilih mempercepat kegiatannya.
“Maaf kalau sedikit sombong, habis patah hati soalnya” ucap Galih pula.
Agam tidak kesal pada Galih karena dia sudah membeberkan aibnya, dia sudah hafal kalau itu adalah cara Galih agar bisa akrab dengan lawan bicaranya.
Tanpa berucap sepatah katapun Agam bangkit dari duduknya meninggalkan Galih yang masih berusaha mencari topik obrolan dengan Jemima.
“Ya seperti itulah dia, mohon dimaklumi” Galih tertawa. Jemima merespon dengan senyuman manis.
“Duluan ya Jemima, senang berkenalan denganmu” ucap Galih lalu menyusul Agam yang sudah hilang ditelan pintu.
Nicky yang dari tadi sibuk dengan ponselnya kemudian menyikut lengan Jemima yang masih menetralkan degup jantungnya setelah beberapa jam ini duduk bersebelahan dengan Agam.
“Cie cie…hem hem” Nicky sengaja menggoda Jemima.
“Kenapa kamu?” tanya Jemima yang tidak mengerti kenapa Nicky menggodanya.
“Seneng gak duduk sebelahan sama gebetan?” bisik Nicky kemudian.
Telinga Jemima seketika memerah mendengar jawaban Nicky hingga pecah sudah tawa Nicky dibuatnya.
Bersambung....
ini pendapat ku 🙂