Aku seorang wanita yang harus memikul beban kehidupan yang amat sangat pahit, hanya demi gengsi dan ambisi untuk menguasi anak laki-lakinya untuk harta dan tahta karena ingin dipandang oleh semua orang.
Awalnya kusangat bahagia karena dipersunting seorang calon imam yang mumpuni dalam segala hal, namun dengan berjalannya waktu semuanya terbuka dengan sengaja yang mengakibatkan buta mata buta hati, jangankan untuk mengerti pedulipun sudah tiada arti lagi.
Hidupku dihiasi dengan rasa penuh pana dan derita, hatinyapun sudah tak sanggup menerima karena duka yang mendalam. Padahal kuhanya pengakuan saja bukan ingin dimanja dan dipuja, pengakuan itu sudah luar biasa. Harta ku punya keluarga ku punya tapi pengakuan sebagai menantu buatnya kini tinggal kenangan semata.
Walau kelihatanya bahagia padahal kami sangat menderita karena perlakuan yang berbeda dan perhatian yang penuh dengan kebencian semata. Hilanglah semua harapan kini tinggal kenangan batu nisan jadi saksi kebencian seorang mert
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PASKUD Official Channel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Anak-anak
“Mah kita jalan yu, sekitar daerah sini, aku pengen liat kegiatan disini kaya apa.”
Mamah
“Oke tapi aku ijin dulu sama ayah ya.”
Mamah berlalu kekamar dan ganti pakaian, kemudian kami bertiga berjalan menyusuri kampung, suasananya sangat indah dan sejuk, apalagi diterpa sang pajar yang menyinari langsung.
Sebenarnya kami betah tinggal disini tapi ah ga tau, aku takut ayah dan umi dimusuhi lagi. Aku pengen setiap hari menikmati udara seperti ini. Namun apa daya.
Aku terkesan dengan keramahan masyarakat disana, tapi tidak dengan keluargaku, aku heran ko bisa beda ya, masyarakatnya aja sopan tapi ko bisa ya keluargaku seperti itu. Apakah ini yang dinamakan menantu yang ga drestui mertua.
Setelah puas kami berjalan menyusuri daerah kami berlalu kewarung dan membeli cemilan untuk dimakan sambil ngobrol disepanjang jalan menuju pulang kerumah kake. Setibanya dirumah kami mendapati muka masam dari sang ibu mertua dan pandangan yang aneh, seolah kami disini menumpang dan harus cepat pulang. Kami berlalu dan mandi secara bergantian selesai mandi kami diam diri bertiga dikamar sambil menunggu ayah datang, umi bercerita sambil diskusi.
Mamah
“Nak apakah kamu marah atas kejadian tadi.”
Anak anak
“Engga mah, udah ah biarkan aja. Kami tak au membahasnya, ingat kata pak ustad kejahatan harus dibalas dengan kebaikan.”
Mamah
“Iya nak, maksih ya udah menjadi penguat batin umi.”
Tiba tiba ayah datang kenapa kalian didalam terus yu keluar kita makan bersama.
Sikaka engga ah yah aku belakangan makannya, engga enak sama yang lain belum pada makan.
Ayah
“Ya udah, kita tunggu aja ya.”
Kami sambil menunggu bercanda gurau dikamar, sehingga kami merasa bahagia walau didalam batin mah ga karuan pengen nangis tapi ku tahan demi anak anak dan ayah nya.
Aku bergumam sakit batin ini, kenapa dulu menyetujui sekarang sudah sukses kami dibenci ada salah apa ya Allah . Padahal ku ga pernah minta beras seliter, ikan sekilo atau apa gitu, aku hidup dengan gajiku sendiri dan usahaku sendiri ga pernah memberatkan mereka, harusnya mereka bersyukur aku ga pernah minta, bukan ku tak menghargai tapi aku takut membebani mereka. Aku sadar diri, selama ku bisa dan selama ku mampu aku ga akan minta minta kesiapapun, aku akan tetap berdiri dengan kakiku sendiri dan membesarkan mereka dengan hasilku sendiri. Selama aku yakin rezeki itu Allah yang ngatur aku tetap akan bersyukur tapi aku ta akan takabur.
Siang menjelang ayah ku ngajak main ke tempat wisata yang dekat dengan rumah kake. Kami beranjak dan ijin kemereka, kami ijin ingin tau daerah ini seperti apa. Ayah dan kami berlalu kemobil dan jalan menuju tempat dimana ayah bernostalgia dulu dengan umi .
Kata ayah
“Mah, nak bagaimana masih betah apa pengen pulang, aku ga mau memaksa kalian tinggal disini dalam waktu yang lama. Kalau mau pulang kita sore pulang kerumah kita ya. Kasian siembo mah nak, cape ngurusin banyak pekerjaan.
Mamah
“Iya yah akumah terserah ayah dan anak anak, aku sebenarnya sudah ga betah yah, bagaimana dengan anak anak mereka masih pengen main disini.”
Ayah
“Tapi aku ga mau sayangku tersiksa disini.”
Anak-anak
“Kami ikut yang terbaik aja yah mah, jangan jadi permasalahan, aku ingin selamanya bersama dan ga boleh bertengkar lagi. Aku ga mau melihat lagi. Jika terjadi maaf aku lebih baik sekolah jauh dan mandiri.
semangat terus berkarya 👍👍
itu apa ya 🤔🤔
Sahur
sahuuuurrr
Terpaksa menikahi kepsek kejam hadir memberi like...
di tunggu ke hadirannya di karya ku ya...