Judul: "LOVE IS NOT BASED ON BIBIT BEBET BOBOT" [Linbo BBB]
Pada umumnya, cinta selalu memandang harta, tahta, dan kasta. Lalu, bagaimana dengan Khumaira? Seorang gadis biasa, tidak kaya, dan berasal dari keluarga yang amat sederhana. Yang tengah patah hati lantaran bibit-bebet-bobot yang tidak sepadan. Adakah kiranya seseorang yang akan mencintai dia tanpa melihat latar belakangnya?
Dari sinilah, kisah "Love Is Not Based On Bibit Bebet Bobot" bermula ....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oot Nasrudin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tentang Rasa
...☕🍜 Untuk orang-orang yang tak memiliki keberanian. Jika mereka mengetahui bahwa ia akan mati satu jam kemudian, maka mereka akan berlomba-lomba untuk mengungkapkan perasaannya. Begitulah sejatinya sebuah perasaan. Selalu ingin disampaikan. Tapi, seringkali mereka memilih untuk memendamnya, dengan berbagai alasan 🍜☕...
Malam hari di Book Store ....
Benar kekhawatiran Rizky, jika laki-laki yang menyebalkan itu datang lagi. Seperti malam kemarin, Juan duduk di atas jok motor Rizky, menunggunya keluar.
Rizky tidak lagi kaget dengan keberadaan laki-laki gondrong dan berjambang itu. Dengan santai dia menutup Folding Gate, lalu menggemboknya.
"Mau apa lagi?"
Juan menyeringai. Tak menjawab.
"Kan udah ku kirim jawabannya. Aku dan Kak Salwa nggak berhasil!"
"Tapi malam ini kamu berhasil berduaan dengan polisi itu. Ya, 'kan? Ya, 'kan?" Juan mengangkat-angkat kedua alisnya.
"Bukan urusanmu! Minggir!"
"Wa-wa-waduh! Buru-buru banget. Woles aja, Men! Waktumu untuk berduaan dengan polisi itu masih banyak, kok. Paling sedikit tiga malam kamu punya kesempatan untuk berduaan dengannya." Juan mulai sok tahu.
Rizky menghela napas kesal. Kekesalannya mulai tersulut.
"Jika dalam kesempatan yang lebar ini kamu belum juga mengungkapkan perasaanmu, kau sungguh payah!"
"Kau sendiri lebih payah! Nyuruh orang yang nggak kenal untuk mencari tahu tentang Kak Maira, maksa lagi!"
Telak! Juan tertohok dengan ucapan Rizky.
"Hey, Kiddo! Nggak sopan kamu mengkau-kau sama yang lebih tua."
"Puh! Mengalihkan pembicaraan."
"Pokoknya nggak sopan mengkau-kau sama yang lebih tua. Panggil aku Abang Juan." Juan menepuk-nepuk dadanya dengan bangga, karena merasa lebih tua dan harus dihormati.
Rizky mendengus melihat tingkah pria yang 4 tahun lebih tua darinya.
"Permisi, Abang Gondrong!"
Kali ini Rizky memaksa. Juan terkesiap dengan sebutan yang baru saja ia dengar. Dia membiarkan Rizky mengambil motornya. Sejenak waktu seolah terhenti. Sebutan Gondrong mengingatkan dia pada Maira. Saat itu, adalah pertama kalinya Maira berseru kepadanya.
"Hey, Gondrong!" Seruan Maira yang dulu, kembali terngiang di telinga Juan.
"Goodbye, Abang Gondrong!" Suara Rizky membuat waktu di dunia Juan kembali berjalan normal. Rizky siap meluncur dengan motor maticnya, meninggalkan Juan.
Juan yang baru tersadarkan diri dari halunya, sontak dengan gesit meraih ujung jok belakang motor. Rizky nyaris oleng.
Pluk!
Si Gondrong itu sudah duduk di jok belakang. Rizky menggeram. Lagi-lagi datang tak dijemput, tapi pulang minta diantar.
Terpaksa Rizky harus drop off laki-laki yang menyebalkan itu di depan Ilfi Midi.
"Lain kali kalau datang jangan ngerepotin!" ketusnya saat tiba di depan mini market.
Juan turun. Tangannya menyerobot kunci motor, tapi kalah cepat dengan Rizky. Pria 24 tahun itu menunjukkan salah satu biji matanya dengan jari telunjuk. Tanda mengejek. Ia tak mau dicurangi lagi seperti kemarin.
Si Gondrong mengerutkan dagu, menahan tawa.
"Tunggulah sebentar. Abang Gondrongmu ini ada sesuatu untuk menemani malammu yang indah bersama polisi itu."
Juan melenggang masuk ke mini market. Tak memedulikan Rizky yang menyumpah serapahi dirinya.
Tak lama kemudian, Juan sudah kembali. Menenteng kantong plastik seperti kemarin.
"Kopi lagi? Nggak ada yang lain?" protes Rizky setelah menerima kantong plastik itu.
"Dikasih kopi minta gorengan juga?! Kulang ajal memang anak muda zaman now!" Juan menggeleng, berkacak pinggang melihat Rizky.
Rizky terkekeh melihat ekspresi laki-laki yang baru ia ketahui siapa namanya.
"Sudahlah! Aku pulang dulu. Makasih, ya, Abang." Rizky mengakhiri pertemuannya dengan Juan. Dia berlalu meninggalkan laki-laki berambut gondrong, berjambang, dan menyebalkan itu.
Juan tersenyum tipis melihat kepergian Rizky. Dia masih berdiri di tepi jalan. Sendirian. Ia tak merasa ada orang lain di sekitarnya, dan juga suara bising kendaraan yang berlalu-lalang.
Ada perasaan baru yang menyelinap dadanya. Suatu perasaan yang tak pernah dia rasakan sebelumnya.
"Seperti inikah rasanya punya seorang teman?" katanya, dalam hati.
Bibirnya menyungging. Ada lebih dari satu rasa yang menggambarkan suasana hatinya. Senang, sedih, dan juga kesepian menyeruak menjadi satu di dalam dadanya.
Si Bujang itu pulang. Dengan dada yang semakin bergemuruh. Senang, sedih, dan sepi saling berebut menguasai perasaannya.
Akhir-akhir ini—semenjak Maira hadir di dalam hidupnya, ada banyak hal baru yang ia temukan.
***
Di teras kontrakan. Tampak gadis berambut sebahu duduk di atas ubin, memeluk lututnya. Di temani softdrink dan beberapa makanan ringan di sebelahnya.
Cahaya lampu motor memasuki halaman kontrakan. Siapa lagi jika bukan Rizky.
Salwa tersenyum menyambut kepulangan pria lebih muda dua tahun darinya. Rizky sudah memarkirkan motor di tempat biasa.
"Is everything ok?" tanya Rizky, ia meletakkan plastik tentengannya. Lalu, duduk melepas sepatu.
"Maaf, Mas. Aku nggak bisa bahasa enggres." Salwa bergurau. Meski hatinya sedang kacau.
"Ha-ha-ha ... murung begitu mukanya."
Salwa tertawa pendek.
"Apa ini?"
"Teman setia saat gundah gulana." Rizky balik bergurau.
Kali ini Gadis berwajah eksotis itu menyeringai, gurauannya dibalas telak.
"Kamu mau mengajakku begadang lagi?" lontar Salwa setelah mengintip isi kantong plastik itu.
"Yah, sepertinya kopi ini ingin Kak Salwa mengungkapkan perasaannya. Perasaan yang membuat wajah cantik itu terlihat murung."
Pipi Salwa bersemu. Rizky menatap dalam bola mata gadis pujaannya. Angin malam menyapu wajah gadis itu. Membuat wajahnya semakin terlihat memesona di mata Rizky.
Sebuah keinginan untuk menyatakan perasaannya, bukan hanya sekali dua kali muncul. Mungkin sudah ribuan kali. Tapi, ribuan kali juga Rizky menahan keinginannya.
Ia takut akan berbagai kemungkinan yang akan terjadi jika ia mengungkapkan perasaannya. Salah satunya ia takut jika perasaan yang selama ini ia pupuk dan ia siram, ternyata tak terbalas. Seperti telah memberi namun tidak menerima.
Seperti para penulis NovelToon yang merelakan sebagian waktunya untuk menulis demi menghibur para pembaca, namun, jarang mendapatkan like, comment, dan vote dari mereka.
Meski hakikat memberi adalah tak mengharap kembali, namun, tak dipungkiri salah satu tabiat manusia adalah Selalu menginginkan balasan dari setiap apa yang dia berikan.
Bahkan lagu yang kerap dinyanyikan oleh anak-anak kecil di sekolah maupun di rumah, yang berjudul Kasih Ibu.
Kasih Ibu ….
Kepada Betaaa
Tak terhingga sepanjang masaaa
Hanya memberi, tak harap kembali
Bagai sang surya menyinari dunia.
(Cie bacanya sambil nyanyi)
Meski lirik yang bercetak tebal mengatakan bahwa kasihnya seorang ibu hanyalah memberi dan tak mengharap kembali. Pada kenyataannya, setiap Ibu menginginkan putra-putrinya tumbuh menjadi anak yang baik, sukses, berguna bagi nusa dan bangsa. Dan berbagai macam keinginan lainnya. Ketahuilah, bahwa itu adalah bentuk lain dari mengharap kembali.
Akan tetapi, para penulis NovelToon yang baik. Mereka tetap terus menulis menyenangkan hati para pembaca, meski tak selalu mendapat like, comment, dan vote dari mereka.
Sebagian dari para penulis memegang teguh sebuah quotes dari salah satu penulis novel di NovelToon yang berjudul "Marriage Order" dengan nama pena Viviani. Katanya, dalam sebuah group chat "Mari menulis dengan ikhlas"
Akan tetapi, perasaan Rizky tak sesederhana para penulis NovelToon. Pria berusia 24 tahun itu belum mengerti bagaimana caranya mencintai seseorang dengan ikhlas. Ada banyak hal yang membuat ia takut. Salah satu yang kedua setelah takut perasaannya tak terbalas, ia juga takut hubungan persahabatannya menjadi korban.
Ia memilih memendam perasaannya. Tidak tahu akan sampai kapan. Kali ini, ia melalui malam bersama gadis pujaannya seperti biasa—bercengkerama, bergurau, dan memandangi wajah eksotis gadis itu dengan leluasa. Mungkin saja, setelah malam ini berlalu. Perasaannya semakin mendalam.
Waktu telah menyentuh pergantian hari. Dua muda-mudi itu saling memandang. Lalu, malu-malu berpaling. Melempar pandangan jauh menatap langit. Tak ada bulan dan bintang di sana. Tapi tak masalah bagi Rizky, sebab bulan dan bintang telah tenggelam di wajah gadis pujaannya, Salwa Aziza.
***
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu
menimang alias menggendong..
meminang kan tugasnya juan
malah curcol
calon author famous
jadi inget sama novel lawas..yg percakapannya emang dikit dan lebih bnyk narasinya...tapi setiap kalimatnya bermakna banget....
nyari judulnya susah, gak inget full judulnya,, yg ke inget cuma bibit, bebet, bobot😆 syukur Alhamdulillah ketemu🥺
kk othor bikin karya lain Napa di noveltoon ini🙏😍, sungguh cara penyampaian ceritanya 👍 the best.
ya udah segitu aja deh cuap2 nya
sehat2 ya kakak author 🤗🌵
salam dari green💚🌵
assalamu'alaikum 🙏🤗