Marcelo, seorang anak pengusaha terkenal jatuh cinta pada seorang gadis sederhana. Sayangnya cintanya tidak direstui oleh sang ibu, sehingga dia harus berpura-pura gila agar bisa bersatu dengan gadis itu.
Demi cintanya, Mitha rela menikah dengan laki-laki gila dan hidup menderita karena mertua yang menjadikannya seorang pembantu di rumah mewahnya.
Mampukah Mitha bertahan demi cintanya pada Celo sang suami? Yuk ikuti kisah selanjutnya dalam Cinta Gila
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AYi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CG# 17
Akhirnya, Marcelo dengan berat hati mengabulkan keinginan sang istri. Dia mau mengantarkan sang istri kembali ke rumah orang tuanya tetapi hanya boleh menginap satu malam saja. Setelah itu mereka harus segera kembali ke kota yang sekarang mereka tempati.
Laki-laki itu tidak ingin keberadaannya diketahui oleh sang ibu. Marcelo yakin jika sang ibu pasti akan berusaha membawanya kembali ke istana rasa neraka milik kedua orang tuanya. Oleh karena itu, dia hanya mengizinkan sang istri tinggal satu malam saja.
Perjalanan mereka memakan waktu lima jam menggunakan bus umum. Sore hari keduanya baru sampai di rumah Pak Cakrawala. Kebetulan pasangan suami istri itu sudah pulang kerja saat anak dan menantunya datang.
Mitha langsung menghambur ke pelukan ibunya, lalu sang ayah pun ikut memeluk ibu dan anak itu. Ada tangis haru dalam pelukan mereka, bisa bertemu lagi di saat sudah tidak berharap bisa bertemu dalam waktu dekat. Rasa rindu setelah setahun lebih lamanya bisa terobati walau tidak sepenuhnya.
Kedatangan Mitha dan Celo kemarin hanya bertemu sebentar lalu pergi meninggalkan kota itu. Kini, anak perempuan satu-satunya telah datang lagi. Betapa bahagianya pasangan yang tak lagi muda itu.
"Kalian menginap di sini, 'kan?" tanya Bu Sekar.
"Iya, Buk. Tapi cuma semalam aja, nggak apa-apa, 'kan?" sahut Mitha yang kini telah duduk di antara ayah dan ibunya.
Malam ini jadilah kedua sejoli yang sudah halal menurut agama dan negara itu menginap di rumah kecil nan sederhana milik Pak Cakrawala. Mitha dan Celo menempati kamar Mitha sewaktu belum menikah. Kamar seluas tiga kali tiga meter itu hanya terisi ranjang kecil ukuran tiga kaki, satu lemari pakaian dan meja belajar.
"Kakak mau ke mana? Aku ikut."
Lagi-lagi wanita cantik yang masih belia itu tidak mau ditinggalkan sang suami walau sejenak karena harus ke kamar mandi. Istri Celo itu mengikuti sang suami yang hendak ke kamar mandi yang terletak di belakang, menyatu dengan dapur. Laki-laki merasa aneh dengan tingkah laku sang istri, selain itu Celo juga merasakan tiba-tiba sesak ketika memandang sang istri yang terlelap.
Pagi menyapa, tangan kecil Mitha masih setia memeluk sang suami walaupun kumandang adzan mulai terdengar. Setiap kali sang suami bergerak, dia akan semakin memeluk erat suaminya. Sepertinya istri Marcelo itu tidak ingin berpisah dengan sang suami.
"Sayang, bangun yuk. Sudah adzan subuh!" bisik Celo di telinga sang istri, sambil berusaha melepaskan belitan tangan sang istri.
Laki-laki berusia dua puluh dua tahun itu menatap wajah sang istri yang terlihat semakin cantik walau dalam kondisi baru bangun. Rasanya dia tidak ingin melakukan aktivitas apapun selain memeluk sang istri yang cantik luar dalam itu. Tidak bisa dia bayangkan jika harus berpisah dengan sang istri nanti.
Tangan Marcelo bergerak mengusap mata, hidup, pipi dan terakhir bibir ranum milik istrinya yang berbadan mungil itu. Semua yang ada dalam diri sang istri sudah membuatnya candu. Jika tidak mengingat di mana mereka berada, laki-laki itu pasti sudah menerkam Mitha sampai kelelahan dan bermandikan keringat.
Sayangnya mereka saat ini berada di rumah orang tua Mitha yang tidak begitu luas dan tidak ada peredam suara, sehingga keinginan untuk menerkam sang istri pun urung. Celo sudah menjanjikan pada diri sendiri, nanti sesampainya di kontrakan dia akan menerkam istrinya itu sampai tidak bisa berjalan. Membayangkan itu saja, sudah membuat Celo senyum-senyum sendiri.
Mitha pun terbangun karena mulai terusik, walaupun sudah bangun dia tetap tidak mau melepaskan tangannya dari tubuh sang suami. Entah kenapa semakin waktu bergulir, wanita itu semakin takut berjauhan dengan sang suami. Setelah dibujuk dan dirayu akhirnya mau melepaskan tangan yang menempel di anggota tubuh suaminya.
Usai menjalankan ibadah bersama, Mitha membantu ibunya memasak. Namun begitu sang suami tidak diizinkan meninggalkan area dapur. Hal itu membuat bapak dan ibu wanita itu menggelengkan kepalanya.
"Apa kamu ngidam toh? Tingkahmu persis kek orang mengidam," tanya Bu Sekar penasaran.
Tidak hanya pada sang suami wanita muda itu bergelayut manja, pada kedua orang tuanya pun tak ingin jauh. Wanita itu bahkan meminta pada bapak dan ibunya untuk tidak berkerja hari ini Mereka juga tidak dibolehkan keluar dari rumah.
Setelah beres semua pekerjaan rumah, Celo mengajak istrinya kembali ke perantauan. Laki-laki itu takut orang-orang ibunya mengendus keberadaan mereka di gubuk kecil nan sederhana itu. Lebih cepat meninggalkan rumah itu lebih baik dari pada harus tertangkap oleh mereka.
Celo dan Mitha pamit pada dua orang paruh baya itu. Mereka berjalan menuju jalan raya karena rumah Pak Cakrawala berjarak sekitar lima ratus meter dari jalan raya lintas provinsi. Tak menunggu lama, bis dengan tujuan kota yang akan mereka datangi sudah tampak di ujung jalan mulai mendekat.
Di halte itu tidak hanya ada mereka saja. Banyak juga penumpang ingin pergi ke tempat yang sama dengan tujuan mereka. Tanpa mereka sadari jika salah satu penumpang itu adalah orang suruhan orang tuanya yang ditugaskan untuk membututi mereka.
Satu jam lebih mereka menempuh perjalanan, bis itu berhenti di terminal untuk menurunkan dan menaikkan penumpang. Mitha mengajak sang suami ke kamar mandi karena kantung kemihnya terasa penuh. Mereka turun dari bis dan bergegas menuju toilet umum.
Berhubung toilet perempuan dan laki-laki dipisah. Mereka berpisah di depan bangunan toilet. Celo yang merasa selesai terlebih dahulu menunggu istrinya di dekat musholla yang berada tak jauh dari toilet umum.
Beberapa saat menunggu, tidak ada tanda-tanda kedatangan sang istri. Ingin rasanya Celo menyusul sang istri ke kamar mandi umum itu. Namun, dia urung karena laki-laki dilarang masuk ke toilet perempuan.
Bis sudah mau berjalan tetapi Mitha tetap belum keluar juga dari kamar mandi. Celo pun panik tetapi dia harus tetap berpikir jernih. Jangan sampai gelap mata karena terlalu panik dan tidak bisa menguasai diri.
Celo kembali ke bis, menemui sopir bus dan kondekturnya. Setelah berbincang beberapa saat, akhirnya sopir bus itu mau menunggu sepuluh menit, jika lebih maka mereka akan ditinggal.
Setelah menemui sopir bus, Celo langsung berlari ke arah toilet perempuan. Dia minta tolong pada ibu-ibu yang kebetulan akan masuk ke area toilet. Ibu itu mengecek setiap bilik kamar mandi, ternyata tidak ada orang lain selain dirinya di dalam kamar mandi itu.
"Maaf, Mas. Tidak ada orang lagi di dalam. Cuma ada saya sendiri ini," ujar ibu yang tadi dimintai tolong.
Bagaikan dipukul dengan godam dengan sangat kuat. Celo semakin panik, seketika langsung berlari masuk ke kamar mandi. Kosong!
"Mitha!"
***
sukses selalu Thor
Laras baik untungnya
meski banyak rintangan yang selama ini menghalangi,akhirnya semua bisa bahagia.
semau sendiri.