Kecelakaan mengerikan membuat Sakalingga Ibra lumpuh, membuatnya kehilangan semangat hidup. Ia pesimis akan pulih kembali dan menolak semua bentuk terapi yang disarankan.
Sebagai terapis andal, Jenaka Tatjana yang ditawari pekerjaan untuk membantu memulihkan kondisi pria itu merasa tertantang. Meskipun awalnya kesulitan menangani sikap Lingga yang penuh amarah, perlahan-lahan pesona Jenaka mulai membuat Lingga membuka diri.
Namun, ketika Lingga menyatakan cinta, akankah Jenaka percaya itu bukan sekadar rasa terima kasih dari sang pasien kepada terapisnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17
Lingga sudah bangun saat Jenaka masuk kamarnya, pria itu membungkuk sambil memijat paha dan betisnya. Jenaka menyaksikan dengan puas, senang karena Lingga mengambil peran aktif dalam proses pemulihannya.
"Semalam aku ngobrol lama sekali dengan Tari,” gerutu Lingga tanpa mengangkat wajah.
“Bagus. Minta maaflah dengan sungguh-sungguh kepadanya,” ucap Jenakasambil menyelinap ke belakang Lingga, lalu mulai memijat punggung dan bahunya.
“Tari marah. Sepertinya Dante langsung pergi lagi setelah mengantarnya pulang, dan Tari menduga Dante menemui wanita lain.”
Jemari Jenaka berhenti memijat. 'Apakah itu mungkin Dante selingkuh? Tapi sepertinya, Dante bukan tipe yang suka main belakang.' batin Jenaka
Lingga memutar kepala untuk menatap Jenaka. “Tari menduga Dante berhubungan denganmu,” ucapnya blak-blakan.
Jenaka kembali menggerakkan jemari. “Terus kau bilang apa pada Tari?” Jenaka bertanya sambil mencoba tetap tenang dan tetap berkonsentrasi pada tubuh Lingga.
“Kukatakan aku akan mencari tahu dan memecatmu jika Dante dan kau benar-benar ada hubungan,” sahut Lingga. “Tak perlu memperlihatkan wajah selugu itu, karena kita berdua tahu Dante tertarik kepadamu. Kau tipe wanita yang banyak di sukai pria."
“Aku tidak menjalin hubungan apa pun dengan Dante,” ucap Jenaka pelan. “Selain dia sudah menikah, kapan aku punya waktu bertemu dia? Aku bersamamu seharian, dan pada malam hari aku terlalu lelah mengerahkan energi yang kubutuhkan untuk mengendap-endap keluar.”
“Kata Tari, dia melihatmu di taman bersama suaminya beberapa waktu lalu.”
“Dia benar. Saat itu aku dan Dante membahas dirimu, bukan bermesraan. Aku tahu Dante tidak bahagia bersama Tari...”
“Bagaimana kau tahu?”
“Aku tidak buta. Tari mencurahkan segenap waktunya dua tahun ini untukmu dan jelas-jelas menelantarkan suaminya. Wajar saja Dante kesal padanya. Menurutmu, untuk apa Dante berkeras mencarikan terapis untukmu? Dia ingin kau bisa berjalan lagi supaya dia bisa memiliki kembali istrinya," ucap Jenaka jujur.
Lingga mengembuskan napas. “Baiklah, aku percaya padamu. Tapi jika kau mulai berpikir betapa menariknya Dante, aku tidak bisa mentoleransi orang yang menyakiti adikku."
“Dia wanita dewasa, Lingga. Kau tidak bisa terus menerus turun tangan mengurusi masalahnya.”
“Aku bisa melakukan itu selama Tari membutuhkanku, dan selama aku masih mampu. Tiap kali memikirkan seperti apa keadaan Tari setelah ibu kami meninggal… sumpah, rasanya begitu sakit."
Setidaknya Mentari memiliki ibu yang menyayanginya. Kata-kata itu sudah di bibir Jenaka, namun batal ia ucapkan. Bukan salah Mentari kalau ibunda Jenaka bukan ibu penyayang. Beban kepahitan hidup Jenaka adalah miliknya sendiri, bukan beban yang boleh ia tumpukan ke bahu orang lain.
“Menurutmu, Dante benar-benar menjalin hubungan dengan wanita lain? Di satu sisi, aku tidak melihat kemungkinan itu. Dante begitu tergila-gila kepada Tari dengan cara yang tidak disadari siapa pun.”
“Kau tahu dari mana?”
“Tahu saja dari caranya menatap istrinya.”
"Sok tahu," Lingga bersandar pada tubuh Jenaka, payud*ra Jenaka yang lembut menyangga bobotnya. Tangan Jenaka masih memegang bahu Lingga, berat pria itu bertumpu ke tubuhnya. Tubuh Lingga familier baginya seperti tubuhnya sendiri, tekstur kulit Lingga, bahkan wangi tubuhnya, seolah Lingga adalah bagian dari dirinya.
Tiba-tiba Jenaka ingin menempelkan pipi di kepala Lingga yang memiliki potongan rambut tidak rata, merasakan tekstur rambutnya yang sehalus sutra. Alih-alih, Jenaka menepis dorongan itu karena begitu asing baginya. Tetapi, kepala Lingga seperti memanggil-manggil, sehingga Jenaka memindahkan tangan dari bahu Lingga ke helaian-helaian rambutnya.
“Rambutmu seperti domba,” ucap Jenaka berbisik dan diselipi tawa.
“Kalau begitu, silakan pangkas rambutku,” ucap Lingga, dan membiarkan kepalanya menemukan posisi nyaman di bahu Jenaka.
“Kau memercayaiku untuk memotong rambutmu?” tanya Jenaka terkejut.
“Tentu saja. Aku memercayaimu melatih tubuhku, mengapa tidak berani memercayakan rambutku?” Lingga mengemukakan alasan.
“Kalau begitu, kita lakukan sekarang,” ucap Jenaka sambil menepuk bahu Lingga. “Sekarang menyingkir dariku," Jenaka mendorong tubuh Lingga menjauh dari tubuhnya.
Jenaka menggerakkan gunting di rambut lebat Lingga, pria itu kini semakin akrab dengannya melebihi pasien lainnya yang pernah ia tangani, bahkan ada anak-anak yang paling dengannya sekalipun. Lingga merupakan tantangan bagi karier Jenaka, dan ia tidak mengerti mengapa ia tidak merasakan hawa dingin dan mual seperti yang biasa ia alami ketika ada pria mendekatinya. Lingga bisa menyentuhnya, padahal ia tidak tahan disentuh pria mana pun.
Mungkin itu karena Jenaka tahu ia aman bersama Lingga, kondisi Lingga tidak memungkinkan untuk mengejar Jenaka. Lingga sama sekali tidak berbahaya sama seperti anak-anak ia tangani.
“Apakah kau membuat botak besar di kepalaku?”
“Tentu saja tidak!” protes Jenaka sambil menyusurkan jemari ke rambut acak-acakan itu. “Asal kau tahu, aku tukang pangkas andal. Mau cermin?”
Lingga mengembuskan napas dengan gembira. “Tidak, aku percaya padamu. Kau boleh mencukur janggutku sekarang.”
“Tidak mau!” Jenaka menepis rambut yang berjatuhan di bahu Lingga. “Sekarang waktunya kau melakukan sesi latihan. Berhenti membuat alasan untuk menunda-nunda latihan.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pada hari-hari selanjutnya tidak ada lagi pembicaraan tentang Dante dan Mentari, meski sepasang suami-istri itu masih makan malam bersama Jenaka dan Lingga, sikap dingin antara mereka berdua sangat jelas terasa.
Dante selalu memperlakukan dan memberikan perhatian yang lebih kepada Jenaka, namun Jenaka enggan merespon karena ia tahu Mentari tengah mencurigainya. Lingga mengamati semua itu dengan tatapan setajam elang dan terus memposisikan dirinya di dekat Jenaka.
Jenaka mengerti alasan Lingga selalu menempel padanya, agar adiknya tidak menuduh Jenaka memiliki hubungan dengan suaminya. Jenaka membiarkan Lingga terus menempel sesuka hatinya dan menuruti semua keinginan Lingga. Mulai dari bermain poker, catur, atau menonton pertandingan sepak bola bersamanya. Banyak sekali yang menarik minat Lingga, Seolah Lingga baru saja mengalami koma selama dua tahun dan setelah siuman bertekad mengejar semua ketertinggalan informasi.