Menceritakan tentang Sandra seorang fashion jurnalist. Bagaimana ia di dunia kerjanya dan trauma dengan kisah percintaannya di masa lalu.
Kehidupan Sandra di dunia jurnalistik merupakan jiwanya, apalagi dia ditempatkan di desk fashion. Hubungannya dengan desainer tanah air terjalin dengan akrab dan menyenangkan.
Tapi itu tidak sejalan dengan kehidupan percintaannya, yang selalu dibayangi trauma masa lalunya. Banyak pria jatuh cinta padanya, namun semua ia tolak.
Hingga Bimo, teman baru di kantornya mengajaknya bicara, dan mengurai permasalahannya.
Dengan pria mana kira - kira cintanya disematkan?
Bagaimana lika - liku cintanya?
Apakah setelah ini Sandra akan menemukan cintanya dan berakhir bahagia atau terungkit lagi masa lalunya?
Inilah kisah Kasandra Putri Jingga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wurikart, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Bermain Ombak
Setelah Mas Bim sholat Ashar, kami pun bersiap ke pantai. Namun sebelum kepantai kami mengolesi sun block lagi. Aku pakai celana pendek Renata yang ada di cottage. Mas Bim pun melepas kemejanya, dan hanya menggunakan kaos oblong saja serta mengganti celananya. Yeeaayy, kami siap main air.
Kami kepantai tidak mengenakan alas kaki dan tidak membawa apa-apa. Mas Bimo hanya membawa kunci cottage yang dia kalungkan. Jadi saat bermain air tidak takut jatuh. Eh Mas Bimo juga mengantongi uang yang dimasukan ke dalam plastik kecil trus diikat ke kalung kuncinya.
"Mau langsung aja atau duduk dulu di pasir?"
"Langsung aja deh, selagi ombaknya bagus."
"Oke, kamu jangan jauh-jauh dari Mas Bim ya."
"Siap Maaas," teriakku sambil berlari ke pantai dan byuur! Aku menabrakkan diri ke ombak. Wuih segar sekali rasanya.
Aku keluar dari air setelah ombak pecah ditepi pantai dengan seluruh tubuh yang sudah basah. Senang rasanya. Aku menghampiri Mas Bim dengan senyum lebarku.
"Ayo Mas, basahin badanmu dulu. Yuk, nyebur. Enak Mas, segar, " kataku sambil menghampiri Mas Bimo dan menariknya.
"Sandra siap-siap, ombaknya datang!"
Kami terus bermain ombak, rencananya mau berenang sampai tengah tetapi ombaknya ternyata sering tinggi kalau di tengah dan Mas Bimo melarang berenang. Jadi kita bermain ombak dengan jarak paling jauh 15 meter.
Yang penting, setiap ombak datang, seluruh tubuhku basah kena air laut. Aku sangat menyukai dan menikmati sensasi saat bersentuhan dengan air laut.
Sekitar satu setengah jam kami bermain ombak, Mas Bimo minta selesai. "Sandra, yuk udahan. Nanti kalau kelamaan masuk angin."
"Yaaah," kataku kecewa. Lagi senang-senangnya disuruh selesaikan sebel. Tapi yang di bilang Mas Bim ada benarnya sih. Jadi aku menurut dengan kata - katanya.
"Kita beli kelapa muda, trus kita bawa ke cottage, yuk!"
"Yuk."
Masuk cottage masih dalam keadaan basah, aku langsung ke kamar mandi yang ada dikamar Renata sambil membawa ransel.
Oh ya, di cottage-nya Mas Bim ini, disetiap kamar ada kamar mandinya, selain yang ada di ruang tamu dan dapur.
Selesai mandi, aku memoleskan bedak tipis dan memakai lipgloss tipis ke bibirku. Aku lagi males pakai lipstik sore ini. Aku hanya menyisir rambutku dan kubiarkan kering alami. Untuk outfit, aku menggunakan kemeja berwarna biru muda dipadukan celana jeans biru 7/8.
Pakaian basah sudah masuk ke plastik dan aku masukkan ke ransel. Celana pendek Renata biar aku cuci dulu di rumah. Beres semua, aku pun keluar kamar.
Aku menuju teras, sore-sore begini enaknya melihat pemandangan pantai. Siapa tahu bisa lihat sunset. Tadi saat masuk, kelapa mudanya kami letakkan di teras. Sekarang, saatnya menikmati kelapa muda dengan semilir angin pantai.
Tidak lama, Mas Bim datang membawa dua piring makaroni schotel yang di dibubuhi saus sambal. 'Ya ampuun, pria idaman banget sih, aku dilayani terus.' Eh apa akunya yang malas ya? Tapikan aku tamu? Hehehe bela diri boleh dong.
"Makan dulu San."
"Iya."
"Mas, kamu bisa selancar gak?"
"Bisa. Kenapa emangnya?"
"Yeaay. Yuk kapan-kapan kita selancar."
"Kamu bisa?" tanyanya heran campur kaget.
"Hahaha heran ya?" Eh Selasa besok aku DLK sama Mas Zaki dan Mas Raka, kita mau ke Lombok. Salah satu agendanya menyelam dong."
"DLK itu Dinas luar kota bukan?"
"Iya."
"Kamu itu anak air ya?" Bisa selancar, menyelam. Terus bisa apa lagi?"
"Hahaha iya. Aku pingin jadi ikan."
"Jadi ikan? Emang bisa? Ya udah, kapan-kapan kita bikin agenda untuk selancar. Sebenarnya enak ramai-ramai ya kalau selancar. Di kantor ada yang bisa selancar?"
"Yang cewek cuma aku doang. Yang aku tahu, Mas Zaki, Mas Raka, sama Mark bisa."
"Hmm seru nih kalau ramai-ramai. Oke, nanti tanyain dulu deh ke Mas Zaki."
Memang banyak yang heran, kenapa aku bisa melakukan aneka olahan raga laut, seperti diving, surfing, dan snorkeling. Eh, snorkeling itu olah raga bukan sih? Hehehe aku gak tahu jawabannya.
Aku bisa semua itu karena belajar dari kakak sepupu, namanya Mas Adri. Dia anak tunggal, jadi ceritanya sejak aku SMP kelas 1 sampai kuliah tingkat 2, aku selalu diajak keluarga Oom Santoso, kakak Papa berlibur.
Setiap tahun, tanpa absen! Mereka selalu berlibur ke pantai, dan ketika menyelam semua ikut menyelam termasuk Oom San, Tante Rika, dan tentu saja Mas Adri. Tapi kalau surfing, Tante Rika hanya menunggu di tepi pantai saja.
Mas Adri mengajariku dari nol hingga aku bisa. Dia sudah seperti kakak kandung bagiku, jarak usia kami 8 tahun. Oom San dan Tante Rika pun memperlakukan aku layaknya anak sendiri, dari kecil aku sering nginap dirumah mereka.
"Mas, kita pulang jam berapa?" tanyaku.
"Habis Magrib aja gimana? Jadi aku tenang."
"Eh Mas Bimo kuat gak nyetir sendirian? Takutnya kecapean. Apa mau gantian?"
"Kuatlah. Yang penting kamu pijitin aku aja nanti."
"Ah gak mau. Mendingan besok ke tempat pijat kesehatan Mas."
"Aku belum pernah coba. Enak gak?"
"Enak kok. Aku biasanya sekalian luluran, terus ketiduran deh."
"Wah boleh di coba. Tapi aku enggak berani sendiri."
"Kayak spa-spa gitu loh Mas. Masa belum pernah?"
"Belum pernah anak manis."
"Ooh beneran belum pernah toh."
"Kamu mau pijet gak? Kalau mau bareng ya, aku penasaran, ingin coba."
"Boleh. Mau kapan? Kita harus booking dulu. Aku yang traktir deh."
"Mau besok? Eh kita lanjutin omongannya sambil makan nasi ya. Yuk ambil nasi dulu."
Kami pun ke dapur mengambil nasi, ayam goreng, dan sayur sop. Lalu kembali ke teras. Sambil memangku piring, kami kembali membahas soal pijat memijat.
"Ya udah mas, besok ya. Aku coba WA spa langganan aku dulu. 2 jam mau?"
"Apanya yang 2 jam? Dipijatnya? Terserah kamu deh. Pokoknya aku terima beres."
"Oke Mas. Kamu siapin celana pendek sama bawa pakaian dalam ya. Kalau sudah ada kepastian, bisa enggaknya sama jam berapanya, nanti aku kabarin kamu."
"Kalau bisa siang aja ya. Habis sholat Dzuhur dan makan siang."
"Siap Pak Bos."
"Ya udah, aku bersih-bersih dapur dulu. Biar nanti yang jaga tinggal ngepel aja."
Aku bantu beresin ruang tengah, memasukkan bantal guling yang tadi Mas Bimo ambil dari kamar, dan meja yang terlihat kotor. Hingga terdengar suara azan Magrib.
Semua perlengkapan kami sudah rapi, tinggal masukin ke mobil. Sambil menunggu Mas Bim sholat, aku WA Mama, memberi kabar, kalau kita jalan pulang setelah sholat Magrib, biar Mama gak khawatir, karena sudah malam.
"Sudah beres semua? Ini semua ya, yang masuk ke mobil?"
"Yuk, sekalian aja. Sini aku bantu."
***
Hai guys, kutunggu like dan comment nya ya..
Terima kasih🥰🥰🥰🥰🥰
Baca novelku judulnya 'Cinta sejati'. Tentang dua orang yang menemukan cinta sejatinya serta lika-liku perjalanannya. Klik foto profilku buat baca...
Baca dulu sinopsisnya dan 3 episode awal.
suka bgt ma critanya, simple n mudah dipahami n bahasanya jg gampang dicerna...
ayo nulis trus thor...💪💪💪