Berharap bisa lari dari kenyataan yang ada, namun justru membuat Killa terjatuh ke dalam kejadian yang tidak pernah dia duga dan itu membuatnya sangat terpukul.
Hubungan yang tidak pernah dia ingat dengan seorang pria bule, membuat Killa memilih untuk pergi sejauh mungkin. Hingga Killa memilih kembali dengan membawa seorang anak laki-laki berusia lima tahun.
Killa pikir, setelah dirinya pergi lama meninggalkan negaranya, dia akan kembali dengan tenang dan memulai hidup baru bersama putranya. Akan tetapi, ternyata tidak segampang itu. Dia dipertemukan kembali dengan seorang pria yang wajahnya masih melekat di ingatan Killa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lee_yuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 17. Menguak
Lagi dan lagi, Killa terus menanyakan hal yang sama sedari dirinya masuk ke dalam mobil pria asing ini. Namun, seperti di awal, pria itu tetap bungkam dan justru mengalihkan pembicaraan yang terjadi di antara mereka.
Hingga selang beberapa menit, sampailah mereka di taman alun-alun kota Surabaya. Meskipun terbilang sudah malam, taman ini tampak ramai. Banyak pasangan muda mudi yang masih di sana dan menghabiskan waktu mereka, mungkin.
Rupanya Vano cukup hapal betul dengan jalan yang ada di kota ini. Membuat Killa sedikit heran, siapa pria ini sebenarnya.
"Turun." Perintahnya ketika membuka pintu yang berada di samping Killa.
Tidak ingin menurut, Killa justru melipat tangannya di depan dada.
"Nggak. Aku di sini." Teguh wanita itu tanpa menatap ke arah Vano barang sedikit saja.
Vano menghela napas. Ternyata menghadapi wanita ini harus penuh dengan rasa sabar. Selain keras kepala, Killa juga sangat teguh dengan keputusannya.
"Mau keluar sendiri, atau aku gendong?" tawar Vano membuat mata Killa melebar seketika dan menatap ke arah Vano. Sedangkan pria itu menampilkan senyuman penuh arti serta menaikkan satu alisnya.
Dengan rasa kesal dan tentunya tidak mau digendong oleh pria itu, Killa memutuskan untuk keluar dari mobil. Wanita itu berencana jika ada kesempatan, ia akan lari dan kabur. Lalu segera pulang ke Malang. Menjauh, sejauh jauhnya dari pria aneh ini.
"Ngapain ke sini?"
Killa memperhatikan sekitarnya. Banyak pasangan muda mudi yang tengah bercengkerama, bahkan ada juga yang tidak tahu malu melakukan hal yang tidak sepatutnya di lakukan di tempat umum dan terbuka seperti ini.
Angin malam yang berhembus dan menerpa permukaan kulit bahu serta lengannya, membuat Killa sedikit merapatkan bahunya. Terasa sangat dingin hingga menusuk tulang.
Vano sadar akan kondisi Killa, lantas pria itu berjalan menuju pintu mobil bagian belakang lalu kemudian mengambil sebuah jaket di sana.
Hal yang mengejutkan Killa, ialah pria itu justru menyampirkan jaket tersebut ke bahunya. Killa tersentak kaget dan secara refleks mengangkat kepalanya, menatap ke arah pria yang tengah menggeleng ke kepadanya.
"Jangan protes." Cegahnya seolah tahu apa yang akan dikatakan oleh Killa. "Anginnya dingin. Bajumu juga cukup terbuka jika dipakai di luar seperti ini. Aku nggak ijinkan orang lain melihat milikku." Tekannya lagi sambil membenarkan tata letak jaket tersebut hingga membuat Killa merasa nyaman dan tidak kedinginan lagi.
"Udah tau aku makai baju kayak gini, masih aja diajak ke sini." Gerutu Killa dengan raut bersengut kesal.
Vano yang gemas melihatnya pun mencubit ujung hidung Killa hingga mrninggalkan bekas kemerahan di sana. Lalu mengabaikan peringatan wanita itu dan malah menggenggam tangannya dengan sangat erat.
"Kita duduk di sana dulu. Nanti aku ceritakan hal yang mungkin sudah kamu lupakan. Atau parahnya kamu tidak ingat lagi tentang kejadian itu," ujar Vano. Kemudian mengajak Killa untuk duduk di sebuah kursi yang kebetulan tidak ada yang menepati.
Meskipun rasa jengkel itu masih ada. Akan tetapi Killa juga penasaran dengan pria ini. Bagaimana bisa dia mengenali namanya, sementara ia sendiri saja tidak ingat jika pernah bertemu dengannya.
Tangan masih digenggam dengan begitu erat. Vano benar-benar takut kehilangan lagi sosok wanita yang sekarang ini berada di sampingnya.
Sebelum itu, Vano menatap wajah Killa tanpa berkata. Memindai seluruh wajah wanita yang tidak pernah berubah sama sekali menurutnya. Mungkin bagian yang sedikit berubah ialah, bagian pipi yang terlihat sedikit lebih berisi dari yang pertama kali Vano lihat. Juga wajahnya terlihat lebih bersinar sekarang. Seolah beban wanita itu sudah luntur tak tersisa.
Killa merasa ada yang aneh dengan tatapan pria itu. Wanita itu merasa risikan.
"Biasa aja natapnya. Kalau mau ada yang di omongin, buruan. Aku mau cepet pulang," ujar Killa dengan raut kesalnya.
Vano tersenyum. Rupanya wanita ini sangatlah tidak sama sikapnya dengan apa yang pernah diceritakan oleh adik iparnya.
"Pertama aku perkenalkan diriku," ucap Vano dengan nada yang sangat santai. "Namaku Vano. Stevano Siregar. Pria pertama yang melakukan itu padamu," imbuhnya. Kali ini Vano menatap serius ke arah Killa. Sampai-sampai membuat wanita itu kurang nyaman.
"Melakukan itu? Maksudnya?" tanya Killa penasaran. Sebab Vano tidak menjelaskan dengan detail.
"Apa kamu benar-benar lupa sebuah kejadian yang terjadi di pulau Bali beberapa tahun yang lalu?"
Mata Killa membukat, tubuhnya refleks mundur dari posisinya semula. Menatap tajam ke arah Vano yang tengah menunggu reaksi darinya.
"Mak-maksudnya ....?"