Novel ini mengandung bawang🤧 siapkan tissu terlebih dahulu.
"Pernikahan kita terjadi karena kesalahan, jadi jangan berharap aku akan mencintaimu!" Dimas Fahrian.
"Aku memang bukan istri Dimas, tapi akulah yang selalu Dimas prioritaskan!" Sila Derkain.
"Akulah istri rasa simpanan." Renata Lusiana.
"Dan aku yang akan meratukan mu, Renata!" Reza Argantara.
Pernikahan yang terjadi karena kesalahan satu malam yang mengharuskan Dimas menikahi Renata tanpa rasa cinta, karena hati nya telah berpaut pada wanita lain.
Apakah Renata bisa mempertahankan rumah tangga nya bersama Dimas atau memilih pergi dan membangun hidup baru dengan orang baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sendi andriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 IRS
Dimas tercenung, dia masih belum beranjak dari tempatnya, perkataan Renata benar-benar membuat ulu hati nya terasa nyeri.
"Renata, aku benar-benar tak tahu kalau kau menyukai aku. Sungguh demi apapun aku merasa menjadi pria paling bersalah disini," gumam Dimas, dia menyugar rambutnya dengan kasar. Rasa sesal menggelayuti hatinya.
Apakah dia siap kehilangan gadis baik itu, selama ini hanya dia yang memberikan nya perhatian, bahkan dia dengan sabar mengurus segala kebutuhan nya selama dia sakit berminggu-minggu di rumah sakit. Tapi sialnya, dia tak mengira kalau selama ini perhatian yang Renata berikan adalah bentuk dari perasaan nya.
Egois. Itulah kata yang pantas untuk menggambarkan sikap Dimas saat ini, dia tak mau memutuskan Sila, tapi dia juga tak mau kehilangan Renata.
"Aku harus bagaimana, ya ampun aku bingung!" Gerutu Dimas sambil mengusap lembut wajah nya kasar. Hingga dia menoleh dan bel sudah di bunyikan, pertanda kelas di mulai. Dia berlari dengan cepat untuk bisa sampai ke kelas tepat waktu.
Namun sayang, dosen sudah terlanjur masuk dan naasnya, hari ini adalah giliran dosen killer yang mengajar, memberikan materi tentang seni budaya.
"Yang terlambat masuk, silahkan keluar dan berdiri di luar sampai jam pelajaran saya habis!" Tegas dosen bernama Bram, dia memang terkenal sebagai dosen killer di kampus, ketegasan nya dalam menyikapi mahasiswa yang terlambat tak perlu di ragukan lagi dan kali ini Dimas yang terkena hukuman.
Dengan langkah gontai, Dimas kembali keluar ruangan. Dia sempat melirik Renata yang menatap nya dengan sendu, namun buru-buru memalingkan wajah nya ke samping. Sedangkan Sila tak menunjukan reaksi apapun, dia terkesan acuh dan bodo amat, padahal pacarnya kena hukuman.
Dimas berdiri menyandar di tembok, ternyata bukan hanya dirinya yang di hukum dengan berdiri di luar kelas padahal pelajaran sedang di mulai, tapi ada beberapa anak kelas sebelah juga yang di hukum karena terlambat. Mereka tersenyum dan melambaikan tangan saat melihat Dimas juga sedang menjalankan hukuman.
"Kelas siapa?" Tanya anak kelas sebelah tanpa suara, hanya dengan gerakan mulut saja. Karena takut ketahuan dosen, kalau mereka malah mengobrol, bisa bertambah hukuman lagi.
"Pak Bram." Jawab Dimas, lalu menggerakkan tangan di leher nya, mengisyaratkan kalau yang sedang memberikan materi adalah sang dosen killer. Mereka pun mengangguk paham atas jawaban Dimas.
Singkatnya, dua jam pelajaran selesai sudah tanpa terasa, Dimas akhirnya menghela nafas lega karena hukuman nya selesai juga. Tak lama, dia melihat Renata dan Reza keluar kelas, mungkin menuju kantin seperti biasanya.
"Kemana Re?"
"Kemana-mana hatiku senang." Jawab Renata datar, lalu nyelonong pergi tanpa menghiraukan ekspresi Dimas yang sudah asam.
Sila juga keluar dengan menenteng tas berisi buku-buku milik Dimas yang di kembalikan oleh Renata. Dimas adalah penyuka komik anime, dan Renata juga ikut-ikutan menyukai anime, hingga beberapa buku komik milik Dimas di pinjam Renata.
"Nih buku kamu, repot tau gak? Mana berat lagi." Ketus Sila sambil memonyongkan bibirnya.
"Baru gitu juga, belom aku suruh kamu ngurusin aku berminggu-minggu di rumah sakit kek Renata!"
"Nah mulai dah, jadi kamu mau banding-bandingin aku sama Renata lagi? Kalo kamu seneng banget sama Renata, kenapa gak jadian sama dia aja?" Gerutu Sila lalu pergi meninggalkan Dimas yang masih terpaku di tempatnya.
"Yang, tunggu!" Dimas akhirnya mengejar Sila yang sudah duluan pergi ke kantin.
Sila yang tak tahu malu malah duduk di meja yang sama dengan Reza dan Renata, dia juga memesan menu yang sama dengan Reza. Mau mengusir, tapi ini tempat umum, tapi kalau tidak di usir Renata merasa tak nyaman, apalagi jika mereka malah pamer kemesraan nantinya. Karena sudah di pastikan, ada Sila pasti ada Dimas yang akan menyusul.
Benar saja, tak lama Dimas datang dengan nafas tersengal dan tangan yang memeluk tas berisi komik di dada nya.
"Udah pada pesen nih?"
"Udah kok, tinggal Lo aja yang belom. Mau pesen apa?" Tanya Reza berbaik hati, meski dia juga kurang suka dengan sikap kurang tegas Dimas.
"Mie ayam bakso, Za."
"Kenapa harus repot-repot sih Za, biarin aja dia pesen makanan nya sendiri." Renata mencegah Reza yang sudah bersiap pergi.
"Gak usah di biasain sikap manja nya, nanti gak tahu malu!" Sindir Renata membuat Dimas dan Sila merasa tersudut. Akhirnya mau tak mau, Dimas pergi sendiri memesan makanan nya.
"Lo ketus amat belakangan ini, Re."
"Ya Lo mikirlah bangsatt! Yang bikin gue gini tuh siapa?" Ketus Renata, dengan tatapan tajam yang membuat nyali Sila menciut seketika.
"Kalo kata orang mah, punya otak jangan di taro di dampal kaki." Celetuk Reza membuat Sila mendelik.
Dua orang itu kompak memojokkan nya, Renata dan Reza sama-sama menyinggung soal dirinya yang tak tahu malu.
"Kalian ini kenapa sih? Kompak amat mojokin gue!"
"Gue? Lo punya otak gak sih? Kalo emang punya, harusnya kepikiran dong kenapa gue gini sama Lo." Balik tanya Renata datar namun dengan ekspresi tenang nya.
"Salah ya gue jadian sama Dimas? Gue juga kan berhak buat bahagia, bukan cuma Lo doang."
"Enggak kok, gak salah. Gue yang salah terlalu percaya sama Lo, karena gue pikir Lo temen Gue, tapi ternyata Lo musuh dalam selimut." Ucap Renata pelan namun menusuk tepat di jantung Sila.
Begitu pun Dimas, dia yang sudah kembali dari memesan makanan sekilas mendengar ucapan pedas Renata pada Sila.
"Maksudnya apa sih? Jadi selama ini kamu tahu kalo Renata suka sama aku, Sil?" Tanya Dimas, membuat Sila membeku.
"Dimas.."
"Kita pindah meja aja yuk, Re. Biarin mereka selesaikan urusan rumah tangga mereka." Celetuk Reza lalu menarik tangan Renata menjauh dari sepasang kekasih yang sebentar lagi pasti akan berdebat.
Entah kenapa juga, sisi lembut Renata menghilang terganti dengan sikap ketus dan ucapan pedas yang selalu meluncur dari mulutnya tanpa dia sadari. Mungkin karena efek sudah tersakiti hingga membuatnya seperti ini. Tapi apakah dia juga salah disini?
"Bagus Re, lawan. Jangan terlihat lemah di depan mereka, meski Lo masih berusaha perjuangin Dimas, tapi jangan keliatan ngemis."
"Makasih ya Za, Lo emang yang terbaik." Ucap Renata, Reza tersenyum lalu mengusap ujung bibir Renata yang sedikit belepotan saus mie ayam.
"Santai aja, kayak sama siapa aja." Jawab Dimas masih dengan senyum yang menghiasi wajah tampan nya.
"Rere!" Keduanya kompak menoleh, Renata membulatkan matanya saat melihat siapa yang datang mengunjungi nya ke kampus.
….
🌷🌷🌷🌷