NovelToon NovelToon
Penyesalan Zenaya

Penyesalan Zenaya

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Perjodohan / Tamat
Popularitas:1.3M
Nilai: 4.8
Nama Author: Kim O

Kehidupan Zenaya berubah menyenangkan saat Reagen, teman satu kelas yang disukainya sejak dulu, tiba-tiba meminta gadis itu untuk menjadi kekasihnya.

Ia pikir, Reagen adalah pria terbaik yang datang mengisi hidupnya. Namun, ternyata tidak demikian.

Bagi Reagen, perasaan Zenaya tak lebih dari seonggok sampah tak berarti. Dia dengan tega mempermainkan hati Zenaya dan menginjak-injak harga dirinya dalam sebuah pertaruhan konyol.

Luka yang diberikan Reagen membuat Zenaya berbalik membencinya. Rasa trauma yang diberikan pria itu membuat Zenaya bersumpah untuk tak pernah lagi membuka hatinya pada seorang pria mana pun.

Lalu, apa jadinya bila Zenaya tiba-tiba dipertemukan kembali dengan Reagen setelah 10 tahun berpisah? Terlebih, sebuah peristiwa pahit membuat dirinya terpaksa harus menerima pinangan pria itu, demi menjaga nama baik keluarga.

(REVISI BERTAHAP)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim O, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 : Kecemburuan Reagen.

Musim salju berakhir, es-es sudah mulai mencair hingga membuat beberapa ruas jalan menjadi sedikit licin. Itulah sebabnya Zenaya sengaja tidak membawa mobil dan memilih bekerja menggunakan bus umum selama beberapa hari terakhir ini.

"Cuacanya dingin ya, Bu," ujar Jane tiba-tiba. Perawat muda itu baru saja keluar melalui pintu UGD.

Zenaya berjengit kaget. "Kamu ini kebiasaan sekali muncul tiba-tiba, Jane!" ujarnya jengkel.

Jane tertawa kecil sembari menggaruk-garuk belakang kepalanya. "Habis Ibu melamun terus setiap kali aku lihat," kilah gadis muda itu. "Ibu tidak pulang? Mobilnya ke mana?" tanya Jane saat melihat Zenaya hanya berdiri di depan lobby rumah sakit.

"Aku tidak bawa mobil." Jawab Zenaya singkat sambil meniup-niup tangannya yang mulai kedinginan. Gadis itu memang tidak terbiasa memakai sarung tangan meski di tengah musim dingin seperti sekarang ini.

"Kalau begitu rumah kita 'kan searah, kita pulang bersama saja ya, Bu? Pacarku sebentar lagi datang." Dengan ramah Jane menawarkan tumpangan gratis.

Zenaya menggeleng pelan. "Aku tidak mau jadi obat nyamuk, Jane."

"Tidaklah, Bu. Dari pada harus pulang naik bus."

"Terima kasih, Jane, tapi aku akan pulang sendiri saja." Tolak gadis itu halus.

Sebuah tangan kekar tiba-tiba merangkul bahu Zenaya. "Dia akan pulang bersamaku, Jane."

"David!" pekik Zenaya terkejut.

"Mr. David mengagetkan saja!" seru Jane. Ia pun menghela napas pasrah. "Kalau Mr. David sudah turun tangan sih, aku menyerah saja." Tawa gadis itu terdengar kemudian.

David dan Zenaya pun pergi meninggalkan Jane yang masih menunggu kekasihnya datang. Pria itu memang sejak dulu ingin sekali bisa mengantar pulang Zenaya, tetapi tak pernah memiliki kesempatan karena jadwalnya sangat padat. Syukurlah ada pasien yang membatalkan janji hari ini, jadi ia bisa leluasa berduaan dengan gadis yang diam-diam disukainya itu.

"Aku ingin mengajakmu makan malam dulu. Bagaimana?" tanya David setelah selesai memakai seatbelt-nya.

"Hmm, kalau kamu mau mentraktirku sih, boleh saja," jawab Zenaya jenaka. Gadis itu memang terlihat sedikit lebih nyaman berdekatan dengan David dibanding pria mana pun.

David tertawa. Mereka pun meninggalkan rumah sakit untuk makan malam di taman kota.

"Ini adalah tempatku mengasingkan diri dari lelahnya pekerjaan," ujar David begitu mereka sampai di taman kota. Mereka tengah duduk persis di hadapan danau yang tenang dengan dihiasi lampu warna-warni kota nan memanjakan mata.

Meski suara-suara dari para pengunjung terdengar riuh, tetapi hal tersebut sama sekali tidak mengganggu ketenangan Zenaya. Dia benar-benar menikmati suasana malam ini.

"Terima kasih sudah mengajakku ke sini, Dav. Walau lahir dan hidup di sini rasanya aku seperti orang asing karena tidak pernah pergi ke mana pun." Zenaya menatap takjub sebuah kapal kecil yang bergerak di hadapan mereka. Itu adalah moda transportasi umum yang paling diminati para wisatawan.

"Sesekali luangkan waktu untuk dirimu sendiri, Zen. Itu akan sedikit membantu menghilangkan beban pikiran." David menghabiskan gigitan terakhir burger-nya dan membuang bungkus makanan tersebut ke dalam tempat sampah yang tersedia.

"Lain kali kita keliling danau dengan kapal itu." David menunjuk kapal yang baru saja melewati mereka.

"Aku tunggu." Zenaya tersenyum.

Suasana mendadak hening karena Zenaya fokus memperhatikan sekumpulan angsa putih yang turun ke danau. Angsa-angsa tersebut mengepakkan sayap indahnya sembari menyusuri danau.

"Angsa yang sangat cantik," puji Zenaya tulus.

"Tapi tidak secantik dirimu."

Zenaya kontan menoleh. Ia bisa menatap sorot mata lain yang terpancar dari wajah David. Pria itu tak lagi menatapnya jenaka seperti biasa.

"Zen," panggil David.

Suaranya yang dalam membuat Zenaya sontak terdiam.

"Setiap mahluk membutuhkan pasangan untuk hidup, tak terkecuali dengan dirimu." David mulai tampak serius. "Jadi, bisakah kau mulai membuka hatimu dan melihatku bukan seperti teman kerja, Zen?" tanya pria itu tanpa basa-basi.

Zenaya terkesiap. Ia sama sekali tidak menyangka ajakan makan malam David yang pertama digunakan untuk menyatakan cinta padanya.

Ya, dari perkataan David, Zenaya tentu masih mengingat bahwa ia pernah mengatakan ketidaktertarikannya untuk membina rumah tangga karena trauma masa lalu.

"Aku ...," Zenaya tak mampu melanjutkan perkataannya. David merupakan pria yang sangat baik, dan jujur saja ia lah yang senantiasa membantu Zenaya juga Grace saat baru pertama kali menginjakkan kaki di rumah sakit.

David jugalah orang yang dengan sukarela mendonorkan darahnya saat Zenaya terlibat kecelakaan beberapa tahun lalu. Meski mereka sempat menjauh karena kesibukan masing-masing, gadis itu tetap tak akan pernah melupakan kebaikan-kebaikan yang diberikan David.

Akan tetapi, untuk hal yang lebih dari itu, Zenaya tentu tak bisa melakukannya. Sebab baginya, David hanya pengganti Adryan, saat sang kakak sedang berada di belahan bumi lain. Walau terkesan jahat, tetapi memang itulah yang dirasakan Zenaya.

"Kamu tidak perlu menjawabnya sekarang. Kumohon, pikirkanlah terlebih dahulu, dan aku akan menunggu jawabannya." David menatap Zenaya dalam-dalam.

Zenaya mengangguk samar dan tersenyum simpul.

David membalas senyumnya. " Baiklah, malam sudah semakin dingin. Bagaimana kalau kita pulang saja?"

Zenaya kembali mengangguk. Saat berdiri David langsung membuka mantelnya dan memakaikan mantel tersebut pada Zenaya. Tak lupa dia juga melepaskan sarung tangannya untuk gadis itu.

"Tidak perlu, Dav, aku–"

"Jangan membantah, tanganmu sudah sangat pucat!" tegas David pura-pura marah.

Zenaya tak lagi berkata apa-apa. Ia membiarkan saja pria itu melakukannya sesuka hati.

Mereka pun kemudian pergi meninggalkan taman tersebut.

...***...

Donny, salah seorang penjaga rumah Zenaya, membungkukkan badannya dalam-dalam saat mobil Reagen bergerak keluar dari gerbang rumah gadis itu. Reagen lagi-lagi harus menelan kekecewaannya ketika mendapati gadis itu belum pulang ke rumah.

Saat mobil Reagen baru saja keluar dari gerbang, sebuah sedan mewah terlihat berhenti di sana.

Mata pria itu sontak memicing sinis, tatkala mendapati David keluar dari dalam mobil sedan itu bersama Zenaya.

"Siapa itu?" tanya David pada Zenaya begitu mendapati ada mobil lain berhenti tepat di hadapan mereka. Sorot lampu mobil yang menyilaukan mata membuat David tidak bisa melihat siapa pengemudinya.

"Entah." Jawab Zenaya kaku, padahal jelas-jelas ia tahu betul bahwa itu adalah mobil Reagen.

Reagen yang berada di dalam mobil tak ingin repot-repot mematikan lampu sorot. Ia malah enggan bergerak mengambil jalan lain dan memilih untuk diam di tempat.

David sendiri tidak memerdulikan si pemilik mobil yang kurang sopan itu. Sebentar lagi ia juga akan langsung pergi, jadi biarkan saja orang itu menunggu sedikit lebih lama.

"Kalau begitu aku pulang dulu," pamit David pada Zenaya.

"Mantel dan sarung tanganmu?" Zenaya hendak membuka sarung tangan David, tetapi pria itu langsung menahannya.

"Pakai saja dulu. Kamu bisa mengembalikannya nanti." David membetulkan posisi mantel Zenaya.

Reagen yang melihat adegan tersebut tanpa sadar mencengkeram erat setir mobilnya.

"Terima kasih, Dav, aku masuk dulu." Zenaya tersenyum tipis. Saat dia hendak berbalik pergi, David dengan penuh keberanian tiba-tiba mendaratkan sebuah ciuman mesra di pipi Zenaya.

Zenaya mematung dengan bola mata nyaris keluar, begitu pula dengan Reagen yang melihatnya secara langsung. Ia hendak keluar dari mobil, tetapi sesuatu menahannya untuk tetap diam di tempat.

"Sampai jumpa besok." Seolah apa yang baru saja dilakukannya adalah hal biasa, David pun pamit pergi.

Zenaya tetap terdiam. Entah mengapa perasaan tak nyaman langsung hadir di benak gadis itu. Namun, Zenaya mencoba mengenyahkannya.

Setelah memastikan kepergian David, ia pun melangkah menuju gerbang rumahnya.

Reagen memandang geram sosok Zenaya yang melewati mobilnya tanpa menoleh. Dengan cepat ia pun turun dan langsung menggenggam pergelangan tangan gadis itu.

"Lepaskan aku!" pekik Zenaya.

"Kamu selalu saja menolak genggaman tanganku, tetapi tidak saat David mencium pipimu!" seru Reagen dingin.

"Bukan urusanmu!" jawab Zenaya tak kalah dingin. Zenaya hendak pergi meninggalkan pria itu tapi tidak berhasil.

Tak ingin Zenaya pergi begitu saja, Reagen malah menarik gadis itu ke dalam pelukannya.

"Hei, lepaskan aku!" teriak Zenaya. Ia meronta sekuat tenaga agar bisa melepaskan diri dari kungkungan tubuh Reagen yang jauh lebih tinggi darinya.

Kemarahan benar-benar menguasai diri Reagen. Gadis itu begitu kukuh ingin lepas dari pelukannya, tapi sama sekali tidak menolak ciuman David.

"Aku tidak sudi ada pria yang menyentuhmu, Zen!" Entah apa yang merasuki pikiran Reagen, tiba-tiba dengan kurang ajar dia mencium bibir tipis Zenaya dan memagutnya kasar.

Sementara tangan pria itu sibuk menghapus jejak David pada pipi Zenaya hingga memerah. Ia sama sekali tidak peduli jika ada orang yang memergoki mereka, sebab yang ada dipikiran Reagen saat ini adalah menghapus jejak pria brengsek itu dari wajah cantik wanitanya.

Zenaya tentu saja memberontak. Sekuat tenaga ia meronta-ronta sembari memukul-mukul dada Reagen agar bisa melepaskan diri. Namun, hal tersebut malah membuat Reagen semakin agresif. Lidah pria itu dengan intens membelit Zenaya demi memperdalam ciuman mereka.

Zenaya mendadak ketakutan. Air mata sudah mengalir membasahi pipi gadis itu. Ingatannya pun bergulir seketika.

Sepuluh tahun yang lalu Reagen mencuri ciuman pertamanya di tempat ini, dan Zenaya menjadi semakin marah ketika mengingatnya. Maka, dengan sekuat tenaga Zenaya akhirnya menggigit kuat bibir Reagen agar ciuman panas mereka terhenti.

Beruntung usaha Zenaya tidak sia-sia. Reagen spontan menjauhkan diri.

Mata pria itu terkesiap saat mendapati luka lecet yang ada pada bibir Zenaya akibat perlakuan kasarnya barusan.

Seolah tersadar dari kesalahannya, Reagen pun mencoba meminta maaf. "Zen–"

Belum sempat Reagen menyelesaikan perkataannya sebuah tamparan keras sudah mendarat di pipi pria itu.

Zenaya menangis terisak-isak dan pergi meninggalkan Reagen.

Reagen hanya bisa terdiam, tatkala melihat Zenaya berlari masuk ke dalam rumah. Pria itu kemudian meninju kaca mobil sekuat tenaga hingga membuat tangannya memar.

"Maafkan aku."

1
Rahma Sari
awal baca ceritanya emosi oas mau ending gak kuat aku mewek...
Mei Saroha
loh. bukannya zenaya anak kelas 1 ? koq sebulan pacaran lgs kelulusan??
Hiatus: pelan coba ka diulang bacanya😊
total 1 replies
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
lah udh tamat aja padahal belum lahiran.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
kenapa selalu maen rahasia²an segala sh, kalau mau gitu lbh baik ga usah menikah drpd terbuka jg takut krn alasan menyakiti itu konyol justru krn rahasia kamu nanti bakal jd semua orang lbh trsakiti rey bahkan mgkn saling menyalahkan... ini bkn hanya tntg hidupmu sendiri tp jg istri n jg klwrgamu yg harus kamu pikirkan..
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
aduuhh thor baru jg bahagia kok malah ditambah lg ujiannya baru sedikit brnafas lega padahal kehidupan zen, rey
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
akhirnya kebahagiaan datang lg pd kalian berdua, semoga langgeng trs jdkan pelajaran kedepannya utk lbh waspada n saling terbuka.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙙𝙪𝙪𝙝𝙝𝙝 𝙠𝙖𝙣𝙙𝙪𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙯𝙚𝙣 𝙜𝙞𝙢𝙖𝙣𝙖 𝙩𝙪𝙝 𝙙𝙞 𝙩𝙞𝙢𝙥𝙖 𝙩𝙧𝙨 𝙢𝙖𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙟𝙙 𝙠𝙖𝙨𝙞𝙖𝙣... 𝙢𝙜 𝙖𝙟𝙖 𝙜𝙖 𝙖𝙥𝙖2
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙨𝙚𝙩𝙪𝙟𝙪 𝙠𝙖𝙩𝙖 𝙯𝙚𝙣𝙖𝙮𝙖, 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨𝙣𝙮𝙖 𝙧𝙚𝙮 𝙜𝙖 𝙙𝙞𝙖𝙢 𝙨𝙟 𝙗𝙚𝙧𝙖𝙚𝙣𝙩𝙪𝙝𝙖𝙣 𝙙𝙜𝙣 𝙡𝙚𝙖 𝙙𝙜𝙣 𝙖𝙡𝙖𝙨𝙖𝙣 𝙙𝙞 𝙖𝙣𝙘𝙖𝙢 𝙠𝙧𝙣 𝙩𝙖𝙠𝙪𝙩 𝙠𝙚𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝𝙣𝙣𝙮𝙖 𝙙𝙞𝙗𝙤𝙣𝙜𝙠𝙖𝙧 𝙩𝙥 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙨𝙚𝙣𝙙𝙞𝙧𝙞 𝙟𝙪𝙨𝙩𝙧𝙪 𝙢𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙢𝙚𝙣𝙖𝙢𝙗𝙖𝙝 𝙢𝙖𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙢𝙖𝙠𝙞𝙣 𝙗𝙚𝙨𝙖𝙧 𝙙𝙜𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙚𝙧𝙞𝙢𝙖 𝙗𝙚𝙜𝙞𝙩𝙪 𝙨𝙟 𝙙𝙞 𝙨𝙚𝙣𝙩𝙪𝙝 𝙛𝙞𝙨𝙞𝙠 𝙨𝙢 𝙡𝙚𝙖 𝙗𝙪𝙠𝙖𝙣𝙣𝙮𝙖 𝙢𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙨𝙚𝙢𝙖𝙠𝙞𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙤𝙡𝙖𝙠 𝙠𝙧𝙣 𝙨𝙖𝙩𝙪 𝙠𝙚𝙖𝙖𝙡𝙖𝙝𝙖𝙣 𝙩𝙥 𝙢𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙩𝙧𝙨 𝙢𝙚𝙣𝙖𝙢𝙗𝙖𝙝 𝙠𝙚𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝𝙖𝙣 𝙡𝙖𝙞𝙣 𝙨𝙚𝙙𝙖𝙣𝙜𝙠𝙖𝙣 𝙙𝙜𝙣 𝙞𝙖𝙩𝙧𝙞𝙢𝙪 𝙠𝙢 𝙢𝙚𝙣𝙟𝙖𝙪𝙝 𝙨𝙜𝙣 𝙖𝙡𝙖𝙨𝙖𝙣 𝙧𝙨 𝙗𝙚𝙧𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙜𝙖 𝙢𝙖𝙪 𝙣𝙮𝙚𝙣𝙩𝙪𝙝 𝙙𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙚𝙣𝙩𝙖𝙠𝙣𝙮𝙖 𝙠𝙖𝙣 𝙜𝙖 𝙢𝙖𝙨𝙪𝙠 𝙖𝙠𝙖𝙡 𝙖𝙡𝙖𝙨𝙖𝙣𝙣𝙮𝙖
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙝𝙖𝙙𝙚𝙪𝙪𝙝𝙝 𝙗𝙖𝙧𝙪 𝙟𝙜 𝙗𝙖𝙞𝙠𝙖𝙣 𝙨𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙡𝙚𝙣𝙖 𝙟𝙚𝙗𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙡𝙚𝙖 𝙨𝙖𝙟𝙖 𝙧𝙚𝙮
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙬𝙖𝙙𝙪𝙪𝙝𝙝 𝙠𝙖𝙮𝙖𝙠𝙣𝙮𝙖 𝙡𝙚𝙖 𝙗𝙞𝙠𝙞𝙣 𝙪𝙡𝙖𝙝 𝙙𝙚𝙝 𝙙𝙜𝙣 𝙨𝙚𝙣𝙜𝙖𝙟𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙟𝙚𝙗𝙖𝙠 𝙧𝙬𝙖𝙜𝙚𝙣 𝙩𝙙𝙧 𝙢𝙜𝙠𝙣🤔
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙝𝙢𝙢𝙢 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙣𝙜 𝙛𝙧𝙖𝙣𝙨 𝙗𝙚𝙧𝙩𝙚𝙢𝙪 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙖𝙞𝙠.👍
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙖𝙥𝙖𝙠𝙖𝙝 𝙞𝙩𝙪 𝙮𝙜 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙟𝙙 𝙟𝙤𝙙𝙤𝙝𝙣𝙮𝙖 𝙛𝙧𝙖𝙣𝙨.🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙖𝙮𝙤𝙤 𝙛𝙧𝙖𝙣𝙨 𝙗𝙚𝙧𝙟𝙪𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙪𝙖𝙩 𝙠𝙖𝙗𝙪𝙧 𝙗𝙞𝙖𝙧 𝙗𝙨 𝙣𝙜𝙪𝙣𝙜𝙠𝙖𝙥𝙞𝙣 𝙟𝙜 𝙨𝙞𝙖𝙥𝙖 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙣𝙜 𝙥𝙚𝙢𝙗𝙪𝙖𝙩 𝙢𝙖𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙯𝙚𝙣𝙖𝙮𝙖 𝙠𝙚𝙗𝙞𝙖𝙨𝙖𝙖𝙣 𝙨𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙩𝙖𝙪 𝙙𝙡𝙢 𝙣𝙖𝙝𝙖𝙮𝙖 𝙢𝙨𝙝 𝙗𝙨 𝙗𝙞𝙡𝙖𝙣𝙜 𝙟𝙜𝙣 𝙠𝙖𝙨𝙞𝙝 𝙩𝙖𝙪 𝙨𝙪𝙖𝙢𝙞𝙢𝙪 𝙮𝙜 𝙗𝙣𝙧 𝙨𝙟 𝙯𝙚𝙣 𝙠𝙚𝙨𝙚𝙡𝙖𝙢𝙖𝙩𝙖𝙣 𝙢𝙪 𝙙𝙡𝙢 𝙗𝙖𝙝𝙖𝙮𝙖
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙣𝙖𝙝 𝙠𝙖𝙣 𝙜𝙖𝙧𝙖2 𝙠𝙚 𝙚𝙜𝙤𝙞𝙨𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙧𝙚𝙮, 𝙯𝙚𝙣 𝙙𝙖𝙣 𝙗𝙖𝙮𝙞𝙣𝙮𝙖 𝙟𝙙 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙗𝙖𝙝𝙖𝙮𝙖 𝙠𝙧𝙣 𝙨𝙩𝙚𝙧𝙨𝙨
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙡𝙖𝙜𝙞𝙖𝙣 𝙙𝙧 𝙖𝙬𝙖𝙡 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨𝙣𝙮𝙖 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙩𝙚𝙧𝙗𝙪𝙡𝙖 𝙨𝙢 𝙧𝙚𝙮, 𝙯𝙚𝙣 𝙖𝙥𝙖 𝙡𝙜 𝙢𝙖𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙥𝙞𝙝𝙖𝙠 𝙠𝙚𝙩𝙞𝙜𝙖 𝙮𝙜 𝙩𝙚𝙧𝙤𝙗𝙨𝙚𝙨𝙞 𝙥𝙖𝙙𝙖𝙢𝙞
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙠𝙚𝙣𝙖𝙥𝙖 𝙜𝙖 𝙟𝙪𝙟𝙪𝙧 𝙨𝙟 𝙯𝙚𝙣, 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙨𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙢𝙚𝙣𝙞𝙠𝙖𝙝 𝙝𝙖𝙧𝙞𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙩𝙚𝙧𝙗𝙪𝙠𝙖 𝙨𝙢 𝙨𝙪𝙖𝙢𝙞 𝙠𝙧𝙣 𝙠𝙖𝙡𝙖𝙪 𝙩𝙚𝙧𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙨𝙚𝙖𝙪𝙖𝙩𝙪 𝙨𝙢 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙥𝙖𝙨𝙩𝙞 𝙧𝙚𝙖𝙜𝙚𝙣 𝙮𝙜 𝙗𝙖𝙠𝙖𝙡 𝙙𝙞𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝𝙠𝙖𝙣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙮𝙖 𝙖𝙢𝙥𝙮𝙮𝙪𝙪𝙪𝙪𝙣𝙣𝙣 𝙩𝙚𝙧𝙣𝙮𝙖𝙩𝙖 𝙚𝙝 𝙩𝙚𝙧𝙣𝙮𝙖𝙩𝙖 𝙘𝙞𝙣𝙩𝙖 𝙥𝙙 𝙥𝙖𝙣𝙙𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙥𝙚𝙧𝙩𝙖𝙢𝙖 𝙙𝙞 𝙥𝙖𝙣𝙩𝙞 𝙩𝙤𝙤𝙝𝙝 𝙧𝙚𝙖𝙜𝙚𝙣 𝙥𝙙 𝙯𝙚𝙖𝙣 𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙖𝙡𝙚𝙭... 𝙘𝙞𝙣𝙩𝙖 𝙩𝙪𝙢𝙗𝙪𝙝 𝙙𝙞𝙖𝙣𝙩𝙞 𝙖𝙨𝙪𝙝𝙖𝙣.🤭🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙬𝙖𝙙𝙪𝙪𝙝𝙝 𝙟𝙜𝙣2 𝙣𝙖𝙩𝙖𝙡𝙞𝙚 𝙟𝙤𝙙𝙤𝙝𝙣𝙮𝙖 𝙖𝙣𝙙𝙧𝙮𝙖𝙣.😄
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙨𝙖𝙙𝙖𝙧𝙡𝙖𝙝 𝙖𝙡𝙚𝙭 , 𝙯𝙚𝙣𝙖𝙮𝙖 𝙨𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙢𝙚𝙣𝙞𝙠𝙖𝙝 𝙟𝙙 𝙡𝙖𝙥𝙖𝙣𝙜𝙠𝙖𝙣 𝙝𝙖𝙩𝙞𝙢𝙪 𝙪𝙩𝙠 𝙜𝙖 𝙣𝙜𝙚𝙜𝙖𝙣𝙜𝙜𝙪𝙣𝙮𝙖 𝙨𝙪𝙖𝙩𝙪 𝙨𝙖𝙖𝙩 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙥𝙖𝙨𝙩𝙞 𝙢𝙚𝙣𝙙𝙖𝙥𝙖𝙩𝙠𝙖𝙣 𝙥𝙚𝙣𝙜𝙜𝙖𝙣𝙩𝙞𝙣𝙮𝙖
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!