WARNING...!! SIAPKAN KOMENTAR TERPEDAS KALIAN YA😁
Novel ini di angkat dari kisah nyata mungkin pada awalnya si pihak perempuan bisa di bilang bodoh, kalau penasaran yuk lanjut baca kalau gak skip aja ya😁
"Tidak, bukan aku yang memulai. Kau yang lebih dulu mengkhianati ku. Lalu kenapa sekarang kau merasa paling tersakiti?" Winda menatap wajah suaminya dengan sesak di dadanya.
"Maafkan aku, aku khilaf. Tapi, kenapa kau malah berselingkuh dari ku?"
Lelaki yang tidak memiliki perasaan ini dengan entengnya melontarkan pertanyaan yang membuat Winda tertawa geli.
Bukan kesalahan Winda berselingkuh, sejak mereka menjalin hubungan di saat kuliah, Tama lah yang sudah mengkhianatinya terlebih dahulu.
Memaafkan berulang kali, begitu seterusnya hingga mereka menikah. Hati Winda benar-benar patah, wanita ini membalas pengkhianat suaminya. Mempertahankan rumah tangga demi nama baik masing-masing dari keluarga mereka. Linda dan Tama, hidup dalam kemunafikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ni R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 17
Kembali ke rumah setelah tiga hari menginap di rumah sakit. Di rumah ini Tama sudah menyediakan satu orang pembantu untuk membantu mereka.
Winda tidak terlalu buruk dalam mengasuh anak. Semuanya ia lakukan sendiri meskipun terkadang mamahnya suka datang setiap hari untuk memastikan keadaan anak dan cucunya sedangkan mamah Tama sama sekali tidak peduli.
"Semoga rumah tangga mu adem ayem ya nak ya...!" ucap Weni sambil mengusap kepala anaknya.
"Iya mah, semoga saja!" sahut Winda terpaksa.
"Cukuplah menikah sekali seumur hidup. Mamah yakin jika kau seorang istri yang kuat."
"Bahas yang lain saja mah. Aku pusing jika membahas masalah itu terus!"
Weni langsung merasa tidak enak pada anaknya sendiri.
"Oh ya, suami mu pulang jam berapa. Mamah ke dapur dulu, mau masak buat kalian," ujar Weni mengalihkan.
"Lah kan sudah ada bi Marni mah. Ngapain mamah masak?"
"Gak apa-apa, namanya juga buat anak."
Winda tidak bisa melarang, apa pun yang di lakukan mamahnya ia tahu semua itu demi dirinya. Winda memandang wajah mungil di gendongannya, sakit sekali jika melihat wajah yang sangat mirip dengan suaminya ini.
"Mamah harap kamu tidak memiliki sifat yang sama seperti papah mu nak," gumam Winda dalam hati.
Apa pun tentang Tama, Winda sudah tidak peduli lagi. Cukuplah baginya tetap melayani sang suami seperti kewajiban seorang istri pada umumnya.
Hari ke hari hanya aktivitas Winda hanya di sibukkan dengan merawat anaknya. Tama juga semakin sibuk dengan pekerjaannya. Selain menjadi seorang pengacara, Tama juga mengelola beberapa usaha milik keluarganya.
"Bi, titip Azam ya sebentar," ujar Winda yang hendak keluar.
"Iya mbak," sahut bi Marni yang sangat senang dengan anak kecil.
"Kalau mas Tama pulang, bilang aja aku pergi belanja."
"Siap mbak."
Bi Marni sangat betah kerja dengan Winda dan Tama. Mereka sama sekali tidak pelit dan tidak menuntut bi Marni dalam pekerjaannya.
Winda, hampir satu bulan tidak keluar dari rumah akhirnya wanita ini bisa menghirup udara segar juga.
Banyak barang yang di beli Winda, biasanya ia hanya titip pada mamah atau suaminya saja.
Lucu sekali hidup ini, sekian lama tidak keluar rumah sekalinya keluar Winda langsung melihat Tama dan Tania sedang makan siang bersama.
"Kalau sudah nyaman ya mana mau di pisahkan. Dasar munafik!" ketus Winda yang sudah biasa seperti ini.
munculah niat di hati Winda yang ingin kembali mencari laki-laki lain selain Tama. Seperti Jimmy dulu yang selalu menghibur dirinya.
Seharian Winda keluar rumah, pukul sembilan malam baru lah wanita ini pulang. Untung saja bi Marni tidak protes, karena ia sendiri sangat mengerti posisi Winda yang sudah lama tidak keluar.
"Dari mana kamu?" tanya Tama dengan wajah marah, "pulang jam segini gak ingat anak di rumah!" omel Tama.
"Suka-suka aku mau kemana,apa hak mu melarang?" ketus Winda malah membuat emosi Tama naik.
"Kau harus ingat Win, kau sudah punya anak. Anak mu masih bayi dan masih butuh perhatian yang lebih."
"Lalu bagaimana dengan kau?" tanya Winda balik, "pamit dari rumah pergi kerja tapi nyatanya kau malah pergi dengan perempuan itu...!"
Mata Tama melebar, sedikit membuang gugup dalam dirinya.
"Aku pergi bekerja, kau jangan suka mencari perkara!"
Winda tertawa renyah, ingin sekali memukul wajah suaminya.
"Jadi, menurut siapa ini?" Winda bertanya dengan menunjukan bukti foto saat Tania merangkul manja lengan Tama, "Tama,...Tama,...berapa banyak kebohongan lagi yang akan kau tutupi dari ku hah?"
Tama terdiam, jika sudah begini ia sendiri tidak bisa menyangkalnya.
"Istirahat...!" ucap Tama lesu.
"Tanpa kau minta sekali pun aku akan pergi beristirahat. Ingat ya, selama kau bermain api jangan pernah mencoba melarang ku untuk melakukan apa saja yang aku suka!"
Buk,....
Winda menghempaskan barang belanjaan, bi Marni yang sejak tadi ada di sana hanya bisa diam. Bukan sekali dua melihat dan mendengar pasangan suami istri ini bertengkar.
Selama Tama dan Winda bersikap baik padanya, bi Marni sendiri pasti akan betah dengan pekerjaannya.
"Sudah malam, tidurlah. Siapa lagi yang kau ajak berkirim pesan di jam segini...?"
"Berhenti ingin tahu urusan ku. Aku juga tidak pernah ingin tahu urusan mu dengan Tania."
"Aku suami mu, setidaknya hargai aku jika aku di rumah!"
"Wah, egois sekali. Menang mau di ambil sendiri, kau bersikap seolah kau adalah seorang suami yang pantas untuk di hargai."
"Belajarlah untuk menjadi istri dan ibu yang baik Win. Aku tidak ingin kau melangkah di jalan yang salah!" nasehat Tama membuat Winda kembali tertawa.
"Kenapa kau harus menuntut ku ini dan itu?" tanya Winda geram, "kenapa omongan mu tadi tidak kau tujukan untuk diri mu sendiri hah?"
"Karena aku hanya ingin yang terbaik untuk mu!" sahut Tama tak mau kalah.
"Hanya ingin yang terbaik untuk ku?" Winda mengulangi perkataan suaminya, "dan kau merasa apa yang kau lakukan selama ini sudah benar?" tanya Winda, "mas Tama, aku sudah lama mengakhiri hubungan ku dengan pria lain selain diri mu. Ku pikir setelah kita memiliki anak kau akan berubah, tapi nyatanya tidak. Jadi, jangan salahkan aku jika aku akan melakukan hal yang sama seperti mu!" tutur Winda panjang lebar.
Winda mematikan ponselnya, menarik selimut lalu tidur dengan membelakangi suaminya.
Tama masih ingin bicara, tapi mulutnya terhenti saat anaknya bangun dan menangis.
"Winwin, Azam nangis. Buatkan dia susu!"
"Kau kan ayahnya, seharian bersama perempuan lain bisa kenapa bikin susu anak gak bisa?"
"Win,....!"
"Urus saja sendiri anak mu, aku mau tidur!" sahut Winda yang sama sekali tidak peduli pada tangis anaknya.
Mental wanita ini telah terganggu, suami dan keluarganya sendiri yang membuat Winda menjadi seperti ini.
Mau tidak mau Tama membuat kan susu untuk anaknya. Berulang kali memanggil istrinya tapi tetap saja Winda acuh dan tidak peduli.
Satu jam lebih Azam tidak mau juga tidur. Tama sudah lelah rasanya tapi Winda nyenyak saja dengan tidurnya.
Ingin marah, tapi tidak bisa. Andai dirinya tidak tertangkap basah siang tadi, sudah pasti Tama bisa memarahi Winda jika mengacuhkan anaknya seperti ini.
Pukul satu malam, barulah Azam kembali tidur setelah menghabiskan satu botol susu. Tama merenggangkan semua tulangnya,mata pria ini tertuju pada ponsel milik sang istri yang berada di atas nakas.
Tama penasaran, pria ini sangat ingin tahu siapa saja teman di kontak istrinya.
"Mau apa kau?" sentak Winda yang memergoki Tama mengambil ponselnya. Dengan sangat kasar Winda merampas kembali ponsel miliknya yang sudah berada di tangan Tama.
hajar terus win 🤣🤣🤣
niat hati baca novel untuk melepas penat , eh yang ada malah bertambah bahkan max level lagi