Kisah seorang cucu yang relah mengorbankan mahkotanya demi menyelamatkan nyawa sang nenek.
Rindu nama gadis itu, dia harus bertemu dengan seorang pria yang sangat kejam dan juga di takuti di kota itu.
Apa yang akan terjadi berikutnya yuk mari ikuti kisah selanjutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon akos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. MEMBUAT AIR JAHE.
"Aku baik-baik saja. pulanglah, Aku mau beristirahat. Kepala dan sekujur tubuhku juga terasa sakit akibat terjatuh tadi," ujar Rindu sambil membalikkan badanya membelakangi Fathur.
"Aku tidak mau pulang sebelum kondisimu membaik. Ayo bilang kamu mau makan atau minum apa biar nanti kusuruh David membawakanmu kemari,"
"Aku tidak mau makan apa-apa Aku hanya ingin.....!," Rindu tiba-tiba menghentikan ucapanya.
"Ingin apa!, cepat katakan....?,"
"Aku ingin minum air Jahe hangat, untuk menghilangkan rasa mual dan sakit kepala yang menderaku,"
"Apa air jahe hangat!, dimana bisa membeli minuman aneh seperti itu biar David membelikanya untukmu dan segera membawanya kemari?,"
"Untuk apa membeli kalau bisa membuatnya sendiri," ujar Rindu yang masih dalam posisi terbaring membelakangi Fathur.
"Maksudmu, Aku yang membuatkanya untukmu?," tanya Fathur sembari mengkerutkan dahinya.
"Siapa lagi?," balas Rindu singkat.
"Kau benar-benar selalu memojokkanku, Untung saja kamu itu seorang perempuan, Andai kamu itu seorang pria sudah sejak dulu kutanam kamu di bawah tanah biar sekalian dimakan cacing dibawah sana" ujar Fathur sembari membunyikan kedua rahangnya.
"Kalau kamu tidak mau, biar Aku yang melakukanya," Rindu mencoba bangun dari tempat tidur tapi dengan sigap Fathur menghalanginya.
"Baiklah-baiklah, Aku akan membuatkanya untukmu. Dasar merepotkan. Tapi ajari Aku bagai mana cara membuatnya," ujar Fathur sambil bersungut-sungut.
Rindu tersenyum dan memperlihatkan sederetan gigi putihnya kearah Fathur. Bagaimana tidak, manusia Alien seperti Fathur mau mengerjakan hal yang mungkin tidak pernah dia kerjakan disepanjang sejarah hidupnya.
"Jahe ada didalam lemari itu, sedangkan parut dan pisau ada di samping kompor gas," tunjuk Rindu kearah lemari yang ada di dapur.
"Apa?, jahe di kupas lalu di parut begitu maksudmu?," Fathur menggaruki kepalanya.
"Iyalah, masa di parut tidak di kupas kulitnya, Ihh ...jorok. Bukanya sembuh malah bertambah sakitnya,"
"Iya, iya, sungguh sangat merepotkan" Fathur melangkah menuju kearah lemari lalu membukanya.
Setelah jahenya dirasa cukup, Fathur beralih mengambil parut dan juga pisau serta tidak lupa mengambil sebuah baskom berukuran sedang yang terbuat dari plastik lalu kembali mendekat kearah Rindu.
"Selanjutnya, Aku apain semua bahan aneh ini," Fathur memperlihatkan semua bahan yang sengaja dia simpan kedalam baskom untuk memudahkan dia membawa semua bahan untuk membuat air jahe.
"Tuan duduk diatas lantai tapi lepaskan dulu jasnya agar tidak kena noda,"
Fathur segera melakukan perintah Rindu.
Pertama-tama, Fathur mumbuka Jas, kemudian dasi serta kemeja lengan panjang yang dia kenakan hingga kini tinggal celana panjang serta baju kaos warna putih yang melekat di badanya.
Fathur duduk diatas lantai meluruskan kedua kakinya kedepan dengan baskom berada di selah-selah kaki jenjangnya.
"Na bagus!, pertama -tama Tuan kupaslah dulu jahenya hingga tidak ada sedikitpun kulit yang tersisa pada dibagian umbinya. Setelah semua jahenya terkupas, Tuan boleh langsung memarut dengan alat parut yang ada di depan Anda itu," ujar Rindu memberi pelajaran step by step cara membuat air jahe pada Fathur.
"Boleh tidak Bi Ona saja yang melakukanya, Soalnya Aku tidak bisa membuat ini semua. Masa orang kaya dan terpandang seperti Aku ini harus beralih profesi menjadi mas jamu,"
"Kelamaan jika memanggil Bi Ona kemari. Bila Tuan tidak iklas biar Rindu saja yang melakukanya," Rindu mencoba kembali bangun tapi langsung di cegah oleh Fathur.
"Iya Iya, Aku akan melakukanya untukmu. Kamu itu satu-satunya manusia yang memerintahku seperti ini. Andai saja kamu tidak sakit, amit-amit sekali Aku melakukan hal ini. Aku lebih baik kehilangan proyek besar dari pada melakukan hal aneh seperti ini," sungut Fathur dan mulai mengupas kulit jahe sedikit demi sedikit.
Setelah semua jahe terkupas habis, Fathur kemudian membuang kulitnya ke tempat sampah dan mencuci jahenya sebelum dia memarutnya.
Fathur kembali ke posisi semula dan mulai memarut jahe dengan sangat hati-hati sekali.
Rindu terus memperhatikan Fathur diatas pembaringan. Ada rasa senang dan kasihan dalam hatinya bisa memerintah Fathur seperti itu.
Baru juga beberapa ruas Fathur memarut jahe tiba-tiba pria itu terlihat meringis sambil memegangi jari telunjuknya.
"Aou.......," ringis Fathur sembari mengibas-ngibaskan tanganya.
Melihat hal itu Rindu segera turun dari atas pembaringan dan mendekat kearah Fathur dengan wajah panik.
"Astaga, pasti sakit ya!," Rindu memegang jari telunjuk Fathur dan memasukkanya kedalam mulutnya.
Rindu mengisap darah yang keluar dari jari telunjuk Fathur untuk beberapa saat.
Fathur yang diperlakukan seperti itu merasa tidak menentu. Ingin dia menolaknya tapi hatinya berkata lain.
Setelah merasa darah yang keluar dari jari telunjuk Fathur sudah terhenti. Rindu kemudian mengeluarkan jari Fathur dari dalam mulutnya.
"Apa masih sakit," tanya Rindu dengan raut wajah masih panik.
"Kamu ini orang, apa drakula si?," Fathur menatap pipi Rindu kiri dan kanan secara bergantian, hingga membuat perempuan cantik itu jadi salah tingkah di buatnya.
"Kamu ini, ditolongin juga," Rindu berdiri dan kembali ke pembaringan dengan kedua pipi memerah sakin malunya.
"Ha ..ha...baru di tatap seperti itu kamu sudah malu apa lagi dicium pasti kamu sudah berlari kedalam hutan dan menyembunyikan kepalamu ke dalam semak belukar," ujar Fathur terbahak-bahak.
Rindu tidak menjawab, dia kembali membaringkan tubuhnya diatas pembaringan.
Fathur melanjutkan tugasnya memarut jahe tapi kini dengan sangat hati-hati sekali.
Butuh 15 menit Fathur melakukan hal itu hingga semuanya sudah terselesaikan dengan baik.
Fathur bangkit dari tempat duduknya dan menuju kearah dapur untuk memcuci parut dan pisau yang baru saja dia gunakan lalu meletakkanya kembali ke tempatnya semula.
"Terus setelah ini, Aku harus buat apa lagi?," tanya Fathur pada Rindu yang saat itu masih terus memperhatikanya.
"Masukkan parutan jahe itu kedalam panci bersama dua gelas air putih kemudian masak sampai mendidih. Diamkan beberapa saat salu tapis,"
Fathur kembali melakukan seperti perintah Rindu.
Sambil menunggu air jahenya, mendidih Fathur merogoh kantongnya dan mengeluarkan handponya dari dalam sana.
Fathur menyalakan smart phonenya lalu menghubungi seseorang dari dalam sana.
"Hallo Bi Ona, Apa Akos sudah mau keluar dari dalam kamar?," tanya Fathur setelah jalinan teleponenya dengan Bi Ona tersambung.
"Belum Tuan, Tuan muda masih seperti kemarin-kemarin dia tidak mau bicara pada siapapun. Bibi takut dia akan mengalami depresi," balas Bi Ona dari dalam sana.
"Baiklah, Kamu suruh pak Budi untuk mengantarkan dia kemari dan jangan lupa bawa baju ganti untukku dan juga baju ganti buat putraku. Alamatnya nanti Aku kirim lewat pesan singkat,"
"Baik Tuan," balas Bi Ona.
Setelah memutuskan hubungan telepon dengan bi Ona,
Fathur kembali memasukkan handphonya kedalam saku celananya.
gak cocoklah jadi pemeran utama wanita