Kaoru menghabiskan malam panas dengan CEO Organisasi tempat Sang Kakak menjualnya. Tanpa diduga peristiwa di malam tersebut memberikan Kaoru anak kembar yang sangat genius.
Sakaki Akira, CEO dingin dengan tatapan mata rajawali. Pria tampan yang menguasai alam semesta, menundukkan siapa saja yang berani menatapnya, menyibak habis semua status dan menjadikan mereka rakyat jelata.
Terjadi kesalahpahaman tentang peristiwa 8 tahun lalu diantara Si Kembar dan Sang Ayah...
Si kembar akan membalas dendam Kaoru. Hancurkan Organisasi Sakaki Akira, beri hukuman terberat pada Sang Kakak yang berani menjual ibu mereka.
Perang yang sebenarnya menanti, kita hidup dalam different world, tak ada yang tak mungkin dalam dunia Paralel. Petualangan balas dendam Twins menjadi kunci penghubung antar dunia.
Dimulailah perjalanan mereka melakukan pembalasan dan mencari kebenaran...
Novel ini adalah karya pertama dan masih dalam tahap pengembangan.
Genre: Action, Adventure, Comedy, Drama, Fantasy, Romance, School, Slice of Life, Thriller, Supernatural, Super power.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nagi Sanzenin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Misi Rahasia Neko
"Bagaimana? Sudah siap pergi?" Tanya Neko, menoleh ke arah Rei dan Rin yang sudah selesai berganti baju dengan peralatan rahasia buatan mereka.
Neko berbaring di karpet merah, samping tempat tidur Rei.
Rei memakai jubah putih bertudung, topeng rubah sudah rusak waktu ditangkap Organisasi dulu... Jadi sekarang dia sudah membuat topeng kacamata mikro baru berbetuk naga.
Di dalam jubah putihnya tersimpan sayap lipat bertenaga jet roket dengan kecepatan maksimal 1070 km/jam. Tentu saja dia juga membawa alat las berukuran pulpen dan senjata Amunisi F-5.
Rin memakai jubah putih bertudung yang sama dengan Rei, Rin memakai topeng kacamata mikro berbentuk elang perak. Di dalam jubahnya tersimpan sayap lipat dan sebuah laptop. Memakai jepit rambut setengah bintang, dan membawa senjata Amunisi F-8.
Tak lupa juga Rei dan Rin memakai sarung tangan, sidik jadi sangat berbahaya.
"Tumben bawa senjata?" Rei bertanya pada Rin ketika melihatnya memegang senjata Amunisi F-8 di tangan kiri.
"Terlanjur dibawa pulang, jadi pakai saja." Rin menjawab, meletakkan senjata Amunisi F-8 di atas meja belajar Rei.
Senjata itu berwarna biru pudar, dengan laras panjang berwarna hitam.
"Hmm, sayang sekali mobil esnya hancur bersama helikopter..." Kata Rei, ikut meletakkan senjata Amunisi F-5 nya di atas meja.
Senjata itu seluruh bagiannya berwarna hijau tua.
"Ohh, itu nggak hancur..." Kata Rin, mencari mobil es dalam sakunya, "Nih, dipungut anggota Organisasi kapal selam dari puing helikopter."
Rin melempar mobil bewarna abu-abu itu ke arah Rei.
"Selamat, ya." Rei menangkap mobil itu dengan tangan kanan, lalu menyimpannya di dalam saku jubah.
"Keren sekali, sangat mencolok." Kata Neko, berdiri dari karpet merah tempat dia berbaring.
"Bukannya kau lebih mencolok?" Kata Rei, menatap sinis Neko dengan mata merahnya.
"Kalau ada otak dipakai." Sahut Neko, dia kembali berubah menjadi seekor kucing.
"Masih tetap mencolok, kucing Chimera odd-eye dengan pola bulu harimau." Rei memasang ekspresi tidak respek.
Neko memandang tajam Rei. Mereka saling tatap tanpa berkedip, suasana jadi sunyi.
"Jadi? Apa misi rahasia ini?" Rin bertanya memecah keheningan, menatap dengan bosan.
"Pertanyaan bagus, misi rahasiaku kali ini adalah mengambil kembali Red Diamond yang dicuri dari Organisasi." Neko menjawab, memalingkan wajahnya dari Rei dan sekarang menatap Rin.
"Bagaimana Organisasi besar seperti kalian bisa kebobolan maling?" Rei bertanya, menghina.
"Tidak, itu dicuri saat sedang dipindahkan dari ruang penyimpanan... Cara mencuri yang sangat aneh dan pelayan yang membawanya hampir tewas karena tiga tembakan di perut." Neko menjelaskan.
"Apa sih Red Diamond itu?" Tanya Rin, merasa tertarik dengan misi itu.
"Red Diamond atau biasa dikenal sebagai berlian merah, adalah batu mulia paling mahal di dunia, harganya mencapai 5 juta dolar AS atau sekitar Rp.72 miliar per gramnya." Jelas Neko panjang lebar, "Diperkirakan hanya ada 30 Red Diamond di seluruh dunia dan kebanyakan ukurannya sangat kecil, yaitu sekitar 0,1 gram. Red diamond yang dicuri dari Organisasi memiliki berat 100 gram, karena harga per gramnya Rp.72 miliar, maka harga batu yang dicuri itu adalah 7,2 triliun..."
"Astaga, Organisasi Sakaki bisa punya batu itu, untuk apa?" Tanya Rei, sedikit banyak tidak percaya dengan penjelasan itu.
"Hanya Akira yang tahu, lagipula dia sultan... Dia bebas mau memiliki apa saja, sebagian dari dunia ini dikuasai olehnya." Jawab Neko, lagi-lagi memuji majikannya.
"Ayo pergi..." Ajak Neko, "Topeng dilepas, tudung jubah dipasang."
Neko memberi instruksi sambil menunjuk topeng Rei dan Rin.
Mereka pergi ke luar rumah... Rei berjalan disamping Rin yang menggendong Neko, dan mereka pergi tanpa pamit lagi... Tentu saja karena Kaoru pergi ke toko pet shop.
"Lurus, lalu masuk ke dalam gang tempat kalian memungutku, dan belok ke kiri persimpangan gedung bewarna hijau..."
Neko menjadi navigasi Rei dan Rin... Mereka sampai di ujung belokan dan terdapat sebuah gedung mewah bewarna ungu bertingkat, mungkin 18 lantai.
"Menurut informasi, sepertinya dia akan menjual Red Diamond pada seorang duta besar luar negeri... Tapi duta besar seperti itu tidak ada, sepertinya ada orang misterius yang menginginkan batu permata itu."
"Duta besar misterius? Kalau begitu lacak saja dalam jalur internasional..." Usul Rei.
Secara naluri, mereka langsung memilih masuk ke dalam gedung tua yang ada di depan gedung ungu itu.
"Tidak ditemukan apapun... Lagi pula penjahat yang mencuri Red Diamond itu lolos tanpa jejak, seperti punya kekuatan istimewa..."
Neko, Rei, dan Rin sekarang sedang menaiki tangga gedung. Terdapat tiga buah tangga terpisah, mengarah ke atas atap gedung yang gelap. Setelah pertimbangan, mereka memilih naik ke tangga yang tengah...
"Lalu, bagaimana cara kalian mendapat informasi bahwa di gedung itu tersimpan Red Diamond?" Rin bertanya pada Neko, Neko menoleh ke arahnya.
Dan saat menoleh, tiba-tiba pupil mata Neko mengecil, dia melompat dari pelukan Rin dan berubah menjadi harimau... Melompati palang tangga dan melesat menangkap sebuah Drone.
Drone, alat canggih berupa pesawat kecil yang mengendalikan dirinya secara otomatis, biasa dilengkapi senjata dan sebuah kamera.
"GRR! Mata-mata besi..." Geram Neko, menghancurkan Drone itu dengan cakarnya, "Berhati-hatilah, mungkin masih ada Drone yang akan menyerang."
Neko kembali naik ke atas tangga tempat Rei dan Rin mengamati, dia memimpin di depan mereka, masih dalam wujud harimau, posisi siap siaga. Rei dan Rin juga sudah memakai topeng kacamata mikronya dan mengeluarkan senjata Amunisi... Sedikit banyak mereka mengamati setiap sudut gedung itu dengan perbesaran akomodasi.
Pip! Psiuu!
Sebuah cahya bewarna biru melewati wajah Rin, beberapa helai poninya terpotong...
Ada sebuah Drone bersenjata laser mendekati mereka. DUARR! Rei spontan menembak Drone itu dengan senjata Amunisi F-5. Drone itu hancur berkeping-keping.
BIP! BIP! BIP! Terdengar bunyi alarm dari Drone yang meledak itu... Tiba-tiba muncul banyak sekali Drone dari gedung itu.
Pip! Psiuu!! Pip! Pip! Psiuu!!
Drone-Drone itu menembak Rei, Rin, dan Neko secara serentak, cahaya laser warna-warni menghujani mereka.
Mereka menghindar dan berpencar. Neko berlari cepat menaiki tangga. Rei melompati palang dan menyebrang ke tangan di sebelah kiri, dan Rin melompat ke tangga di sebelah kanan.
DOR! DOR! DUARR! BLARR!
Rei dan Rin menembak hancur kumpulan Drone itu dengan senjata Amunisi.
DOR! DOR! BLARR! DUARR! BUMM! BLARR! Pip! Pip! Psiuu! Psiuu!
Perang laser dan senjata Amunisi bergelegar di dalam gedung tua itu... Tampaknya gedung tua itu dulunya adalah bioskop, dan sepertinya pihak musuh sudah menambah alat peredam suaranya agar tidak ada yang mendengar tembakan Drone.
Sebuah laser berwarna kuning melesat melewati pipi kanan Rei, menyayat pipinya hingga berdarah, terasa panas.
DUARR!
Rei langsung menembak hancur Drone yang melukainya...
Sementara itu, Neko berlari dengan cepat ke atas tangga sambil menghindari laser yang menyerangnya... Kenapa dia terus naik? Apa punya rencana?
DOR! DOR! DOR! BLARR! Pip! Pip! Psiuu! DOR! DUARR! SHHH! Bib! Bib! Bib!
Drone yang dihancurkan Rei dan Rin mengeluarkan alarm, berisik sekali... Makin banyak Drone yang berdatangan dan hujan laser sudah semakin sulit dihindari.
Pip! Psiuu!
Sebuah Drone menembak Rin dengan laser berwarna merah, laser itu mengoyak dan membakar jubah Rin... Laser yang ditembakkan Drone itu berbeda dengan laser dari Drone lainnya... Sekarang keluar Drone jenis baru, laser api.
Dengan cepat Rin merobek bagian jubahnya yang terbakar.
DOR! DUARR! Rin menghancurkan Drone bersenjata laser api itu... Bib! Bib! Bib! Dan semakin banyak Drone yang menyerang mereka.
"Kita tak bisa bertahan lagi! Rin, lari ke atas!" Seru Rei panik, memadamkan api yang membakar sebagain besar jubahnya dengan mobil es...
Beberapa Drone jatuh berdenting di lantai gedung karena dibekukan mobil es Rei.
Rin berlari ke atas tangga sambil terus menembak dan menghindar serangan laser api yang sekarang juga membakar tangga gedung itu dan selalu benda yang dilewatinya.
Rei berlari sambil membekukan dan menembak Drone-Drone di sekelilingnya...
DOR! DUARR! Pip! Psiuu! Psiuu!
Suara di dalam ruangan itu semakin ribut. Mereka berlari dan terus berlari, menghindar serangan laser api.
"TIARAP!!" Tiba-tiba terdengar teriakan Neko dari puncak tangga, Neko tidak terlihat karena gelap.
Spontan Rei dan Rin langsung menunduk dan menutup kepala dengan tudung jubah.
DUAARRR!!!
Terjadi ledakan besar, semua Drone yang ada disana hancur berkeping-keping. Menghujani Rei dan Rin dengan kepingan besi dan bunga api.
"Kalian tidak apa-apa?" Neko bertanya cepat, berlari turun dari atas tangga.
"Ughh... Yah, lebih baik dari yang tadi." Jawab Rei, menyingkirkan puing-puing Drone dari atas tubuhnya.
"Kenapa tadi?" Tanya Rin, berdiri dan menepis debu di jubahnya... Sekarang jubah mereka bewarna abu-abu, tentu saja karena debu dan puing Drone.
"Drone memiliki fitur untuk menghancurkan diri sendiri ketika ada bagian darinya yang rusak." Jawab Neko, dan dia mulai menjelaskan, "Drone laser tadi langsung meledak hanya karena tergores sedikit... Aku pergi mencari tombol penghancur Drone yang pasti tersembunyi di suatu tempat dalam gedung ini... Maaf, aku meninggalkan untuk mengulur waktu."
"Tidak apa..." Kata Rei dan Rin, kembali melompat ke tangga tengah, bergabung dengan Neko.
"Tadi kau bertanya dari mana informasi tentang Red Diamond yang ada di gedung itu, 'kan?" Neko menoleh ke arah Rin.
"Itu didapat secara ilegal melalui alat penyadap dan pencari lokasi... Jadi kami tak bisa mengirim polisi untuk menangkap mereka. Kami harus punya bukti kuat untuk menangkapnya secara resmi."
"Yeah... Baiklah, ayo naik dan pergi dari gedung ini. Kenapa mesti masuk ke dalam gedung ini? Langsung saja masuk ke dalam gedung ungu itu..." Tanya Rei, memadamkan api yang menjalar di tangga menggunakan mobil es.
"Kau tidak heran? Pintu ruangan itu sama sekali tidak dijaga, gedung itu tidak dipagar, dan debu menempel dibawah pintunya seperti tidak pernah dibuka... Nah, bagaimana mereka masuk kalau tidak melewati pintu itu?" Neko menjawab dengan kritis.
"Jawabannya cuma satu, gedung ini... Mereka melewati gedung ini, pasti mereka punya alat kontrol Drone, sehingga tidak di serang ketika lewat sini... Dan lagi, tangganya ada tiga... Yang tengah sudah kunaiki sampai ujung dan yang ada hanya jalan buntu dengan tombol penghancur Drone. Berarti tinggal kedua tangga di sisinya. Kita harus mengeceknya satu per satu dulu, ayo."
Neko melompat ke tangga di sebelah kanan, Rei dan Rin mengikuti...
Mereka berjalan menaiki tangga itu, entah ada apa yang menunggu di atas sana...
To be continued...
Gubrak!