Siena gadis sederhana yang bekerja di sebuah perusahaan besar terlibat sebuah perjanjian dengan pemilik perusahaan tersebut, dan menyeretnya ke dalam cinta segitiga yang di ciptakan oleh Rangga Wijaya, sepupu pemilik perusahaan yang bernama Sagara Abraham.
Akankah cinta Sagara Abraham berlabuh selamanya di hati Siena? atau berhenti di tengah jalan dan berpaling ke hati selanjutnya? Siapakah yang memenangkan hati Siena?
Cover by pinteres, edit by me
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjaga hati
Hari pertama.
Sejak malam pertunangan itu, Sagara membuat agenda selama enam puluh hari sesuai perjanjian waktu yang di berikan sang ibu. Waktu dua bulan bagi Sagara dan Siena untuk saling mengenal dan jatuh cinta sebelum melanjutkan pertunangan menuju jenjang pernikahan.
Sagara membuat skema di dinding, setiap hari ia akan mencoret hari yang sudah dia lewati sebagai pengingat kalau dia tidak akan pernah bisa mencintai Siena.
Miranda pun mengetahui apa yang sedang Sagara kerjakan adalah suatu ketakutan kalau dia akan mencintai Siena. Alih alih sebagai pengingat, tanpa Sagara sadari kalau benteng pertahanan hatinya sudah mulai tergoyahkan.
Namun Miranda juga harus mewaspadai Kinan. Ia paham betul bagaimana liciknya wanita itu menjerat korbannya. Tentu saja Kinan tidak akan membiarkan putranya jatuh cinta kepada Siena. Tetapi ia juga percaya, kalau Siena bukanlah gadis yang mudah di perdaya.
"Ini hari pertamamu mengemban misi dariku, apa kau sudah siap menjalani hari selama dua bulan untuk mencintai Siena?" tanya Miranda seraya menuangkan coklat hangat ke dalam gelas.
"Itu tidak akan terjadi Mom, aku hanya mencintai Kinan," jawab Sagara hanya melirik sesaat ke arah ibunya.
"Tidak masalah jika kau memang tidak bisa mencintai Siena," timpal Miranda lalu duduk di kursi. "Tapi selama dua bulan, kau tunangan Siena. Aku harap kau tidak melupakan poin poin yang harus kau lakukan bersama Siena."
"Maksudmu, Mom?" tanya Sagara menatap tajam ibunya.
"Kau harus selalu bersama Siena, kemanapun kau pergi hanya bersama Siena. Jangan pernah kau tinggalkan Siena barang sedetik apalagi kalau kau berani membuatnya menangis. Jika itu kau lakukan, maka perjanjian kita gugur dan aku tetap akan memaksamu untuk menikahi Siena." Jelas Miranda panjang lebar.
Sagara melongo mendengar pernyataan ibunya. Ia tidak mengerti mengapa Miranda begitu bersikeras ingin menikahkannya dengan Siena. Apa istimewanya gadis itu? pikir Sagara sedikit penasaran.
"Baiklah Mom!" sahut Sagara.
"Berjanji padaku." Miranda mengulurkan jari kelingkingnya.
"Aku berjanji, tapi jika aku lupa. Jangan salahkan aku.." Sagara mengulurkan jari kelingking dan menautkannya di jari Miranda.
"Terima kasih sayang." Miranda kembali menarik tangannya.
Sagara menarik napas panjang, menggelengkan kepalanya. "Lihat saja Siena, aku akan membuat hari harimu bagai di neraka." Gumam Sagara dalam hati.
"Baiklah sayang, saatnya kau bekerja." Miranda beranjak dari duduknya di ikuti Sagara.
"Oke, sampai ketemu lagi nanti Mom." Sagara berjalan menghampiri Miranda lalu menciumnya sekilas, setelah itu ia berlalu dari hadapan ibunya.
***
Sesampainya di kantor. Sagara memberikan banyak pekerjaan kepada Siena. Dan ia meminta Siena untuk mengerjakannya sendiri.
"Aku ada urusan lain, nanti kita ketemu pukul empat sore di sini."
Siena tengadahkan wajahnya menatap Sagara tajam, lalu beranjak dari kursinya mendekatinya.
"Aku tahu rencanamu, kau berikanku pekerjaan ini sementara kau mau bersenang senang dengan Kinan bukan?" tanya Siena, melipat kedua tangannya di dada.
"Bukan urusanmu, urus saja pekerjaan yang aku berikan. Ingat, jangan bermimpi aku akan memperlakukanmu bagai cinderella." Tunjuk Sagara ke arah Siena. "Jangan mentang mentang kau tunanganku, lalu aku akan mrmperlakukanmu dengan manis, kau tetaplah bawahanku dan kapan saja aku bisa memecatmu."
"Tentu saja aku sadar siapa diriku, kau tidak perlu mengingatkanku berkali kali," jawab Siena.
Sagara hanya tersenyum sinis, menanggapi pernyataan Siena. "Bagus."
Setelah bicara seperti itu, ia berlalu dari hadapan Siena.
"Dasar bos gila, aku harus mengerjakan semua pekerjaan ini," gumam Siena.
Ia kembali duduk di kursi mengerjakan semua pekerjaan. Detik berlalu menit berganti, tak terasa pekerjaan Siena telah selesai tepat pukul 12 siang. Siena tersenyum, meregangkan otot ototnya yang kaku lalu berdiri meninggalkan ruangannya menuju kantin untuk makan siang.
Tiga puluh menit berlalu, Siena telah selesai makan siang. Ia kembali ke ruangannya, mengambil tas miliknya, lalu bergegas keluar dari ruangannya lagi. Hari ini ia akan menemui klien sesuai janji di salah satu kafe tak jauh dari perusahaan tempat ia bekerja.
Tak lama kemudian, ia telah sampai di kafe tersebut. Menemui pria yang sudah menunggunya sejak sepuluh menit yang lalu, dan pria itu tak lain adalah Jovanka Erlian.
"Siena," sapa Jovanka berdiri lalu mengulurkan tangannya.
"Maaf aku datang terlambat." Siena membalas jabatan tangan Jovanka lalu mereka kembali duduk di kursi.
"Tidak apa apa Siena."
Jovanka memesankan secangkir white coffe untuk Siena. Kemudian mereka terlibat pembicaraan serius soal pekerjaan. Setelah selesai, Jovanka mengajak Siena berbincang bincang santai.
Tanpa Siena sadari. Sagara yang berada di kafe yang sama. Tengah duduk berdua dengan Kinan. Namun Sagara terus memperhatikan Siena dari tempatnya duduk. Kinan yang sedari tadi bicara, mengingatkan Sagara saat masa masa dulu mereka pacaran tidak di dengarkan Sagara.
"Kau sedang melihat apa?" tanya Kinan mengalihkan pandangannya. "Oh Siena?"
Sagara menoleh ke arah Kinan. "Ya, hari ini aku memberikannya pekerjaan banyak, supaya tidak mengganggu waktu kita."
"Tapi mengapa kau memperhatikannya terus?" tanya Kinan kesal.
"Tidak apa apa, aku hanya memastikan kalau dia bekerja dengan baik." Sagara berdiri, lalu mengajak Kinan untuk meninggalkan Kafe setelah ia membayar pesanan kopinya.
"Kau cemburu?" tanya Kinan di sela langkahnya.
Sagara tertawa sinis menanggapi perkataan Kinan. Berhenti melangkah, menatap wajah Kinan.
"Apa aku terlihat cemburu?" tanya Sagara.
"Entahlah!" sahut Kinan menggelengkan kepala pelan.
"Sudahlah, kita pulang." Sagara kembali menarik tangan Kinan menuju area parkiran.
Jd saga,rangga dan arga ini bersaudara bgitu ??? Yg punya dendam ini para orgtua nya . Tp ank2 nya yg pda jd korban
Jd sedihhh krna rangganya meninggal ,
Rangga nya munculin lg aja thor biar hdp bhgia sma siena..
Aku udh ga srek sma saga krna ibunya skrg udh jahat..dan mlah skrg berpihak sma si melati..sma² jahat mreka