follow yuk ig : @riana.kristina
Sekuel "Di Antara Dua Hati"
Jangan lupa siapkan tissu🤧
Plakkk!!
Sebuah kisah yang berawal dari ciuman yang tidak terduga. Mengharuskan gadis bernama Cinta Yasmila Pratama melayangkan tamparan keras ke wajah tampan seorang Adipati Rangga Wijaya.
Pemuda yang selama ini menganggap para gadis hanyalah boneka barbie.
Hingga pada akhirnya mereka saling jatuh cinta, Rangga harus dihadapkan pada kenyataan pahit lantaran Cinta adalah adiknya sendiri.
"Apapun yang terjadi di antara kita, itu semua bukan salah cinta. Tidak ada yang bersalah jika kita saling mencintai."
Bagaimana kelanjutan kisahnya?
Apakah hubungan keduanya harus kandas lantaran adanya hubungan darah?
Penasaran? Ikutin kisahnya ya di,,
"Bukan Salah Cinta"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riana Kristina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali Keawal Saat Kita Tidak Saling Mengenal
Cinta tengah duduk termangu di salah satu kursi di restorannya, ditemani angin sepoi-sepoi yang menyapu kulit wajahnya. Dia menopang dagunya sembari menikmati pemandangan laut di seberang tempatnya berada kini. Ombak terlihat datang silih berganti menyapu hamparan pasir pantai.
"Kamu lagi mikirin apa, Sayang?" Tanpa disadarinya Diana sudah duduk di sebelahnya.
"Aku hanya berpikir tentang ayah." Cinta tersenyum ke arah Diana, "apa aku boleh bertanya sesuatu, Bu?" Menatap Diana ragu.
"Bertanya apa?" jawab Diana lembut.
"Ayah orangnya seperti apa, Bu?" Menatap Diana sembari menopang dagunya.
"Ayahmu itu orang yang sempurna," gumamnya sembari tersenyum kearah Cinta, lalu pandangannya menerawang ke arah pantai, "dia sangat tampan."
"Oh ya?"
"Hm, tapi dia juga sangat dingin, ketus, jutek lagi." Diana terkekeh pelan.
"Benarkah?" Cinta ikut terkekeh.
"Iya." Pikirannya menerawang, teringat kembali ke masa pertemuan pertama mereka. Di mana Diana tanpa sengaja menumpahkan kopi ke jas yang dipakai Reyhan.
"Jangan muncul di hadapanku lagi Nona, kalau tidak sekretarisku akan membuatmu menyesal!"
Ucapan Reyhan saat itu, terngiang kembali di telinganya. Kemudian ingatannya berputar saat Reyhan datang ke acara wisudanya,
"I hope you stay by my side and only love me!"
"I love you Diana!"
"I love you so much!"
Juga ini, di malam sebelum perpisahan itu,
"Believe me, you're the only one. Whom my heart find, whom my mind reminds me of, whom my destiny wants, and who I love the most, now and forever!"
Tanpa sadar dia tersenyum mengingat semua kata - kata cinta Reyhan yang pernah ditujukan untuknya. Kini 20 tahun sudah berlalu, rasanya menyesakkan memang karena, apa yang pernah diucapkan tidak sesuai dengan kenyataan yang terjadi. Harapan untuk selalu bersama selamanya, nyatanya tidak terwujud. Diana pun hanya bisa tersenyum kecut.
"Apa yang Ibu suka dari ayah?"
"Senyumnya!" Diana tersenyum mengingat senyuman Reyhan, "senyumnya mirip sekali dengan senyummu," mencolek hidung Cinta. "Kalian memiliki dimples yang sama di pipi kalian. Ibu selalu melihat diri ayahmu saat kamu tersenyum."
"Apa Ibu merindukan ayah?"
Diana nampak tertegun mendengar pertanyaan putrinya. Raut wajahnya seketika berubah sendu. "Sangat! Sangat merindukannya."
"Lalu? Kenapa Ibu tidak menemui ayah? Ayah masih hidup kan, Bu? Kenapa kita harus bersembunyi darinya?"
"Dia hanya sampah!"
"Aku bukan pria penyuka barang bekas!"
Diana teringat kembali kata-kata keji yang diucapkan Reyhan untuknya. Ucapan Reyhan saat pertemuan pertama mereka di restorannya beberapa hari lalu. Tanpa terasa kini air matanya mulai meleleh.
Cinta mengusap air mata di pipi Diana. "Sebenarnya ayahku di mana? Kenapa kita bisa berpisah dengan ayah?" cerca Cinta lagi. Mengeluarkan semua pertanyaan yang selama ini dia simpan dalam hatinya.
Diana tersentak, dia merasa kaget mendengar Cinta yang tiba-tiba menanyakan itu semua padanya. Dia tidak tahu harus menjawab apa dan mulai bercerita dari mana. Dengan berlinang air mata ditatapnya wajah putrinya.
"Ada suatu alasan yang tidak bisa Ibu jelaskan mengenai ayahmu. Ibu mohon kamu mengerti ya, Sayang." Pandangannya kembali menerawang, "yang jelas, Ibu sangat merindukannya tapi, bagi Ibu, rasa rindu itu sudah terobati cukup dengan melihatmu saja. Bukankah kalian sangat mirip." Diana tersenyum tipis.
"Bolehkah aku tahu siapa nama ayahku, Bu?" Cinta menatap Diana dengan wajah memelas. Diana semakin bingung.
"Bu, Cinta sudah dewasa sekarang, Cinta berhak tahu siapa ayah Cinta, namanya saja, Bu." Nadanya semakin memelas.
Cinta benar, dia berhak tahu siapa ayahnya. Mungkin sudah saatnya Diana memberitahunya sekarang. Diana menggenggam tangan Cinta yang di atas meja, lalu mereka saling berpandangan lekat.
"Nama ayah kamu ..." Diana menghela napas, "namanya ...tuan ... Re ...."
"Cinta!"
Panggilan seseorang menghentikan ucapan Diana. Mereka lalu menoleh ke arah suara.
"Adipati." Cinta menatap Rangga yang kini berjalan ke arahnya.
"Aku ingin bicara denganmu?" Menoleh ke arah Cinta dan Diana bergiliran.
"Emm, sepertinya Ibu harus kembali ke ruangan Ibu." Diana mengusap punggung tangan Cinta, lalu bangkit dan menepuk pundak Rangga.
...****************...
Rangga mengajak Cinta menuju pantai, mereka duduk di bangku yang ada di bawah pohon ketapang. Namun, sudah 30 menit berlalu, belum ada di antara mereka yang memulai pembicaraan. Hanya terdengar deburan ombak yang datang silih berganti menghantam batu karang dan menyapu pasir pantai.
Cinta menatap pemandangan indah di depannya, sedangkan Rangga hanya menatap Cinta yang sesekali merapikan anak rambutnya yang diterbangkan angin pantai.
"Kamu datang ke sini jadi mau bicara apa cuma mau mandangin aku?" Cinta bicara tanpa menatap Rangga.
"Kenapa kamu gak ke kantor?" Tanyanya akhirnya tanpa melepaskan pandangannya dari Cinta.
Cinta tersenyum kecut. "Aku sudah bukan karyawan di sana lagi, jadi kenapa aku harus ke sana!"
"Kenapa nomormu tidak bisa dihubungi?"
"Aku sudah ganti nomor."
"Kenapa diganti?"
"Lagi pingin aja."
"Cinta, tatap aku kalau bicara!"
Cinta menghela napas, lalu memutar tubuhnya menghadap Rangga. "Udah?"
Rangga meraih tangannya. "Apa yang ayahku katakan padamu?" menatap lekat ke bola mata Cinta.
"Tidak ada!" Cinta menarik tangannya dan memalingkan wajahnya ke arah pantai lagi.
"Kamu jangan bohong, aku tahu siapa ayahku. Kalau ayah tidak berkata apapun padamu, tidak mungkin kamu bersikap seperti ini padaku."
"Baguslah kalau kamu sudah tahu bagaimana ayahmu, jadinya kamu sudah mengerti apa yang harus kamu lakukan."
"Maksud kamu?"
"Jangan pernah menghubungiku apalagi mencariku! Kembali ke awal saat kita tidak saling mengenal!" Cinta sudah bangkit dari duduknya dan meninggalkan Rangga tanpa memberinya kesempatan untuk bicara lagi.
Keesokan harinya,
Di pagi yang gerimis, Rangga sudah memarkirkan mobilnya di dekat rumah Cinta. Pagi ini dia berniat bertemu Cinta walau hanya sebentar saja.
Tidak berapa lama terlihat Diana keluar mengendarai mobilnya, sedangkan Cinta menutup pintu pagar rumahnya sebelum masuk ke dalam mobil.
Rangga lalu mengikuti mobil mereka. Mobil Diana berhenti di sebuah minimarket yang tidak jauh dari rumahnya. Cinta terlihat membuka payungnya lalu keluar dan menutup pintu mobil kembali lalu melambaikan tangannya sebelum mobil Diana meninggalkannya. Kemudian Cinta masuk ke dalam minimarket itu.
Melihat itu, Rangga bergegas memarkir mobilnya dan mengikuti Cinta masuk ke dalam minimarket. Dia mengibas-ngibaskan tangannya pada bagian jasnya yang terkena air hujan. Rangga memasuki minimarket itu dan mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Cinta.
Cinta yang tengah sibuk memilih roti, terkejut saat melihat Rangga berdiri di sebelahnya yang juga memilih roti. Dadanya tiba-tiba berdebar kencang, secepatnya dia menyelesaikan belanjaannya dan menuju kasir.
Bagaimana pria itu bisa ada di sini? Bisa-bisanya dia muncul di saat Cinta sudah ingin melupakannya.
Oh God, benar-benar kesialan baginya karena sekarang Rangga berada tepat di belakanganya dengan menggenggam sekaleng minuman . Cinta buru-buru membayar dan ingin segera berlari menembus hujan dengan payung mininya. Cinta membuka payungnya, dengan langkah seribu dia bergegas keluar minimarket dan menjinjing kantong belanjaannya lalu berjalan menuju rumahnya.
Tunggu! Dia tidak sedang mengikutiku, 'kan? batin Cinta.
Sekarang sedang hujan dan dia melihat Rangga tidak membawa payung, jadi tidak mungkin pria itu mengikutinya. Di saat sudah berjalan beberapa langkah, dia menoleh kebelakang. Dilihatnya Rangga sedang meneguk minuman bersoda yang tadi dibelinya. Walaupun hujan tidak terlalu deras tapi angin berhembus dengan kencang, sehingga bagian bawah kaki Cinta basah karena hembusan air hujan.
Setelah melewati pertokoan, melalui bayangan jendela toko dia bisa melihat Rangga sedang mengikutinya.
Rangga mengikutinya dengan berjalan di pinggiran toko agar tidak basah kuyup oleh hujan. Namun, karena angin kencang jas mahalnya tetap saja basah kecipratan air hujan.
Cinta menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang. Dilihatnya Rangga juga berhenti dan mengalihkan pandangannya ke jalan raya.
Cinta merasa Rangga memang mengikutinya, dia berhenti, Rangga ikut berhenti. Dia berjalan, Rangga juga ikut berjalan. Cinta memutuskan mempercepat langkahnya dengan setengah berlari, Rangga juga ikut setengah berlari mengejarnya. Kemudian Cinta berhenti mendadak hingga Rangga hampir menabraknya.
Cinta memutar tubuhnya menghadap Rangga. "Sebenarnya apa maumu?" Cinta setengah berteriak. Dia sudah tidak tahan dengan kelakuan Rangga.
*bersambung....
Terimakasih buat yang sudah mampir dan ngasih dukungan buat author dan Cinta🤗 tetep dukung kita ya biar aku tambah semangat nulisnya dengan vote, like , n coment😁 makasih🤗*
thor tolong y sembunyikan cinta sampai dia melahirkan dan bikin rangga prustasi berat