NovelToon NovelToon
Senja

Senja

Status: tamat
Genre:Komedi / Contest / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:2.9M
Nilai: 4.9
Nama Author: BundaDM

Kisah perjuangan seorang atlet lelaki yang harus mengubur impiannya demi keluarga sepeninggalan Sang Ayah. Menjadi tulang punggung diusia muda menjadikannya harus mengubur impian untuk berkomitmen dengan pujaan hatinya.

Dilain sisi ada wanita manja dari keluarga kaya raya, karena kehilangan sosok Ibu dalam hidupnya membuat dia tumbuh tanpa ada kelembutan seorang ibu. Apalagi setelah ayahnya memutuskan untuk menikah lagi. Secara frontal menolak kehadiran sang Ibu tiri.

Apakah kedua insan ini bisa bersatu diatas perbedaan yang ada? bisakah saling menurunkan ego?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BundaDM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

* Senja 17, War

"Ihhh... Ayah so sweeeeettt banget sih" ucap Qisha sambil memeluk Ayahnya dengan manja.

"Udah jangan peluk-peluk Ayah disini dong, malu tuh sama Candra" tambah Pak Sanjaya.

"Ayah mahhhh..." protes Qisha dengan rona pink tergambar jelas diwajahnya.

"Kalo saya diposisi Bapak, pasti akan sama kaya Bapak. Harus ekstra kerja keras buat menyeleksi dan mempersiapkan hati buat melepaskan putri-putri yang cantik ke dekapan para pria yang belum tentu rasa sayang dan cintanya melebihi apa yang Bapak berikan ke mereka" kata Candra bijak.

"Bener banget Can.. makanya mulai sekarang Bapak harus mulai seleksi calon mantu kayanya, memastikan laki-laki itu bisa menjaga permata-permata yang Bapak punya atau ngga" ucap Pak Sanjaya lagi.

"Kami hanya teman Yahhhh.... Candra tuh enak diajak sharing. He is not my type lah (bukan kriteria)" ucap Qisha yakin.

"Awas loh ketulah sama omongan sendiri, dulu Tante juga gitu ke Ayah kamu, eh sekarang malah jadi istrinya" nimbrung Tante Dinda.

Seakan tersadar dengan kata-kata yang diucapkan oleh Tante Dinda, Qisha melepaskan pelukan ke Ayahnya dan menyeruput es teh manisnya. Hati kecil dan perasaannya masih belum bisa dibohongi bahwa dia belum bisa menerima Tante Dinda sebagai ibu sambungnya.

"Kamu masih sekolah Can?" tanya Pak Sanjaya mencairkan suasana.

"Alhamdulillah masih Pak, baru naik kelas XII" jawab Candra.

"Udah mau lulus ya sebentar lagi... Lanjut kemana rencananya?" tanya Pak Sanjaya lagi.

"Ga ada rencana lanjut kuliah Pak, sepertinya mau seriusin dagang bubur dulu, siapa tau ada rejeki buat saya lanjut kuliah nantinya" ucap Candra sopan.

"Yah... Candra ini bintang sekolah loh, mantan atlet daerah juga, pokoknya berprestasi deh" ungkap Qisha.

"Sayangnya di negara kita prestasi seperti itu masih kurang dihargai, kecuali yang punya prestasi tingkat Internasional, pasti dapat beasiswa. Kalo atlet juga kesejahteraannya masih kurang" beber Pak Sanjaya.

Candra hanya diam menyimak.

"Ayah bantuin dong cariin beasiswa buat Candra ... teman-teman Ayah kan banyak tuh yang punya pabrik-pabrik dan mengeluarkan beasiswa tiap tahunnya" lanjut Qisha.

"Ga semudah itu juga kali Sha .. mereka punya tahapan seleksi juga. Kita kan juga ga tau peminatan Candra ini apa sesuai dengan kebutuhan dari pabrik yang akan memberi beasiswa. Pasti pihak pemberi beasiswa ada klausul kerja dimereka nantinya kalo udah lulus kuliah. Kamu emangnya mau lanjut kemana Can?" Tanya Pak Sanjaya.

"Maunya ke teknik sipil Pak, Indonesia kan sedang banyak membangun, diperlukan banyak orang-orang teknik sipil buat perencanaan pembangunannya kan, kalo arsitektur saya kurang punya jiwa seni dan estetika, daya khayal saya ga bagus" jelas Candra dengan penuh keyakinan.

"Tapi jangan terlalu idealis lah Can, kalo di dunia kerja yang penting serba bisa aja dan peluang yang menghasilkan ya mau ga mau harus kita sabet. Nantilah kalo ada informasi beasiswa mungkin Bapak akan rekomendasikan buat kamu" jawab Pak Sanjaya.

"Terima kasih sebelumnya Pak" kata Candra.

.

Saat semua baru sampai rumah, Lexa tengah berada di dapur, sedang menunggu makanan yang dimasak sama Mba Pur. Mba Pur ini sudah kerja di rumah ini saat Lexa bayi, jadinya sangat dekat sama Lexa sampai sekarang. Sejak kematian Bundanya, hanya sama Mba Pur lah Lexa bisa berbincang lama dan berkeluh kesah.

Lexa lagi minta dibuatkan nasi goreng, buatan Mba Pur ini mirip sama nasi goreng buatan Bunda. Telur ceploknya dua, karena Lexa sangat suka makan telur. Baginya telur itu ga pernah ga enak, diapain aja pasti enak.

"Xa.. baru bangun?" sapa Tante Dinda sambil mengambil gelas dan air es buat Pak Sanjaya. Lexa ga menjawab dan memasang headsetnya sambil mulai makan di meja dapur. Tante Dinda meninggalkan dapur.

"Jangan gitu Non... Ibu Dinda itu baik loh, lagian sekarang kan Ayah ada yang urusin, udah keliatan bahagia lagi. Ga kaya dulu banyak bengong" nasehat Mba Pur.

Lexa masih mendengarkan musik tanpa mendengar apa yang Mba Pur katakan.

"Mba Pur heran deh, kenapa kalian bertiga semua keras kepala, ga bisa terima Ibu Dinda padahal belum coba buat mengenal" kata Mba Pur sambil duduk dihadapan Lexa yang masih makan sambil pake headsetnya.

"Ealah iki bocah.... Tak kandani ra krungu (dibilangin ga denger)" ucap Mba Pur ngoceh sendiri.

Lexa membuka headset nya.

"Opo tho Mba Pur ... Cas cis cus wae" jawab Lexa sambil melanjutkan makannya.

"Wong jowo isone ..Opo Tho Mba Pur thok (orang Jawa bisanya hanya ada apa aja)... Mbok ya sinau karo Mbah e (belajar sama Mbahnya)" kata Mba Pur lagi.

"Nek aku cas cis cus boso Jowo tapi ra becus omongane piye?" jawab Lexa dengan bahasa campur-campur.

"Makan yang banyak, keluar kamarlah sesekali, jangan ngerem mulu, nah kalo ayam ngerem mah bertelor, lah kamu..." ucap Mba Pur.

"Tenang Mba Pur... Sebentar lagi juga ga disini kok, mau sekolah high school deket Mba Flo diluar negeri " kata Lexa.

"Udah bilang sama Ayah belum kalo mau lanjut sekolah disana?" tanya Mba Pur.

"Ayah tuh duitnya banyak... Ga usah ngomong dari jauh-jauh hari, tinggal bilang semua bisa diurus. Lexa akan daftar sebagai murid biasa, bukan hasil beasiswa yang harus ini itu, kalo murid biasa kan tinggal bayar terus kelar deh urusannya" jawab Lexa santai.

"Tapi tetap ngomong dulu sama Ayah, mereka kan orang tua. Kalo ga setuju gimana?" tanya Mba Pur.

"Kenapa harus ga setuju? Bukankah enak kalo Lexa pergi dari rumah ini, Tante Dinda bisa kuasain rumah ini bahkan punya anak yang banyak dari Ayah buat gantiin anak-anak Ayah. Udah ga nyaman rumah ini buat Xa, sekarang aja masih belum ada peluang buat Tante Dinda ngabisin duit Ayah, liat aja kedepannya gimana. Lagian wanita masih gadis .. muda .. ya ga jelek-jelek amat, kok mau sama duda anak tiga? mana umurnya selisih dua puluh dua tahun .. apa coba kalo ga karena harta? Dia kan sekretarisnya Ayah, pasti tau dong berapa aset yang Ayah punya. Mungkin aja pemikirannya tuh Ayah kan udah tua, kalo mati kan dia bisa dapat harta terus bisa nikah lagi deh sama yang lebih muda" ucap Lexa asal.

"LEXA....." bentak Pak Sanjaya.

Mba Pur dan Lexa loncat karena kaget. Mba Pur langsung meninggalkan dapur. Qisha dan Tante Dinda langsung lari ke dapur karena mendengar teriakan Pak Sanjaya.

"Ayah ga pernah ya ngajarin kamu jadi anak sekurang ajar ini" cerocos Pak Sanjaya.

"Udah Mas... sabar" pisah Tante Dinda.

"Iya Yah... mungkin Lexa belum paham apa yang dia omong" lanjut Qisha melindungi.

"Poin dimana kurang ajarnya Yah? Sekolah diluar? Meninggalkan rumah? Atau tentang wanita ini?" tunjuk Lexa dengan nada yang emosi.

Sebuah tamparan langsung melayang ke pipi Lexa. Hal yang ga pernah dilakukan sama Pak Sanjaya terhadap anak-anaknya.

"AYAHHH" teriak Qisha kaget.

"Bagus Yah ... bagus ... Karena wanita ini Ayah udah mulai main tangan. Tampar lagi Yah ... tampar sampe Ayah puas ... atau masih kurang? Itu ada pisau yang bisa Ayah hujamkan ke Lexa. Sejak Bunda ga ada, ga ada orang yang paham Lexa, sekarang pula Ayah bawa wanita ini masuk ke rumah ... Ayah tau kan.. hati kami masih terluka atas kepergian Bunda dan sekarang Ayah kucurkan cuka diluka yang sama" teriak Lexa sambil berurai air mata.

Sebenarnya tamparan kedua hampir mendarat lagi di pipinya Lexa, untung aja Tante Dinda cepat-cepat menahan tangan Pak Sanjaya dan tubuh Lexa pun ditarik sama Qisha.

1
ᖇᑌᔕᔕᗴLL
jatuh bangun tanpa lelah terus berusaha sampai titik akhir pencapaian.
realita nya banyak orang tersesat dan mencari jalan lurus
Bunda DM: karena manusia di dunia ini tempatnya untuk "cape"
total 1 replies
ᖇᑌᔕᔕᗴLL
boleh ikut peluk Candra gak sih
eh.. ntar Lexa tantrum 🤭
Bunda DM: aciknya cemburuan
total 1 replies
ᖇᑌᔕᔕᗴLL
Alhamdulillah... nerimo ing pandum itu kunci rasa syukur
ᖇᑌᔕᔕᗴLL
cerita nya ngiri nih🤣
ᖇᑌᔕᔕᗴLL
dokLie kenal dokBar gak🤭
Bunda DM: kayanya kenal
total 1 replies
ᖇᑌᔕᔕᗴLL
dokter Alie yang punya anak satu itu ya
ᖇᑌᔕᔕᗴLL: owh 🤭
total 4 replies
ᖇᑌᔕᔕᗴLL
aamiin ya Rabbal alamiin
ᖇᑌᔕᔕᗴLL
Alhamdulillah kalo Ani sudah berubah dan selamat ya atas kehamilannya
ᖇᑌᔕᔕᗴLL
pesan terakhir Dinda untuk CanXa😭
ᖇᑌᔕᔕᗴLL
Alhamdulillah
ᖇᑌᔕᔕᗴLL
etdah Pak... kasihan dong anaknya suruh hamil mulu
Bunda DM: udh kaya pabrik ya.. tiada henti berproduksi
total 1 replies
ᖇᑌᔕᔕᗴLL
ngomong Can jangan senyum senyum aja
ᖇᑌᔕᔕᗴLL
Alhamdulillah..
ᖇᑌᔕᔕᗴLL
Dinda, dijahatin cowok lain tapi sasarannya pak Sanjaya
ᖇᑌᔕᔕᗴLL
wakatipu... waah kau kena tipu 🤭
ᖇᑌᔕᔕᗴLL
🤣🤣🤣
ᖇᑌᔕᔕᗴLL
bagus mad, kasih paham tuh adiknya jangan ngrecokin rumah tangga Candra mulu
ᖇᑌᔕᔕᗴLL
jam colex... jangan lupa kalo gak ingat waktu dicolex🤭
Bunda DM: ntar ngiklan kalo mereknya disebut
total 1 replies
ᖇᑌᔕᔕᗴLL
pillow talk itu penting banget ya buat membangun chemistry
Bunda DM: Yups, efektif sih sejauh ini😁
total 1 replies
ᖇᑌᔕᔕᗴLL
gak sekalian ibu diajak Can
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!