NovelToon NovelToon
Mawar di Pinggangnya

Mawar di Pinggangnya

Status: tamat
Genre:Cintamanis / Diam-Diam Cinta / Menikahi tentara / Tamat
Popularitas:15.9k
Nilai: 5
Nama Author: Aruna Senja

Kiara Song, 21 tahun, reporter magang yang berjuang sendirian sejak kakaknya koma dan ayahnya kabur meninggalkan hutang. Hidupnya berubah saat ia menikah siri dengan Rayhan Tan — AKP kepolisian berwajah dingin, tubuh atletis, dan mulut tajam yang ternyata diam-diam memasak untuknya setiap malam.

Enam bulan tinggal bersama. Tidak ada ciuman. Tidak ada "aku cinta kamu." Hanya perhatian kecil yang membuat jantung Kiara tidak bisa tenang.

Kiara punya rahasia: ia menato setangkai mawar di pinggangnya sejak SMA — di tempat yang hanya bisa dilihat oleh orang paling dekat. Untuk laki-laki yang sama, selama enam tahun.

Dan Rayhan? Rayhan punya rahasia sendiri.

Ia sudah jatuh cinta pada Kiara jauh sebelum pernikahan ini dimulai.

Nikah dulu. Cinta kemudian. Tapi bagaimana kalau cintanya sudah ada duluan?

(148 kata Indonesia)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aruna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Bab 015

Kamu Suka Dia?

Untuk pertama kalinya hari itu, Kiara merasa wawancara ini akan jauh lebih sulit dijelaskan daripada isi artikelnya.

Ia memasukkan foto bertanda tangan itu ke map, lalu membalas pesan Rayhan.

Kiara:

Selesai. Aku turun sekarang.

Rayhan:

Aku di lobi.

Tiga kata itu membuat Kiara bergerak lebih cepat. Galih masih berdiskusi dengan Mbak Yuni soal kutipan yang boleh dipakai. Dewi sedang memindahkan foto ke laptop. Kiara menutup notes dan mengambil tas.

"Kiara."

Ia menoleh.

Reza berdiri tidak jauh dari pintu, satu tangan di saku celana. Mbak Yuni sedang sibuk dengan Galih, jadi untuk beberapa detik, tidak ada yang memotongnya.

"Kamu pulang dengan tim?"

"Saya dijemput."

"Pacar?"

Pertanyaan itu terdengar ringan, tetapi matanya terlalu fokus.

Kiara tersenyum profesional. "Orang rumah."

Kata itu keluar sebelum ia sempat memikirkan akibatnya.

Reza mengangkat alis. "Orang rumah?"

"Iya. Saya pamit dulu, Mas."

Ia tidak menunggu reaksi Reza. Di lift, Kiara baru menyadari telapak tangannya sedikit basah. Kenapa ia memakai istilah itu? Kenapa bukan teman, saudara, atau tetangga seperti biasa?

Orang rumah.

Mungkin karena setelah semua yang terjadi, kata itu terasa benar.

Rayhan berdiri di lobi dekat pilar marmer. Kemeja hitamnya membuatnya terlihat lebih seperti pengawal pribadi daripada tetangga yang kebetulan lewat. Begitu Kiara keluar dari lift, matanya langsung menemukan Kiara.

"Selesai?"

"Selesai."

"Galih?"

"Masih di atas, urus kutipan."

Rayhan menatap map di tangan Kiara. "Semua lancar?"

"Lumayan. Reza... rapi sekali."

"Rapi?"

"Jawabannya. Terlalu sempurna."

Rayhan tidak bertanya lebih jauh. Mereka berjalan menuju pintu keluar. Sebelum sampai di valet, suara yang terlalu lembut terdengar dari belakang.

"Kiara."

Rayhan berhenti lebih dulu.

Reza turun ke lobi bersama Mbak Yuni dan seorang asisten. Ia tersenyum seolah tidak merasakan perubahan udara.

"Kamu lupa ini." Ia mengangkat pulpen hitam milik Kiara.

Kiara baru sadar pulpen favoritnya tidak ada di saku notes. "Terima kasih, Mas."

Reza menyerahkan pulpen itu langsung ke tangan Kiara. Sentuhannya sangat singkat, tetapi cukup disengaja untuk membuat Rayhan melihat.

"Hati-hati di jalan," kata Reza. "Dan jangan terlalu cepat menilai saya, ya."

Rayhan menatap Reza.

Reza menatap balik, masih tersenyum.

"Masnya?" tanya Reza, seolah baru menyadari Rayhan berdiri di sana.

Kiara baru membuka mulut, tetapi Rayhan lebih dulu menjawab.

"Orang yang menjemputnya."

Jawaban itu sopan dan sama sekali tidak informatif. Justru karena itu, senyum Reza bertahan sedikit lebih lama.

"Beruntung sekali," kata Reza. "Reporter seperti Kiara tidak mudah ditemui."

Rayhan tidak bergerak. "Karena itu saya datang tepat waktu."

Udara di antara dua pria itu berubah tipis. Tidak ada nada tinggi. Tidak ada kata kasar. Tetapi Kiara bisa merasakan Galih yang baru keluar dari lift langsung memperlambat langkah, sementara Dewi diam-diam mengangkat kamera seolah hendak memotret pilar.

Reza tertawa kecil. "Tenang, Mas. Saya hanya memuji profesionalitas."

"Saya juga hanya memastikan dia pulang."

Kiara ingin menarik lengan Rayhan, tapi itu justru akan terlihat lebih mencurigakan. Ia hanya tersenyum pada Reza dengan sisa profesionalitas yang mulai menipis.

"Kami pamit dulu."

Mbak Yuni cepat-cepat berkata, "Terima kasih, Mas Reza. Kita harus lanjut."

Kiara menarik napas pelan. "Terima kasih untuk waktunya."

Di mobil, Rayhan tidak langsung bicara. Ia menjalankan Fortuner keluar dari hotel, melewati lampu-lampu kota yang mulai menyala. Kiara duduk dengan map di pangkuan, merasa seperti membawa benda berbahaya.

"Dia memanggilmu Kiara," kata Rayhan akhirnya.

Kiara menoleh. "Itu namaku."

"Narasumber biasanya memanggil reporter dengan Mbak."

"Dia artis. Mungkin terbiasa begitu."

"Kamu membelanya?"

Kiara berkedip. "Aku menjelaskan."

Rayhan diam lagi. Di dashboard, cahaya jalan memantul di rahangnya yang mengeras.

Kiara menahan senyum yang tidak seharusnya muncul. "Kak Rayhan marah?"

"Tidak."

Jawaban terlalu cepat.

"Cemburu?"

Mobil terasa sedikit melambat.

Kata itu keluar lebih berani daripada yang Kiara rencanakan. Begitu mengudara, ia sendiri ikut tegang, seolah baru saja melempar batu kecil ke danau yang selama ini terlalu tenang di dalam dadanya sendiri.

Rayhan menatap jalan. "Tidak."

Jawaban kedua lebih berbahaya dari yang pertama.

Kiara menggigit bibir agar tidak tertawa. "Oke."

"Apa yang lucu?"

"Tidak ada."

"Kiara."

"Aku cuma baru tahu Kak Rayhan bisa bohong seburuk itu."

Rayhan menoleh sekilas. Tatapannya tajam, tapi telinga Kiara justru panas. Ia menyesal menggoda, sekaligus tidak menyesal sama sekali.

Mereka sampai rumah dalam suasana yang aneh. Tidak dingin seperti dulu, tetapi penuh sesuatu yang menekan dari bawah permukaan. Kiara melepas sepatu di foyer dan membawa map ke meja makan, berniat langsung menyusun catatan sebelum lupa.

Rayhan mengambil air dari dapur.

"Kamu mau makan?"

"Nanti. Aku mau bereskan notes dulu."

Kiara membuka map. Notes, briefing, kartu nama Mbak Yuni, dan foto bertanda tangan Reza keluar bersamaan. Foto itu meluncur ke permukaan meja, tepat di depan Rayhan yang baru kembali membawa gelas.

Hening.

Kiara membeku.

Rayhan meletakkan gelas perlahan.

Ia mengambil foto itu.

Wajah Reza di foto tersenyum sempurna. Tulisan hitam di bagian bawah tampak terlalu jelas.

Untuk Kiara,

yang matanya terlalu jujur.

Jangan terlalu cepat menilai saya.

Reza

Kiara langsung berdiri. "Itu cuma souvenir dari narasumber."

Rayhan tidak menjawab.

Jari-jarinya menekan sudut foto. Pelan, tetapi cukup kuat sampai kertas mengerut.

"Kak Rayhan, jangan diremas. Itu dokumen liputan."

"Dokumen?"

Suaranya rendah. Terlalu rendah.

"Iya. Maksudku... bukan dokumen resmi. Tapi bagian dari liputan."

Rayhan mengangkat mata.

Kiara tiba-tiba merasa seperti kembali di ruang interogasi, hanya kali ini tersangkanya adalah detak jantungnya sendiri.

"Dia menulis ini untuk semua reporter?"

"Aku tidak tahu."

"Dia menyentuh tanganmu di lobi."

"Dia mengembalikan pulpen."

"Dia bertanya siapa yang menjemputmu?"

Kiara terdiam.

Rayhan tahu.

Tentu saja ia tahu. Pria itu bisa membaca gerakan kecil di lorong gelap, apalagi Reza yang sengaja tersenyum di lobi hotel.

"Aku bilang orang rumah," kata Kiara pelan.

Jari Rayhan berhenti menekan foto.

Untuk sesaat, sesuatu di wajahnya berubah. Tetapi perubahan itu lewat begitu cepat hingga Kiara hampir mengira ia membayangkannya.

"Kenapa?"

"Karena..." Kiara mencari jawaban yang tidak membuatnya terlihat terlalu jujur. "Karena itu lebih mudah daripada menjelaskan."

"Lebih mudah dari tetangga?"

Kiara menunduk. "Mungkin."

Rayhan meletakkan foto di meja. Sudutnya sudah kusut.

"Kamu menikmati dia memperhatikanmu?"

Pertanyaan itu membuat Kiara mengangkat wajah.

"Apa?"

Rayhan berdiri di seberang meja, cahaya lampu makan jatuh di sisi wajahnya. Matanya gelap. Bukan dingin seperti saat menghadapi tersangka. Bukan lembut seperti saat membuat wedang jahe.

Ini sesuatu yang lain.

Lebih tajam.

Lebih pribadi.

"Kamu suka dia?"

1
Alissia
hai thor🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!