Karna ini adalah novel pendek jadi babnya gak terlalu panjang ya..
Mengandung cerita 21+
Ayunanda saputri harus terima kalau, mama yang ia cintai harus rela memilih lelaki yang baru saja menikahinya. Lelaki itu bernama Thomas Killer dia adalah sahabat papanya dahulu.
Dengan penuh perjuangan dia hidup sebatang kara, untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari.
Suatu hari dia bekerja di sebuah Bank swasta dan terpaksa menjadi simpanan CEO untuk membalas dendam kepada lelaki yang sekarang menjadi suami mamanya.
Adakah cinta di antara keduanya, simak terus kelanjutannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lintang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketahuan 2
Beberapa menit kemudian, Yuna siuman sekilas dia mendengar suara yang ribut di dalam kamarnya.
"Arya.." suara serak yang cukup berat keluar dari mulut Yuna, ia mengerjab-ngerjabkan matanya yang terasa panas.
"Eh kamu sudah siuman Bab?, mana yang sakit?." Arya berbicara sehalus mungkin dan membelai lembut surai Yuna.
"Aku ada di mana, dan kenapa kamarnya berubah menjadi aneh kayak gini. Trus kenapa aku, mataku panas sekali." Yuna merasakan telapak tangannya sedikit ngilu.
"Auwhhh..." dia melihat kalau tangannya sudah terpasang infus di sana.
"Jangan banyak bergerak, kamu sedang sakit. Kata dokter kamu kelelahan dan kurang makan, makanya mulai sekarang jangan telat makan lagi ya." Arya sekilas mencium kening Yuna dan memandangnya dengan penuh sayang.
"Wah... wah, ternyata ada drama korea di sini ya?. Seorang CEO bank XX sedang mempunyai simpanan cewek bule." Seketika kedua mata Arya dan Yuna melotot ke arah sumber suara.
"Berisik!!." jawab mereka berdua dengan kompak.
"Nah udah kompakan gini, berarti gak salah lagi kalau kalian memang berjodoh."
"Diam Di, biarkan Yuna istirahat. Pulang sana ini sudah hampir pagi juga, besok lakukan acara penyambutan Rendi dengan meriah. Aku tidak mau tante Mitha berulah, kau paham Di?!."
"Iya.. iya aku pergi, siapa juga yang mau jadi obat nyamuk!!. Ingat kata dokter kalian di larang berbulan madu dulu, tunggu sampai nona cantik ini sembuh dulu. Oke, bye Yun semoga cepat sembuh." Diego langsung pergi dengan secepat kilat meninggakan rumah sakit.
Yuna yang merasa aneh dengan sikap Diego segera bertanya kepada Arya apa yang sebenarnya telah terjadi.
"Apa, kenapa kak Diego bilang seperti itu?." Yuna melotot ke arah Arya, sedangkan Arya kelimpungan tak tau harus menjawab apa, kalau sampai tau dia berbuat yang enggak-enggak kepada Yuna. Pasti Yuna akan marah dan akan menyuruhnya untuk pergi dari rumah sakit.
"Kau panggil dia apa, kak?. Memang dia kakakmu?!." jawabnya sambil membenarkan selimut Yuna.
"Iya kenapa, cemburu??. Ayo cepat katakan kenapa kak Diego bilang seperti itu, atau..?."
"Atau apa?." tanyanya cepat.
"Atau aku akan marah kepadamu!!." Yuna menatap Arya dengan jengah.
"Iya aku bilang, kalau dia hanya bercanda. Edi tau kalau kau wanitaku." Elaknya untuk menutupi apa yang sebenarnya terjadi.
"Yang benar?."
"Iya cerewet." Arya berniat akan mencubit pipi Yuna tapi tangan Yuna memegangnya terlebih dahulu.
"Tunggu?."
"Apa?."
"Kau pasti bohong kan, kenapa mimik wajahmu berubah saat kau mengatakannya?."
"Ini hampir pagi Yun, dan mataku mulai ngantuk aku tidak bisa menahannya lagi. Geser aku mau tidur di dekatmu." Karna melihat Arya yang sudah menguap berkali-kali ia tak tega kalau mengajaknya berbicara lagi.
"Ya sudah tidurlah, bukankah besok kau harus menghadiri pesta penyambutan Direktur baru."
"Hem..."
"Kau sudah tidur Ar?."
Tak ada suara lagi untuk menjawab pertanyaan Yuna, Arya sudah terlelap sambil memeluk tubuh Yuna. Yuna merasa kalau Arya adalah penghangat untuk dirinya, walaupun pertemuan mereka pertama kali yang tanpa sengaja bertemu di lif. Kejadian itu mampu membuat Yuna berada di saat seperti ini, dan perasaan Yuna sedikit bisa menerima kelakuan Arya yang super mesum.
\=\=\=\=\=\=
Pagi menjelang tapi rintik air hujan membuat sang surya tidak bisa menunjukkan sinarnya, hujan sedari subuh membuat dua insan yang saling di rundung cinta itu tidur dengan nyenyaknya.
Bahkan suara ketukan pintu kamar inap Yuna tidak dia dengarkan, mereka saling memeluk satu sama lain. Diego datang dengan membawa satu stel baju tuxedo lengkap dengan sepatu yang senada dengan warna jas yang akan di pakai Arya, warna merah maroon.
"Wah-wah... nyenyak sekali tidur kalian, aku sampai ingin tidur juga melihat kalian yang saling memeluk." Bahkan suara kedatangan Diego tidak mereka dengarkan.
"Ar bangun, sudah siang!!." Diego terpaksa berbicara tepat di telinga Arya. Membuat Arya sedikit terkejut.
"Jam berapa memangnya?." sambil mengucek matanya perlahan dan mencoba untuk bangun, tapi tubuhya di peluk erat oleh Yuna.
“Di tolong bantu aku melonggarkan pelukan gadis nakal ini?. Lihatlah apa yang ia lakukan semalam kepadaku, dia memelukku dengan erat."
Diego bergegas membantu Arya agar pelukan Yuna sedikit kendor.
"Apa yang kalian lakukan kepadaku?." Seketika mata Yuna melotot ke arah Arya dan Diego.
Dengan cepat Diego melepaskan lengan Yuna, dia tidak mau ada nenek lampir menerkamnya pagi-pagi.
"Maaf Yun tadi Arya yang memintaku.." Belum selesai Diego berbicara, kini Arya kembali memelototi dirinya.
"Ya elah mimpi apa aku semalam, ku rasa aku kurang tidur. Tapi kenapa pagi ini aku sial, sial karena di pelototi oleh sepasang kekasih aneh macam kalian. Sudah aku tidak mau berurusan denganmu lagi, cepat mandi dan pakai pakaianmu kita ke kantor sama-sama." Diego langsung berjalan keluar dia tidak mau mendapat introgasi dari wanita simpanan Arya.
Dua puluh menit berlalu, kini Diego dan Arya bersiap untuk pergi ke kantor. Yuna sedari tadi hanya memandang Arya dengan penuh kagum, dia tidak mau menunjukkan kalau dirinya mulai menaruh hati terhadap lelaki mesum itu.
"Kenapa hanya memandangku saja?, katakan kalau kau mulai terpesona melihatku. Dan katakan kau jatuh cinta padaku, maka dengan segera akan ku jawab pengakuan cintamu dengan aku juga mencintaimu Ayuna."
"Sudah bicaranya nanti di lanjutkan Ar, Yun kita pergi duluan ya?. Bunda dan yang lainnya sudah jalan ke kantor, kita tidak boleh datang terlambat bisa hancur reputasi kamu kalau sampai terjadi."
"Iya Kak hati-hati, maaf aku tidak bisa hadir."
"Jangan sungkan, kamu kan lagi sakit. Sampai jumpa Yun." Diego melambaikan tangannya sambil berjalan, sedangkan Arya mencium kening Yuna lalu ikut mengejar Diego yang lebih dulu pergi.
Yuna tersenyum bahagia melihat Arya yang mulai mencintainya, Yuna tidak ingin cepat-cepat mengungkapkan perasaannya karna ia tau kalau Arya sang pemburu wanita. Untuk itu dia ingin melihat seberapa penting dirinya untuk Arya, selain itu dia ingin fokus dengan balas dendam yang akan di lakukannya.
Tak lama dokter manis bernama Hasna datang memeriksanya bersama seorang suster di belakangnya.
"Selamat pagi Bu, saya mau mengecek keadaan Ibu." sapa Hasna dengan ramah.
"Silahkan dokter." Yuan menjawabnya dengan tak kalah ramah, senyumnya merekah saat dokter memulai memeriksanya.
"Bu apakah tidurnya semalam nyenyak?"
"Iya dok, nyenyak sekali."
"Ibu tekanan darahnya agak rendah, makannya juga tidak teratur. Apa Ibu sedang sibuk bekerja?"
"Iya dokter saya bekerja."
"Jangan terlalu lelah ya Bu, karna bisa menyebabkan Ibu megalami stres. Oiya kapan Ibu menikah?."
"Menikah, saya belum menikah dok. Memangnya kenapa?."
"Loh berarti yang semalam itu bukan suami Ibu, maaf ya saya gak tau."
"Dokter ko aneh, memangnya apa yang terjadi kepada saya dok?." Yuna merasa aneh dengan dokter dan ucapan Diego yang tadi berbicara tentang bulan madu segala.
"Karna di leher Ibu ada beberapa tanda merah, seperti habis melakukan sesuatu." Dengan sigap Yuna menutupi area lehernya, dia juga meminta suster untuk mengambilkan cermin di sebelah nakas tempat ia tidur. Begitu terkejutnya Yuna karna melihat lehernya yang penuh dengan tanda kepemilikan oleh Arya. Matanya melotot dan wajahnya seketika memerah karna malu.
"Em.. mm... ini anu dok, emm... dia tunangan saya. Ya tunangan saya, besok lusa kami akan segera menikah!!." Yuna menutup mukanya malu.
"Jangan di pikirkan Bu, saya tidak mempermasalahkannya. Ibu boleh pulang nanti sore kalau tensi darah Ibu sudah kembali normal." Dokter cantik itu pergi dari kamar inap Yuna, sedangkan suster yang bersamanya sedikit tertawa melihat kegugupan Yuna yang mencoba menutupi kebohongannya.
Jadi ini yang kau sembunyikan dariku mulai semalam, lihat apa yang akan ku lakukan nanti. Aku akan marah besar, karna telah mempermalukanku di depan dokter yang merawatku.
Dasar Mak lampir...
ngga bisa lihat orang bahagia.
visualnya thort