Menikah karena kemauan sendiri dan dengan pilihan sendiri tidak selamanya berbuah kebahagiaan.
Benazir adalah buktinya.
Menikah selama beberapa tahun dengan pria yang berusaha diperjuangkannya, malah menimbulkan luka dan kecewa berkepanjangan. Suaminya bahkan menganggapnya istri yang memalukan dan tak pantas dihargai.
Haruskah Benazir bertahan atau pergi.
Kisah ini akan sedikit menguras air mata.
Berminat ?
ikuti kisahnya yuk...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ummiqu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16 ( Kelakuan Busuk )
Benazir duduk di samping tempat tidur sambil menggenggam erat tangan Suci. Matanya menatap lekat kearah Suci yang masih terpejam sejak ia tiba tadi.
" Ibu, bangun Bu. Benaz di sini nemenin Ibu...," bisik Benazir lembut.
Sedangkan Awan, Darma dan Gama nampak berdiri di luar kamar sambil memandangi Benazir dengan tatapan tak terbaca. Sebenarnya mereka tahu apa yang terjadi dengan rumah tangga Benazir saat ini. Tapi mereka memilih diam karena tak ingin mencampuri urusan rumah tangga Benazir dan Arjuna.
" Apa Lo serius sama omongan Lo tadi Gam...?" tanya Darma.
" Iya Kak. Aku dapat info yang akurat kalo si breng**k itu menjalin hubungan sama Istri orang...," sahut Gama sambil mengepalkan kedua tangannya menahan kesal.
" Kurang ajar. Berani banget dia selingkuh dari Benaz. Padahal kurang apa si Benaz. Cantik, pintar, pekerja keras. Awas kalo Aku sampe nangkap basah si breng**k itu...," kata Darma marah.
" Gampang itu. Kita kasih tau aja si pejabat yang jadi Suami siri perempuan itu. Kita liat, apa si breng**k itu masih mau sama perempuan itu andai dia udah gembel dan ga jadi peliharaan si pejabat itu lagi. Karena kekayaan perempuan itu kan emang pemberian si pejabat selama perempuan itu jadi simpanannya...," usul Gama.
" Udah, tahan emosi Kalian. Soal itu nanti aja Kita urus. Sekarang yang penting Ibu sama Benaz jangan sampe tau dulu. Kasian mereka. Bisa kan Lo awasin dulu si breng**k itu...," kata Awan sambil menoleh kearah Gama.
" Bisa Kak...," sahut Gama cepat.
" Bagus. Biar kaya gini aja dulu. Kita pura-pura ga tau aja...," bisik Awan yang diangguki kedua adiknya itu.
Lalu ketiganya masuk ke dalam kamar rawat Suci. Mereka menyapa Benazir dengan memeluknya erat lalu duduk dan bicara santai sambil menunggu Suci siuman.
" Kak Yanti ga ikut Kak...?" tanya Benazir.
" Ga lah Naz. Kasian Aqila kalo dibawa ke sini, dia kan masih bayi...," sahut Awan.
" Kapan Kamu mau punya Anak kaya Kak Awan, Ben...?" tanya Darma usil.
" Mmm, itu. Aku juga mau sih Kak. Tapi...," ucapan Benazir terputus.
" Tapi Suamimu ga mau. Dia ga siap buat biayain hidup Kamu dan Anaknya kan. Apalagi dia sekarang cuma pengacara, pengangguran banyak acara...," kata Darma sambil tersenyum sinis.
Benazir terdiam mendengar ucapan Darma. Ia sadar tak akan mungkin menang berdebat melawan ketiga kakaknya itu. Sambil menunduk Benazir mengepalkan tangannya.
Tak lama kemudian Suci siuman dan membuat keempat anaknya tersenyum bahagia. Untuk sejenak Benazir dapat bernafas lega karena perhatian semua orang teralihkan pada Suci. Ia senang karena ketiga kakaknya tak lagi membahas tentang dirinya dan Arjuna.
\=\=\=\=\=
Sejak Suci dirawat di Rumah Sakit hingga diperbolehkan pulang oleh pihak Rumah Sakit, tak sekali pun Arjuna datang untuk menjenguknya. Meski pun Benazir sudah memberitahu pada Arjuna tentang keadaan Suci. Arjuna merasa tak punya kewajiban datang karena tak ada yang bertanya atau pun menantikan kehadirannya. Hal ini jelas membuat Benazir kecewa.
" Apa Kamu ga punya waktu buat jenguk Ibuku Mas...?" tanya Benazir sambil bersedekap.
" Aku sibuk...," jawab Arjuna ketus.
" Sibuk apa. Kalo Kamu sibuk, penghasilanmu juga banyak dong. Ini buktinya penghasilanmu juga ga ada kemajuan. Aku bingung sama Kamu Mas. Makin ke sini tuh sikap Kamu makin seenaknya aja...," kata Benazir sambil menatap tak suka kearah Arjuna.
" Jangan mulai lagi deh. Aku juga capek kerja seharian. Kan kerjaan Aku ga seenak dulu yang duduk manis di ruangan ber AC. Jadi tolong Kamu hargai Aku dan kerjaanku yang sekarang...," pinta Arjuna.
" Tapi semua kan salah Kamu sendiri Mas. Andai Kamu sedikit menghargai waktu dan omonganku, ga mungkin Kamu dipecat gara-gara ketiduran di jam kerja...," sahut Benazir tak mau kalah.
" Iya, Aku tau. Tapi ga usah terus menekan Aku bisa ga...?" tanya Arjuna lagi sambil berlalu.
Benazir menatap Arjuna dengan perasaan kecewa lagi. Tanpa mempedulikan sikap Arjuna, Benazir pun pergi ke Rumah Sakit untuk ikut menjemput Suci yang diijinkan pulang hari ini oleh dokter yang merawatnya.
Tiba di sana sudah ada ketiga kakaknya yang masih sibuk mempersiapkan kepulangan Suci.
" Benaz, kemari Nak...," kata Suci sambil merentangkan tangannya.
" Ibu maafin Aku ya. Sampe detik ini Aku ga bisa ngajak Mas Arjuna jenguk Ibu...," bisik Benazir dengan penuh sesal.
" Gapapa. Buat Ibu yang penting semua Anak Ibu ada di sini...," sahut Suci sambil membelai wajah Benazir.
Benazir tersenyum mendengar ucapan Suci. Ia kembali memeluk sang ibu dengan erat.
" Udah siap semuanya kan. Yuk, Kita pulang sekarang...," ajak Awan sambil mendekati Suci.
" Udah. Biar Aku aja yang dorong kursinya Ibu ya Kak...," kata Benazir.
" Ok...," sahut Awan sambil tersenyum.
Mereka pun bergegas keluar dari kamar rawat inap. Saat melangkah beriringan dengan santai di koridor Rumah Sakit, Benazir melihat sosok Arjuna sedang berada di Rumah Sakit dan ada di dalam antrian di depan loket.
" Kenapa Ben...?" tanya Gama sambil mengikuti arah tatapan Benazir.
" Aku liat orang mirip Mas Arjuna di sana...," sahut Benazir sambil memberi kode dengan ujung dagunya.
" Itu emang dia Ben...," sahut Darma.
" Ngapain dia di sana, sama siapa...?" tanya Benazir tak mengerti.
" Kayanya lagi nganterin cewek yang pake baju biru itu deh. Wah, cantik juga Ben. Hebat ya dia, bisa-bisanya ngantar cewek lain padahal mertuanya sendiri udah berapa hari dirawat aja ga pernah sekali pun dijenguk...," sahut Awan sinis.
Benazir merapatkan giginya menahan marah. Dengan mata kepalanya sendiri ia melihat sikap mesra Arjuna pada perempuan berbaju biru itu. Arjuna nampak memapah perempuan itu menuju ke poli kandungan yang terletak tak jauh dari tempatnya berdiri.
Wajah Benazir terlihat merah menahan marah dan sakit hati. Tanpa memperdulikan panggilan Suci, ia melangkah mengikuti Arjuna.
" Benaz...!" panggil Suci.
" Biarin aja Bu. Udah waktunya Benaz tau kelakuan busuk Suaminya itu. Darma, bawa Ibu ke mobil. Biar Aku sama Gama yang ngawal Benaz...," perintah Awan tegas.
" Siap Kak...," sahut Darma sambil tersenyum lalu bergegas mendorong kursi roda Suci menuju ke tempat parkir.
Sementara Gama dan Awan mengikuti Benazir dengan langkah cepat. Di depan sana mereka melihat sedang terjadi keributan yang disebabkan oleh Benazir dan Arjuna.
" Oh, jadi ini ya maksud Kamu sibuk Mas. Ngapain Kamu di sini, dan kenapa dia, hamil Anak Kamu...?!" tanya Benazir marah.
" Cukup Benaz. Jangan bikin keributan di sini. Aku cuma dimintain tolong aja kok. Ini langganan Aku, dia sakit dan ga ada yang nganterin. Makanya Aku yang nganterin...," sahut Arjuna dengan nada suara tinggi.
" Masa, apa bukan karena Kamu lah Bapak dari janin perempuan itu makanya Kamu segitu carenya sama dia...?!" tanya Benazir marah.
Mendengar ucapan Benazir membuat Arjuna terkejut. Apalagi semuanya terungkap tanpa dia bisa menyangkalnya. Sementara Paula menikmati pertikaian Arjuna dan Benazir sambil duduk santai di kursi. Sesekali ia mengelus perutnya sambil menatap penuh kemenangan kearah Benazir.
" Kenapa diam Mas. Akuin aja kalo itu emang Anak Kamu, iya kan...?!" jerit Benazir.
Arjuna menatap Benazir lalu mengangguk perlahan mengiyakan pertanyaan Benazir. Namun tiba-tiba tubuh Arjuna terjengkang ke belakang dan membuat semua orang yang kebanyakan ibu-ibu itu memekik kaget. Arjuna menatap nyalang kearah orang yang telah membuatnya jatuh terjengkang dengan wajah dan tubuh terasa remuk itu.
Betapa terkejutnya Arjuna saat tahu siapa yang telah memukulnya dan membuatnya jatuh terjengkang tadi. Orang itu adalah Gama, yang tengah berdiri gagah di hadapan Arjuna dengan tatapan setajam elang.
bersambung