NovelToon NovelToon
Cinta Terdinginmu

Cinta Terdinginmu

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Cintapertama / Contest / Balas Dendam / Romansa-Teen school / Tamat
Popularitas:13k
Nilai: 5
Nama Author: ARIFA IFTITA RAHMA

Butuh waktu lima tahun lamanya bagi Mer untuk siap bertemu lagi dengan cinta pertamanya. Teman masa kecilnya yang begitu ramah dan ceria itu seketika berubah menjadi sesosok pria misterius nan dingin. Akan tetapi, kepribadian Vallen yang berubah tetap tak melunturkan perasaan yang telah lama bersinggah di hatinya. Mer tetap mencintai Vallen meski pria itu tak menganggap Mer ada.

Perjuangan terus Mer lakukan untuk mendapatkan perhatian Vallen. Ia terus mendekati Vallen walau pria itu selalu melontarkan kata yang menyakitkan. Meski sering tak diacuhkan olehnya, bukanlah sebuah alasan bagi Mer untuk menyerah. Semua itu dilakukannya untuk mendapatkan cinta Vallen kembali.

Hanya soal waktu saja Mer dapat meluluhkan hati Vallen. Merubah kepribadiannya kembali menjadi sosok yang hangat. Menjadikan hal yang mustahil dapat diraihnya. Meski begitu, Vallen tetap menolak cintanya dengan alasan takdir yang selalu ia katakan. Akankah alasan takdir itu suatu saat akan menenggelamkan cinta mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARIFA IFTITA RAHMA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CINTA TERBALAS

Minggu, 12 Desember 2018

Aku yakin ini adalah alam bawah sadar, tubuhku yang seharusnya menggigil kedinginan berkat baju basah yang kukenakan, anehnya terasa hangat. Aku ingin seperti ini selamanya. Aku ingin tertidur seperti ini bersamanya. Dipeluk oleh dirinya. Diberi kehangatan dari dalam tubuhnya. Rambutku serasa diusap-usap olehnya, terasa nyaman saat jemarinya menyapu rambutku dari ujung kepala. Aku ingin momen ini terus ada, begitu juga dengan dirinya. Kuingin ia selalu ada bersamaku.

“Aku mencintaimu,” gumamku kecil

Hanya sebatas isi hati yang ingin kuungkapkan pada diriku sendiri. Mengapresiasikan perasaan nyaman yang saat ini sedang kurasakan. Anehnya, begitu kuberbisik isi hatiku, usapkan jemarinya yang mengelus rambutku terhenti. Aku takut yang kutakutkan benar terjadi. Aku tak ingin mimpi itu berakhir, kuharap mimpi itu terus membersamaiku. Mimpi yang kesannya terasa nyata.

“Gu, gue juga,”

Mataku kembali terbuka mendengar suaranya yang benar-benar terasa nyata. Kembali menampilkan pemandangan nyata di dunia dan wajahnyalah yang pertama kali kulihat, tengah berbaring menghadapku. meratapi wajahku selama aku tertidur. Aku sontak berjengit, menarik tubuhku untuk duduk, memberi jarak diantara kami untuk mengatur rasa kagetku. Ia kembali sadar.

“Vallen, lo... ini beneran kan?”

Wajahnya yang masih terlihat pucat menampakan senyum tipisnya. Sangat tipis. Entah perasaan apa yang harus kuungkapkan saat ini, sedih, bahagia, terharu, dan tentu saja marah

“Jahat lo Len, hiks hiks,”

Kepalaku tertunduk menangis. Dari dulu hingga saat ini aku selalu saja lemah di hadapannya. Mau kutahan Sekuat apapun, air selalu lolos dari kelopak mata. Bagaimana tidak, ia hampir kehilangan nyawa dan justru, meski tipis, masih bisa tersenyum.

Vallen mendekatkan badannya, mengangkat kembali kepalaku sehingga tatapan kami saling beradu. Jemarinya dengan lemas menyapu bersih air mata yang sempat ku jatuhkan lantas mendekapku dengan erat, seerat yang ia bisa.

Aku menolak tatapan matanya, mendorong tubuh lemas itu agar sedikit menjauh dariku. Aku tak mau luluh padanya sebelum diberi keterangan yang jelas, untuk saat ini, belum.

“Lo punya hp kan? Kenapa lo nggak gunain itu buat kabarin gue, setidaknya kabarin nyokap lo kalo lo dikurung disini. Begitu bodohnya lo malah bohong ke nyokap lo. Semua khawatir Len,”

“Gue punya alas-“

“Apa alasan bodoh lo itu?!”

Dengan segala jurusnya ia justru menarikku ke dalam pelukannya. Meleleh sudah amarahku dengan kehangatannya. Aku membisu, ribuan kata-kata yang ingin kusemburkan hilang entah kemana. Seolah tak pernah kupikirkan sebelumnya.

“ Gue kangen bokap Mer, kangen, sangat kangen. Gue butuh dia,” bisiknya.

Suaraku melembut disertai isak tangis.

“Lo kangen bokap lo. Lo butuh dia, lantas bagaimana perasaan orang-orang di sekitar lo yang masih butuhin lo? Lo tega biarin air mata mereka keluar melepaskan tangis buat lo yang udah nggak ada? Mereka pasti kangen Len, sangat kangen,”

Vallen kembali mengelus rambut panjangku yang kusut. Aku dapat merasakan penuh penyesalan melalui sela-sela jarinya. Napasnya yang berat dan pelukannya yang tak mengizinkanku untuk pergi jauh-jauh.

“Maaf Mer, gue pikir nggak ada yang peduli sama gue lagi, gue udah terlalu nyia-nyiain lo yang sayang sama gue. Jika boleh bilang, gue juga sayang sama lo melebihi fakta yang terjadi diantara kita,”

“Aku sayang kamu, Mer. jika belum terlambat, apa kau mau jadi pacarku?”

Inilah kata-kata yang sedari dulu kutunggu. Inilah ungkapan perasaan yang sedari dulu ku ingin dengar. Rasa sayangnya kepadaku yang diucapkan langsung melalui bibirnya.

Vallen melepas pelukannya, memegang kedua pundakku  dengan rasa sayang. Menatap lamat mataku serta mengecup keningku dengan penuh makna. Rona merah menutupi seluruh pipiku, tubuhku memanas. Inikah perasaan cinta berbalas?

“Kau pasti tahu apa jawabanku, tentu saja aku tak akan mau berkata tidak,”

 

 

---

 

 

“Len, kau juga sakit, kau butuh istirahat!”

Seperti omonganku tak diacuhkan olehnya, ia masih bergerak mondar-mandir.  Mengisi baskom dengan air hangat, membuat bubur ayam, serta mengisi gelas dengan air putih dan juga terdapat buah-buahan di sana.

“Aku ini laki dan aku tidak selemah yang kau kira,”

“Sekuat apapun orang kalau sedang sakit harus diobati!”

 Vallen lantas duduk di sampingku, di atas ranjangku. Menarik selimut hingga menutupi dada ku yang mulai berpacu dengan cepat ketika ia berbaring disebelahku. Menghadapku dengan mata terpejam. Sontak aku bergeser untuk memberinya tempat.

“Ka, kamu ngapain?” tanyaku gugup.

Vallen masih mengatupkan kelopak mata sambil bergumam pelan,

“Nurutin apa yang kau perintahkan,”

“A, apa?”

Barulah ia membuka matanya coklat terang dengan sedikit kilatan dari sorotan lampu membuat kesan matanya terlihat lebih indah. Entah bagaimana aku menjelaskan debaran dibalik dadaku itu. Mata kami saling tatap, begitu dekat.

“Istirahat,”

“Ya, ja, jangan di kasurku juga! Di sofa sana, nanti kalo aku hamil duluan, kamu harus tanggung jawab!”

Vallen terbahak mendengar grogi ku dan juga rasa takut hamil diluar nikah sebagaimana kebanyakan remaja zaman sekarang. Untuk mengusir rasa takutku ia lantas beranjak berdiri, memberiku ruang untuk menghilangkan semu merah yang warnai pipiku. Betapa malunya aku dengan ucapanku sendiri yang tanpa sadar keluar.

“Justru akunya bahagia jika kandunganmu suatu saat adalah anakku, jika seandainya aku bisa menikahimu,”

“Kenapa tidak bisa?”

Matanya berpaling melihat arah lain, tertunduk, dan terlihat kemurungan yang dimunculkan dari wajah itu.

“Lupakan,” katanya

Bagaimana bisa aku melupakan rahasia yang sedari dulu ia sembunyikan. Alasan yang dulu membuatnya pergi selepas bermain bersamaku. Alasan yang membuatnya menolak cintaku sebelum ini. Alasan yang ia ucapkan seolah-olah suatu saat ia tak bisa menikahiku. Aku ingin menceploskan seluruh keingintahuanku. Apakah alasan takdir itu? Akan tetapi aku hanya bisa merendamnya dalam hati, menguburnya dalam-dalam. Menunggunya hingga suatu saat ia sendiri yang akan membocorkannya, jika ia menganggapku penting. Aku akan bersabar menunggunya hingga ia mampu berbagi rahasia padaku. Jika tidak, apa aku tidak terlalu penting di matanya?

 

 

---

 

 

Senin, 03 Desember 2018

Ini tidak seperti yang kuharapkan

Tubuh mengurus kering terkapar di pojokan

Seragam kotor. Astaga, di sana darah melekat nyaman

Darah pekat bersinggah dengan aman

Apa yang akan orang tanyakan?

Bukan itu, aku tak pernah mengharapkan seperti itu

Aku berharap menemukannya tapi tidak dengan kondisi sekarang

Dengan kondisi yang sebelumnya tak terbayang

Ah, aku berharap dia lebih baik dari yang kupandang

Tapi aku sungguh tak menyalahkan yang di atas sana

Berkat-Nya, tak terduga ia ada

Mengembalikan lagi aku dengannya bersama

Melingkarkan kelingking perjanjian, kita sama-sama

Seperti inilah yang ingin kuharapkan

Aku menutup buku serbagunaku. Kilasan senyuman tertera di bibir tipis ku. Saking bahagianya, malamnya, tanpa tunggu waktu aku langsung memberitahukan pada sahabatku, Via. Kami sudah berjanji tak ada satupun rahasia yang disembunyikan antara kita. Via menanyaiku macam-macam, sudah pasti, dan aku harus bersabar karena itu.

“Mer, ditunggu tuh sama pacar baru,” senyumnya jahil.

Mataku tersorot pada ‘pacar baru’ yang dimaksud Via. Bayangan tinggi di balik pintu kayu kelasku. Senyumku kian mengembang membayangkannya yang mampir ke kelasku. Selama ini, Vallen tak pernah berkunjung sebelumnya.

“Vallen, ada apa?”

“Apa kamu masih suka puding?”

Ia menjulurkan kedua tangannya hanya untuk memamerkan kotak makannya yang berisi puding rasa coklat. Aku menatap lamat kotak makan tersebut tanpa kusentuh. Kembali kupandangi wajah Vallen yang menggigit bibir, mungkin ia grogi.

“Oh, ya sudah,”

Merasa kudiamkan, ia menarik kembali kotak makannya dengan canggung. Barulah senyumku melebar. Kurebut kotak makannya yang sempat ditarik lagi, berjinjit lantas kukecup pipinya sekilas.

“Terima kasih sayang, aku masih suka banget sama puding,”

Vallen memegangi bekas kecupanku. Mematung, tatapannya kosong, berusaha menghindari kontak mata dariku. Pipinya menghangat.

“Vallen, kamu nggak lagi sakit kan?”

“Ah, enggak enggak, Ee nggak apa-apa kok,”

Aku menyipitkan mata, berusaha menerawangnya lebih dalam.

“Kemarin saat kusuruh kau pulang buat istirahat juga, kau melakukannya sesuai perintahku kan?”

" Iya Mer, aku langsung tidur sesuai yang kau katakan,”

“Makan? minum obat?”

 Vallen mengangguk.

“Maaf ya Len aku aku... gak bisa ngerawat kam—“

“Sssttt,” telunjuknya ia tempelkan pada bibirku. Mau tak mau aku jadi bungkam dibuatnya.

" Jangan menyalahkan atas apa yang bukan

kesalahanmu."

Vallen menarikku ke dalam pelukannya. Sungguh nyaman meski sorotan mata seluruh siswa terarah pada kami. Di depan kelas, di tengah jalan tempat orang berlalu lalang, bagaimana mungkin kejadian itu tak mengundang perhatian.

“Aku mau gini terus Len, tolong jangan kemana-mana setelah ini,”

 

 

---

1
Lusiana Karangan
ditunggi up tetap semangat nulisx
Fugi Martha
😭😭😭 sesulit inikah cinta thor ? merasa terpukul endingnya 😣
Fugi Martha: kapan thor?
total 2 replies
Rize
POV 1 nya mayan bikin ngeh, hehe. nanti tak lanjut baca kak,
Arifata: terima kasih sudah mau mampir dan membaca🤗
total 1 replies
Arifata
hai cilamici👋🏻 terima kasih sudah mau membaca karya saya😀 dukunganmu sangat berarti untuk semangatku😚😇
Cila Mici
karakter via membuat cerita menjadi berwarna. aku suka cara menulisnya, enak dibaca.

aku akan lanjutin nanti... 🥰

salam cilamici
Arifata
habis baca jangan lupa like ya😊 biar author makin semangat ngelanjutin ceritanya🥰 terima kasih pada readers yang sudah mau mampir dan membaca cerita ini😀❤
Fina.zher
aaaaa😭 kok sad thor:/ ga terimaaa!!!! ditunggu buku kelanjutannya thor😭😭
Arifata: iya.. ditunggu cerita kelanjutannya ya😅🙏
total 1 replies
Fina.zher
manisnya mereka😍
Arifata: terima kasih sudah membaca cerita saya😅🙏
total 1 replies
Fina.zher
jadi sebel sama Vallen:/ narik ulur perasaan orang😭 untung Vallen kece:)
Fina.zher
lanjut buku keduanya thor 😍 kasian Mer nya:( jangan dibuat sadgirl lah thor😭
Arifata: iya.. ditunggu cerita kelanjutannya ya😅🙏
total 1 replies
Aisyah Kamila
Ma syaa Allah ta, km udah berhasil bikin aku gregetan bgt loh, gud ta, aku suka. Ada nama aku lagi 😂
Arifata: authornya ga disapa jg nih?🤭🤣💔
total 2 replies
Hulk
Baca cerita kakak kayak lilin yang terkena api.. meleleh banget..
Arifata: Terima Kasih sudah membaca cerita saya😄😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!