NovelToon NovelToon
Pendekar Pedang Langitan

Pendekar Pedang Langitan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Penyelamat
Popularitas:184
Nilai: 5
Nama Author: Heryando Palar Vinkoert

Kisah Pendekar Pedang Langitan, merupakan petualangan Bagaga di Jawa Dwipa bersama Ngo Cian, gadis cantik yang mungil dari negeri Champa.
Bagaga di Jawa Dwipa lebih dikenal dengan Pendekar Pedang Langitan, karena itulah senjata yang selalu dia gunakan.
Bagaga dan Ngo Cian terlibat dalam upaya menyelamatkan kelahiran bayi suci yang membawa takdir langit atas tanah Jawa Dwipa dan Nusantara.
Semua berawal dari Bagaga mengalami peristiwa barasihan dan menerima wangsit dari Maharesi Pawitra alias Maharesi Semeru Anakan.
Banjir darah melanda Jawa Dwipa bagian timur karena perbedaan cara pandang para Maharesi dan juga para Penguasa.
Mari nikmati kisah Pendekar Pedang Langitan Bagaga dan Dewi Pengendali Api Ngo Cian menjelang kelahiran Ken Arok, bayi suci yang akan membawa takdir langit atas tanah Jawa Dwipa.

Seperti biasa. Pendekar Pedang Langitan adalah sekelumit kisah fiksi dengan latar belakang sejarah.

Terimakasih

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heryando Palar Vinkoert, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3. Dan Yuvaraja Meminang

Iring iringan terus berjalan menyusuri jalan kota raja yang lebar bersih. Warga kota raja Dharmasraya membungkuk memberi penghormatan kearah kereta utama yang besar. Dewi Bulan dan Dewi Rimau Kumango yang berada dalam kereta itu tersenyum kearah warga yang memandang iring iringan itu dengan sorot mata hormat dan penuh kagum.

Tidak lama kemudian iring iringan itu memasuki halaman luas istana Yuvaraja Mauli Balanaga. Yuvaraja, Senopati Talang Perigi dan beberapa pelayan berdiri didepan serambi utama istana untuk menyambut kedatangan iring iringan tersebut.

Begitu sampai, Senopati Muda Hanusa segera melompat dari kudanya. Dia segera memberikan sembah kepada Yuvaraja Mauli Balanaga.

"Salam Yang Mulia Yuvaraja. Kami kembali dengan selamat bersama Puti Reno Bulan, Pandeka Pedang Suling Kumala dan rombongan." Senopati muda Hanusa sengaja menyebutkan nama Dewi Bulan lebih dulu. Dia sangat paham seperti apa posisi Dewi Bulan dalam hati Yuvaraja.

Sudah beberapa kali Dapunta Hyang meminta Yuvaraja Mauli Balanaga untuk mempunyai istri. Namun jangankan mengambil seorang istri, bahkan satu selirpun Yuvaraja Mauli Balanaga tidak punya. Yuvaraja selalu menjawab permintaan Dapunta Hyang, Maharaja kerajaan Bhūmī Malayu Dharmasraya dengan, Aku pasti akan menikah, jika telah bertemu dengan jodohku. Mohon Ayahanda bisa mengerti.

Yuvaraja mengangguk dan dia melangkah memeluk Pandeka Pedang Suling Kumala yang juga sudah turun dari kudanya dan menjura kepada Yuvaraja Mauli Balanaga.

"Selamat datang saudara ku Bagaga. Senang melihat mu telah kembali." Pandeka Pedang Suling Kumala balas memeluk Yuvaraja Mauli Balanaga.

"Maaf jika kami terlalu merepotkan anda Yuvaraja Mauli." Ucap Pandeka Pedang Suling Kumala. Pria sakti itu mundur dan menyenggol bahu Dewi Bulan.

Puti Reno Bulan alias Dewi Bulan juga telah turun dari kereta. Segera diikuti oleh Dewi Rimau Kumango.

Dewi Bulan melirik Pandeka Pedang Suling Kumala sekilas. Gadis cantik itu melihat kepada Yuvaraja Mauli Balanaga dan tersenyum sangat manis.

Yuvaraja segera maju dan meraih tangan Dewi Bulan. Putra mahkota kerajaan Bhūmī Malayu Dharmasraya itu meremas lembut tangan Dewi Bulan dan berbisik.

"Terimakasih kasih sudah kembali Reno." Dewi Bulan tersenyum dan mengangguk. Gerakan gadis cantik itu terlihat begitu anggun. Namun rona merah menjalari pipinya sampai ke leher.

Perlahan Dewi Bulan menarik tangannya dan berdiri di sisi Pandeka Pedang Suling Kumala. Yuvaraja Mauli Balanaga segera menyapa Dewi Rimau Kumango.

"Selamat datang kembali nona Nirmala, ahh... Maaf maaf, maksud ku saudari ipar." Ucap Yuvaraja sambil menjura dan tersenyum ramah.

"Anda terlalu merendah Yang Mulia Yuvaraja." Jawab Dewi Rimau Kumango balas menjura lebih dalam.

"Ha ha haa... Nirmala, kau adalah istri dari saudara ku. Tidak ada sikap terlalu merendah atau apa diantara saudara sendiri." Ucap Yuvaraja Mauli Balanaga dengan ramah.

Lingga atau Pendekar Golok Ganda Talaud yang telah yang juga telah turun dari kudanya. Segera maju dan menjura dalam.

"Salam sembah ku Yang Mulia Yuvaraja."

"Ha ha haa... Terimakasih sudah kembali Pendekar Golok Ganda Talaud. Aku dengar kau dan Nilam sudah jadi menikah yaa." Yuvaraja berbisik ditelinga Pendekar Golok Ganda Talaud. Kemudian mengedipkan sebelah matanya pada Pendekar Golok Ganda Talaud. Mereka berdua tertawa, tapi tawa Pendekar Golok Ganda Talaud tawanya dibalut malu.

Pendekar Tombak Maut dan Pendekar Bayangan langsung maju dan berlutut. "Salam hormat kami Pendekar Tombak Maut dan Pendekar Bayangan kepada Yang Mulia putra mahkota. Kami berdua adalah pengikut dan Pandeka Pedang Suling Kumala."

"Terimakasih dan selamat datang Pendekar Tombak Maut dan Pendekar Bayangan. Aku ucapkan selamat datang di Dharmasraya."

Senopati Talang Perigi melihat kearah dua kereta yang lain. Tiga orang wanita cantik turun dari kereta yang paling belakang. Diawali oleh Denok Mantiak, diikuti oleh Nilam alias Walet Pasisia. Sesaat kemudian keluar wanita yang cantik, sensual dan sangat memikat, Pati Mantiak Suri. Seorang wanita cantik, putri tunggal dari patriak sekte sesat yang kembali menjadi pendekar pembela kebenaran.

Gadis cantik perkasa itu tersenyum manis dan sangat lembut kepada Senopati Talang Perigi. Kemudian dia langsung menghaturkan sembah kepada Yuvaraja Mauli Balanaga.

"Selamat kembali pulang Mantiak Suri. Kau telah membuat seorang ahli strategi kerajaan Bhūmī Malayu Dharmasraya, kalimpasiang tidak bisa tidur." Ucapan akrab dari Yuvaraja membuat semua orang tertawa.

Setelah Nilam dan Denok Mantiak memberi sembah. Pintu kereta kedua terbuka. Dua wanita yang memiliki wajah cantik dan unik muncul. Dewi Bulan segera maju untuk memperkenalkan kedua gadis cantik itu.

"Kanda Balanaga. Dua gadis cantik ini berasal dari negeri Champa. Yang cantik dan anggun ini adalah tuan putri Nguyen Lan. Putri dari Pangeran Nguyen Gou, seorang menteri utama kerajaan Champa. Nguyen Lan menjura memberi salam hormat kepada Yuvaraja.

"Salam ku untuk mu Yang Mulia Yuvaraja."

"Terimakasih nona Nguyen Lan. Selamat datang di negeri Dharmasraya. Semoga engkau betah di negeri kami." Yuvaraja Mauli Balanaga balas menjura dan tersenyum ramah pada Nguyen Lan.

"Oh iyaa, putri cantik ini juga dapat didikan ilmu silat dari uni Nilam dan kakak Nirmala." Yuvaraja Mauli Balanaga mengangguk mendengar penjelasan dari Dewi Bulan.

Putra mahkota kerajaan Bhūmī Malayu Dharmasraya itu. Menatap Dewi Bulan dengan lembut dan penuh cinta kasih. Dewi Bulan segera melanjutkan.

"Adapun gadis cantik, lembut dan ayu ini adalah putri dari sebuah sekte besar dari negeri Champa. Yaitu sekte Lembah Api dan dia juga di latih oleh Uda Bagaga. Nama gadis cantik, lembut dan ayu ini adalah Ngo Chian."

Ngo Chian segera menjura dalam kepada Yuvaraja Mauli Balanaga.

"Terimalah hormat dariku Yang Mulia." Suara lembut Ngo Chian terdengar enak di telinga.

Yuvaraja Mauli Balanaga tersenyum lebar. "Nona Ngo Chian, kau pastilah seorang wanita sakti. Kamu mendapat bimbingan langsung dari dua orang pendekar yang sangat kuat."

"Hamba beruntung Yang Mulia." Ngo Chian tersenyum dan menjura dalam.

Pati Malin dan Pati Madya Indra Kiemas juga maju memberikan sembah. Yuvaraja Mauli Balanaga tersenyum lebar dan mengajak semua orang masuk.

Setelah menikm yang jamuan. Semua orang beristirahat. Namun Yuvaraja Mauli Balanaga mengajak Pandeka Pedang Suling Kumala untuk duduk di teras belakang.

"Sepertinya ada sesuatu yang sangat penting saudara ku Yuvaraja Mauli ?" Pandeka Pedang Suling Kumala berkata setelah menyesap teh daun kelor.

Yuvaraja Mauli Balanaga tersenyum dan menatap Pandeka Pedang Suling Kumala. Ada sedikit malu dan ragu diwajah Yuvaraja Mauli Balanaga.

"Katakan saja saudara ku. Kenapa tiba-tiba kau terlihat ragu ragu ?"

"Saudara ku Bagaga. Sekarang ini engkau menjadi wali dari Reno Bulan. Aku... (Yuvaraja menarik nafas dalam-dalam)

Aku mau meminang Reno Bulan."

Pandeka Pedang Suling Kumala terdiam sejenak. Kemudian dengan tenang dia menjawab.

"Aku setuju. Lalu kapan rencana untuk meminang resmi akan dilakukan ?"

"Kapan engkau dan keluarga siap. Aku akan datang secara resmi untuk meminang."

"Kalau begitu lusa kami akan kembali ke Batu Taba. Aku dan keluarga akan menanti kedatangan mu sekitar dua pekan kedepan."

"Terimakasih saudara ku Bagaga. Aku akan datang bersama Talang Perigi dan Mapati Giring Amarta dan rombongan."

"Baiklah, kami akan menyiapkan diri untuk menyambut kedatangan rombongan dari istana Dharmasraya."

Yuvaraja Mauli Balanaga merasa batu besar di dadanya telah diangkat. Kini putera mahkota kerajaan besar Bhūmī Malayu Dharmasraya itu bisa bernafas lega. Dia juga bisa memenuhi titah ayahanda nya Dapunta Hyang.

Malam itu

Malam itu, Pandeka Pedang Suling Kumala langsung bicara bertiga dengan Dewi Rimau Kumango dan Dewi Bulan.

"Ada apa Uda. Sepertinya sangat serius." Dewi Bulan dan Dewi Rimau Kumango bertanya hampir bersamaan.

"Tenanglah... Kenapa kalian berdua terlihat seperti orang panik.

"Ah tidak. Aku pikir saudara Langkisau yang...  Aduuuh..."

Dewi Rimau tidak melanjutkan ucapannya. Wanita cantik jelita itu menjerit.

"Aaaahhhh....!!" Ternyata tangan Dewi Bulan telah mamiriak keras pinggang Dewi Rimau Kumango.

"Adduuuuhh kau kenapa Lang... Aduuh aduh ampun, iya aku tidak akan mengulangi lagi." Dewi Rimau Kumango berkata sambil tertawa geli.

Dewi Bulan memang telah berteman akrab dengan Dewi Rimau Kumango. Perkenalan mereka berawal sejak Dewi Rimau Kumango membuka penyamaran Dewi Bulan di dalam kamarnya di sebuah kapal. Kala itu Dewi Bulan sedang menyamar menjadi seorang pria.

\=\=\=\=\=***©

# mamiriak  \= mencubit dengan gemas

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!