Sebuah kisah tentang dua dunia yang berpijak pada bumi yang sama, antara kehidupan moderen dan primitif yang akhirnya akan bersatu karena Cinta dua manusia yang saling bertemu dalam gelombang ketidak sengajaan.
Kisah dengan semua yang bercampur aduk, antara logika, cita-cita, cinta dan perburuan yang seru dan menegangkan, degan bumbu tawa yang tak disengaja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DIFAN2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebangkitan Sang Penjaga
Kuda hitam besar yang ditunggangi Suro bergerak perlahan, membelah malam yang kian pekat dan mencekam. Rombongan penunggang kuda itu melangkah semakin jauh ke dalam jantung Alas Purba, menembus area vegetasi yang ukurannya melampaui batas kewajaran geografis.
Pohon-pohon di bagian dalam ini berdiri seperti raksasa kelabu dari zaman purba.
Batang-batang pepohonan memiliki diameter yang luar biasa masif, berkisar antara sepuluh hingga lima belas meter, dengan gurat-gurat kulit kayu yang tampak menyerupai ukiran wajah kuno yang sedang meratap.
Suasana di sekitar mereka mendadak berubah menjadi sangat hening. Kegaduhan berupa tawa berahi dan gertakan antar-pemburu yang beberapa menit lalu memenuhi hutan, kini menguap begitu saja.
Kesunyian yang tercipta terasa sangat menekan dan tidak wajar, seolah-olah seluruh suara kehidupan telah diputus secara paksa oleh entitas yang tidak terlihat. Hanya suara tangisan Hera yang sesekali terdengar samar dan parau, menggema di antara celah-celah batang purba yang dingin dan berlumut tebal.
Cahaya kuning kemerahan dari sisa obor minyak mereka tampak bergoyang gelisah, sama sekali tidak mampu menembus kepekatan kabut tebal yang tiba-tiba turun dari langit-langit kanopi hutan.
Tiba-tiba, kuda hitam milik Suro mendadak menghentikan langkahnya secara paksa. Kaki-kakinya menegang, tertanam kuat di atas tanah merah yang basah.
Bukan hanya kuda Suro, hewan tunggangan milik para pria klan lainnya juga menunjukkan gejala aneh yang serupa. Kuda-kuda jantan yang biasanya terlatih untuk bertempur dan berburu itu mendadak gemetar hebat di sekujur tubuh mereka.
Telinga mereka tegak lurus, dan ekor mereka terlipat rapat di antara kaki belakang. Mereka mengeluarkan suara dengusan panik yang pendek-pendek, menolak untuk maju satu senti pun meskipun para penunggangnya sudah memukul pantat mereka dengan cambuk kulit secara bertubi-tubi.
"Ada apa dengan hewan-hewan bodoh ini? Kenapa mereka mendadak ketakutan seperti melihat hantu?" bentak pria berambut kepang kasar dari sisi kanan, tangannya sibuk menarik tali kekang kudanya yang mulai melangkah mundur dengan liar dan tidak terkontrol.
"Tenang! Tenang, Jaran!" teriak pemburu lain, mencoba menepuk leher kudanya yang mulai berkeringat dingin di tengah suhu malam yang membeku.
Suro tidak ikut berteriak. Cengkeramannya pada bahu jaket gunung Hera mendadak mengencang hingga buku-buku jarinya memutih.
Matanya yang beringas menyipit tajam, menyapu kegelapan di sekeliling mereka dengan kewaspadaan seorang pemburu yang mendadak menyadari bahwa posisi mereka telah bergeser dari predator menjadi mangsa. "Suasana tempat ini, kenapa mendadak dingin sekali? Udara di sekitarku rasanya menjadi sangat berat untuk dihirup."
Hera yang posisinya masih tergantung terbalik di atas busur pelana yang keras, membuka kelopak matanya yang membengkak dan basah oleh sisa air mata.
Pandangannya yang terbalik langsung menghadap ke arah permukaan tanah merah yang gembur di bawah perut kuda. Di bawah temaram cahaya obor yang bergoyang liar dan tidak stabil, matanya yang terdidik secara ilmiah menangkap sebuah fenomena visual yang sanggup menghancurkan seluruh sisa logika modern di kepalanya.
Tanah di sekitar akar pohon raksasa di samping mereka mulai retak dan bergerak hidup.
Kreeek... Kreeek... Sreeet...
Suara kayu raksasa yang bergesekan dan patah terdengar menggema dari arah bawah tanah, diikuti oleh getaran ritmis yang membuat kaki-kaki kuda semakin panik.
Bukan karena tiupan angin badai, melainkan karena akar-akar raksasa berdiameter satu hingga dua meter mencuat keluar dari dalam tanah, merobek permukaan bumi, dan menggeliat naik ke udara dengan gerakan yang sangat fleksibel, mirip seperti tentakel gurita raksasa yang kelaparan.
Akar-akar purba itu dipenuhi oleh lumut hijau pekat yang tebal, menjalar dengan cepat memutari ruang di antara rombongan penunggang kuda.
"Apa itu?! Mahkluk apa yang ada di dalam tanah?!" jerit salah satu penunggang kuda dari barisan belakang dengan suara melengking tinggi penuh kepanikan.
Wajahnya yang legam mendadak berubah pucat pasi di bawah pantulan cahaya obor yang mulai meredup.
"Roh Hutan, Penjaga Alas Purba telah bangun!" teriak pria lainnya, mencoba memutar arah kudanya untuk melarikan diri, namun sebuah akar besar sudah melintang di belakang jalur mereka, menutup jalan keluar seperti barikade kayu hidup.
Sebelum Suro sempat memacu kudanya untuk menerobos barikade atau menarik pedang Khanjar kuno dari pinggangnya, sebuah akar pohon raksasa yang menggantung dari kanopi atas melesat jatuh dengan kecepatan yang luar biasa.
Gerakannya tidak terduga, memotong kegelapan malam seperti cambuk hijau yang masif.
Namun, alih-alih menghantam atau meremukkan, akar raksasa itu bergerak dengan akurasi yang luar biasa tinggi dan kelembutan yang sangat kontradiktif dengan ukurannya.
Akar itu melingkari pinggang Hera Grahansa dengan satu gerakan bersih. Sentuhan lumut basah yang sangat dingin langsung merembes menembus kain jaket gunungnya.
"Hah?!" Hera terpekik kaget saat merasakan sebuah kekuatan tak terlihat mendadak menarik tubuhnya secara paksa keluar dari cengkeraman tangan Suro dan busur pelana kayu.
"Hei! Wanita itu diambil! Tahan kakinya!" teriak Suro panik, tangannya bergerak refleks mencoba menyambar ujung sepatu bot gunung milik Hera yang terangkat. Namun, usaha Suro sia-sia. Gerakan akar hidup itu jauh lebih cepat dan kuat daripada refleks mekanis manusia manapun.
Dengan satu sentakan vertikal yang bersih dan tanpa hambatan, akar raksasa itu mengangkat tubuh Hera tinggi-tinggi ke udara. Tubuh sang profesor muda tertarik menjauh dari punggung kuda hitam, melesat naik menembus lapisan kabut tebal menuju kegelapan kanopi di atas langit hutan yang hitam pekat.
Hera menjerit histeris ketika merasakan sensasi melayang di ketinggian lebih dari sepuluh meter dari permukaan tanah.
Ransel kecil di punggungnya bergoyang hebat, bergesekan dengan permukaan kulit kayu yang kasar saat tubuhnya ditarik semakin tinggi, meninggalkan para pemburu liarnya yang berteriak histeris di bawah sana, terkurung di antara kepungan akar-akar yang kian mengamuk.