Ani Almira mendapatkan kabar dari pihak kepolisian bahwa Fardan suaminya mengalami kecelakaan tunggal. Namun, ketika kecelakaan itu terjadi Fardan tidak sendirian. Ani terkejut ketika polisi mengatakan penyebab kecelakaan suaminya. Ani tidak menyangka Fardan begitu tega kepadanya.
Ardi Akram seorang perwira menengah di kepolisian. Ia merasa kecewa dengan apa dilakukan oleh Nadira istrinya. Ia mengajak Ani untuk balas dendam atas perbuatan Fardan dan Nadira. Ani menolak untuk melakukan balas dendam. Namun, berkat bantuan Ardi rahasia masa lalu Fardan terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deche, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Ani.
Setelah jalan 300 meter akhirnya mereka sampai di jalan menuju ke rumah Ani. “Di depan berhenti.” Ani menunjuk ke jalan yang berada di sebelah kiri jalan raya. Ardi menghentikan mobil di depan jalanan tersebut. “Di sini?” Ardi menunjuk ke jalan itu.
“Iya. Saya turun di sini.” Ani membuka sabuk pengaman.
“Jangan turun! Saya parkir mobil dulu.” Ardi menyalakan lampu sein ke kiri lalu memundurkan mobil.
“Di dalam ada tempat parkir, nggak?” Ardi menunjuk jalan ke rumah Ani.
“Ada,” jawab Ani.
“Kalau begitu parkir di dalam saja.” Ardi membelokkan mobil ke jalan menuju ke rumah Ani. Ani menghela napas melihat apa yang dilakukan Ardi. Ia takut kelihatan oleh tetangganya pulang diantar laki-laki. Tetangga Ani tahu kalau Fardan sedang koma di rumah sakit.
Ardi mengemudikan mobilnya menyusuri jalan tersebut hingga ia menemukan sebuah lapangan. Banyak mobil yang parkir di lapangan. “Ini tempat parkir umum?” Ardi menunjuk ke lapangan.
“Warga di sekitar sini parkir mobil di lapangan. Rumah kami tidak muat untuk parkir mobil,” jawab Ani.
“Suami Ibu juga parkir mobil di sini?” tanya Ardi.
“Iya,” jawab Ani.
“Oke, kalau begitu kita parkir di sini saja.” Ardi hendak memajukan mobil ke lapangan.
“Pak, tidak usah parkir!” Ani mencegah Ardi untuk parkir. “Cukup sampai di sini saja. Saya turun di sini.” Ani menyelempangkan tali tas di bahunya.
Ardi menoleh ke Ani “Loh, kenapa?” tanya Ardi. Ia tidak mengerti mengapa Ani melarangnya parkir di tempat itu.
“Di sana ada bapak-bapak duduk di pos kamling.” Ani menunjuk ke pos kamling yang ada di pojokan jalan. “Tidak enak kalau mereka melihat saya diantar oleh pria.”
Ardi menoleh ke arah pos kamling yang dijuntuk oleh Ani. “Kalau begitu saya antar Ibu sampai rumah. Saya takut Ibu diapa-apakan oleh mereka. Nanti tidak ada yang menolong Ibu.” Ardi memarkirkan mobil di lapangan.
Ani menghela napas melihat Ardi yang keras kepala. Ardi tetap memarkirkan mobilnya di lapangan. “Pak, mereka warga di sini. Mereka tidak akan macam-macam kepada saya,” kata Ani sambil memperhatikan Ardi yang sedang memarkirkan mobil.
Ardi menghentikan mobilnya yang belum selesai parkir. Ia menoleh ke Ani. “Bu, mereka bisa saja berbuat macam-macam kepada Ibu. Mereka tau suami Ibu tidak ada di rumah. Apa lagi ini sudah larut malam dan sepi tidak ada yang lewat,” ujar Ardi.
“Saya juga tidak percaya sama Pak Ardi,” kata Ani.
Ardi mengerutkan kening mendengar ucapan Ani. “Saya ini polisi. Apa saya pernah macam-macam kepada Ibu?” tanya Ardi.
“Waktu di restoran Pak Ardi mengajak saya untuk berz*na.” Ani memandang tajam ke Ardi. Kedua tangannya mengepal di atas kakinya.
Ardi menghela napas panjang. “Saya kan mengajak Ibu balas dendam kepada suami Ibu dan istri saya,” ujar Ardi. “Apa Ibu mau diperlakukan seperti itu oleh suami Ibu?”
“Saya memang kecewa dengan suami saya. Tapi bukan berarti saya mau melakukan hal yang kotor juga. Assalamualaikum.” Ani membuka pintu mobil, tetapi pintu mobil tidak bisa dibuka. Ardi belum membuka kunci pintu.
Ani menoleh ke Ardi. “Buka pintunya!” Ani menatap tajam ke Ardi.
“Sabar, dong. Saya parkir mobil dulu.” Ardi melanjutkan parkir mobil. Ani menghela napas melihat apa yang dilakukan oleh Ardi.
Setelah selesai parkir mobil Ardi mematikan mesin mobil dan membuka sabuk pengaman. “Ayo kita turun.” Ardi membuka pintu mobil. Ani keluar dari mobil lalu ia berjalan menuju ke rumahnya, tanpa menunggu Ardi terlebih dahulu. Ardi mengikuti Ani dari belakang.
Ketika mereka melewati pos kamling, tidak ada satu orang pun di pos kamling. “Sepi sekali, nggak ada orang,” kata Ardi sambil memperhatikan pos kamling.
“Mungkin mereka sudah pulang ke rumah karena sudah larut malam,” jawab Ani sambil berjalan.
“Untung saya antar pulang Ibu Ani. Bagaimana kalau di sini ada orang jahat?” tanya Ardi sambil melangkahkan kakinya. “Nanti Ibu diapa-apain orang,” lanjut Ardi. Ani tidak menjawab pertanyaan Ardi.
Ani berhenti di depan rumah yang berpagar putih. Tidak ada satu pun lampu yang menyala di rumah itu. Hanya ada cahaya lampu dari rumah sebelah kanan dan sebelah kiri. Ani mengambil kunci dari dalam tas lalu membuka gembok pagar. Setelah pintu pagar terbuka Ani menoleh ke Ardi yang sedang menunggunya. “Terima kasih sudah mengantar saya pulang,” ucap Ani.
Ardi mengangguk kepala. “Masuklah! Saya tunggu sampai Ibu masuk ke rumah,” ucap Ardi.
Ani masuk ke halaman rumah lalu menutup kembali pintu pagar. “Assalamualaikum,” ucap Ani sebelum masuk ke rumah.
“Wa’alaikumsalam.” Ardi memperhatikan Ani yang sedang masuk ke rumah. Setelah Ani menutup pintu, Ardi pun meninggalkan rumah Ani.