Chester, Kapten tim khusus Angkatan Darat yang dingin dan tak tersentuh, terpaksa melangkah ke altar memungut kekacauan yang ditinggalkan Haikal.
Ia membenci situasi ini, membenci kelakuan kakaknya, dan kini terjebak mengikat janji suci dengan wanita yang tak pernah ia inginkan.
Di antara dendam, luka yang belum sembuh, dan kebohongan besar di hadapan publik—mampukah pernikahan paksa ini bertahan saat Haikal kembali menagih apa yang seharusnya menjadi miliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muse_Cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dia Kenapa?
Tiga hari setelah perjamuan minum teh yang penuh intrik itu, sebuah amplop dinas tanpa cap pos biasa—hanya berstempel enkripsi merah bertuliskan Rahasian/Taktis—diselipkan di bawah pintu rumah dinas Ayyana pada dini hari.
Amplop itu dibawa langsung oleh kurir khusus garis depan yang langsung pergi begitu dokumen berpindah tangan.
Ayyana membuka segelnya di meja dapur. Di dalam, bukan lembaran ketikan komputer resmi, melainkan secarik kertas kalkir taktis tebal dengan tulisan tangan yang sangat rapi, tegas, dan kaku—karakteristik tulisan milik Kapten Chester Sinclair.
Sektor Bravo, 03.15 AM
Pembersihan area utama hampir selesai. Pengamanan jalur perbatasan masuk tahap akhir. Tim dalam kondisi utuh.
Laporan intelijen menyebutkan kamu menangani meja teh dengan baik. Tapi konsumsi gula dan istirahatmu harus tetap dijaga. Jangan tidur lewat dari pukul sepuluh malam.
Stok makanan di kulkas harus dihabiskan sebelum saya pulang.
Jangan buat saya terdistraksi di medan konflik.
Saya kembali dua hari lagi.
— C. Sinclair
Ayyana membaca surat itu dua kali. Tak ada kata-kata puitis, tak ada kalimat sentimental, apalagi sapaan manis.
Surat itu tak ubahnya laporan analisis situasi yang digabung dengan perintah komando harian.
Namun di balik instruksi yang terkesan dominan dan diktatoris itu, Ayyana dapat menangkap perhatian terselubung yang begitu kuat.
Pria kaku itu memastikan Ayyana tahu bahwa ia aman, timnya selamat, dan seluruh pergerakan di markas tetap berada di bawah pengawasannya dari jauh.
Ayyana melipat kembali kertas tebal itu, lalu menyimpannya rapi di dalam laci meja kerjanya dengan senyum tipis yang tak bisa ia tahan.
"Diktator," gumam Ayyana pelan pada ruangan yang hening. "Bahkan kirim surat pun rasanya seperti membaca perintah baris-berbaris."
Dua hari berlalu persis seperti janji kaku sang Kapten.
Pukul 22.00 tepat, suara deru helikopter taktis Black Hawk membelah kegelapan malam di atas pangkalan militer.
Pendar lampu sorot landasan memantul di kaca jendela rumah dinas. Ayyana, yang baru saja menutup buku di ruang tengah, menghentikan gerakannya. Ia tahu siapa yang baru saja mendarat.
Tak sampai setengah jam kemudian, bunyi langkah sepatu lars tebal terdengar mendekati teras depan.
Kunci elektronik berbunyi bip singkat, dan pintu kayu tebal itu terdorong terbuka.
Chester berdiri di ambang pintu.
Seragam tactical camo yang dikenakannya ternoda debu tanah dan jelaga tipis Sektor Bravo.
Helm tempur dan sarung tangan taktisnya sudah dilepas, memperlihatkan rambut hitamnya yang sedikit berantakan dan rahang tegas berbayang brewok tipis karena beberapa hari tak dicukur.
Aromanya kini bercampur—antara bau mesiu, udara malam, dan aura dingin yang dominan.
Di belakang Chester, lorong kompleks perumahan militer tampak sepi, namun beberapa kamera pengawas jarak jauh milik jaringan Harris dipastikan tetap membidik pergerakan sang Kapten yang baru saja kembali dari garis depan.
Chester melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya dengan rapat, lalu menyandarkan senapan otomatisnya di sudut dinding dekat pintu.
Matanya yang tajam dan lelah memindai seluruh penjuru ruangan, sebelum akhirnya terkunci sepenuhnya pada Ayyana yang berdiri beberapa langkah di hadapannya.
"Kamu tidak tidur," suara bas Chester terdengar lebih berat dan agak serak, memecah keheningan rumah. "Ini sudah lewat pukul sepuluh malam, Nyonya Sinclair."
Ayyana menyilangkan tangan di dada, melangkah pelan mendekati pria itu tanpa ada rasa takut sedikit pun pada penampilan sang Kapten yang baru pulang perang.
"Bukannya harusnya kamu melapor ke markas besar dulu sebelum pulang, Kapten?" balas Ayyana tenang, matanya menatap lekat bercak debu di bahu Chester. "Atau diktator pangkalan ini memang selalu melanggar jam malamnya sendiri?"
Chester tidak menjawab sindiran itu. Pria itu justru melangkah mendekat, memangkas jarak di antara mereka hingga Ayyana bisa menghirup aroma mesiu dan angin malam yang samar melekat di tubuhnya.
Tangan tebal Chester yang masih terasa dingin dan kasar terangkat, jemarinya secara refleks mengusap pipi Ayyana dengan sangat hati-hati—memastikan secara visual dan fisik bahwa wanita di hadapannya berada dalam kondisi utuh tanpa luka sedikit pun dari permainan politik pangkalan.
"Saya melapor ke rumah ini dulu," bisik Chester rendah, menatap lurus ke dalam mata Ayyana. "Laporan ke pangkalan bisa menunggu sampai besok pagi."
Begitu jemari kasarnya menyentuh kelembutan kulit pipi Ayyana, Chester tersentak pelan.
Sensasi hangat itu seolah menyetrum kesadarannya kembali, menyadarkan sang Kapten bahwa ia baru saja melangkahi batas kaku yang mereka sepakati.
Mata Chester berkilat gusar—bukan pada Ayyana, melainkan pada dirinya sendiri yang mendadak kehilangan kontrol rasional hanya karena rasa lega melihat wanita itu baik-baik saja.
Buru-buru Chester menarik kembali tangannya. Ia menegakkan tubuhnya secara refleks, mengepalkan jemarinya di samping paha seolah ingin menghapus sisa sentuhan tadi.
"Maaf," ucap Chester singkat, suaranya kembali dingin dan kaku seketika. "Saya kotor dari lapangan."
Tanpa menunggu respon Ayyana, Chester menyambar senapan taktisnya di dekat pintu, memutar badan, dan melangkah lebar menuju kamar mandi serta ruang kerja di lantai bawah—area pribadinya untuk bersiap dan membersihkan diri dari sisa-sisa medan perang.
Ayyana berdiri mematung di ruang tengah, memperhatikan punggung tegap pria itu yang menghilang di balik tangga.
Jemarinya perlahan terangkat, menyentuh titik pipinya yang sempat diusap Chester. Usapan itu singkat, namun kehangatan yang tertinggal di sana terasa membakar di tengah dinginnya malam.
Ayyana menarik napas panjang, mencoba menetralkan debar aneh di dadanya, lalu melangkah menuju dapur untuk menyiapkan segelas air hangat.
Di bawah, suara gemericik air pancuran terdengar beradu dengan keheningan rumah.
Pukul tujuh pagi tepat, pendar sinar matahari pagi mulai menembus jendela kaca ruang tengah.
Chester sudah berdiri tegap di dekat pintu utama dengan seragam dinas harian (Service Dress Uniform) yang licin dan rapi, siap berangkat menuju markas besar untuk menyerahkan laporan resmi misi Sektor Bravo.
Saat Chester sedang mengancingkan manset lengannya, suara langkah kaki ringan terdengar turun dari tangga kayu.
Chester menengadah, dan gerakannya terhenti seketika.
Ayyana berjalan turun dengan santai. Ia mengenakan gaun tidur satin lengkap dengan outer kimono senada.
Panjang gaun itu jatuh sempurna menutup kakinya—persis 150 cm, tidak melanggar satu pun batasan atau "perintah" kaku yang pernah ditetapkannya mengenai pakaian tertutup di dalam rumah.
Namun, gaun satin berwarna krem pucat itu melekat halus di tubuh Ayyana saat ia melangkah.
Bagian kerah kimono yang sedikit terbuka mengekspos garis leher jenjang dan tulang selangka yang tegas, mulus, dan berkilau terkena pantulan cahaya pagi.
Bagi seorang prajurit yang terbiasa menahan diri di garis depan, pemandangan sederhana namun matang itu mendadak jauh lebih berbahaya daripada ancaman senjata musuh.
Ayyana membetulkan letak tali kimono-nya yang agak melonggar sambil berjalan menuju dapur, sama sekali tampak tak terganggu. "Kopi sebelum melapor ke Harris, Kapten?" tanya Ayyana halus, tanpa menatap langsung ke arah pria itu.
Chester terpaku beberapa detik di tempatnya berdiri.
Jakunnya naik turun saat ia menelan ludah secara refleks. Rahangnya mengeras, berusaha keras mengembalikan fokus dan kontrol mentalnya yang mendadak buyar seratus persen.
"Tidak perlu," jawab Chester, suaranya terdengar jauh lebih berat dan serak dari biasanya.
Ia buru-buru mengalihkan pandangan, meraih topi pet militer dan map dokumennya di atas meja dengan gerakan serba cepat—berusaha menutupi riak kegugupan kaku yang jarang sekali melingkupinya.
"Saya melapor sekarang," lanjut Chester tanpa berani menatap ke arah leher dan tulang selangka Ayyana lagi. "Kunci pintu begitu saya keluar."
Ayyana berdiri terpaku di ambang pintu dapur, menatap pintu depan yang baru saja tertutup rapat dengan dahi berkerut halus.
Bunyi klik dari pengunci elektronik menandai keberangkatan Chester yang terkesan sangat terburu-buru.
"Kenapa dia?" gumam Ayyana bingung.
Ia berjalan pelan mendekati pintu, mengamati panel pengaman yang kini menyala hijau. Kepalanya memutar kembali setiap detail kejadian sejak semalam.
Apakah ia mengatakan sesuatu yang salah saat pria itu baru tiba? Atau apakah penolakannya terhadap orang-orang Harris di perjamuan minum teh kemarin tidak sesuai dengan perhitungan taktis Chester?
Ayyana menunduk, memperhatikan pakaian yang dikenakannya.
Gaun tidur satin dan kimono ini sudah memenuhi kriteria tertutup yang diinginkan Chester. Tidak ada bagian terbuka yang melanggar aturan.
Sikapnya semalam pun sangat biasa, bahkan ia sempat menawarkan kopi pagi ini.
Satu-satunya hal yang ganjil adalah reaksi Chester yang mendadak kaku, serba salah, dan menolak menatap wajahnya sebelum hampir berhamburan keluar rumah.
Ayyana menggelengkan kepala, menyapu benang-benang keraguan itu dari pikirannya. Ia membetulkan letak ikatan kimononya lalu berbalik menuju dapur untuk menyeduh teh.
"Mungkin dia memang cuma terburu-buru mengejar jam apel pagi," pikir Ayyana realistis.
Lagi pula, memahami jalan pikiran seorang kapten militer yang terbiasa hidup kaku dan penuh rahasia memang bukan pekerjaan yang mudah.