NovelToon NovelToon
Stasiun Terakhir: S1 The Ice Wall

Stasiun Terakhir: S1 The Ice Wall

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Epik Petualangan
Popularitas:151
Nilai: 5
Nama Author: Ketoprak Encok

Dunia telah membeku dalam badai es abadi yang dikuasai dengan tangan besi oleh Aether Corp. Setelah adiknya tewas dibunuh secara kejam oleh pasukan korporasi, Ren yang sekarat bangkit dari ambang kematian berkat The Engine System—sebuah sistem purba misterius yang menyatu dengan jantungnya.

​Berbekal kereta rongsokan, Ren memulai pelarian maut sambil merekrut kru inti yang luar biasa: Leo (mekanik jenius), Soju (navigator handal), Yuna (koki dan dokter tangguh), serta Gavin (informan cerdas). Bersama-sama, mereka berjuang menaikkan level kereta dari rongsokan biasa menjadi mesin perang lapis baja kelas Dreadnought yang tak terbendung.

​Dari menembus Tembok Es Raksasa menuju Benua Aether Bawah yang penuh misteri, hingga melancarkan perang total melawan armada militer korporasi dan menembus jantung pusat bumi (Tartarus), perjalanan ini adalah pertaruhan hidup dan mati demi meruntuhkan tirani, menuntaskan misi balas dendam, dan merebut kembali kebebasan bagi umat manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 16

Alarm darurat militer yang berkedip merah terang di sudut konsol terminal Gavin masih menyisakan dengung getaran frekuensi rendah yang mencengkeram saraf. Tulisan tebal berbingkai digital dengan label [Pusat Komando Korporasi Aether - Sektor Alpha] terpampang tanpa ampun di atas layar monitor utama. Ancaman kedatangan kereta lapis baja kelas berat The Juggernaut seolah menggantung di udara layaknya pedang Damocles yang siap menebas kapan saja.

Namun, di dalam ruang kemudi gerbong Vanguard yang kini perlahan kembali stabil, ketegangan itu seolah diredam oleh atmosfer baru yang dibawa oleh kehadiran seorang anggota kru tambahan.

Soju berdiri di hadapan meja kendali navigasi utama, jemarinya yang terbiasa memegang busur kini dengan cekatan menyentuh permukaan panel hologram transparan yang baru saja diintegrasikan oleh Gavin. Matanya yang jernih menatap takjub pada jalinan arsitektur digital kereta tersebut. Di balik kaca pelindung utama, deretan kabel optik berserat biru menyala lembut, berdenyut seirama dengan detak The Core Engine di dada Ren.

Gadis berambut kuning cerah itu berputar perlahan, mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut kabin utama Vanguard yang dipenuhi oleh tumpukan perkakas mesin, layar monitor sekunder, dan rak-rak amunisi padat. Bibirnya sedikit terbuka, memancarkan rasa kagum yang tulus dan sulit ia sembunyikan.

"Luar biasa..." bisik Soju pelan, setengah pada dirinya sendiri. Suaranya memecah keheningan yang tersisa dari sisa-sisa kepanikan sebelumnya. "Aku sudah menduga kereta ini bukan sekadar gerbong rongsokan biasa saat pertama kali melihatnya terjebak di terowongan es. Tapi melihat sistem integrasinya dari dekat... ini bahkan melampaui standar teknologi kereta lapis baja komisi tinggi milik Korporasi Aether."

Leo, yang sedang membersihkan jelaga dari laras meriam Spark-Viper menggunakan sehelai kain katun kasar, mendongakkan kepala. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman bangga yang tidak bisa ia tutupi, meskipun ia mencoba mempertahankan tampang sok cool di hadapan sang navigator baru.

"Tentu saja," tukas Leo dengan nada bicara yang sedikit meninggi, bangga setengah mati. "Kereta ini kubangun dari nol, dari tumpukan besi tua yang dibuang di jurang Sektor 4, lalu kupadukan dengan cetak biru mekanik kuno yang kutemukan di arsip bawah tanah. Tidak ada satu pun baut di gerbong ini yang dipasang secara sembarangan. Setiap inci bodinya dirancang untuk menahan tekanan es setara seribu atmosfer."

Gavin, yang duduk di samping terminal server dengan secangkir cairan nutrisi hangat di tangannya, mendengus pelan sambil memutar bola mata di balik lensa kacamata tebalnya. "Dan setiap kali kau bilang begitu, Leo, kita selalu berakhir menabrak dinding gua atau dikejar-kejar monster sub-tier," gerutu Gavin datar, meskipun nadanya lebih terdengar seperti candaan lelah seorang teman lama.

Soju terkekeh renyah, tawanya yang ringan mencairkan ketegangan udara dingin di dalam kabin. Ia berjalan mendekati konsol navigasi utama, lalu menekan beberapa tombol holografik dengan gerakan yang begitu luwes, membiasakan diri dengan sistem operasi Vanguard dalam hitungan detik.

"Yah, setidaknya kerja keras pemuda berambut biru ini terbayar lunas," kata Soju sambil menatap layar monitor besar yang kini memproyeksikan peta topografi tiga dimensi dari jalur rel bawah tanah Sektor 7 hingga ke batas terluar dinding es. "Karena mulai detik ini, kalian tidak akan lagi berlari buta di labirin kegelapan."

Jemari Soju bergerak cepat, memperbesar salah satu sudut peta yang dipenuhi oleh garis-garis merah berkedip.

"Lihat ini," lanjut Soju dengan nada suara yang berubah menjadi serius dan profesional, menunjukkan keahlian sejatinya sebagai seorang navigator ulung. "Selama ini, rute kalian terbaca kacau karena sistem navigasi standar mendeteksi jalur utama yang sudah diblokade secara permanen oleh barikade militer Aether. Tapi dengan data koordinat Stasiun Nol yang kudapatkan saat kita jatuh kemarin, ditambah sistem pembaca topografi lama yang kupunya..."

Soju mengetuk layar dua kali. Seketika itu pula, garis-garis merah putus-putus di layar berubah menjadi jalur hijau terang yang meliuk-liuk melewati celah-celah sempit di bawah fondasi pegunungan es.

"...aku bisa membimbing kita melewati Jalur Konduktor Lama. Ini adalah jalur rel terbengkalai yang dibangun sebelum Perang Es Pertama. Jalur ini tidak terdaftar di peta korporasi mana pun, relnya tersembunyi di balik dinding gua basaltik, dan yang paling penting—jalur ini sepenuhnya kebal dari sistem pelacak gelombang pendek The Juggernaut."

Leo dan Gavin tertegun sejenak. Mereka menatap layar monitor dengan mata terbelalak. Jalur hijau itu membentang panjang, menawarkan rute pelarian yang sangat bersih dari jangkauan musuh.

"Kau... benar-benar bisa membaca semua jalur rusak itu tanpa membuat roda lokomotif kita tergelincir ke jurang?" tanya Gavin takjub, merapatkan duduknya ke arah layar.

"Jangan meremehkan seseorang yang menghabiskan tiga tahun hidupnya tidur di atas rel tua, Hacker," balas Soju dengan kedipan mata jenaka. "Aku tahu setiap jengkal retakan besi di terowongan ini seperti aku hafal garis tanganku sendiri."

Di sudut ruangan, Ren duduk bersandar di kursi operatornya. Wajahnya masih menyisakan pucat akibat luka parah dari pertarungan melawan The Ice-Web Queen, namun tatapan matanya tajam, mengamati setiap interaksi yang terjadi di dalam kabin. Ia melihat bagaimana Soju memegang kendali dengan kepercayaan diri yang mutlak, bagaimana Leo mulai kembali bersemangat merakit persenjataan, dan bagaimana Gavin menemukan kembali ritme kerjanya.

Tanpa berkata sepatah kata pun, Ren merogoh saku mantelnya. Jemarinya meraih sepotong kue sus beku terakhir yang tersisa di dalam bungkus plastiknya. Ia membuka bungkus itu pelan, lalu menggigitnya perlahan di tengah keheningan kabin.

Kres...

Suara gigitan kecil itu menarik perhatian Soju. Gadis berambut kuning cerah itu menoleh, menatap sang Kapten dengan sebelah alis terangkat tinggi. Ia memperhatikan bagaimana seorang pemimpin kereta tempur yang ditakuti mutan bawah tanah justru menghabiskan waktu genting dengan memakan kue berperisa manis.

"Ngomong-ngomong, Kapten," panggil Soju sambil melangkah mendekati kursi Ren, melipat kedua tangannya di depan dada dengan senyuman penuh rasa ingin tahu. "Kau selalu makan kue itu setiap kali situasi hampir membunuhmu. Apakah itu semacam ritual khusus rahasia kru ini, atau kau memang punya pengikut sekte tertentu?"

Leo langsung menepuk jidatnya lagi, mendesah berat. "Sudahlah, Soju. Jangan tanyakan itu. Kami sudah lelah mencoba mencari tahu isi kepala Kapten sejak hari pertama kami bergabung."

Gavin mengangguk setuju dari balik komputernya. "Dia tidak akan menjawab. Dia hanya akan menatapmu datar, lalu makan lagi."

Ren menelan suapannya, menoleh pelan menatap Soju tepat di matanya. Ekspresinya tetap datar tanpa perubahan sedikit pun.

"Enak," jawab Ren singkat, membenarkan dugaannya sendiri.

Soju tertegun sejenak, sebelum akhirnya tertawa lepas memenuhi seluruh ruangan gerbong. Suara tawanya yang renyah mencairkan sisa-sisa ketegangan militer yang sempat mencengkeram dada mereka sejak peringatan The Juggernaut muncul.

"Baiklah, Kapten yang unik," ucap Soju sambil berbalik menghadap kembali ke konsol navigasi utama, jemarinya bersiap menyentuh tombol aktivasi mesin. "Kalau begitu, mari kita tunjukkan pada Korporasi Aether bagaimana cara sebuah kereta rongsokan meninggalkan mereka jauh di belakang debu es."

Soju menarik tuas utama navigasi digital. Cahaya hijau terang menyala di sepanjang lantai gerbong Vanguard, menandakan sistem kendali rute baru telah aktif sepenuhnya. Kereta mulai mendengung pelan, bersiap meluncur memasuki terowongan rahasia Jalur Konduktor Lama.

Namun, tepat pada detik ketika roda lokomotif pertama bergeser maju meninggalkan tempat persembunyian mereka, layar monitor kecil di sudut paling belakang gerbong mendadak berderak kencang. Gelombang statis abu-abu memenuhi layar, memotong siaran peta navigasi Soju secara paksa.

Sebuah gambar wajah seorang pria paruh baya berwajah dingin dengan lambang lencana bintang perak di kerah mantel militernya muncul secara utuh di layar, menggantikan seluruh data sistem. Itu adalah Komandan Korporasi Aether Sektor Alpha—dan suara dinginnya langsung bergema memenuhi seluruh penjuru kabin kereta, memotong deru mesin tanpa ampun:

"Ren... permainan pengejaran telah selesai. Kami sudah mengunci sinyal The Core Engine milikmu, dan saat ini, moncong meriam utama The Juggernaut tepat berada di belakang punggung gerbongmu."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!