Raelyn Elamora, mahasiswi cerdas yang keras kepala dan doyan balapan liar, mendadak lemas saat sang papa menjodohkannya demi melunasi utang. Calon suaminya adalah Alvarez Arran Danadiaksa CEO muda super dingin dan cekatan yang menguasai bisnis sekota. Raelyn bersumpah tidak akan tunduk pada si "balok es," sementara Alvarez punya seribu cara pintar untuk menjinakkan istri liarnya. Apakah si kepala batu bisa meluluhkan hati si raja es?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seasoulune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 3
Satu bulan berlalu seperti kedipan mata. Pernikahan megah yang tertutup dari awak media itu akhirnya digelar.
Raelyn resmi menyandang status sebagai nyonya Danadiaksa. Dan malam harinya, dia sudah resmi diboyong ke griya tawang (penthouse) mewah milik Alvarez yang terletak di lantai paling atas sebuah gedung pencakar langit di pusat kota.
Begitu pintu tawang terbuka, Raelyn langsung melempar sepatu hak tingginya ke sembarang tempat dan menjatuhkan diri ke atas sofa beludru yang empuk.
"Ah! Akhirnya terbebas dari gaun sialan itu!" seru Raelyn lega.
Dia memakai kaos kebesaran dan celana pendek yang tadi sempat dia ganti di mobil. Alvarez yang berjalan di belakangnya menggelengkan kepala melihat kelakuan istrinya.
Pria itu masih terlihat rapi dengan kemeja putih yang kancing atasnya sudah dibuka dua buah.
"Rapikan sepatumu, Raelyn. Aku tidak suka rumahku berantakan," ucap Alvarez dingin sambil berjalan menuju dapur bersih untuk mengambil air minum.
Raelyn menjulurkan lidahnya ke arah punggung Alvarez.
"Suka-suka gue dong. Sekarang kan ini rumah gue juga!" balasnya ngeyel.
Alvarez kembali dari dapur dengan segelas air dingin. Dia berdiri di depan Raelyn yang sedang telentang di sofa.
"Rumah ini memiliki aturan. Dan sebagai pemilik sah sebelum kamu datang, kamu harus mematuhinya."
Raelyn langsung duduk tegak, menatap Alvarez menantang.
"Aturan apa? Perasaan di perjanjian kemarin gak ada aturan aneh-aneh!"
Alvarez mengeluarkan sebuah iPad dari tas kerjanya, mengetuk layarnya beberapa kali, lalu menyodorkannya ke depan wajah Raelyn.
"Ini aturan tambahan. Pertama, dilarang menyentuh barang-barang di ruang kerjaku. Kedua, jam malam maksimal pukul sebelas malam jika kamu pergi keluar tanpa aku. Ketiga, tidak boleh ada suara bising di atas jam sepuluh malam karena aku butuh fokus untuk bekerja."
Raelyn membaca poin-poin itu dengan mata melotot.
"Wah, lo bener-bener diktator ya! Jam sebelas malam? Lo pikir gue anak SMA yang dicariin emaknya? Gak bisa! Jam malam gue minimal jam dua pagi!"
"Tidak," jawab Alvarez mutlak.
"Pukul sebelas. Jika lewat dari itu, gerbang digital tawang ini akan terkunci otomatis dan kamu harus tidur di koridor."
"Lo kejam banget sih jadi cowok! Tega lo ya sama cewek secantik gue?" Raelyn mulai menggunakan taktik dramatis, memasang wajah cemberut yang dibuat-buat.
Alvarez menatap wajah Raelyn datar, tanpa ekspresi sedikit pun.
"Taktik air mata tidak akan berhasil padaku, Raelyn. Sekarang, masuk ke kamarmu. Kamarmu ada di sebelah kiri, dan kamarku di sebelah kanan. Kita pisah kamar."
Raelyn langsung tersenyum lebar mendengar kalimat terakhir.
"Nah! Poin itu gue setuju seratus persen! Bagus deh, gue juga males liat muka kaku lo tiap bangun tidur."
Dengan riang gembira, Raelyn menyeret koper besarnya menuju kamar sebelah kiri. Begitu masuk, dia langsung mengunci pintu. Namun, baru dua menit berada di dalam kamar, Raelyn menyadari satu hal yang mengerikan.
Kamar itu... tidak ada televisinya, dan yang paling parah, sinyal Wi-Fi di sudut itu sangat lemah!Sebagai anak teknik yang hidupnya bergantung pada internet cepat, ini adalah penindasan.
Raelyn langsung membuka pintunya kembali dan berteriak, "Alvarez! Kok Wi-Fi di kamar gue lemot banget sih? Lo sengaja ya?!"
Alvarez yang sedang membaca berkas di meja makan bahkan tidak menoleh.
"Kamarmu terjauh dari router. Kalau kamu mau internet cepat, silakan duduk di ruang tengah."Raelyn mendengus.
"Ogah! Nanti gue keganggu sama aura es lo!"
Brak! Raelyn menutup pintunya lagi dengan keras, membuat Alvarez hanya bisa menghela napas pendek dan bergumam, "Benar-benar gadis yang merepotkan."