NovelToon NovelToon
Keliru Mengenal Sang Kapten

Keliru Mengenal Sang Kapten

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:518
Nilai: 5
Nama Author: Madelyn_Sa

Amira tidak pernah menyangka hari pertamanya di SMA Dirgantara akan mempertemukannya dengan Alfian—sang kapten basket arogan yang wajah dan suaranya sangat mirip dengan "Sky", teman masa kecil yang memberinya kalung bintang sebelum pergi meninggalkannya bertahun-tahun lalu.
Sayangnya, Alfian bersikap seolah tidak pernah mengenal Amira dan menganggapnya sebagai cewek aneh yang sengaja mencari perhatian, membuat hari-hari sekolah Amira penuh dengan perdebatan sengit dan emosi yang naik turun.
Di balik dingin dan marahnya sang kapten, tersimpan rahasia besar serta memori masa lalu yang terkunci rapat, memaksa Amira terjebak dalam dilema antara rasa rindu pada masa lalu atau membenci kenyataan pahit di hadapannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Madelyn_Sa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 : Resmi Jadian, Tapi Aturannya Seumur Hidup

Hingar-bingar SMA Dirgantara di minggu terakhir menjelang Pentas Seni (Pensi) benar-benar berada di level maksimal.

Sejak bel istirahat pertama berbunyi, koridor utama sekolah yang biasanya didominasi oleh anak-anak berseragam rapi kini berubah layaknya pasar malam yang sedang dibangun.

Berbagai macam gulungan spanduk, papan kayu, hingga properti styrofoam berjejer memakan setengah jalan. Bau cat akrilik dan lem kayu menguar kuat di udara, berbaur dengan peluh para panitia yang berlarian kesana-kemari.

Amira menghela napas panjang, meniup poni yang menempel di dahinya yang berkeringat. Gadis itu berjalan menyusuri koridor dengan langkah gontai, kedua tangannya sibuk menyeimbangkan nampan plastik berisi empat gelas iced americano pesanan anak-anak divisi dekorasi yang sudah nyaris tumbang di aula.

Hari ini adalah hari ketiga sejak insiden menangis di taman dan pengakuan blak-blakannya di ruang OSIS.

Tiga hari sejak statusnya dan Alfian berubah dari ‘musuh bebuyutan yang gengsian’ menjadi sesuatu yang jauh lebih nyata.

Pacaran.

Namun, bukannya mendapatkan perlakuan manis bak tuan putri seperti di novel-novel romantis, Amira justru merasa dirinya sedang menjalani wajib militer.

Alfian Pratama, sang kapten kulkas itu, ternyata memiliki kadar kepemilikan yang jauh lebih mengerikan setelah status mereka resmi.

"Permisi, Kak! Awas catnya masih basah!" seru seorang adik kelas, membuat Amira refleks melompat ke samping untuk menghindari tumpahan cat merah di lantai.

Baru saja Amira menghembuskan napas lega karena kopinya tidak tumpah, sebuah tangan besar dan kokoh tiba-tiba muncul dari arah belakang. Tangan itu mencengkeram siku kanannya dengan tenaga yang pas—tidak menyakiti, tapi juga tidak memberikan ruang untuk kabur.

Sebelum Amira sempat berteriak memprotes, tubuh mungilnya sudah ditarik berbelok tajam memasuki sebuah ruang kelas kosong yang kebetulan pintunya sedikit terbuka.

Brak!

Pintu kayu itu ditutup rapat dengan satu tendangan kaki, disusul bunyi 'klik' dari slot kunci yang diputar.

Suara bising dari koridor seketika teredam, menyisakan keheningan yang mendadak terasa pekat di dalam kelas yang hanya diterangi cahaya matahari dari balik jendela yang berdebu.

Amira tersentak. Nampan kopi di tangannya nyaris terlepas jika saja tangan besar itu tidak buru-buru menahan bagian bawah nampan tersebut.

Gadis itu mendongak, bersiap mengeluarkan omelan mautnya. Namun, kata-kata itu tertahan di tenggorokan saat matanya bertubrukan langsung dengan sepasang mata elang hitam legam yang menatapnya dengan intensitas yang melumpuhkan.

Aroma mint yang tajam bercampur dengan wangi maskulin khas keringat bersih langsung merasuki indra penciumannya.

"Al-Alfian! Kamu gila, ya?!" bisik Amira panik, berusaha menekan suaranya agar tidak terdengar sampai ke luar kelas.

"Ini jam istirahat! Kalau ada guru atau panitia lain yang lihat kita berduaan di kelas kosong dikunci gini, gimana?!"

Alfian sama sekali tidak terlihat terganggu dengan kepanikan gadis itu. Cowok itu mengenakan kaos polo hitam lengan pendek—seragam kebesaran panitia inti—yang mencetak jelas dada bidang dan bahu lebarnya. ID card berkalung lanyard panitia menggantung santai di lehernya.

Bukannya mundur, Alfian justru melangkah maju, memangkas jarak hingga punggung Amira menabrak papan tulis di belakangnya.

Ia menempelkan sebelah tangannya di papan tulis, tepat di samping telinga Amira, mengurung gadis itu sepenuhnya.

"Biarin mereka pada lihat. Kalau perlu, gue panggil bagian broadcasting buat ngumumin di speaker sekolah sekalian," jawab Alfian dengan suara baritonnya yang serak dan teramat datar.

"Biar satu sekolah tahu kalau mulai sekarang, lo itu wilayah kekuasaan gue."

Mata Amira membelalak. Wajahnya seketika terasa panas, merona semerah tomat mendengar deklarasi tak tahu malu itu. Jantungnya berdebar brutal, memukul-mukul tulang rusuknya seolah ingin melompat keluar.

"Wilayah kekuasaan emangnya kamu pikir aku daerah jajahan Belanda?!" omel Amira, berusaha menutupi kegugupannya dengan bersikap galak.

"Sejak kita resmi, posesif kamu makin nggak ada akhlak ya, Kapten! Lagian aku ini lagi kerja, anak-anak dekor udah nungguin kopinya!"

"Kerja apaan sampai keringetan gini?" Alfian membalas tanpa mempedulikan omelan Amira.

Tangan kiri cowok itu yang bebas perlahan terangkat. Alih-alih marah dibentak, jari-jari panjang Alfian justru menyelipkan sisa anak rambut Amira yang basah oleh peluh ke belakang telinga gadis itu.

Sentuhan ibu jarinya yang sedikit kasar mengusap lembut pelipis Amira, membuat seluruh saraf di tubuh Amira menegang kaku.

"Gue kan udah bilang, kalau capek istirahat. Lo itu panitia logistik, bukan kuli bangunan," tegur Alfian, nada suaranya terdengar jauh lebih rendah dan melembut, menyiratkan kekhawatiran yang hanya ditujukan untuk gadis di hadapannya.

Merasakan usapan lembut di pelipisnya, pertahanan Amira runtuh. Gadis itu menunduk, menyembunyikan senyum tipis yang tak bisa ia tahan.

"Aku cuma bantuin anak kelas satu bentar. Lagian, kalau aku diam aja, aku bosan, Al."

Alfian mendengus pelan. Mata elangnya menelusuri wajah Amira dari jarak yang begitu dekat.

"Nanti pulang sekolah, tunggu di ruang OSIS. Jangan ke mana-mana sampai gue kelar evaluasi," titah Alfian mutlak, kembali ke mode diktatornya.

"Mau ngapain lagi sih? Aku mau langsung pulang, Al. Aku capek banget mau tidur," tolak Amira merengut, mendongakkan kepalanya menatap cowok itu.

Alfian menyipitkan matanya.

"Nggak ada penolakan. Kita mau bahas soal penampilan Fino di Pensi nanti."

Amira mengerjap kaget. Nama Fino yang disebut tiba-tiba membuat rasa penasarannya terpancing.

"Penampilan Fino? Maksudnya? Fino mau tampil?"

Sebelum Alfian sempat menjawab, keheningan di kelas itu dihancurkan oleh suara gedoran brutal dari pintu kayu di belakang Alfian.

Gedor! Gedor! Gedor!

"Woi, Yan! Lo di dalam kelas ini kan?! Gue lihat sepatu lo dari sela bawah pintu nih!" Suara cempreng Rio menggelegar dari luar, sama sekali tak tahu situasi.

"Buruan keluar! Divisi logistik nyariin proposal yang lo bawa! Pak Pembina udah ngamuk tuh!"

Urat kesabaran di pelipis Alfian terlihat berdenyut. Sang kapten memejamkan matanya sejenak, merutuki nasibnya yang memiliki sahabat dengan insting merusak suasana tingkat dewa seperti Rio.

"Iya, bawel! Lima menit lagi gue ke sana!" balas Alfian setengah berteriak, suaranya kembali sedingin es.

"Jangan kelamaan! Jangan macem-macem lo di dalem sama anak orang!" seru Rio lagi sebelum derap langkahnya terdengar menjauh.

Amira nyaris tertawa terbahak-bahak melihat wajah Alfian yang tertekuk kesal maksimal.

"Udah sana, dicariin Pak Pembina tuh," usir Amira terkekeh, mendorong pelan dada bidang cowok itu.

Alfian menatap Amira dengan sisa-sisa rasa kesal yang berangsur menguap. Ia menarik napas panjang, lalu mencondongkan wajahnya lebih dekat.

Tanpa aba-aba, Alfian memiringkan kepalanya dan mendaratkan sebuah kecupan yang sangat dalam dan sengaja dilamakan di pipi kiri Amira.

Cup.

Waktu seakan berhenti berdetak. Amira mematung, napasnya tertahan. Kehangatan dari bibir Alfian yang menempel di pipinya menyengat seluruh sistem sarafnya, mengirimkan ribuan kupu-kupu yang meledak di dalam perutnya.

Alfian menarik wajahnya, menatap Amira yang kini membeku dengan mata membelalak dan pipi yang membara. Senyum miring yang luar biasa tampan dan arogan terbit di bibir cowok itu.

"Ingat, jam empat sore di ruang OSIS. Kalau lo berani kabur..." Alfian mengusap rahang Amira sekilas.

"...gue beneran samperin ke rumah lo, dan gue cium lo di depan nyokap lo."

Setelah menjatuhkan ancaman yang membuat nyawa Amira nyaris melayang, Alfian membuka kunci pintu dan berjalan keluar dengan langkah tegap, meninggalkan Amira yang kakinya mendadak berubah menjadi jeli.

...***...

Pukul empat sore tepat, bel pulang sekolah telah berbunyi setengah jam yang lalu.

Amira duduk di kursi kebesaran ketua OSIS milik Alfian. Ruangan itu terasa sejuk karena AC yang menyala penuh, sangat kontras dengan udara panas di luar. Tumpukan map dan proposal berjejer rapi di atas meja. Gadis itu menopang dagu, mengunyah biskuit cokelat dari dalam tasnya sambil menahan kantuk.

Ceklek.

Suara kenop pintu membuat Amira mendongak, bersiap untuk mengomel karena Alfian datang terlambat.

Kata-kata itu tertahan saat sosok yang masuk bukanlah cowok berwajah sangar itu.

Fino melangkah masuk dengan senyum hangat yang selalu meneduhkan. Kemeja seragamnya dibiarkan sedikit terbuka di bagian atas, memperlihatkan sekilas kalung tali hitam yang tak pernah lepas dari lehernya. Di tangannya, ia membawa dua kaleng soda dingin yang mengembun.

"Hai, Lily.... Lagi Nungguin pawang lo ya?" sapa Fino ramah, suaranya jauh lebih lembut dan renyah daripada bariton Alfian yang berat.

"Eh, Fin. Iya nih, katanya suruh nunggu sini," balas Amira tersenyum, memperbaiki posisi duduknya.

Fino menarik kursi di seberang meja, lalu meletakkan satu kaleng soda tepat di depan Amira.

"Nih, minum dulu. Muka lo udah kayak kanebo kering, capek banget ya ngurusin Pensi?"

"Makasih banyak!" mata Amira berbinar, langsung membuka kaleng soda itu dan meneguknya. Rasa dingin dan manis seketika menyegarkan tenggorokannya.

"Lumayan, capek fisik sih. Tapi lebih capek ngadepin cowok kulkas itu."

Fino tertawa lepas, sebuah tawa yang tulus tanpa beban. Cowok itu menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap Amira dengan sorot mata yang penuh kedamaian.

Sejak insiden penyelesaian di lapangan basket, Fino benar-benar menepati janjinya. Ia mundur teratur, membuang jauh-jauh perasaannya, dan kembali memposisikan dirinya sebagai 'Sky'—sahabat masa kecil yang menyayangi Lily sebatas saudara.

"Oiya, Fin," Amira mencondongkan tubuhnya ke depan, teringat percakapannya di kelas tadi.

"Tadi Alfian bilang mau bahas soal penampilan kamu di Pensi. Maksudnya apa ya? Kamu beneran mau manggung?"

Fino tersenyum mengangguk, membuka kaleng sodanya sendiri.

"Iya. Panitia acara kelabakan karena band perwakilan kelas dua belas vokalisnya mendadak kena tipus. Karena mereka tahu gue bisa main gitar dan nyanyi dari zaman SMP, mereka minta gue back-up."

Amira membelalakkan matanya kagum.

"Wah, serius?! Terus Alfian hubungannya apa?"

"Nah, itu dia yang lucunya," Fino terkekeh geli.

"Waktu kembaran gue yang arogan itu tahu gue bakal jadi center di atas panggung dan bakal ditonton ratusan cewek... tebak dia ngapain?"

Amira menggeleng cepat, sangat penasaran.

"Dia langsung maksa masuk ke jajaran line-up band itu. Dia ngancem bakal cut dana Pensi kalau dia nggak dibolehin jadi drummer pendamping gue malam itu," jelas Fino sambil tertawa membayangkan wajah panik panitia acara.

"Hah?! Alfian bisa main drum?!" jerit Amira tak percaya. Selama ini ia hanya tahu Alfian jago basket dan hobi memarahi orang.

"Bisa. Dia belajar mati-matian pas SMP buat pelampiasan emosi. Jago banget malah, tapi style-nya agak bar-bar," terang Fino.

"Gue tahu persis alasan dia maksa ikut. Dia nggak mau pamor dia sebagai cowok paling ganteng se-SMA Dirgantara kalah saing sama kembarannya sendiri. Gengsinya kan setinggi Everest."

Amira tertawa terbahak-bahak mendengar fakta itu. Ternyata Alfian menyimpan rasa kompetitif yang konyol jika menyangkut Fino.

Namun, tawa Amira mendadak terhenti saat pintu ruang OSIS didorong kasar dari luar.

Brak.

Alfian melangkah masuk dengan aura yang bisa membekukan lautan. Wajahnya ditekuk parah, tangannya menenteng sebuah clipboard berisi jadwal evaluasi.

Langkah cowok itu terhenti sejenak saat matanya menangkap pemandangan di depannya. Pacarnya dan saudara kembarnya sedang duduk berhadapan, tertawa lepas, dan minum soda bersama dari kaleng yang sama jenisnya.

Sensor posesif sang kapten langsung meledak menembus batas maksimal.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Alfian berjalan cepat mendekati meja. Ia melempar clipboard-nya ke atas meja dengan bunyi bantingan keras yang membuat Amira refleks berjengit.

"Asyik banget ngobrolnya? Sampai ketawa-ketawa gitu," sindir Alfian dengan nada super rendah, menatap tajam ke arah Fino.

Cowok itu lalu menarik kursi tepat di sebelah Amira, mendesak jarak hingga paha mereka bersentuhan.

Fino mengangkat kedua tangannya ke udara sambil tersenyum geli.

"Santai, Kapten. Gue nggak nyulik cewek lo. Kita cuma lagi bahas soal latihan band buat gladi bersih besok."

Alfian mendengus kasar. Matanya melirik kaleng soda di tangan Amira. Tanpa permisi, Alfian merebut kaleng itu dari tangan Amira dan langsung meneguk isinya sampai habis, sengaja menempelkan bibirnya tepat di sisi kaleng bekas bibir Amira.

"Eh! Itu punya aku, Alfian! Haus banget apa gimana sih?!" protes Amira melotot kesal melihat sodanya dirampok.

"Haus. Panas lihat kalian berduaan," jawab Alfian lempeng tanpa rasa bersalah. Ia melempar kaleng kosong itu ke tempat sampah di sudut ruangan dengan lemparan tiga angka yang sempurna.

Cowok itu kemudian berdiri, menarik tangan Amira agar ikut berdiri.

"Ubah rencana. Bahas bandnya nanti malam lewat chat aja sama Fino. Lo, pulang sekarang sama gue. Udah sore."

"Ih, tapi kan—"

"Nggak ada tapi," potong Alfian mutlak. Tangannya beralih dari pergelangan tangan Amira, turun mencari telapak tangan gadis itu, lalu menggenggamnya erat-erat, menautkan jari-jari mereka di depan mata Fino.

Fino hanya menggelengkan kepala melihat tingkah kekanakan kembarannya.

"Hati-hati bawa motornya, Fian. Duluan ya, Lily. Semangat buat besok!" pamit Fino ramah.

Alfian tak menanggapi, ia langsung menarik Amira keluar dari ruang OSIS.

Sepanjang perjalanan melintasi koridor menuju tempat parkir, Alfian tidak melepaskan genggaman tangannya sedetik pun, meskipun banyak mata murid-murid yang melirik mereka dengan tatapan heboh dan iri.

Amira menatap punggung tegap Alfian yang berjalan di depannya. Meskipun cowok ini luar biasa keras kepala, gengsian, dan over-protektif... Amira tak bisa membohongi hatinya. Senyum tipis mengembang di bibirnya.

Ia mengeratkan genggaman tangannya, menyelaraskan langkahnya dengan sang kapten. Masa SMA-nya mungkin tidak akan pernah tenang lagi, tapi Amira siap menghadapi badai apa pun selama tangan kokoh ini terus menggenggamnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!