Arisa Salsa Bila atau Acha adalah seorang pramuniaga minimarket yang ceria, rajin, namun terkadang egois dan kekanak-kanakan. Suatu hari ia bertemu dengan Andra Nathan Ardimana, pemuda pekerja keras yang merintis usaha percetakan sablon sandal. Di balik sikap keras kepalanya, Nathan memiliki hati yang lembut dan selalu mengalah demi orang lain.
Hubungan mereka tumbuh menjadi cinta yang tulus. Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama ketika keluarga mereka menolak hubungan tersebut karena perbedaan latar belakang dan berbagai kesalahpahaman. Hinaan, penolakan, dan tekanan membuat hubungan mereka berkali-kali berada di ambang perpisahan.
Meski begitu, Nathan dan Acha memilih bertahan. Mereka belajar bahwa cinta tidak cukup hanya dengan rasa sayang, tetapi juga membutuhkan rasa hormat, kepercayaan, pengorbanan, dan penerimaan. Di tengah segala luka, mereka membuktikan bahwa perjuangan yang dilakukan dengan tulus tidak akan pernah sia-sia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 01. Respect
Malam semakin larut, setelah pulang kerja Acha dan Raka akan pergi keluar, mereka selalu menyempatkan untuk bertemu minimal dua minggu satu kali.
Yah walaupun hubungan Acha dengan Raka sedang renggang tetapi Raka masih selalu menyempatkan waktunya untuk Acha walaupun cuma sebentar.
Di belakang minimarket tempat para karyawan beristirahat, Acha sedang diajarkan oleh Stela—anak dari Ibu Ema, atasan tempat Acha bekerja—untuk belajar merias wajahnya.
Stela dengan telaten mengajari Acha dasar-dasar make-up agar nanti Acha bisa tampil rapi dan cantik di acara wisuda Fitri yang jatuh pada hari Sabtu ini.
Acha duduk di depan meja rias kecil dengan berbagai peralatan kosmetik tersusun rapi di hadapan mereka, Acha berusaha memperhatikan setiap arahan yang diberikan oleh Stela.
"Nah, kalau pakai bedak padat atau cushion itu jangan terlalu tebal, Cha, biar keliatan natural dan nggak kaku di muka," ujar Stela sambil membimbing tangan Acha memegang spons rias.
Acha tersenyum tipis, mengangguk patuh sambil mencerna setiap petunjuk yang diberikan. "Iya, teh Stela. Aku agak kaku sih urusan berdandan begini, soalnya jarang banget pakai make-up tebal," balas Acha jujur.
"Makanya ini aku ajarin dari sekarang. Biar pas hari Sabtu nanti waktu dateng ke wisuda adik kamu, kamu nggak keliatan pucat atau kecapekan karena sibuk kerja. Pokoknya harus kelihatan pangling dikit lah!" canda Stela ramah, mencairkan suasana.
Di balik senyuman yang dia berikan untuk menghargai kebaikan Stela, jauh di dalam hatinya Acha masih menyimpan sisa-sisa rasa perih akibat pertengkarannya dengan Raka.
Namun, dia berusaha menepis jauh-jauh beban pikiran itu demi fokus pada kebahagiaan Fitri akhir pekan nanti.
"Gimana teh cantik gak" Ucap Acha mempraktekkan apa yang Stella ucapkan dan dibantu sedikit demi sedikit jiga Acha salah mengoperasikan alat Make-upnya.
"Cha kamu cantik banget serius deh" Ucap Stella memuji Acha sampai terpesona.
"Ah teteh bisa aja, masa sih baru belajar make-up udah langsung keliatan bedanya" Ucap Acha tidak percaya diri, takutnya Stella hanya menghibur saja.
"Ihhh, kamu nih yah gak percaya banget. Kalau gitu tanya aja sama Tasya, ya kan sya" Ucap Stella menyenggol tangan Tasya yang sedang asik bermain ponsel dan langsung memalingkan wajah ke arah Acha.
"Iya teh cantik banget tahu, pasti nanti teh pacarnya teteh klepek-klepek deh sama teteh aku jamin deh" Ucap Tasya mengacungkan jempol.
Tak lama suara klakson motor pun berbunyi pertanda kalau raka sudah di depan minimarket menunggu Acha keluar.
"Udah sana temuin tuh pacar kamu, nanti dia keburu kesel lagi gara-gara kelamaan nungguin kamu" Ucap Stella.
Namun, alih-alih menyambut kekasihnya dengan senyuman atau sapaan hangat setelah seharian tidak bertemu, Raka justru berdiri di samping motornya dengan raut wajah yang masam, kesal, dan sangat bete.
Tangannya bersidekap di dada, sementara matanya melirik tajam ke arah pintu lobi. Begitu melihat Acha keluar menghampirinya, Raka langsung melontarkan keluhan dengan nada ketus.
"Lama banget sih, Cha! Kamu tuh ya, hobi banget bikin orang nunggu," protes Raka sengit tanpa memedulikan usahanya Acha yang sudah berdandan tampil cantik dengan harapan Raka akan memujinya tetap Raka malah cuek.
Acha yang sudah kecewa dan masih membawa sisa kesedihan akibat kejadian semalam hanya bisa menghela napas sabar.
"Maaf, sayang, tadi aku dandan dulu sebentar." Berharap Raka menyadari perubahan Acha namun nampaknya Raka masih tidak memperdulikan Acha.
"Udah, cepet naik!" suruh Raka ketus seraya memberikan helm.
Di tengah perjalanan, Acha berniat mampir sebentar ke rumahnya. Dia ingin menyerahkan sedikit uang saku tambahan yang sudah dia sisihkan dari gajinya khusus untuk keperluan wisuda Fitri.
Karena itulah, dia meminta Raka untuk mengantarkannya pulang ke rumah terlebih dahulu.
"Rak, nanti kita mampir sebentar ya ke rumah. Aku mau ngasih uang buat wisudanya Fitri," ucap Acha pelan dari balik helmnya.
Mendengar permintaan itu, Raka mendadak menginjak rem motornya agak mendadak di pinggir jalan, membuat Acha terperanjat kaget. Raka menoleh ke belakang dengan muka kesal luar biasa.
"Hah? Mampir ke rumah dulu? Ngapain lagi sih pakai mampir-mampir segala?!" ketus Raka dengan nada tinggi.
"Udah malam, badan aku capek mau istirahat! Kalau cuma mau ngasih duit buat si Fitri, kenapa nggak ditransfer m-banking aja sih, Cha?! Gitu aja repot amat harus dateng langsung!"
Acha menggelengkan kepala, bersikeras dengan niatnya. "Nggak bisa ditransfer, Raka. Uangnya kan non tunai, pecahan ini khusus aku siapin biar rapi sekalian aku mau ketemu Mamah sebentar. Bentar doang kok, nggak lama."
"Ah, ribet banget sih jadi orang! Suka banget nyari-nyari kerjaan buat diri sendiri!" maki Raka jengkel.
"Tapi nanti dirumahnya jangan lama-lama yah" Ucap Raka protes lagi.
"Kenapa emangnya" Ucap Acha tiba-tiba terbesit pikiran kalau Raka mungkin akan mengajaknya jalan-jalan dulu dimalam yang cerah ini ditambah dengan banyaknya bintang-bintang menghiasi langit malam ini.
"Aku mau nonton film motor GP nanti malam takutnya keburu tayang filmnya" Ucap Raka memecahkan harapan Acha yang sudah Acha pikiran tadi.
"Oh" Hanya satu kaya yang keluar dari mulutnya Acha.
Sudah dipastikan dunianya Acha runtuh detik itu juga harapan yang dia bangun untuk jalan bareng bersama Raka menghabiskan waktu bersama seakan tidak ada harapan lagi mungkin hubungannya juga sudah tidak bisa di perbaiki.
Raka kembali menarik gas motornya dengan kasar, melaju kencang dalam diam dengan perasaan dongkol yang teramat sangat, sementara Acha hanya bisa menunduk pilu di boncengan, kembali menelan ludah menahan sesak di dadanya.
Tak lama kemudian, motor yang dikendarai Raka tiba di halaman depan rumah Acha. Suasana malam itu cukup tenang.
Begitu turun dari motor, Acha langsung melangkah masuk ke dalam rumah, sementara Raka mengekor di belakang dengan wajah tertekuk masam dan lengan bersidekap, jelas menunjukkan gestur tidak sabar ingin segera pergi.
Di ruang tengah, Fitri dan Ranti tampak sedang membereskan beberapa perlengkapan untuk acara wisudanya, didampingi oleh Rant. Melihat Acha datang, wajah Fitri langsung berbinar cerah.
"Asalamualaikum" Ucap Acha langsung masuk kedalam rumah karena pintunya terbuka lebar.
"Waalaikumsalam" Ucap seisi rumah serentak menjawab.
"Teh Acha! Akhirnya dateng juga," sambut Fitri antusias.
"Ya ampun Cha loh dandan yah, cantik banget sampai pangling loh gue" Puji Fitri melihat penampilan Acha saat ini sedangkan Acha mencoba melirik kearah Raka berharap Raka juga sedang memandang Acha tetapi Raka malah sibuk dengan ponselnya.
"Acha ini beneran kamu mamah samapai pangling tahu sama kamu" Ucap Ranti memegang wajahnya Acha, sedangkan Acha hanya senyum senyum canggung.
Tanpa membuang waktu, Acha mendekati adiknya dan mengeluarkan amplop dari dalam tas kerjanya.
"Ini, Fit, uang tambahan buat keperluan wisuda kamu kurangnya. Dipakai yang bener ya," ucap Acha lembut sambil menyerahkan amplop tersebut.
Tidak hanya itu, Acha juga merogoh tasnya lagi untuk memberikan uang mingguan kepada Ranti. "Ini juga buat uang jajan sama kebutuhan mamah ya."
Ranti menerima pemberian itu dengan senyuman haru serta ucapan terima kasih. Namun, sebelum Acha sempat bernapas lega, Fitri tiba-tiba menarik tangan kakaknya dengan penuh semangat.
"Eh, tunggu dulu, Cha! Jangan duduk dulu. Coba loh ke kamar sekarang, fitting baju yang bakal loh pakai buat ke acara wisuda bareng gue. Biar kita lihat pas atau nggak di badan loh!" seru Fitri memaksa.
Acha langsung menggeleng pelan, merasa tidak enak kepada Raka yang berdiri di ambang pintu.
"Aduh, jangan sekarang deh, Fit. Ini udah malam, kasihan Raka di luar buru-buru, dia pengen cepet pulang istirahat, nggak bisa lama-lama."
Mendengar perdebatan itu, Yanto—papah mereka—yang baru saja keluar dari ruangan dalam, langsung menengahi dengan suara tegas berwibawa.
"Udah, Acha, diturutin dulu adiknya nyoba bajunya sebentar. Nggak lama kan? Sana masuk kamar dulu," perintah Yanto kepada anak sulungnya. Acha pun menurut dan bergegas ke kamar.
Selepas kepergian Acha, Yanto mengalihkan pandangannya tajam ke arah Raka yang berdiri kaku di dekat pintu.
Sebagai kepala keluarga yang disegani, Yanto memanfaatkan momen tersebut untuk berbicara serius dengan sang calon menantu.
"Kamu Raka, kan?" tanya Yanto dengan nada menyelidik seraya melangkah mendekat.
Raka yang tadinya memasang muka arogan seketika ciut. Dia meneguk ludahnya susah payah. "I-iya, Om..." jawabnya kaku.
Yanto menatap Raka lekat-lekat, menilai gerak-gerik pemuda di hadapannya. "Bagaimana soal pekerjaan kamu yang kemarin sempat dibicarakan? Apa kamu sudah benar-benar mendapatkan pekerjaan tetap sekarang?"
Mendengar pertanyaan telak itu, Raka langsung salah tingkah. Nyali besarnya saat bersama Acha menguap begitu saja di hadapan Yanto.
Dengan wajah memerah karena menahan malu, Raka menundukkan kepalanya dalam-dalam, menghindari tatapan tajam sang calon mertua.
"Belum dapet, Om... Masih nyari-nyari," jawab Raka lirih, hampir tak terdengar.
Yanto menghela napas pendek, lalu melipat tangannya di dada. "Kalau belum mapan dan masih mengandalkan waktu luang, bersikaplah yang dewasa. Jangan suka meremehkan perjuangan anak saya."
Belum sempat Raka merespons, Yanto melanjutkan dengan nada yang semakin mengintimidasi dan menusuk batin Raka.
"Satu lagi... Sebenarnya, kamu ini serius atau tidak menjalani hubungan dengan Acha? Saya sebagai orang tuanya tidak mau melihat Acha terus-terusan dibuat menangis dan dipermainkan perasaannya oleh kamu. Kalau kamu tidak serius, lebih baik sudahi. Paham?"
Raka merasa harga dirinya hancur berkeping-keping. Di dalam hatinya, gelombang amarah dan rasa kesal membuncah hebat karena merasa dihakimi di depan keluarga besar Acha.
Namun, nyali Raka benar-benar ciut dia sama sekali tidak berani mendebat atau melawan Yanto karena rasa takut yang teramat sangat pada ketegasan sang bapak.
Dia hanya bisa berdiri kaku, menggertakkan gigi menahan kesal, sembari terus menunduk bisu menerima teguran telak tanpa bisa berbuat apa-apa.
"Maaf yah kamu harus nunggu lama" Ucap Acha mengagetkan Raka dan yanto diteras.
"Udah beres urusannya sama adik kamu Cha" Ucap Yanto memecahkan keheningan karena dari tadi Raka diam saja tidak menjawab apa-apa.
"Udah kok pah" Ucap Acha
"Kamu gak mau menginap saja, udah malem loh ini" Tanya Yanto lagi.
"Kayanya gak deh pah, soalnya besok aku bagian pagi masuk kerjanya" Ucap Acha tersenyum kepada Yanto menutupi rasa lelahnya.
"Kalau begitu kami pamit dulu om" Ucap Raka mengakhiri percakapan Yanto dan Acha, tak lupa Raka juga bersalaman terlebih dahulu.
"Hati-hati dijalan yah" Ucap Yanto melambaikan tangannya sambil memandang punggung putrinya yang perlahan menjauh dari hadapannya.
"Bagaimana masa depan kamu kedepannya nak, papa gak bisa membayangkan kalau kamu masih berhubungan dengan cowok yang tidak mau bekerja keras" Ucap Yanto dalam hatinya.
"Pah, ngapain papa masih di luar" Ucap Fitri membuyarkan lamunannya Yanto.
"Papah tadi abis mengantarkan teteh kamu pulang" Ucap Yanto singkat.
"Owh" Ucap Fitri hanya ber oh kan saja tanpa bertanya apa-apa lagi.
"Yuk masuk, sekalian papa pengen lihat anak bungsu papa memakai baju apa saat acara wisuda nanti" Ucap Yanto merangkul Fitri dengan mengajaknya masuk ke dalam rumah.
Suasana di atas motor dalam perjalanan pulang dari rumah keluarga Acha terasa sangat dingin dan mencekam.
Begitu Acha selesai mencoba baju dan keluar rumah, Raka langsung menyuruhnya naik tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Wajah pemuda itu tampak keras dan dipenuhi amarah yang tertahan akibat rasa malu yang baru saja ia terima dari Yanto, papah Acha.
Kesal karena merasa dipermalukan dan harus menunggu terlalu lama di rumahnya Acha —yang membuat rencana malam minggunya berantakan—Raka melampiaskan emosinya di jalanan.
Tanpa memperdulikan keselamatan Acha yang membonceng di belakang, Raka mendadak menarik gas motornya dalam-dalam.
Dia sengaja melakukan aksi kebut-kebutan di atas motor dengan kecepatan tinggi, membelah jalanan malam yang sepi secara ugal-ugalan.
Acha yang kaget setengah mati langsung memekik ketakutan. Dia meraba pundak Raka dan memeluk pinggang kekasihnya itu erat-erat dengan tubuh yang bergetar hebat.
"Raka! Pelan-pelan, bahaya! Kenapa ngebut banget?!" jerit Acha histeris di tengah deru angin malam, berusaha mengatasi rasa paniknya.
Namun, Raka sama sekali tidak menggubris teriakan Acha. Dia terus memacu kendaraannya dengan liar, melampiaskan kekesalan karena gara-gara urusan keluarga Acha tadi, dia harus melewatkan jadwal menonton film MotoGP favoritnya bersama teman-temannya di televisi.
Di kepalanya, kemarahan terhadap Yanto dan kejengkelannya kepada Acha bercampur menjadi satu, membuat dia tega mempertaruhkan keselamatan kekasihnya sendiri di atas aspal malam.
Sesampainya di tempat kerjanya Acha. Acha langsung berlari memasuki kosannya Vika dan langsung membanting pintu sampai Vika yang sedang video call bersama pacarnya pun kaget melihat kondisinya Acha.
"Kamu kenapa Cha" Tanya Vika langsung memeluk Acha dengan sangat erat karena Acha sudah menangis tersedu-sedu.
Acha hanya menangis sejadi-jadinya dan memiliki untuk tidak membicarakan masalahnya dengan Raka.
Raka membalikkan motornya dengan penuh amarah samapai akan menabrak Tasya.
"woy pake motor pelan-pelan dong kaya punya nyawa banyak aja loh" Ucap Tasya kaget karena hampir terserempet motor.
"Dasar gak punya otak" Ucap Tasya mendumel dan masuk ke kosannya Vika.
"Eh Sya kamu kenapa" tanya Acha merasa cemas dan melupakan kejadianya yang tadi dengan cepat.
Setelah suasana hatinya Acha sudah mulai tenang, Acha mulai menceritakan permasalahannya dengan Raka kepada Vika dan Tasya dan mereka tak habis pikir dengan sikapnya Raka.
Acha kembali menyusuri kembali kejadian tadi malam terlintas dipikirannya dan sepertinya Acha tidak akan pernah melupakan kejadia paling menyakitkan dihidupnya.
"Lama banget sih, kan tadi udah dibilangin jangan lama-lama, aku mau nonton motor GP mana tadi om Yanto banyak tanya lagi" Ucap Raka mengeluarkan kekesalannya yang tadi dia pendam dirumahnya Acha.
"Maaf" Hanya satu kata yang keluar dari mulut Acha, selebihnya Acha tidak berani.
Raka menjalankan motornya dengan kecepatan penuh sampai-sampai Acha dibuat ketakutan diboncengnya.
"Jalannya bisa pelan-pelan gak aku takut" Ucap Acha suaranya bergetar perlahan airmatanya mengalir deras menghalangi pandangan matanya.
"Ini hukum buat kamu, karena sudah membuat aku kelamaan menunggu. Lagian gara-gara kamu juga aku jadi telat ketinggalan nonton" Ucap Raka.
Bukannya menekankan kecepatan motornya dia malah menambahkan kecepatan motornya tanpa melonggarkan sedikitpun gasnya.
"Udah lah Cha gak usah dipikirin terus, kamu itu gak pantes menangis cowok kaya gitu" Ucap membuyarkan lamunannya Acha.
"Gak kok" Ucap Acha tersenyum dengan palsunya.
Vika bisa mengetahui kesedihan yang Acha alami tetapi Vika tidak mau sahabatnya berlarut-larut dalam kesedihannya.
Melihat Acha yang masih terguncang, Vika tidak tinggal diam. Dia tahu sahabatnya butuh pengalihan agar rasa takut dan kesedihannya bisa sedikit mereda.
"Gimana kalau kita cari makan? Aku traktir kamu makan deh, soalnya aku lagi lapar bangga nih! Si Tasya juga mau ikut nemenin kita," ajak Vika antusias, mencoba mengembalikan senyuman di wajah Acha.
Acha sempat ragu, namun sorot mata tulus dari sahabatnya itu meluluhkan hatinya. Dia pun mengangguk pelan.
"Nah boleh juga tuh, dari pada teh Acha sedih terus-terusan kan" Ucap Tasya menarik tangannya Acha dan mereka pun berjalan santai dimalam hari sambil mencari makan.
"Gimana kalau kita makan nasi To aja" Ucap Tasya menujuk salah satu pedagang gerobakan tendaan disebrang jalan raya.
"Kayanya enak sih, kalau menurut kamu bagaimana Cha" Tanya Vika kepada Acha yang dari tadi diam saja.
"Let's Go" Ucap Acha merangkul Vika dan Tasya mengajak mereka berdua dengan dengan penuh semangat.
Vika dan Tasya merasa sedikit aneh dengan Acha tetapi mereka lega karena Acha bisa kembali tersenyum.
Mereka bertiga menghampiri warung nasi To dan langsung duduk bersama, tak lupa mereka memesan makanannya.
Kehadiran Vika dan Tasya yang ceria, ditambah obrolan-obrolan ringan serta guyonan konyol khas mereka, sukses membuat Acha terhanyut.
Perlahan-lahan, bayangan mengerikan tentang Raka dan segala masalah keluarganya menguap.
Di meja sederhana itu, di tengah kepulan hangat nasi to, Acha untuk pertama kalinya bisa kembali tertawa lepas, melupakan beban hidupnya sejenak berkat dukungan luar biasa dari Vika dan Tasya.
Suara tawa kecil itu akhirnya pecah juga di sudut Warung Panjang. Tasya sengaja melemparkan lelucon konyol tentang tingkah laku salah satu pelanggan di kantor mereka tadi siang, membuat Vika terbahak-bahak sambil menepuk meja.
Acha yang tadinya masih melamun dengan mata sembab perlahan ikut tersenyum. Tak lama kemudian, tawa renyah ikut meluncur dari bibirnya, menular dari keceriaan kedua sahabatnya.
Di tengah kepulan asap nasi to yang masih hangat, beban berat yang sejak kemarin menghimpit dadanya seolah terangkat seketika.
Untuk sejenak saja, Acha tidak memikirkan Raka yang egois, ancaman kemarahan papahnya, atau lelahnya tuntutan hidup.
Dia hanya menikmati kehangatan persahabatan yang tulus, merasa bersyukur memiliki Vika dan Tasya yang selalu ada untuk menguatkannya di saat-saat paling rapuh.
"Kamu aneh banget sih Cha masa makan nasi To lauknya sama pisang goreng sih" Ucap Vika tak habis pikir dengan ide konyolnya Acha.
"Lah kenapa, enak tahu cobain aja pisang gorengnya dipakein sambel lalu di uwek uwek pake nasi terus langsung makan deh" Ucap Acha sambil mempraktikkan dan memakannya dengan sangat lahap.
Tak tanggung pula Tasya mencoba ide gila itu dan ternyata rasanya "aneh banget sih teh, gak ada rasa nyambung nyambungnya tahu" Ucap Tasya melepeh makanannya.
Vika dan Acha tertawa terbahak-bahak melihat reaksinya Tasya yang tampaknya sekarang malah mengganggu selera makannya.
"Lagian kamu mau mau aja, nuruti ide konyolnya Acha" Ucap Vika setengah tertawa.
"Ya mau gimana lagi, habisnya teh Acha makannya lahap banget sih. Aku kan jadi ngiler" Ucap Tasya polos.
"Tapi kenyataannya gak enak kan" Timbal Vika dengan tawanya yang tak habis-habis.
"Yey orang ini enak kok" Ucap Acha mengambil lagi pisang gorengnya dan mencocolkan kedalam sambel lalu memakannya dengan penuh kenikmatan.
"Gak yah, kali ini aku gak bakal ketipu lagi sama makanannya teh Acha" Ucap Tasya menjulurkan lidahnya.
"Setelah dari sini gimana kalau kita mampir dulu yuk untuk membeli Jus, gak afdol kan udah makan terus gak minum yang manis-manis" Ucap Vika mengajak teman-temannya.
"Boleh tuh, lagian udah lama juga aku gak minum jus Stobery campur pisang" Ucap Acha.
"Emang rasanya enak yah teh" Ucap Tasya jiwa penasarannya kembali muncul setelah tadi mencoba ide-ide anehnya Acha.
"Enak banget tahu, nanti coba aja punya aku dulu? Kalau enak ya tingal pesen, kalau gak enak tinggal pesen yang lain aja" Ucap Acha memberikan saran kepada Tasya.
"Eh pulangnya mampir dulu yah ke jajanan nya makaroni stok cemilan aku udah habis nih, takutnya nanti malam pengen ngemil" Ucap Acha.
Mereka bertiga pun bergegas untuk pergi, tak lupa mereka untuk membayar nasi To terlebih dahulu dan langsung pergi ke tempat jus buah yang tak jauh dari sana hanya terhalang lima pedagang saja.
"Gimana enak gak" Ucap Acha bertanya kepada Tasya yang sedang mencoba jus racikan milik Acha.
"Rasanya sih aneh yah dilidah aku cuma tapi lama-kelamaan kok malah enak yah teh" Ucap Tasya.
"Kamu mau coba juga gak Vika" Ucap Acha menawari Vika.
"Gak ah aku tetap setia sama jus mangga punya aku" Ucapnya sambil meneguk jus miliknya sendiri.
"A jus stobery campur pisangnya tambah lagi dua yah" Ucap Tasya dengan penuh semangat.
"Eh buset kamu langsung pesen dua aja" Ucap Acha kaget, secepat itu Tasya suka sama jus stobery pisang.
"Iya dong aku kan mau menikmati malam ini dengan jus pisang stobery" Ucap Tasya menarik turunkan alisnya sambil tersenyum.
"Emang bakal habis nih" Ucap Vika tak habis pikir dengan Tasya yang terlalu banyak minum dimalam hari.
"Ya habis lah" Ucap Vika.
Setelah mereka mampir ke tempat jus, mereka langsung memesan makaroni.
"A makaroni basah satu yang keringnya satu yah biasa yah bumbunya asin pedas" Ucap Acha.
"Eh aku juga mau dong, masa cuma pesen satu sih" Ucap Vika.
"Aku juga deh mau" Ucap Tasya tak mah kalah.
"Makaroninya jadi tiga yah A Masing-masing yang basah sama yang keringnya tiga" Ucap Acha.
"Siap neng, ditunggu sakedap(sebentar) yah" Ucap pedagang makaroni.
Setelah pesanan mereka sudah siap semua mereka langsung pulang, karena hari sudah mulai tengah malam.
"Beneran kamu bakalan habis sya" Ucap Vika masih tak percaya dengan Tasya yang langsung menghabiskan dua gelas jus stobery pisang sekaligus.
"Awas yah kalau sampai ngompol lagi di kasur kita" Ucap Acha menyenggol tangan Tasya sambil meledeknya.
"Ya gak lah aku kan udah gede" Ucap Tasya.
Akhirnya mereka sampai didepan kosan, Tasya memang sering menginap di kosannya Vika dan Acha jika besoknya Tasya sedang libur sekolah.
"Eh cuci kaki dulu sana" Ucap Vika menyuruh Acha untuk ke kamar mandi terlebih dahulu karena Acha malah langsung tiduran diatas kasur.
"Iya bener lagian kakinya juga gak di naik ke atas kasur kok" Ucap Acha.
Vika memang sangat menjaga banget kebersihan sedangkan Acha terkadang orang nya suka malas, sehingga membuat Vika yang suka mengajarkan Acha agar tidak malas dan selalu menjaga kebersihan apalagi diatas kasur.
Acha kembali terlintas dipikirannya pada saat dengan Raka tak lupa Acha mengecek ponselnya yang dia tinggalkan di kosannya karena habis batre.
"Kok dia gak ngabarin aku sih" Ucap Acha membanting ponselnya ke samping kasur, Acha menjadi prustasi sendiri.
"Apa aku chet duluan aja kali yah" Ucap Acha berpacu dengan isi pikirannya dan hatinya.
Sebenarnya Acha masih sakit hati dengan sikapnya Raka tetapi Acha masih merasa penasaran dengan kondisinya Raka saat ini.
"Raka nanti kamu temenin aku yah ke acara wisudanya Fitri, terus abis itu kita Foto studio bareng deh"
Yaps, dengan kebodohannya yang sudah berkali-kali dikecewakan oleh Raka, Acha masih tidak ada kapoknya dan malah mengabari terlebih dahulu.
Padahal tak pernah sekalipun keluar dari mulutnya Raka kata penyesalan ataupun sekedar hanya untuk meminta maaf.
Acha merasa senang karena Raka langsung membaca pesan dari Acha tetapi tak lama kemudian Raka tidak aktif lagi, sehingga membuat Acha merasa kecewa karena pesannya hanya dibaca saja.
Acha merasa bingung dan prustasi dan berniat untuk menelpon Raka, karena dia tak kunjung membalas pesan sehingga membuat Acha gelisah.
"Hallo" Ucap Acha dengan hati-hati.
"Aku gak mau ikut" Ucap Raka tidak mau basa-basi menegaskan penolakannya kepada Acha.
"Tapi"
"Pokoknya gak ada tapi tapi titik, kamu pergi aja sendiri. Lagian aku tuh heran sama kamu, adik kamu yang wisudanya kok kamu sendiri sih yang ribet" Ucap Raka menampar semua kata-kata Acha sehingga membuat Acha diam seribu bahasa.
"Inget yah aku itu bukan supir pribadi kamu, yang bisa nganter jemput kamu pergi kemanapun kamu mau" Ucap Raka.
"lagian aku juga punya kehidupan sendiri kali, masa aku harus ngurusin hidup kamu terus sih" Ucap Raka mengeluarkan kekesalannya.
Raka meluapkan unek-uneknya kepada Acha sampai Acha pun tak sanggup diperlakukan seperti ini terus dan Acha langsung menutup panggilan telponannya secara sepihak.
Acha masih tidak bisa mencerna perkataannya Raka dengan baik dia bahkan mempunyai firasat kalau hubungannya dengan Raka tidak akan bertahan lebih lama lagi.
Di kamarnya yang sempit, Raka langsung melempar ponselnya ke atas kasur. Tanpa ada rasa bersalah sedikit pun atau memikirkan bagaimana perasaan Acha setelah disakiti lewat kata-katanya.
Dia langsung meraih headset, menyalakannya, dan bergabung dalam obrolan suara dengan teman-temannya untuk mulai bermain game online.
Tawa lepas dan teriakan seru Raka langsung memenuhi kamarnya, mengabaikan fakta bahwa baru saja dia meninggalkan kekasihnya dalam tangis.
Sementara itu di kosannya, Acha terpaku menatap layar ponselnya yang kini gelap. Pertahanan yang dia pasang sejak tadi akhirnya runtuh seketika. Air mata hangat menetes begitu saja membasahi pipinya.
Tak kuasa menahan rasa sakit dan lelah yang menumpuk, Acha menarik selimut tebalnya. Dia meringkuk di atas kasur kos yang sempit, menyembunyikan wajahnya di balik bantal untuk meredam isak tangis yang lolos dari bibirnya.
Malam itu, di tengah sunyinya kamar kos, Acha menangis seorang diri, menelan mentah-mentah rasa kecewa yang teramat dalam kepada lelaki yang paling dia sayang.
Di tengah isak tangisnya yang tertahan di balik bantal, Acha perlahan mengangkat kepalanya. Matanya yang sembab menatap nanar ke arah layar ponselnya yang sudah gelap.
Dengan suara serak dan bergetar, dia mulai bergumam lirih, menumpahkan segala rasa sakit dan kebingungannya seorang diri di kamar kos yang sunyi.
"Kenapa... kenapa kamu jadi segitunya, Raka? Dulu kamu nggak begini..." cicit Acha di sela napasnya yang tersengal, air matanya kembali tumpah membasahi pipi.
"Apa karena aku sekarang cuma penjaga minimarket yang sibuk cari uang? Apa salah kalau aku pengen pacar aku ada di saat keluarga aku lagi bahagia? Kamu berubah banget, Raka... Kamu bukan lagi Raka yang dulu tulus sama aku..." bisiknya pilu, merutuki nasib hubungan mereka yang kini terasa hampa dan menyakitkan.
Be to continued.