NovelToon NovelToon
Diantara Dua Bayangan

Diantara Dua Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:832
Nilai: 5
Nama Author: Fazry Fazriyah

Nara menatap Zaid dengan perasaan campur aduk. Pria berhati dingin ini baru saja melemparkan skenario paling menakutkan dalam hidupnya, memaksa Nara untuk memilih. "terus bersembunyi dalam ketakutan, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta yang selama ini ia sembunyikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fazry Fazriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16. Memilih Sofa daripada berbagi

​Tiga puluh menit kemudian, Nara keluar dari kamar mandi menggunakan pakaian tidur piyama sutra berlengan panjang berwarna biru tua yang tertutup rapat. Rambutnya yang basah ia tutupi dengan kerudung instannya.

​Zaid masih duduk di posisi yang sama pada sofa. Pria itu mendongak saat mendengar pintu kamar mandi terbuka.

Tatapannya meneliti Nara sekilas dari ujung kepala hingga ujung kaki, sebelum akhirnya ia berdiri tanpa mengucapkan sepatah kata pun dan melangkah masuk ke kamar mandi.

​Nara menarik napas panjang, melangkah mendekati meja rias untuk mengeringkan rambutnya dengan hairdryer.

Suara deru pengering rambut mengisi kekosongan kamar, menyamarkan detak jantungnya yang masih belum berdetak normal.

​Ketika Zaid keluar dari kamar mandi dengan kaos polos hitam dan celana kain santai, Nara baru saja selesai mengeringkan rambunya. Wajahnya yang kelihatan segar dan padu padan jilbab instan dan warna baju membuat Nara terlihat cantik natural.

​Zaid berjalan menuju sisi ranjang yang berhiaskan taburan kelopak mawar. Tanpa ragu, pria itu mengibaskan kelopak-kelopak bunga tersebut ke pinggir ranjang dengan gerakan tangan yang santai, seolah hiasan romantis itu hanyalah gangguan yang tak berguna.

​Nara memperhatikan tindakan itu melalui pantulan cermin rias dan tak bisa menahan diri untuk tidak bersuara.

"Bunda yang menata bunga-bunga itu..."

​Zaid menghentikan gerakannya sejenak, menoleh menatap Nara lewat cermin.

"Bunga-bunga ini membuat sprei kotor dan aromanya terlalu menyengat. Saya tidak bisa tidur dengan aroma semenyengat ini."

​Jawaban yang realistis, logis, namun sangat dingin. Nara memilih untuk diam, menyadari bahwa mendebat pria di hadapannya hanya akan membuang energi.

​Zaid duduk di tepi ranjang, menatap Nara yang masih berdiri kaku di dekat meja rias, enggan mendekat ke area tempat tidur.

​"Nara," panggil Zaid. Suaranya tidak membentak, namun memiliki dominasi tegas yang membuat Nara refleks menoleh.

"Kemari. Ada hal yang perlu kita bicarakan sebelum kita tidur."

​Nara melangkah ragu, menghentikan langkahnya sekitar satu meter dari tepi ranjang. "Ada apa, Zaid?"

​Zaid menyandarkan punggungnya pada sandaran ranjang, melipat kedua tangannya di dada. Tatapannya menatap Nara secara intens.

​"Pernikahan ini sudah sah. Di depan orang tua kita, di depan relasi, dan di mata hukum serta agama, kita adalah suami istri," ujar Zaid membuka pembicaraan dengan lugas. "Tapi kita berdua tahu, kita tidak memulai ini dari dasar yang biasa."

​Nara mengangguk pelan. "Aku tahu."

​"Saya bukan pria yang pandai berpura-pura atau mengobral janji manis," lanjut Zaid, suaranya tenang tanpa jeda ragu.

"Saya menghormati kamu sebagai istri saya, dan saya akan memenuhi seluruh kebutuhan serta perlindungan yang menjadi hak kamu. Tapi saya harap kamu tidak menuntut emosi atau romantisme yang belum bisa saya berikan."

​Nara mengepalkan jemarinya di samping tubuh. Kejujuran Zaid yang begitu tajam terasa seperti belati tipis yang menggores harga dirinya, namun di sisi lain, ia juga merasa lega karena tidak perlu berpura-pura manis di depan pria ini.

​Nara mendongak, menatap lurus mata hitam Zaid yang pekat.

"Kamu tidak perlu khawatir. Saya juga tidak mengejar hal itu dari pernikahan ini. Saya menerima pernikahan ini, ... karena tanggung jawab saya pada keluarga, dan saya akan menjalankan peran saya sebaik mungkin tanpa merepotkan kamu, Zaid."

​Zaid menaikkan sebelah alisnya, sedikit terkejut dengan ketegangan dan ketegasan jawaban dari wanita yang sejak pagi terlihat pasif dan tenang itu. Ada kilat apresiasi tipis di matanya, walau raut wajahnya tetap tidak berubah.

​"Bagus kalau begitu. Kita memiliki pemahaman yang sama," sahut Zaid dingin.

Pria itu kemudian menggeser tubuhnya ke sisi kanan ranjang dan menarik selimut hingga sebatas dada. "Tidurlah. Hari ini panjang dan melelahkan!"

​Nara berdiri diam beberapa detik sebelum akhirnya melangkah naik ke sisi kiri ranjang.

Ia menyisakan jarak yang cukup lebar di antara mereka di atas tempat tidur berukuran king size tersebut. Nara memunggungi Zaid, menatap kosong ke arah dinding kamar yang remang oleh cahaya lampu tidur.

​Ruangan itu mendadak hening total. Hanya terdengar helaan napas teratur dari mereka berdua.

Tidak ada sentuhan hangat di malam pertama, tidak ada bisikan lembut pembuka lembaran baru.

Yang ada hanyalah sebuah sekat transparan namun tebal yang terbentang di antara dua insan yang kini berbagi ranjang yang sama.

​Di dalam kegelapan kamar yang tenang, Nara memejamkan mata. Ia sadar, kehidupan barunya bersama Zaid Albani Mahendra bukanlah sebuah dongeng indah yang dipenuhi bunga-bunga, melainkan sebuah medan ujian baru yang dingin, penuh jarak, dan teka-teki yang harus ia jalani satu demi satu.

Perlahan Zaid turun dari tempat tidur, membawa bantal dan memilih tidur di sofa. Ia tahu kalau Nara tidak nyaman dengan kehadiran orang asing di tempat tidurnya, Karen begitu juga dirinya.

Sehingga ia lebih baik memilih untuk tidur di sofa demi kenyamanan Nara dan dirinya. Nara tidur masih menggunakan jilbab instannya.

Nara yang sudah merasa sangat kelelahan untuk hari ini, tak menyadari kalau laki-laki yang hari ini resmi menjadi suami ya tersebut. Tak tidur di sebelahnya. Alam mimpi sudah menyambut Nara.

❤️

❤️

Pagi datang dengan sinar matahari tipis yang menerobos sela-sela gorden tipis kamar.

Keheningan ruangan itu dipecahkan oleh suara alarm ponsel Zaid yang berdering teratur.

Pria itu mengeliat pelan di atas sofa yang sebenarnya agak terlalu pendek untuk postur tubuhnya yang jangkung.

Lehernya terasa sedikit kaku, namun ekspresi wajahnya tetap datar, seolah rasa tidak nyaman itu adalah kompensasi kecil yang wajar untuk menjaga batas di antara mereka.

Zaid duduk, memijat tengkuknya pelan, lalu melemparkan pandangan ke arah ranjang king size.

Nara masih terlelap. Posisi tidurnya hampir tak berubah dari semalam, meringkuk di tepi ranjang dengan selimut yang terangkat hingga bahu.

Kerudung instannya sedikit berantakan, tapi menutup rapat rambutnya. Wajahnya yang polos tanpa riasan terlihat begitu tenang dalam lelap, sangat bertolak belakang dengan aura tegang yang menyelimutinya semalam.

Zaid berdiri, melangkah tanpa suara menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengambil air wudu.

Ketika ia keluar dengan pakaian yang sudah rapi, kemeja kasual yang digulung hingga siku, Nara sudah terbangun.

Wanita itu duduk di tepi ranjang, mengusap matanya yang masih sembap sembari membetulkan letak jilbabnya yang agak miring.

Pandangan Nara bergulir dari ranjang yang kosong di sebelahnya, lalu tertuju pada bantal yang tertata di sofa. Tatapannya membeku di sana selama beberapa detik.

"Kamu... tidur di sofa?" suara Nara serak khas bangun tidur, menyiratkan kebingungan sekaligus rasa bersalah yang terbit tiba-tiba.

Zaid mengancingkan jam tangan di pergelangan tangannya tanpa mendongak. "Sofa itu cukup nyaman. Dan saya pikir, kamu akan tidur lebih nyenyak jika tidak perlu khawatir harus berbagi wilayah dengan orang asing."

Nara tertegun. Kalimat itu diucapkan Zaid dengan nada dingin dan lugas seperti biasa, namun isi pesannya mengandung tenggang rasa yang tidak ia sangka. Sebelum Nara sempat membalas, Zaid sudah berbalik.

"Rapikan pakaianmu. Setelah sarapan, kita pamit pada Ayah dan Bunda. Kita pindah ke rumah saya pagi ini."

Nara mendongak kaget. "Pagi ini? Tapi... bukankah rencana awal kita menginap di sini beberapa hari?"

"Itu rencana orang tua kamu, bukan rencana saya," potong Zaid tenang, memotong bantahan sebelum sempat berkembang.

"Tinggal di sini hanya akan membuat Bunda terus-menerus mengamati kita. Beliau akan mempertanyakan kenapa kita tidak saling tersenyum, kenapa ada jarak di antara kita, dan kenapa kamu terlihat canggung. Saya tidak punya waktu untuk berpura-pura menjadi pasangan ideal di depan mereka setiap hari."

Nara mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Logika Zaid kembali memukulnya tepat sasaran. Berada di rumah orang tuanya memang berarti harus bersandiwara 24 jam penuh demi menjaga perasaan Bunda yang mengidamkan pernikahan impian bagi putrinya.

"Baik," jawab Nara pendek, menerima keputusan itu meski dadanya terasa sedikit sesak.

1
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
lanjut thor
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
lanjut thor
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
knp kamu gak jujur SM Zaid nar
Apriyanti
semoga butir² cinta muncul di hati mereka berdua
Apriyanti: siaap thor🥰🙏
total 2 replies
Apriyanti
thor jgn lama² ya bikin mereka bersatu nya,, lanjut thor 🙏
Apriyanti
semoga lama² mereka bisa bersatu🙏💪🥰
Apriyanti
udalah Zaid buang ego mu Ayuk dekat kan dirimu ke nara🤣
Apriyanti
semoga kalian berdua secepat nya timbul perasaan cinta
Apriyanti
lanjut thor
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
Alhamdulillah dah jg akhirnya
selamat ya Nara dan Zaid semoga samawa ya🙏
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
lanjut thor
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
nah gitu dong Nara ,,mending jamu pilih Zaid drpd devino
Apriyanti
di situbkanu harus SDH bisa melihat Nara kesengguhan Zaid sm kamu di banding kan devino yg pengecut itu
Apriyanti
bodoh kamu Nara KLO sampe menolak Zaid,, lanjut thor 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!