Kenzo yang keras dan Anisa yang berani selalu tak akur, saling berselisih setiap hari. Namun saat terpaksa bekerja sama, benci perlahan berubah menjadi cinta manis yang tak disadari keduanya. Dari yang saling menentang, kini berubah menjadi tak bisa berpaling satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22.Kecemburuan Kecil yang Muncul
Hubungan yang semakin dekat di antara Kenzo dan Anisa ternyata membawa hal baru yang tak disangka-sangka. Di balik senyum-senyum lembut dan perhatian-perhatian halus yang saling mereka berikan, perlahan muncul pula perasaan lain yang asing bagi hati mereka berdua. Sesuatu yang membuat dada terasa sesak tak lama, napas menjadi berat, dan suasana hati berubah seketika begitu melihat sosok yang disayangi sedang dekat dengan orang lain. Itulah kecemburuan—muncul dalam wujud kecil, diam-diam menyelinap, dan tanpa disadari justru mengungkap betapa berartinya satu sama lain di hati mereka.
Suatu siang, Anisa berjalan menuju perpustakaan untuk meminjam buku yang diperlukan. Saat melintasi koridor yang agak sepi, langkahnya tiba-tiba terhenti. Di sana, tak jauh dari hadapannya, berdiri Kenzo sedang berbicara dengan seorang siswi dari kelas sebelah. Gadis itu berdiri begitu dekat, wajahnya tampak tersenyum cerah sambil menyerahkan sesuatu ke tangan Kenzo. Kenzo pun menerimanya sambil tersenyum sopan, bibirnya bergerak pelan menjawab ucapan gadis itu.
Hati Anisa seketika mencelos. Seakan ada sesuatu yang berat jatuh menimpa dadanya. Senyum yang sedari tadi tersungging di bibirnya perlahan layu. Jantungnya berdetak tak tenang, panas perlahan merambat naik hingga ke wajahnya. Matanya menatap lekat-lekat ke arah mereka berdua, menahan rasa sesak yang tiba-tiba muncul tanpa alasan yang jelas. Mengapa ia tersenyum begitu padanya? Mengapa ia menerima pemberian itu dengan begitu tenang? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar liar di kepalanya, membuat rasa tak nyaman semakin menumpuk di ulu hatinya. Tanpa menunggu lebih lama, Anisa buru-buru berbalik dan pergi meninggalkan tempat itu sebelum terlihat oleh siapa pun. Ia tak ingin terlihat cemburu atau tak tenang. Namun langkah kakinya terasa berat, dan hatinya terasa perih sepanjang hari itu.
Kecemburuan itu ternyata tak hanya muncul dari hati Anisa. Beberapa hari kemudian, giliran Kenzo yang merasakan hal serupa. Saat jam istirahat tiba, ia berjalan kembali ke kelas membawa dua bungkus makanan—satu untuknya, satu lagi sengaja ia belikan untuk Anisa. Namun begitu melangkah masuk ke ruangan, pandangannya langsung tertuju pada meja Anisa. Di sana tampak Anisa sedang tertawa lebar berbicara dengan seorang teman laki-laki dari kelompok lain. Teman itu berdiri condong sedikit ke depan, menunjuk sesuatu di buku catatan Anisa, sementara Anisa menatapnya sambil tersenyum riang, wajahnya tampak berseri-seri.
Seketika langkah kaki Kenzo terhenti di ambang pintu. Tangannya yang menggenggam bungkus makanan itu perlahan mengerat, napasnya tertahan sesaat sebelum dikeluarkan dengan berat. Rasa hangat yang sedari tadi memenuhi dadanya seketika berubah dingin. Matanya menatap tajam ke arah pemandangan itu, hatinya merasa tak nyaman dan sesak tak beralasan. Mengapa ia tertawa begitu riang bersamanya? Mengapa ia tampak begitu menikmati obrolan itu? Pertanyaan serupa melintas di benaknya, membuat dada Kenisa bergemuruh tak tenang. Ia pun akhirnya memilih berbalik arah, menyembunyikan rasa kecemburuannya sendirian, tanpa menyampaikan apa pun kepada Anisa.
Sejak kejadian itu, suasana di antara mereka perlahan berubah kembali menjadi canggung. Anisa bersikap lebih dingin dan menjaga jarak, sesekali melirik Kenzo dengan tatapan yang masih menyimpan sisa rasa tak suka. Sedangkan Kenzo pun ikut diam, tak lagi menyapa atau tersenyum seperti biasanya, seakan hatinya masih terganjal sesuatu. Mereka sama-sama merasa tak nyaman, namun sama-sama tak berani mengungkapkan alasannya—karena malu mengakui bahwa rasa cemburu itu justru tumbuh dari rasa sayang yang tak ingin dibagi kepada siapa pun.
Hingga suatu sore, saat mereka berdua tertinggal di dalam kelas membereskan tugas bersama, keheningan itu akhirnya pecah. Kenzo tak lagi mampu menahan rasa sesak di dadanya. Dengan wajah yang tampak tak tenang, ia menatap Anisa dan bersuara pelan namun terdengar jelas ada nada kecewa yang terselip.
"Belakangan ini... kau tampak sangat akrab dengannya," ucap Kenzo pelan, matanya tak lepas dari wajah Anisa. "Sampai lupa waktu, sampai tak menyadari keberadaan orang lain di sekitarmu."
Anisa yang sedari tadi menunduk seketika mendongak. Matanya membelalak tak menyangka Kenzo akan berbicara demikian. Rasa kesal yang selama ini ia pendam seketika ikut tersulut kembali. "Lalu apa salahku? Bukankah kau pun begitu? Hari itu di koridor... kau berdiri begitu dekat dengannya, menerima pemberiannya sambil tersenyum. Lantas mengapa kini kau menegurku?"
Suara mereka terhenti seketika. Tatapan mata mereka saling bertemu, dan dalam sekejap keduanya sama-sama menyadari satu hal yang membuat napas mereka tertahan. Rasa cemburu itu ternyata datang dari hati yang sama. Sama-sama tak ingin kehilangan, sama-sama tak ingin senyum perhatian itu terbagi kepada orang lain. Dan sama-sama tak berani mengatakannya karena malu.
Wajah Kenzo perlahan melembut. Kerutan di keningnya perlahan luruh berganti kesadaran yang membuat pipinya samar memerah. Ia menatap Anisa dengan tatapan yang tak lagi tajam, melainkan penuh kelembutan yang bercampur rasa malu yang mendalam.
"Jadi... kau cemburu?" tanya Kenzo pelan, suaranya terdengar bergetar namun jelas.
Anisa terdiam. Ia ingin menyangkalnya, namun tatapan mata Kenzo seakan mampu menembus jauh hingga ke dalam hatinya. Akhirnya ia menunduk pelan, jemarinya saling meremas ujung bajunya dengan gugup. "Aku... aku tak suka melihatmu begitu dekat dengan orang lain. Aku tahu aku berlebihan. Tapi... rasanya tak nyaman."
Kenzo menghela napas panjang, lalu melangkah mendekat perlahan. Tangannya terulur lembut menyentuh bahu Anisa, membuat gadis itu mendongak kembali menatapnya. "Maafkan aku... aku pun merasakan hal yang sama persis. Saat melihatmu tertawa bersamanya... hatiku terasa begitu sesak dan tak tenang. Aku cemburu, Anisa. Aku takut kehilanganmu. Dan aku baru menyadari... betapa berartinya kau bagiku hingga rasa cemburu kecil ini pun mampu membuatku kehilangan ketenanganku."
Pengakuan sederhana itu seketika meluruhkan segala kecurigaan dan rasa tak nyaman yang memendam di hati mereka berdua. Ternyata kecemburuan kecil itu bukan pertanda buruk. Ia justru menjadi pengingat jujur bahwa perasaan mereka begitu dalam, begitu murni, dan tak ingin dibagi kepada siapa pun.
Sejak hari itu, mereka belajar satu hal baru: tak perlu menyembunyikan rasa cemburu yang muncul, selama ia disampaikan dengan tulus dan penuh rasa hormat. Karena kecemburuan kecil yang malu-malu itu ternyata adalah bukti paling jujur bahwa hati mereka saling terikat erat—tak ingin ada celah bagi orang lain, dan ingin menjaga satu sama lain sepenuhnya untuk selamanya.
BERSAMBUNG...