Ketika penyihir dan Pemburu Penyihir bertemu dalam satu wilayah yang tak pernah mereka sangka. Satu berburu dan yang lain diburu, bagaimana jika akhirnya mereka jatuh cinta?
Dua makhluk Kekal bertikai sejak berabad-abad silam dan tak pernah mampu berdamai, berperang, bersembunyi dan akhirnya tertangkap, berulang tanpa pernah istirahat.
Apakah pada akhirnya mereka mampu bersatu? atau malah menjadi alasan peperangan terjadi lagi, seperti dulu Dekekuoi hancur lebur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muka Kanvas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 : Nyai dan Meneer
“Pelajaran apa yang paling kau suka Lira?” Dani bertanya, mereka bertiga ada di perpustakaan dan hampir bisa dibilang kalau perpustakaan itu selalu sepi, tadinya hanya Rani dan Lira yang datang, sekarang Dani.
“Matematika, aku suka menghitung, mengingat rumus dan menyelesaikan suatu masalah yang rumit, itu membuatku berdebar.” Lira mengatakannya dengan senang.
“Oh Tuhan Lira, aku benci sekali Matematika, kenapa kau bisa suka, aku lebih suka Sejarah atau yang bisa dihapal lah!” Rani mengeluh karena dia tak suka berhitung dan kesulitan menemukan rumus yang tepat.
“Aku juga suka matematik Lira, tapi tidak sepintar kau sih, sampai tadi bisa menjawab soal di papan tulis, aku kagum, biarpun dari desa kau pintar.” Dani memuji dengan tulus, Lira terdiam, takut pertanyaan berikutnya adalah pertanyaan yang tidak bisa Lira jawab.
“Eh, biar dari desa, tapi dia diajar ibunya, ibunya orang pintar kan Lira?”
Lira menahan napas, karena perkataan Rani berpotensi menuju pertanyaan lain.
“I-iya,” Lira menyeka keringat dari dahinya, berharap Dani melewatkan hal ini.
“Memang, ibumu siapa? Kok bisa sepintar itu?”
Sial! Apa yang Lira takutkan akhirnya ditanya, kalau orang tuanya sudah ditanya-tanya, pastilah itu semakin dalam berbahaya.
“I-ibuku hanya orang biasa saja sih.” Lira mencoba menjawab dengan tenang, Dani yang tadinya duduk di hadapan Lira akhirnya mencondongkan tubuhnya, ada rasa penasaran tinggi di sana.
“Kalau orang biasa, kok bisa pintar sekali?”
Lira harus jawab yang masuk akal, karena kalau dia hanya menghindar, pasti Dani takkan terima begitu saja, karena setiap pemburu itu selalu punya kemampuan untuk mendeteksi buruannya. Papanya Lira bilang, jawab saja sepanjang yang kamu tahu dan masuk akal, yang penting, aman dan tidak mengarah ke rahasia besar yang sebenarnya.
Maka Lira mulai mengarang bebas, di sini peperangan antara dua anak yang terlihat berumur 10 tahun itu benar-benar terjadi, peperangan mental dan tentu saja logika. Seperti rumus Matematika yang selalu Lira bisa selesaikan dengan mudah meski sangat sulit, kali ini Lira berpikir keras memanggil semua ingatan dari semua orang yang pernah dia temui, maka saat ingatan itu datang, Lira tersenyum.
“Jadi gini, sebenarnya mamaku bilang aku nggak boleh cerita, tapi kalian bisa pegang rahasia nggak? Aku percaya sama kalian aja nih.” Lira menatap dua orang yang sekarang mencondongkan tubuh ke arah Lira karena penasaran.
“Nenekku itu dulu Nyai, dia menikah dengan orang Meneer, lahirlah ibuku. Kalian tahu tidak istilah itu?” Lira bertanya dulu, karena gagasan ini muncul begitu saja, dia bertanya agar memberi jeda pada dua sahabatnya untuk berpikir dan dia pun berpikir ide selanjutnya di saat yang sama.
“Iya aku pernah dengar dari ibuku, katanya karena mereka cantik, makanya disukai orang Belanda yang sedang menjajah kita, lalu lahir banyak anak yang percampuran. Jadi mamamu itu orang campuran ya?” Rani terlihat semakin kagum pada Lira, meski itu bukan hal yang sangat membanggakan saat itu, dijadikan Nyai atau bahasa halus dari gundik karena tidak dinikahi sama sekali, dijadikan selir tanpa catatan resmi dan melahirkan anak-anak yang masih tetap direndahkan oleh para keturunan Belanda asli karena dianggap aib.
“Iya, tapi nenekku itu katanya saat kemerdekaan ditinggalkan begitu saja, tidak semua Nyai dibawa pulang ke Belanda, lebih banyak yang pulan ke kampung halaman mereka dengan istri dan anak aslinyas aja. Termasuk mama, mereka ditinggal di sini untuk hidup sendiri, meski nenekku diberikan warisan tanah yang luas, tapi tetap saja, mamaku kehilangan papanya.
Nah, jadi kecerdasan ibuku itu berasal dari papanya, saat itu kan perempuan pribumi tak boleh sekolah, tak boleh belajar membaca, tapi karena ibuku adalah anak campuran, maka kakekku itu memberikan keistimewaan pada mamaku untuk bisa belajar, belajar apapun yang dia suka, termasuk sekolah di tempat anak-anak meneer sekolah. Jadinya, ibuku pintar sekali dibanding perempuan pribumi lain.”
Lira menatap Dani yang tersenyum, dia tahu kalau penjelasan bohongnya itu masuk akal, pintar karen anak Nyai dan Meneer, tahun 1965 hal-hal itu masih dekat dan bisa dilihat oleh mata.
“Oh, jadi mamamu itu sekolah di ELS ya, ituloh sekolah dasarnya para anak Belanda?” Dani keceplosan, karena dia hidup jauh lebih lama dari Rani dan Lira, setidaknya itu yang dia tahu, jadi dia punya pengetahuan tentang sekolah pada tahun-tahun sebelum kemerdekaan. Tapi tidak semua anak tahu soal ini seharusnya, kecuali orang yang hidupnya lebih lama. Dani tahu kalau itu pasti mencurigakan, tapi selagi dua temannya tak curiga, artinya dua temannya bukan orang yang perlu dia curigai.
“Wah Dani tahu, kau hebat juga. Tapi Dan, bukan hanya ELS, ibuku sekolah sampai Algemeene Middelbare School atau AMS, ibuku ambil jurusan IPA, makanya dia pintar sekali.” Dengan bangga Lira menjelaskan. Bagian ibunya pintar sekali itu benar, tapi dia bukan keturunan Nyai dan Meneer, ibunya pintar murni karena hidupnya yang sangat panjang.
Dan dari mana Lira tahu soal itu, karena salah satu kerabat Dekekuoinya ada yang menyamar menjadi pribumi, lalu jatuh cinta pada Meneer dan akhirnya menikah, melepas status Dekekuoinya dan hidup bahagia di negeri ini sampai sekarang bersama anak campuran. Meneer yang dia pilih adalah orang yang setia dan menikahi Nyainya dengan resmi sehingga anak-anak campurannya mendapatkan dokumen kelahiran resmi.
Maka dari itu Lira hapal kisah ini, dia menjadi sepupunya sendiri.
“Iya, aku pernah baca koran saja sih Lira, papaku langganan koran dan aku pernah lihat soal artikel orang Belanda yang menikah dengan pribumi lalu pulang tanpa membawa para pribumi, makanya aku tahu.” Dani tak ingin dua temannya semakin curiga.
“Oh begitu, ya ini sebenarnya hal yang paling ibuku tak suka aku ceritakan pada orang lain, kalian kalau ketemu ibuku jangan pernah bilang kalau aku cerita ya, aku bisa diusir dari rumah karena cerita kalau ibunya Nyai.”
“Kami janji Lira, Dani ayo janji pakai kelingking kita bertiga, jangan pernah cerita ke siapa pun!” Rani memaksa Dani, Dani terpaksa ikut berjanji walau dia sebenarnya perlu cerita ke ibunya, dia ingin pamer kalau teman barunya yang sangat cantik ternyata adalah orang campuran, tapi sekarang dia sepertinya tak bisa cerita karena Rani memaksa berjanji.
“Iya aku janji!”
“Kamu tidak boleh cerita ke siapa pun, termasuk papa dan mamamu ya, Dani.” Lira memastikan kalau Dani tidak akan menjadi pengaduan, ini untuk memastikan kalau cerita ini tak akan bergulir lebih jauh lagi.
Selain dia tak ingin dicurigai, dia juga beneran takut kalau ibunya dengar soal ini, dia pasti murka kalau neneknya Lira difitnah sebagai Nyai atau gundiknya Meneer, karena neneknya Lira adalah keturunan Dekekuoi yang sangat berkelas dan berwibawa, bagaimana mungkin difitnah cucunya sebagai gundik.
Dunia ini memang kejam, cucu saja sudah berani fitnah nenek dan ibunya sendiri.
Lira tertawa dalam hati karena dia sungguh merasa pintar karena bisa menjawab pertanyaan Dani, tapi juga merasa takut dalam waktu yang sama.
“Lira, terima kasih ya karena sudah mau kasih tahu kita asal-usulmu, kau tak perlu merasa rendah diri, kau itu cantik dan pintar.” Dani berkata ketika mereka sudah keluar dari perpustakaan dan menunggu Rani yang lagi-lagi ke kamar mandi dulu.
“Terima kasih Dani.” Lira tersenyum dan saat itu cahaya matahari menyorot dua wajah rupawan itu, seolah mendoakan kebaikan untuk bersama, meski itu takkan pernah terjadi, kalian tahukan, kelak bahkan Dani mencabuk Lira dengan taringnya dan meminta pamannya untuk membakar Lira.
Lalu kenapa hal itu bisa berbalik sebegitu tajamnya?