Celine butuh 200 juta untuk operasi ibunya. Dengan sisa harga diri, ia datang untuk memohon pada kekasihnya, Jason. Namun yang ia temukan justru Jason sedang meniduri wanita lain di atas meja kerjanya.
Saat dunia Celine runtuh, Damian Salvatore datang. Raja mafia yang satu tatapannya bisa membuat orang lumpuh ketakutan.
"Jadilah milikku. Teman ranjangku. Dan aku akan memberikan ibumu dokter terbaik." ~ Damian.
Celine mengira itu neraka. Padahal itu baru awal. Karena bagi Damian Salvatore, apa yang sudah ia klaim, tidak akan pernah ia lepaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 12 : Hukum dan air mata.
Hujan deras masih mengguyur tanpa ampun, angin laut bertiup kencang menerpa dinding gudang tua yang reyot, membawa bau anyir darah bercampur minyak solar yang tajam.
Delapan orang berdiri melingkar ketat, jari‑jemari sudah siap di pelatuk senjata. Di tengah‑tengah mereka, Vito duduk santai di atas peti kayu, dengan tenang menyalakan cerutu hingga ujungnya berpijar merah menyala. Ia adalah adik sepupu Romano, orang yang diberi kuasa menguasai pelabuhan ini.
"Katanya Damian Salvatore itu semacam dewa yang tak tersentuh..." ejek Vito sambil meniup asap putih perlahan, "Padahal cuma disuruh datang ke sini saja sudah lambat, bahkan takut datang sendiri."
Belum lama kata‑kata itu selesai terucap, lampu utama gudang mendadak padam, ruangan menjadi gelap gulita seketika.
BRAAK!
Pintu besar gudang ditendang dari luar, terbuka lebar membiarkan cahaya remang dan air hujan menyelinap masuk. Dan di sana, hanya satu sosok yang melangkah masuk sendirian. Jas hitam panjangnya basah kuyup, air menetes dari ujung kainnya. Wajahnya datar kosong, tak terbaca sedikit pun emosi.
"Terlambat tiga puluh detik," ucap Damian datar, seolah baru datang ke pertemuan biasa. "Maaf. Macet."
Tanpa aba‑aba, anak buah Vito langsung mengangkat senjata tinggi‑tinggi.
DOR! DOR! DOR!
Namun peluru‑peluru itu hanya melesat menembus tempat kosong. Damian sudah bergerak sangat cepat. Tanpa suara.
Pistol bersuara peredam di tangan Damian berkedip pelan sekali, dua kali. Tak satu pun tembakannya meleset. Dan hanya dalam tujuh detik singkat, separuh orang di ruangan itu sudah tergeletak diam di atas genangan darah yang semakin melebar.
"Kalian pikir delapan orang sampah saja sudah cukup untuk menantangku?" Damian melangkah tenang melewati mayat‑mayat di kakinya, suaranya dingin dan menghina. "Lemah sekali."
Vito mulai panik. Ia berdiri sambil menembakkan senjatanya membabi‑buta ke segala arah.
DOR! DOR!
Damian hanya menunduk sedikit. Satu peluru menggores tipis pipinya, namun cukup membuat setetes darah merah menetes perlahan turun ke rahangnya.
Lalu ia tersenyum. Senyum tipis pertama malam itu, mengerikan, dan sama sekali bukan tanda kebaikan.
"Bagus," bisiknya pelan, matanya menggelap penuh amarah yang baru saja terpicu. "Kau berhasil membuatku marah."
Ia melempar pistolnya jatuh ke lantai dengan bunyi nyaring. Lalu berjalan maju dengan tangan kosong.
Vito mundur terhuyung‑huyung, wajahnya pucat ketakutan.
"Jangan coba mendekat! Jangan!"
BUK!
Dalam satu gerakan cepat, Damian menangkap pergelangan tangan Vito lalu memutarnya hingga terdengar bunyi patah tulang yang mengerikan.
"Kirim salam untuk kakakmu Romano," bisik Damian tepat di telinga Vito, dingin dan mengancam. "Katakan... wilayah pelabuhan ini sekarang milikku. Dan siapa pun yang berani menyentuh barang milikku..."
BUK! BUK!
Dua pukulan keras mendarat telak di perut dan wajah Vito. Pria itu jatuh berlutut tersungkur, mulutnya berlumur darah.
Damian berjongkok di hadapannya. Mengambil cerutu yang jatuh tadi, lalu menekan ujungnya yang berpijar panas kuat ke lengan Vito.
"Arkkhhhh...!!!" Vito menjerit kesakitan hingga suaranya pecah.
"Ingat ini sebagai hukumku," ucap Damian tanpa sedikit pun tergoyahkan. "Kota ini milikku. Dan kalian hanyalah tamu yang tidak diundang."
Ia berdiri tegak kembali, lalu menginjak dada Vito sekali, cukup kuat hingga membuat pria itu sesak napas.
"Kalau Romano mau perang, suruh dia datang sendiri. Jangan kirim anjing yang tak berguna."
Damian berbalik dan berjalan keluar dari gudang itu seolah tidak terjadi apa‑apa. Di belakangnya, pintu terbuka lagi dan anak buahnya masuk untuk membereskan sisa kekacauan itu.
Damian melangkah masuk ke dalam mobil yang sudah menunggu dengan pintu yang terbuka. Suasana di dalamnya hangat dan sunyi, hanya suara halus mesin yang berputar. Luca duduk di kursi kemudi, namun belum menyalakan kendaraan. Begitu melihat atasan masuk, pandangannya langsung terpaku pada goresan merah segar di pipi Damian.
"Don..." ucap Luca cemas, tangannya sudah meraih kotak obat di sampingnya. "Kita obati lukamu dulu. Kalau Nyonya Celine melihat ini, dia pasti akan khawatir."
Damian duduk bersandar santai, melepaskan sarung tangannya satu‑satu dengan gerakan lambat dan tenang. Ia menatap pantulan dirinya di kaca depan, setetes darah masih terlihat jelas di garis rahangnya.
"Biarkan saja," jawabnya datar, namun tak kasar. "Dia harus mulai terbiasa melihat hal seperti ini."
Ia menatap lurus ke depan, matanya kembali dingin dan penuh ketegasan.
"Kembali ke Mansion sekarang."
Luca mengangguk patuh, meletakkan kembali kotak obat ke tempatnya. Mobil lapis baja itu perlahan melaju membelah hujan malam, meninggalkan pelabuhan yang kini penuh bau darah.
-
-
-
Celine terbangun perlahan. Di luar, hujan masih deras mengguyur tanpa henti, bunyinya menabrak atap dan kaca jendela seakan tak akan pernah reda. Angin dingin menyelinap pelan, membuat udara di dalam kamar terasa lebih sejuk dan sunyi.
Tangannya meraba sisi sebelahnya dengan malas. Kosong. Matanya langsung melirik jam dinding yang sudah menunjuk pukul tiga pagi.
Ia menghela napas pelan, lalu mencoba bangkit duduk. Namun begitu tubuhnya bergerak, rasa nyeri tumpul seketika menjalar di pinggang, di paha, di setiap sudut tubuhnya yang semalam begitu penuh dengan sentuhan dan kepemilikan pria itu.
"Ini benar‑benar terjadi..." gumamnya pelan, wajahnya memerah mengingat kejadian semalam. Ia menatap ruangan sunyi itu tak percaya. "Aku pikir cuma mimpi indah... ternyata aku benar‑benar menyatu, tidur bersama iblis itu."
Dengan napas yang sedikit terengah menahan rasa sakit, ia menyingkap selimut perlahan, melangkah turun dari ranjang. Mengambil gelas kosong yang tadi diletakkan di nakas, lalu berjalan keluar kamar.
Sesampainya di lantai bawah, dapur masih remang namun sudah ada satu pelayan yang sedang merapikan meja. Begitu mendengar langkah kaki, pelayan itu menoleh dan sedikit terkejut melihatnya.
"Nyonya..." sapa pelayan itu sopan sambil membungkuk hormat. "Ada yang bisa saya bantu? Apakah Nyonya membutuhkan sesuatu?"
Celine menggeleng pelan, mendekat sambil memegang gelas kosong itu erat. Di luar jendela, rintik hujan meluncur turun membasahi kaca, sama seperti perasaannya, tak tenang dan tak tahu kapan akan berhenti.
"Tidak... terima kasih. Aku hanya ingin mengambil air minum," jawabnya lirih, lalu sejenak terdiam sebelum akhirnya bertanya hal yang sejak tadi ia khawatirkan. "Maaf... apakah Damian sering pergi tiba‑tiba di tengah malam? Bahkan sampai sekarang dia belum juga kembali."
Pelayan itu terdiam sejenak, mendengar suara hujan di luar yang makin terdengar deras, lalu menjawab dengan nada hati‑hati.
"Ya, Nyonya. Sejak dulu... Tuan Damian tidak pernah memiliki jam tetap. Bisa kapan saja pergi, bisa kapan saja pulang. Terkadang berminggu‑minggu tak terlihat. Dunia tempatnya berjalan... tidak mengenal waktu istirahat."
Jantung Celine sedikit mencelos. Ia mengangguk pelan, berusaha menyembunyikan kekhawatiran yang tiba‑tiba merayap.
"Terima kasih," ucapnya lirih.
Tiba‑tiba, suara rem mobil terdengar dari luar gerbang. Lampu sorot menyapu ruang tamu yang gelap.
Pelayan itu berbisik, "Tuan pulang, Nyonya."
Celine tersentak pelan, tangannya mencengkram gelas itu semakin erat. Rasa cemas yang sempat tertahan kini berubah mendadak menjadi kekesalan yang meluap. Ia meletakkan gelas itu di atas meja dapur hingga menimbulkan bunyi yang cukup keras. Lalu ia berbalik, melangkah cepat menuju ruang depan, wajahnya menegang penuh amarah yang bercampur takut.
Pintu utama terbuka lebar tepat saat ia tiba di sana, membawa masuk udara dingin berbau hujan. Dan di ambang pintu itu berdiri Damian dengan jas basah kuyup meneteskan air, rambutnya berantakan, matanya tajam namun lelah. Namun yang membuat napas Celine tercekat adalah goresan merah segar melintas di pipinya, setetes darah perlahan merembes turun ke rahang yang keras.
Celine berhenti dua langkah di hadapannya, matanya membelalak tak percaya, marah dan pedih bercampur jadi satu.
"Kau..." suaranya bergetar, telunjuknya terulur menunjuk namun tak sampai menyentuh wajah itu. "Kau terluka..."
Damian menatapnya diam. Lalu mengangkat tangannya, mengusap air dari wajah Celine yang basah karena air mata yang bahkan Celine sendiri tidak sadar.
"Jangan khawatir," bisiknya serak. "Ini bukan darahku semua."
Celine langsung menepis tangannya. "Lalu darah siapa?!"
Damian melangkah maju, mengabaikan darah di pipinya. Dia mencengkram dagu Celine, memaksa Celine menatap matanya.
"Kau marah karena aku pulang terlambat... atau karena aku terluka?" Suaranya rendah, berbahaya. "Pilih."
Celine menggigit bibirnya, air mata kembali mengalir deras di pipinya. "Kau... iblis!"
-
-
-
Bersambung...