NovelToon NovelToon
My Rude Ice Queen

My Rude Ice Queen

Status: sedang berlangsung
Genre:Playboy / Cinta pada Pandangan Pertama / Persahabatan
Popularitas:366
Nilai: 5
Nama Author: Xereaa

Hanya sebuah kisah tentang seorang remaja laki-laki bernama Jasver Alistair yang akhirnya merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta untuk pertama kali setelah enam belas tahun hidup di dunia. Di sekolah, Jasver dikenal sebagai playboy kelas kakap. Bukan karena ia gemar mengejar perempuan, melainkan karena setiap gadis yang menyatakan perasaan kepadanya selalu ia terima tanpa banyak berpikir. Hidupnya berjalan baik-baik saja hingga suatu hari ia bertemu dengan seorang gadis dari sekolah yang sama. Gadis itu menatap Jasver seolah sedang melihat sesuatu yang sangat menjijikkan. Sejak pertemuan yang tidak disengaja itu, takdir seakan terus mempertemukan mereka. Dan tanpa Jasver sadari, gadis yang selalu memasang wajah dingin itu perlahan menjadi alasan mengapa seorang playboy kelas kakap akhirnya mengenal arti cinta untuk pertama kalinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xereaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 16

Malam itu, di warung kopi langganan mereka yang terletak tak jauh dari area perumahan, lima remaja itu berkumpul. Hawa dingin malam dihiraukan, mereka lebih fokus pada lembaran jadwal classmeeting dan brosur perlombaan musik yang tersebar di atas meja kayu yang mulai lapuk.

"Oke, mari kita bedah strategi," Jasver memulai, suaranya terdengar serius namun matanya tetap memancarkan semangat khasnya. Ia menunjuk jadwal yang dicoret-coret dengan spidol merah. "Hari kedua classmeeting adalah puncak. Bumi bakal tampil di Jakarta jam tiga sore. Masalahnya, pagi sampai siang hari kedua itu, ada final futsal, final voli, dan lomba estafet antar-kelas."

"Dan kita bertiga... semuanya masuk final," tambah Farah sambil menghela napas, menyandarkan punggungnya yang pegal setelah seharian latihan. "Gue final voli, Jasver sama Ren final futsal, dan Aery harus jaga stand makanan utama kelas."

"Gue udah cek," Bumi menimpali dengan nada yang berusaha tenang. "Gue bakal berangkat dari subuh banget naik bis rombongan sekolah lewat jalan tol. Nyampe sana pagi-pagi biar bisa istirahat dulu, penyesuaian panggung, sekalian latihan terakhir sebelum tampil sorenya. Kalian ngga perlu ikut, fokus classmeeting aja."

"Ngga, Bum!" potong Ren dengan nada tinggi. "Ini lomba nasional! Masa lo tampil sendirian tanpa kita?"

Aery diam sejenak, jemarinya mengetuk meja kayu sebelum akhirnya menatap keempat sahabatnya. "Begini... kalian bertiga tanding dari pagi kan? Diperkirakan jam dua belas siang semua laga final udah kelar. Dari sekolah ke stasiun atau naik transportasi umum bakal buang waktu buat transit. Mending... kita naik mobil aja."

Ren menaikkan alisnya. "Mobil siapa, Ry? Supirnya siapa?"

Aery menyunggingkan senyum tipis yang penuh percaya diri. "Mobil orang tua gue. Dan gue yang bawa. Kalau lewat jalan tol lancar, dua jam aja kita udah bisa sampai ke venue di Jakarta. Pukul dua siang kita pasti udah di panggung tempat Bumi latihan."

Jasver dan Ren melotot kaget secara bersamaan.

"Hah?! Lo bisa nyetir, Ry?!" seru Ren heboh sampai hampir menyenggol cangkir kopinya.

"Punya SIM?" cerocos Jasver tak kalah kaget.

Aery terkekeh pelan. "Udah ada, tenang aja. Dan gue udah biasa bawa mobil kalau pergi sama keluarga."

"Gila, vibes-nya Aery mendadak kayak driver F1," celetuk Farah sambil menggeleng-gelengkan kepala, walau matanya memancarkan rasa bangga. "Tapi gokil sih, ini jauh lebih ringkas ketimbang kita ngejar kereta."

Jasver menyeringai lebar, menepuk meja pelan. "Fix! Jadi strateginya: Begitu peluit final futsal sama voli bunyi jam dua belas, kita langsung ganti baju, loncat ke mobil Aery, terus tancap gas lewat tol!"

Bumi menatap keempat sahabatnya itu dengan mata berkaca-kaca. Ia tidak pernah mengira mereka rela merencanakan hal senekat ini demi menyemangatinya.

"Kalian yakin? Itu melelahkan banget buat Aery yang nyetir, apalagi kalian baru kelar tanding," kata Bumi, suaranya sedikit bergetar.

Jasver merangkul bahu Bumi dengan satu tangan, lalu menepuk punggung sahabatnya itu. "Bum, denger ya. Lo udah sering bantuin gue pas gue lagi down. Sekarang giliran kita yang buat lo bangga di panggung sana."

Farah mengangguk setuju. "Jangan banyak protes. Lo berangkat subuh, fokus latihan terakhir di Jakarta. Sisanya biar kita yang urus. Kita bakal jadi penonton paling berisik pas lo naik panggung."

Aery menyodorkan tangannya ke tengah meja, diikuti oleh yang lain.

"Untuk Bumi," ucap Aery pelan.

"UNTUK BUMI!" seru mereka berempat hampir bersamaan.

Di bawah temaram lampu warung kopi itu, rencana nekat "Operasi Jakarta" resmi dikunci. Sebuah perjalanan darat melintasi jalan tol demi mengawal panggung impian sang sahabat.

♧♧♧

Malam semakin larut ketika Aery melangkah masuk ke dalam rumahnya yang tenang. Suasana ruang keluarga masih diterangi lampu gantung bernuansa hangat. Di atas sofa kulit, Mom sedang duduk santai sambil membaca majalah, sementara Dad sibuk menatap layar laptopnya di meja kerja sudut ruangan.

Aery melepas alas kaki dengan pelan, lalu menghampiri kedua orang tuanya. Dadanya sedikit berdebar. Walaupun ia sudah memiliki SIM A dan biasa menyetir untuk jarak dekat, membawa mobil keluar kota melintasi jalan tol menuju Jakarta bersama teman-temannya adalah hal yang baru pertama kali akan ia lakukan.

"Mom, Dad... Aery mau bicara sebentar boleh?" panggil Aery lembut, mengambil posisi duduk di pinggir sofa.

Mom menurunkan majalahnya, sementara Dad melepas kacamata baca dan menoleh hangat. "Kenapa, Sayang? Ada tugas sekolah atau butuh sesuatu buat classmeeting besok?" tanya Mom ramah.

Aery menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan keberanian.

"Besok... Aery mau minta izin bawa mobil Honda HR-V Dad ke Jakarta," ucap Aery jujur dan tenang.

Dad dan Mom seketika saling pandang. Kening Dad berkerut halus, bukan karena marah, melainkan terkejut.

"Ke Jakarta, Ry? Sendirian?" tanya Dad memastikan suaranya tetap terkontrol.

"Engga, Dad. Sama teman-teman Aery si Farah, Jasver, sama Ren," jelas Aery cepat. Ia mengeluarkan brosur resmi perlombaan dari dalam tasnya dan membukanya di atas meja. "Bumi... teman satu geng kita, besok tanding Lomba Musik Tingkat Nasional di Jakarta jam tiga sore. Dia berangkat subuh naik bis sekolah."

Aery menatap mata Dad dan Mom bergantian dengan tatapan keseriusan yang jarang ia perlihatkan.

"Bumi itu teman yang sangat baik buat kita semua, Dad, Mom. Dia selalu ada kalau Aery atau teman-teman lagi butuh bantuan. Besok itu momen paling besar di hidup dia, dan kita berempat ngga mau biarin dia berjuang sendirian di sana."

Mom menatap Aery dalam-dalam. Wanita itu menyadari perubahan pada diri putri tunggalnya itu. Aery yang dulu sangat tertutup dan enggan menjalin hubungan dekat dengan teman-teman pasca-kejadian trauma SMP-nya, kini rela meminta izin nekat demi membela seorang sahabat. Ada rasa haru yang samar mengalir di hati Mom.

"Jalan tol ke Jakarta siang-siang itu ramai dan padat, Aery," Dad angkat bicara dengan nada tegas khas seorang ayah. "Kamu yakin berani nyetir jarak jauh begitu? Kamu kan baru kelar tanding dan urus acara sekolah jam dua belas siang."

"Aery yakin, Dad," jawab Aery mantap tanpa ragu sedikit pun. "Aery bakal nyetir stabil, ngga bakal ngebut-ngebutan, dan jalan tol kan jalurnya lurus. Di mobil juga ada Farah sama anak-anak yang bakal bantu ngawasin navigasi."

Suasana ruangan sempat hening selama beberapa detik. Dad menatap Mom, seolah meminta pertimbangan lewat tatapan mata. Mom memberikan senyuman tipis dan mengangguk pelan pada suaminya.

Dad menghembuskan napas panjang, lalu merogoh saku celananya dan mengelurkan kunci mobil HR-V berwarna hitam.

Klek.

Dad meletakkan kunci itu tepat di atas meja di hadapan Aery.

"Dad izinkan," tegas Dad, membuat mata Aery seketika berbinar. "Tapi dengan syarat: Isi e-Toll harus penuh, jangan terdistraksi sama obrolan di mobil, dan begitu nyampe venue langsung kirim video pendek ke grup keluarga."

"Siap, Dad! Makasih banyak, Mom, Dad!" seru Aery, senyum paling lebar dan tulus merekah di wajah cantiknya.

Mom mengusap lembut kepala Aery. "Mom bangga sama Aery. Kamu makin dewasa dan makin sayang sama teman-teman kamu. Selamat berjuang buat besok ya, Sayang. Hati-hati di jalan."

Aery menggenggam kunci mobil di tangannya erat-erat. Rasa hangat membuncah di dadanya. Restu sudah di tangan, persiapan sudah matang. Kini tinggal menanti esok hari untuk menuntaskan laga di sekolah sebelum membelah jalan tol menuju panggung impian Bumi.

♧♧♧

Classmeeting hari kedua dimulai dengan udara pagi yang masih segar. Di depan kelas X-A, koridor lantai dua yang biasanya sepi kini mulai dipenuhi murid-murid yang membawa atribut suporter.

Jasver, Ren, dan Farah sudah berdiri melingkar di dekat pintu kelas Aery. Jasver tampak terus memutar-mutar bola volinya dengan gelisah, sementara Ren sibuk mengunyah roti tawar rasa cokelat.

Aery berjalan keluar dari kelasnya dengan seragam olahraga yang rapi, rambut dikucir ekor kuda, dan jemarinya menggenggam sebuah gantungan kunci mobil Honda.

"Pagi, guys," sapa Aery halus, menyunggingkan senyum tipis.

"Pagi, Ibu driver!" seru Ren bersemangat sambil melambaikan setengah rotinya. "Bumi udah chat di grup tadi pagi, dia udah nyampe Jakarta dan lagi penyesuaian panggung!"

"Bagus deh kalau Bumi udah sampai dengan selamat," kata Farah lega, merapikan ikatan rambut poninya. "Berarti tinggal bagian kita yang kudu berjuang."

Jasver, yang sedari tadi menatap gantungan kunci di tangan Aery dengan kening berkerut, mendadak menghentikan putaran bola volinya. Cowok itu memajukan badannya sedikit, menatap Aery dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan raut wajah penuh selidik.

"Ry... tunggu deh," potong Jasver, suaranya dipenuhi rasa ragu yang teramat sangat. "Gue dari semalam kepikiran mulu asli. Lo beneran bisa bawa mobil keluar kota? Maksud gue... kita kan baru kelas sepuluh, Ry! Umur kita rata-rata baru 15 atau 16 tahun! Kok lo bisa bilang udah punya SIM A sih?!"

Ren yang tadinya mau menyuap roti mendadak terhenti, matanya membelalak kaget. "Eh... iya juga ya! Kok gue baru sadar?! Kan bikin SIM minimal harus 17 tahun!"

Farah memutar matanya malas menatap Jasver dan Ren. "Dasar dua bego. Lo kira Aery pemalsu dokumen apa?"

Aery tak sanggup menahan tawa kecilnya melihat ekspresi panik dan tidak percaya yang tercetak jelas di wajah Jasver. Dengan santai, Aery membuka dompet kecil dari sakunya, merogoh selembar kartu resmi, lalu menyodorkannya tepat di depan muka Jasver.

Jasver dan Ren langsung menunduk rapat, mengamati kartu itu bersama-sama seperti sedang menginspeksi barang bukti kejahatan.

Di sana, tertera jelas tulisan SURAT IZIN MENGEMUDI (SIM A) atas nama Aery Brooklyn, lengkap dengan foto Aery yang tampak anggun dan rapi. Namun, yang membuat mata Jasver makin membelalak adalah kolom tanggal lahirnya.

"Hah?! Lah?! Kok tanggal lahir lo..." Jasver menunjuk kartu itu dengan telunjuk bergetar, menatap Aery tak percaya. "Lo... lo lebih tua dibanding kita bertiga?!"

"Aery itu lompat kelas pas SD, bodoh!" semprot Farah sambil menoyor pelan bahu Jasver. "Dia masuk sekolah kecepetan, terus sempet ikut kelas akselerasi. Umurnya udah 17 tahun duluan beberapa bulan lalu!"

"GILA! SERIUSAN?!" seru Ren heboh, hampir menepuk dadanya sendiri. "Jadi selama ini Aery itu Mbak-nya kita?! Wah, parah sih... Aery, sungkem dulu gue Mbak!"

Jasver masih mematung, menatap Aery yang hanya tersenyum manis dengan mengedipkan sebelah matanya.

"Gimana, Kapten Jasver? Masih ragu sama driver lo?" goda Aery lembut, merebut kembali SIM-nya dan memasukkannya ke dompet. "Surat-surat aman, mobil aman, SIM resmi dari kepolisian. Yang belum aman cuma mental kalian buat menangin pertandingan nanti."

Jasver mengusap tengkuknya yang tidak gatal, wajahnya bersemu merah kaget bercampur malu. Tapi tak lama kemudian, cengiran konyolnya yang biasa kembali terkembang lebar.

"Ampun, Mbak Aery!" kekeh Jasver sambil mengacungkan dua jempolnya. "Gue tarik kata-kata keraguan gue tadi! Pokoknya nanti pas tanding futsal, gue bakal tendang bolanya sekuat tenaga biar kita bisa cepet-cepet naik mobil mewah ber-AC yang disetir sama Mbak Aery!"

"Dih, dasar mata duitan lo!" cibir Farah, walau bibirnya ikut menyunggingkan senyum lega.

Di bawah cahaya matahari pagi sekolah, keraguan terakhir Jasver musnah sudah. Dengan driver andalan yang sudah siap dan motivasi yang makin membara, keempat sahabat itu saling menumpukkan tangan di udara. Laga puncak classmeeting menanti, sebelum tol menuju Jakarta mereka taklukkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!