Bunga Lestari bukan siapa-siapa.
Yatim piatu dari desa kecil di Jawa Timur, dia datang ke Jakarta dengan satu tujuan: membalas dendam kepada orang yang menghancurkan keluarganya. Tanpa uang, tanpa koneksi, tanpa pendidikan — yang dia punya hanya tinju dan tekad.
Tapi malam itu, di sebuah gala dinner yang dia coba susup, seorang pria asing menabraknya. Dan tiba-tiba, suara pria itu ada di dalam kepalanya.
Rangga Wicaksana — pewaris keluarga konglomerat, jenius hukum, tampan dingin — jiwanya terjebak di tubuh Bunga. Dia bisa merasakan apa yang Bunga rasakan. Mendengar apa yang Bunga pikirkan. Dan yang paling parah: dia tidak bisa keluar.
"Bantu aku menjatuhkan musuhku," kata Rangga.
"Bantu aku naik ke puncak," kata Bunga.
Perjanjian dimulai. Tapi bagaimana caranya menjaga rahasia, ketika dia bisa merasakan detak jantungmu setiap kali kamu berbohong?
🔥 Ikatan jiwa. Dendam. Cinta yang tak seharusnya. Dan satu gadis kampung yang bertekad meraih bintang — dengan caranya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Bab 016
Dua Jiwa
Bunga sudah punya nama baru untuk dicari, pelan-pelan, tanpa membuat Tuan kembali jatuh terlalu dalam hari itu.
Namun pelan-pelan bukan keahlian Bunga.
Kunjungan lapangan bersama Anindya berjalan lebih baik dari yang ia kira. Mereka mendatangi ruang belajar komunitas di pinggir Jakarta, melihat anak-anak memakai meja lipat, kipas angin tua, dan papan tulis yang penuh bekas spidol. Anindya tidak banyak berpidato. Ia bertanya pada pengajar, mencatat keluhan, dan menolak saat seorang staf meminta anak-anak berbaris untuk foto.
"Belajar dulu. Foto nanti kalau mereka mau," kata Anindya.
Bunga menyukai perempuan itu sedikit lebih banyak, meski pikirannya terus kembali ke satu kata di notes: Wicaksana.
Tuan Misterius masih lebih diam dari biasanya. Ia memberi arahan seperlunya, tetapi tidak mengomentari setiap hal seperti dulu. Bunga tahu ia sedang menutup diri. Justru karena itu, rasa penasaran Bunga tumbuh seperti rumput liar.
Malamnya, Melati mengirim pesan menanyakan kabar. Bunga menatap layar lama sebelum akhirnya mengetik:
`Mel, kamu pernah kenal orang pintar?`
Balasan Melati datang hampir langsung.
`Orang pintar matematika atau yang bisa baca aura?`
Bunga menghela napas.
`Yang kedua.`
Telepon Melati masuk lima detik kemudian.
"Bunga, kamu kenapa?" Suara Melati terdengar cemas. "Jangan bilang kamu sakit lagi."
"Tidak. Cuma... sejak insiden gala, aku sering merasa ada yang aneh."
Di dalam kepala, Tuan Misterius langsung berkata, "Jangan."
Bunga mengabaikannya. "Aku mau tanya orang yang mungkin ngerti hal-hal begitu."
"Aneh seperti apa?"
"Susah dijelaskan."
Melati terdiam sejenak. "Aku tahu satu orang. Tante temanku kadang konsultasi ke dia. Bukan yang serem-serem, ya. Lebih seperti baca energi, kasih nasihat. Tapi kamu yakin?"
"Tidak."
"Itu jawaban paling jujur yang pernah kudengar."
Keesokan sorenya, Melati menjemput Bunga dengan mobil kecilnya. Tuan Misterius protes sejak Bunga naik.
"Ini ide buruk."
"Kamu bilang semua ideku buruk."
"Kali ini berdasarkan risiko nyata."
"Risiko apa? Dia tahu namamu?"
Tuan Misterius diam.
"Nah. Berarti kita sama-sama tidak tahu."
Tempat itu berada di rumah sederhana di pinggir jalan kecil, bukan ruang gelap dengan asap tebal seperti bayangan Bunga. Ruang tamunya bersih, ada tanaman sirih gading di sudut, teko teh hangat di meja, dan aroma minyak kayu putih yang membuat suasana terasa seperti rumah nenek orang lain.
Seorang perempuan paruh baya menyambut mereka. Pakaiannya biasa saja, rambutnya diikat longgar, matanya tajam tetapi tidak menakutkan.
"Duduk," katanya. "Yang mau bertanya yang mana?"
Melati menunjuk Bunga. "Temanku."
Bunga duduk di tikar tipis. "Saya cuma mau tanya... kalau seseorang setelah kecelakaan merasa hidupnya seperti tidak sendirian, itu kenapa?"
Tuan Misterius berkata dingin, "Kamu memilih kalimat terburuk."
Perempuan itu menatap Bunga lama. Bukan ke wajah saja, tetapi seperti melihat ruang di belakang mata. Bunga biasanya tidak takut ditatap. Ia pernah ditatap satpam, preman pasar, orang kaya sombong. Namun tatapan ini membuat bulu kuduknya naik.
"Sejak kapan?" tanya perempuan itu.
"Sejak gala dinner. Saya pingsan."
"Ada orang lain yang pingsan bersamamu?"
Bunga merasakan Tuan Misterius menegang.
"Ada," jawabnya pelan.
Melati menoleh cepat. "Kamu tidak pernah cerita."
"Aku juga baru mulai mengerti."
Perempuan itu meminta Bunga meletakkan kedua telapak tangan di atas meja kecil. Ia tidak membaca garis tangan. Ia hanya menutup mata beberapa detik, lalu membuka lagi.
"Tubuhmu lelah," katanya.
Bunga hampir tertawa. "Itu semua orang juga bisa lihat."
"Bukan lelah biasa. Seperti satu rumah dipakai dua penghuni."
Napas Bunga berhenti.
Melati memegang lengan Bunga. "Maksudnya?"
Perempuan itu menatap Bunga lebih dalam. "Ada dua jiwa yang saling menahan. Yang satu keras kepala ingin hidup. Yang satu sangat lelah, tapi belum pergi."
Di dalam kepala, Tuan Misterius sama sekali tidak bersuara.
Darah Bunga terasa turun ke kaki.
"Dua jiwa?" ulang Melati, suaranya mengecil.
Perempuan itu mengangguk. "Bukan hal gelap. Bukan sesuatu yang harus ditakuti seperti cerita orang. Tapi ikatannya kuat. Terjadi karena benturan besar, ketakutan besar, dan keinginan yang belum selesai."
Bunga memaksa suaranya keluar. "Bisa dilepas?"
Perempuan itu tidak langsung menjawab. Ia melihat Bunga, lalu seperti melihat seseorang yang berdiri tepat di belakangnya.
"Bisa, kalau yang tertahan tahu jalan pulang."
"Jalan pulang ke mana?"
"Ke tubuhnya. Ke namanya. Ke orang-orang yang menunggu, kalau masih ada yang benar-benar menunggu."
Kalimat itu membuat Tuan Misterius semakin sunyi.
Perempuan itu menurunkan suara. "Tapi jangan dipaksa dengan panik. Dua orang yang saling menahan bisa saling menyelamatkan, bisa juga saling melukai kalau salah menarik."
Bunga menarik tangannya dari meja kecil. "Jadi saya harus tahu namanya?"
"Nama membantu jiwa mengingat pintu."
Bunga berdiri terlalu cepat sampai meja kecil bergeser.
"Bunga?" Melati ikut berdiri.
"Kita pulang."
"Tapi dia belum selesai..."
"Kita pulang sekarang."
Tuan Misterius akhirnya bersuara, sangat pelan. "Bunga."
"Diam."
Melati tampak bingung dan takut, tetapi ia mengikuti. Bunga hampir berlari keluar rumah, melewati pagar kecil dan pot tanaman. Udara sore di luar terasa terlalu terang.
"Bunga, tunggu." Melati menangkap pergelangan tangannya. "Kamu pucat. Apa sebenarnya yang terjadi?"
Bunga melihat tangan Melati di lengannya. Teman. Pinjaman ponsel. Scarf biru. Pembelaan di depan Ratih. Semua itu menahan Bunga agar tidak berbohong terlalu kasar.
"Aku belum bisa cerita," katanya. "Tapi kalau suatu hari aku cerita, mungkin kamu akan mengira aku gila."
Melati menggeleng cepat. "Aku tidak akan langsung begitu."
"Kamu tidak bisa janji."
"Bisa. Aku mungkin panik, tapi aku tidak akan meninggalkanmu."
Kalimat itu hampir membuat Bunga goyah. Namun suara di kepalanya tetap ada, diam dan berat, seperti menunggu hukuman.
Malam itu, setelah Melati mengantar sampai depan gang, Bunga masuk ke kamar kos dan mengunci pintu. Ia tidak menyalakan lampu. Cahaya dari jalan masuk lewat celah tirai, cukup untuk melihat kantong blouse hijau di sudut dan ponsel di atas kasur.
"Tuan Misterius," katanya.
Tidak ada jawaban.
Bunga duduk di tepi kasur. Tangannya masih dingin.
"Orang itu bilang dua jiwa. Dia bilang yang satu sangat lelah tapi belum pergi."
Hening.
"Aku sudah lihat Wicaksana. Aku sudah lihat reaksi kamu pada Prabu. Aku sudah lihat berita soal eksekutif muda yang kritis. Aku bukan anak kecil yang bisa kamu kasih potongan roti biar diam."
Tuan Misterius masih diam.
Bunga menatap kegelapan kamar.
"Kamu sebenarnya siapa?"
Lama sekali, hanya suara motor lewat dari luar yang menjawab.
Di atas kasur, ponsel pinjaman menyala sebentar karena notifikasi kosong. Bunga melihat notes terakhirnya. Kata `Wicaksana` berada di sana, diam, seperti pintu yang menolak tetap tertutup.