Aku Abhinav Ruchir mencintaimu dengan cara yang mungkin membuatmu sesak aku menginginkan seluruh perhatianmu, seluruh waktumu, dan seluruh duniamu hanya untukku. Cintaku padamu seperti geranium yang tumbuh liar ia menuntut ruang untuk terus berada di dekatmu, terkadang melupakan batasan, hanya karena ia takut kehilangan tempatnya di sisimu.
Aku tahu caraku mencintaimu mungkin terasa dominan. Aku tidak ingin berbagi satu detik pun darimu dengan dunia lain, karena bagiku, kamu adalah satu-satunya nutrisi yang membuat hatiku tetap bertahan hidup. Ada kalanya aku merasa egois karena ingin memilikimu seutuhnya.
Namun, inilah caraku menjaga hubungan ini tetap bersemi dengan memegangmu seerat mungkin, meski aku tahu keegoisan ini mungkin akan melukai kita berdua.
Biarkan aku menjadi orang yang paling 'membutuhkanmu' di dunia ini. Bukan karena aku lemah, tapi karena di antara segala kesibukanmu, aku selalu ingin menjadi alasan utama mengapa kamu harus pulang dan tetap tinggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon you see me, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16
Rasa takut yang semula membeku kini berganti dengan adrenalin yang memacu detak jantungku hingga hampir meledak. Begitu mendengar suasana rumah mulai riuh oleh kesibukan para pelayan, aku tidak membuang waktu. Dengan napas tertahan, aku menyelinap melalui koridor samping yang jarang dilewati, memastikan tidak ada mata yang mengawasiku.
Saat kakiku akhirnya menapak di luar gerbang besar rumah itu, dunia terasa begitu luas namun sekaligus menakutkan. Tanpa berpikir panjang, aku segera menyetop taksi yang kebetulan lewat.
Caca " Jalan! Cepat, Pak! Berapa pun harganya, tolong tancap gas! " pintaku dengan suara parau yang nyaris memohon.
Taksi itu baru saja bergerak beberapa meter ketika sebuah mobil mewah melaju kencang dari arah belakang, memotong jalan kami dengan brutal. Dentuman keras terdengar saat bodi mobilnya menghantam sisi taksi, membuat kendaraan yang kunaiki oleng dan berhenti mendadak.
Belum sempat aku mengatur napas, pintu taksi terbuka dengan paksa. Dia berdiri di sana, matanya merah padam oleh amarah yang meledak-ledak. Tanpa sepatah kata pun, ia menarik lenganku dengan kasar, menyeretku keluar ke atas aspal yang dingin. Rambutku dijambak dengan keras hingga aku meringis kesakitan, suaraku tercekat di kerongkongan karena isak tangis yang tak tertahankan.
Abhi " Kukatakan padamu, jangan pernah mencoba lagi ! " teriaknya tepat di depan wajahku, suaranya menggelegar di tengah jalan yang sepi.
Aku hanya bisa terisak, tubuhku lemas menahan sakit di kulit kepala dan lutut yang tergores aspal. Aku benar-benar tidak berdaya, terjebak kembali dalam cengkeraman pria yang seolah tidak memiliki hati itu.
Setiap tarikan langkahnya di anak tangga terasa seperti siksaan fisik yang tak berujung. Aku tak lagi peduli pada rasa sakit di lutut atau kulit kepalaku yang terasa seperti akan terlepas yang ada hanyalah ketakutan akan kegilaan yang kini terpancar dari matanya. Begitu sampai di lantai atas, dia tidak membawaku ke kamar tidur, melainkan menyeretku langsung ke kamar mandi miliknya.
Tanpa satu kata pun, dia melempar tubuhku ke lantai marmer yang dingin. Aku mencoba merangkak mundur, namun dia sudah berdiri di atas kepala shower, memutar keran hingga air dingin menyembur deras, mengguyur seluruh tubuhku yang masih bergetar.
Caca " Cukup bhi! Kumohon, cukup! Aku minta maaf!" teriakku di antara sesak napas, suaraku parau dan hampir tenggelam oleh derasnya suara air.
Namun, dia benar-benar tuli terhadap permohonanku. Dia mencengkeram kain pakaianku, merobeknya dengan satu hentakan kasar hingga aku tak lagi memiliki sehelai benang pun yang menutupi tubuhku. Aku meringkuk di bawah guyuran air yang dingin menusuk tulang, mencoba melindungi diri dengan kedua tanganku, namun dia kembali memosisikan tubuhku tepat di bawah pancuran.
Air masuk ke hidung dan mulutku, membuat paru-paruku serasa terbakar karena kesulitan mengambil oksigen. Pandanganku mulai mengabur. Dia berdiri di sana, menatapku dengan kebencian yang murni, seolah aku hanyalah sebuah benda yang perlu " dibersihkan " dari semua niat untuk pergi.
Abhi " Kamu pikir kamu bisa pergi setelah menentangku ? " suaranya dingin, nyaris tak terdengar di bawah gemuruh air, namun setiap katanya menembus kesadaranku yang mulai menipis.
Abhi " Ini hukumanmu karena mengira kamu bisa menjadi pemilik dirimu sendiri."
Di titik ini, kesadaranku mulai goyah. Dinginnya air dan rasa sesak di dada membuat dunia di sekelilingku mulai memudar menjadi kegelapan yang menyakitkan. Aku tidak tahu lagi apakah aku akan selamat dari malam ini.