NovelToon NovelToon
Satu Imam Dua Makmum

Satu Imam Dua Makmum

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Adiba Aza hra

Bagi Azam, satu-satunya wanita yang berhak bersandar di bahunya hanyalah Aira Humaira, istri sekaligus sahabat sejatinya.Namun, sebuah kesalahan yang tak di sengaja.kini berubah menjadi hantu yang menuntut penebusan. Safira kini hidup sebatang kara dan hidup menderita akibat kelalaian Azam. Ketika uang tak lagi mampu membasuh rasa bersalah, Aira justru menyodorkan madu pernikahan sebagai jalan keluar."Aku ikhlas, Mas..." kata-kata Aira terdengar tegas, meski hatinya sendiri hancur.Terjebak di antara tuntutan istri yang dicintainya dan penolakan hatinya untuk mendua, keputusan apa yang akan diambil Azam? Siapkah Aira menyaksikan suaminya bersanding dengan wanita lain, ketika ego dan rasa bersalah bertabrakan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adiba Aza hra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20 Ajakan Misterius Azam.

"Bu Nur, saya boleh minta tolong? Tolong jangan biarkan siapa pun mengadopsi Malika ya, Bu. Ada beberapa hal yang ingin saya cari tahu terlebih dahulu,"

Kata Aira serius kepada Bu Nur.

Bu Nur mengangguk paham.

"Iya, Nak Aira. Malika sendiri sebenarnya juga tidak mau diadopsi. Dia memilih untuk tetap tinggal di panti ini,"

Sahut Bu Nur dengan nada sedih.

"Dia selalu bilang, jika suatu saat nanti kakaknya datang mencari, dia harus tetap berada di sini untuk menunggunya,"

Sambung Bu Nur lagi.

Setelah mengobrol panjang lebar mengenai latar belakang panti, akhirnya Azam dan Aira memutuskan untuk pamit dan kembali ke hotel.

"Mas, kenapa ya kok tiba-tiba pernikahan Mbak Safira diundur? Apa ada sesuatu yang buruk sedang terjadi?"

Tanya Aira cemas sepanjang perjalanan di dalam mobil.

Azam menggeleng pelan untuk menenangkan istrinya.

"Enggak apa-apa, Sayang. Mungkin ada halangan mendesak yang kita tidak tahu, kan?"

Aira mengangguk pelan, walau hatinya masih dilingkupi rasa mengganjal.

"Aku kangen banget, Mas, sama Kinan,"

Gumam Aira tiba-tiba dengan suara lirih.

"Biasanya kalau dia sedang sibuk pun, dia masih sempat chat atau telepon aku."

Azam menghela napas dalam-dalam, mendengarkan keluh kesah istrinya dengan saksama.

"Kamu tahu rumahnya Kinan yang dulu, Mas?"

Tanya Aira menatap suaminya.

Azam kembali menggeleng.

"Aku tidak tahu."

"Om Vito itu sebenarnya sayang banget, lho, sama Kinan,"

Kata Aira tiba-tiba.

Azam menoleh sekilas ke arah istrinya.

"Om Vito?"

Tanya Azam memastikan.

Aira mengangguk mantap.

"Iya, Om Vito. Dulu aku pernah diajak ke kampung halamannya Om Vito, tepatnya di rumah neneknya Kinan,"

Jawab Aira jujur.

"Kapan itu?"

Tanya Azam penasaran.

"Waktu kita masih SMA. Waktu itu kamu sudah aku ajak, tapi kamu menolak ikut karena saat itu tidak ada anak cowok lain yang ikut,"

Jelas Aira mengenang masa lalu.

Azam mengangguk-angguk, mencoba menggali kembali ingatan masa remajanya.

"Apa kamu masih meragukan ingatanmu? Kamu masih ingat nama neneknya Kinan dan nama desanya?"

Tanya Azam berturut-turut.

Aira mengiyakan pertanyaan suaminya dengan yakin.

"Iya, Mas, aku masih ingat jelas. Namanya Mbah Suparti, desanya Desa..."

Jawab Aira sembari mengetuk-ngetuk dagunya, berusaha melafalkan nama desa terpencil tersebut.

Mendengar petunjuk berharga itu, batin Azam seketika bersorai. Dengan informasi ini, semoga bisa membantu Ayah mencari jalan keluar untuk menyelesaikan kasus Om Vito.

***

Waktu berjalan cepat hingga jam dinding menunjukkan pukul lima sore. Dengan teliti dan penuh kesabaran, Azam menyimak bacaan Al-Qur'an dari istrinya.

Suara Aira terdengar begitu lembut, khusyuk, dan fokus. Ia menyelesaikan bacaan ayat demi ayat dari Surah Al-Qalam hingga selesai.

"Masya Allah, Istriku, Bidadariku,"

Bisik Azam bangga setelah Aira mengakhiri bacaannya dengan kecupan di mushaf.

Sore itu, mereka berdua memutuskan untuk tetap bersantai menghabiskan waktu di dalam kamar hotel hingga menjelang waktu salat Isya.

***

Di sisi lain kota, Ayah Fikri tampak sedang menemui Ayah Niko di sebuah kafe terpencil. Ternyata, di sana juga sudah menunggu Seno dan Ardi.

"Bagaimana perkembangkanannya, Pak Niko?"

Tanya Ayah Fikri penuh harap begitu mereka berkumpul.

"Siang tadi Azam memberi saya pesan pendek. Katanya, dulu Aira pernah diajak berkunjung ke desa tempat orang tua Vito tinggal,"

Jelas Ayah Niko dengan nada datar namun pasti.

Ayah Niko melanjutkan,

"Besok, coba Anda bersama Seno dan Ardi mendatangi rumah orang tua Vito. Siapa tahu mereka mau bersikap kooperatif dan membantu Anda."

"Iya, Om. Besok biar kami berdua yang menemani,"

Sahut Ardi bersemangat.

"Bagus, kalian berdua memang sangat bisa diandalkan,"

Kekeh Ayah Niko puas melihat kekompakan anak-anak muda di depannya.

Ardi dan Seno langsung saling bertos ria dengan heboh setelah mendapat pujian tersebut.

"Asyik! Akhirnya bakal dapat bonus THR dari Bos Niko nih, hahaha!"

Seru Ardi yang langsung ditimpali tawa renyah oleh Seno.

"Baiklah, besok tepat jam tujuh pagi kita semua berangkat,"

Putus Ayah Fikri yang langsung disetujui oleh semua orang di meja tersebut.

***

Kembali ke hotel, suasana malam yang tenang mulai menyelimuti kota Surabaya.

"Sayang, keluar yuk,"

Ajak Azam tiba-tiba sembari menutup laptopnya dan mendekati istrinya.

"Ke mana, Mas?"

Tanya Aira bingung.

"Rahasia dong. Nanti kamu juga bakal tahu sendiri setelah kita sampai,"

Jawab Azam penuh misteri.

Aira tersenyum lebar tanpa curiga.

"Siapa, Sayang!"

Sahutnya senang.

Azam mengepalkan kening istrinya sekilas.

"Dandan yang cantik ya, Sayangku, Humairahku,"

Bisik its romantis sebelum melangkah pergi meninggalkan Aira sendirian di dalam kamar.

Aira tersenyum malu-malu mendengar bisikan halus suaminya yang selalu berhasil membuat jantungnya berdebar tidak keruan.

Lima belas menit berlalu, Aira masih setia duduk manis di depan meja rias. Mulai dari merapikan rambut, memoles ulang makeup, hingga memilih parfum terbaiknya.

Meskipun sempat membongkar pasang penampilannya karena belum merasa siap, akhirnya Aira tersenyum puas menatap pantulan dirinya di cermin besar. Gaun pilihan malam ini dirasa sudah sangat sempurna.

Malam ini, Aira mengenakan gaun panjang berwarna merah hitam yang elegan, dengan potongan sedikit terbelah di bagian paha kanannya.

Ditambah cincin pernikahan yang melingkar di jari serta kalung pemberian sang ayah, penampilannya malam ini benar-benar memberikan kesan yang begitu istimewa dan anggun.

Ketika Azam kembali ke kamar, pria itu benar-benar dibuat terpesona oleh penampilan totalitas sang istri. Rambut panjang Aira yang dibiarkan tergerai indah, dihiasi aksesori kepala berbentuk bunga sakura yang elegan, sukses membuat Aira terlihat menawan sekaligus dewasa.

"Sayang, kamu cantik banget malam ini,"

Bisik Azam lirih. Matanya sama sekali tidak berkedip menatap Aira dari ujung rambut hingga ujung kaki.

Aira tersenyum merona mendengar pujian suaminya. Dengan mesra, ia melangkah mendekat dan mengusap lembut dada bidang suaminya, meskipun ia harus sedikit mendongak agar bisa menatap wajah tampan sang suami.

"Malam ini kamu juga tampak jauh lebih tampan, Azam,"

Kekeh Aira manja.

Azam menghela napas dalam-dalam, mencoba mengendalikan diri dari pesona istrinya, lalu mengembuskannya perlahan.

"Tlong, jangan mulai memancingku sekarang,"

Bisik Azam gemas.

Pria itu kemudian merengkuh dan memeluk pinggang ramping Aira dengan erat.

"Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat yang sangat spesial, Sayang,"

Bisiknya lagi sembari meraih kedua tangan lembut Aira, lalu mencium punggung tangannya penuh kasih sayang.

"Mau ke mana sih, Mas?"

Tanya Aira makin penasaran.

"Ayo ikut saja, nanti kamu juga akan tahu,"

Jawab Azam menarik lembut jemari istrinya untuk melangkah keluar kamar.

Sembari berjalan menyusuri koridor, Azam berbisik lagi dengan nada tulus,

"Langgeng selamanya bersama ku, ya."

"Aku juga sangat sayang kamu, Mas,"

Balas Aira tulus sembari mengeratkan genggaman tangan mereka.

Sepanjang perjalanan menuju lobi hotel, kejutan demi kejutan tak henti-hentinya membuat wajah cantik Aira dipenuhi senyuman lebar.

Satu per satu orang asing yang tampaknya sudah direncanakan oleh Azam tiba-tiba menghampiri mereka. Sudah ada sekitar tiga puluh orang yang bergantian memberinya setangkai bunga mawar segar sembari mengucapkan kata-kata manis.

Saking banyaknya orang yang datang mengantre memberikan bunga tanpa henti, kedua tangan Aira sampai merasa kewalahan memeganginya. Namun, rasa lelah itu langsung terkalahkan oleh rasa bahagia yang membuncah hebat di dalam dadanya.

1
Redmi
Lanjutkan 😎
Tempat resep ide jajanan Sekolahan
Lanjut 👍🙏
Tempat resep ide jajanan Sekolahan
Lanjut 👍
Tempat resep ide jajanan Sekolahan
Lanjut👍
Saddam Husein
lanjut👍
Saddam Husein
Semangat terus kak 😎👍
Tempat resep ide jajanan Sekolahan
hubungan sama orang tua atau saudara terasa asik biasanya kebanyakan kn nya fokus ke pemeran utama yg ini nih asikkkk gokil /Drool//Joyful//CoolGuy/
pokok lanjut bro Apa lagi pas di suruh masak nasi ngakak. habis hahaa lanjutkan bos kuhh
Tempat resep ide jajanan Sekolahan
Mantap gw yg cowo aja ngakak bca nya 🤣😄
Adiba Azahra
Wah, terima kasih banyak, Kak! 😍 Semoga makin baper ke depannya, ya. Ikuti terus kelanjutan ceritanya! 🔥🚀
Ridwan Hasan: Dari judul nya udah nyesek 🙏 Bagus kak semangat siap menyemak 👍
total 3 replies
Redmi
Lanjuttttttttttt 😍
Redmi
Aaaa ikut baper 😍🙏
gk kebayang aku punya suami kayak azam 🤣 😍
Redmi
Lanjut kak Bagus
Adiba Azahra: Terima kasih banyak, Kak! 🥰 Ditunggu kelanjutannya, ya, secepatnya! 🚀🔥
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!