Keira Wulandari — gadis adopsi dari perumahan subsidi, dianggap bodoh, jelek, dan tidak berguna.
Tapi tidak ada yang tahu... di kehidupan sebelumnya, dia adalah Blood Shadow — pembunuh nomor satu dunia, hacker terhebat, dan dokter legendaris.
Sekarang dia terlahir kembali. Dengan semua kemampuan dari kehidupan sebelumnya, dia kembali untuk melindungi adiknya, membalaskan dendam, dan membuat semua orang yang pernah meremehkannya berlutut.
Dan CEO konglomerat terkaya di Indonesia — Tan Hansel — yang dingin kepada semua orang kecuali dia?
"Dia istriku. Ada masalah?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Bab 016: Jarum Perak dari Jakarta
Sabtu pagi, Keira berangkat sebelum Bu Sri sempat membuka suara.
Ia membawa ransel lama, jaket tipis, dan uang tunai secukupnya. Jarum perak yang dibeli di Megawan cukup untuk tahap awal Bayu, tetapi tidak cukup untuk terapi lebih dalam. Ia membutuhkan ukuran yang lebih presisi, kasa steril yang lebih baik, dan beberapa bahan ramuan yang tidak mungkin ditemukan di toko kecil Grand Megawan Arcade.
"Mbak mau ke mana?" tanya Bayu dari pintu belakang.
"Jakarta."
Mata Bayu langsung membesar. "Sendiri?"
"Berdua dengan ransel."
"Mbak..."
Keira berhenti memakai sepatu. "Kamu jaga buku catatan. Jangan biarkan Laras menyentuhnya."
Bayu menegang, lalu mengangguk. "Aku jaga."
Pak Prasetyo keluar saat Keira hendak pergi. Rambutnya masih berantakan, wajahnya ragu seperti biasa.
"Keira, Jakarta jauh. Ada perlu apa?"
"Beli alat."
"Bapak antar sampai terminal?"
Keira melihat motor tua di halaman dan kaki Bayu yang mengintip dari balik pintu. "Tidak perlu. Pakai untuk Bayu kalau nanti harus keluar."
Pak Prasetyo menelan kata yang tidak jadi keluar. Ia hanya memberi uang dua puluh ribu. "Untuk minum."
Keira menerimanya. Bukan karena butuh, tetapi karena tangan Pak Prasetyo gemetar seperti orang yang sudah lama ingin memberi sesuatu dan baru berani sekarang.
KRL menuju Jakarta penuh sejak pagi. Keira berdiri di dekat pintu, ransel menempel di dada. Bau parfum murah, keringat, dan kopi sachet bercampur di udara. Ia menatap pantulan wajahnya di kaca pintu. Tubuh ini masih menarik perhatian, tetapi bukan lagi karena lemah. Orang yang berdiri terlalu dekat otomatis mundur ketika ia menoleh.
Di Stasiun Manggarai, seorang ibu hampir kehilangan dompet ketika desakan penumpang naik. Tangan pencopet itu baru menyentuh resleting tas saat Keira menekan pergelangan tangannya dengan dua jari.
Pria itu menoleh marah.
Keira tidak berkata apa-apa. Ia hanya menatap.
Wajah pria itu berubah. Ia menarik tangan, turun di stasiun berikutnya tanpa membawa apa pun. Ibu pemilik tas tidak menyadari kejadian itu. Keira juga tidak merasa perlu memberi tahu. Hari ini ia datang untuk membeli alat, bukan menjadi pahlawan stasiun.
Namun tubuhnya mencatat satu hal: refleksnya mulai kembali.
Belum cepat seperti dulu.
Tapi cukup.
Pasar Pramuka riuh oleh pedagang alat medis, kardus, dan suara tawar-menawar. Keira masuk ke toko yang menjual jarum akupunktur impor. Pedagang pria muda menatap seragam lusuh dan ranselnya, lalu tersenyum malas.
"Cari apa, Mbak? Jarum biasa ada. Yang murah juga ada."
"Jarum perak, diameter 0,18 dan 0,22. Ujung halus, bukan campuran murahan. Alkohol medis, kasa steril, sarung tangan nitril ukuran S."
Senyum pedagang itu hilang.
Ia mulai mengambil barang dengan lebih hati-hati.
Keira membuka satu kotak, memeriksa ujung jarum di bawah lampu, lalu mengembalikan dua kotak.
"Ini cacat."
"Mbak dokter?"
"Pembeli."
Jawaban itu membuat pedagang berhenti bertanya.
Di sebelahnya, seorang mahasiswa kesehatan menatap daftar belanja Keira dengan mata penasaran. Ia ingin bertanya, tetapi setelah melihat cara Keira mengembalikan jarum cacat tanpa ragu, ia memilih diam. Pedagang yang tadi meremehkan kini membungkus barang dengan dua lapis plastik.
"Mbak, kalau mau alat terapi listrik juga ada."
"Tidak perlu."
"Untuk cedera lama biasanya dibantu alat."
"Kalau salah pakai, sarafnya makin kacau."
Pedagang itu tertawa kaku. "Iya juga."
Keira menambahkan satu botol alkohol lagi. Bayu butuh proses panjang. Satu kali perbaikan kecil tidak boleh membuat mereka ceroboh.
Dari Pasar Pramuka, Keira menuju Glodok. Di toko obat Tionghoa yang berbau jahe tua, kayu manis, dan laci kayu lama, seorang pemilik toko berusia enam puluhan mengamatinya dengan mata sipit tajam.
"Resep siapa ini?" tanya pria itu setelah membaca daftar bahan.
"Saya."
"Untuk kaki lama cedera?"
Keira mengangkat alis sedikit.
Pria itu tersenyum. "Saya jual obat, bukan cuma bungkus plastik. Formula ini bukan untuk pegal biasa."
"Kalau Koh tahu, jangan kurangi takarannya."
Sapaan itu membuat ekspresi pemilik toko melunak sedikit. "Anak muda sekarang jarang bisa baca bahan seperti ini."
"Anak muda sekarang juga jarang punya uang untuk salah beli."
Ia tertawa pelan, lalu menimbang bahan dengan lebih serius.
Pemilik toko menulis aturan rebus di kertas cokelat. Keira memperbaiki dua takaran dengan pulpen.
"Terlalu panas untuk tubuh remaja," katanya.
Pria itu menatap coretan tersebut, lalu perlahan mengangguk. "Kamu benar-benar bukan belajar dari internet."
"Internet terlalu ramai."
"Guru kamu siapa?"
Keira memasukkan kertas ke tas. "Sudah mati."
Pemilik toko tidak bertanya lagi. Dalam dunia obat tradisional, ada jawaban yang memang tidak perlu dibuka.
Menjelang siang, Keira kembali ke Stasiun Megawan dengan ransel lebih berat. Ponselnya bergetar tiga kali. Pesan Yves belum ia buka. Pesan dari akun medis lama juga masuk, menanyakan ketersediaan konsultasi darurat. Ia menandai semuanya untuk nanti.
Kereta pulang lebih sepi. Keira duduk di dekat jendela, satu tangan tetap memegang ransel. Di luar, Jakarta berganti dari gedung tinggi menjadi gudang, lalu rumah rapat, lalu sawah sempit yang tersisa di pinggir jalur. Hidup barunya bergerak di antara dua dunia yang sama-sama belum bisa ia percaya sepenuhnya.
Di layar ponsel, pesan medis itu muncul lagi.
Pasien #0047 stabil, tetapi respons obat tidak sesuai prediksi.
Keira menutup notifikasi. Jika mereka masih memakai protokol lama, masalah itu akan membesar. Namun ia belum akan masuk sebelum data lengkap datang. Dokter yang panik sering lebih berbahaya daripada penyakit.
Di luar stasiun, sebuah Alphard hitam melambat.
Di dalam mobil, Tan Hansel menurunkan dokumen dari tangannya.
Ia melihat gadis dengan ransel kumal itu berjalan di antara penumpang KRL. Rambutnya sedikit berantakan, wajahnya lelah, tetapi langkahnya tetap stabil. Tasnya menggembung seperti membawa barang yang tidak boleh disentuh orang.
Yannic yang duduk di kursi depan ikut menoleh. "Itu Keira?"
Hansel tidak menjawab. Dari jarak itu, detail wajah sulit terlihat, tetapi cara gadis itu memindahkan ransel ke sisi dalam tubuh ketika seorang pria lewat terlalu dekat sudah cukup. Orang biasa melindungi barang karena takut dicuri. Keira melindungi barang seperti melindungi bukti atau senjata.
"Dia dari Jakarta naik KRL?" gumam Yannic. "Dengan uang lima ratus juta di rekening?"
Hansel menatap kerumunan. "Justru karena itu menarik."
Jika Keira ingin terlihat miskin, ia terlalu rapi dalam melakukannya. Jika ia benar-benar miskin, ia terlalu tenang membawa barang yang jelas mahal. Dua kemungkinan itu sama-sama tidak cocok dengan laporan sekolahnya.
"Koh?" tanya pengemudi.
Hansel menatap punggung Keira yang hampir hilang di kerumunan angkot.
Rasa penasaran itu akhirnya menang atas jadwalnya.
Sekali ini.
"Berhenti sebentar."