Siapa sangka Bayang, sosok misterius yang kerap membantu polisi membongkar jaringan narkoba pelabuhan, hanyalah gadis berusia delapan belas tahun bernama Alya Maheswari. Setelah dibangkitkan kembali ke masa lalu sebelum kematian tragis di tangan keluarga kandungnya, Alya menerima jemputan keluarga Wiratama yang membuangnya sejak bayi.
Dengan dendam tersembunyi dan kecerdasan di atas rata-rata, ia menghadapi ibu tiri licik penuh intrik, adik tiri bermuka dua, serta tunangan bisnis yang kejam dan tidak setia. Bersama Rafi sang pengawal setia, Alya menyusun langkah demi langkah balas dendam. Tidak ada lagi gadis desa yang lemah tertindas — kali ini, semua orang yang pernah mengkhianatinya akan membayar mahal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Bab 16
Pagi setelah dokumen saham Nadira aktif, suasana rumah Wiratama berubah.
Tidak ada lagi yang berani sembarangan menyuruh Alya diam di meja makan. Mbak Sari menyajikan sarapan dengan tangan sedikit gemetar. Dinda tidak datang ke meja. Maya mengatakan Dinda kurang sehat, tetapi Alya tahu gadis itu lebih mungkin sedang menghitung ulang posisinya.
Baskara membaca koran bisnis tanpa benar-benar membaca.
Raka duduk di seberang Alya, masih terlihat seperti seseorang yang mendapat senjata tetapi belum terbiasa memegangnya.
"Aku akan ke kantor pagi ini," kata Raka.
Baskara menurunkan koran. "Tidak perlu."
Raka menatap ayahnya. "Aku punya kuasa suara dari pemegang tujuh belas persen saham. Aku perlu hadir dalam rapat direksi."
"Kamu sengaja mempermalukan Papa?"
"Tidak. Aku hanya bekerja."
Alya memotong roti dengan tenang.
Baskara menatapnya. "Kamu puas membuat kakakmu melawan Papa?"
"Mas Raka sudah dewasa. Kalau dia melawan, itu pilihannya."
"Kamu yang memberi dia alat."
"Mama yang meninggalkan alat itu."
Nama Nadira kembali membuat Baskara diam beberapa detik.
Maya masuk saat itu dengan wajah rapi dan senyum yang sudah diperbaiki. "Mas, jangan tegang pagi-pagi. Kita bisa bicara baik-baik. Alya juga pasti tidak berniat memecah keluarga."
Alya hampir kagum.
Setelah obat penenang, gaun bekas, dan kamera kamar, Maya masih sanggup memakai kata keluarga.
Maya duduk. "Alya, Tante pikir kamu perlu pendamping untuk memahami saham itu. Dunia bisnis rumit. Jangan sampai kamu dimanfaatkan orang luar."
"Mas Raka bukan orang luar."
"Tapi dia sedang emosi."
Raka meletakkan cangkir. "Aku ada di sini."
Maya tersenyum padanya. "Justru karena itu Tante bicara terbuka. Kamu sedang marah pada Papa. Keputusan bisnis tidak baik diambil saat marah."
"Kalau keputusan bisnis yang tenang berarti menjadikan Alya alat pertunangan, aku lebih suka marah."
Baskara berdiri. "Cukup."
Ponsel Maya berbunyi. Ia melihat layar, lalu wajahnya berubah.
"Dari Bu Santoso."
Baskara langsung berkata, "Angkat."
Maya mengangkat dengan mode speaker setelah melihat semua orang menunggu.
Suara Bu Santoso terdengar dingin. "Maya, kami sudah cukup sabar. Rekaman itu makin menyebar. Kevin tidak bisa keluar rumah. Kalau keluarga kalian tidak membantu meredam, kami akan menarik semua proyek dan bicara ke media."
Maya melirik Alya. "Kami sedang berusaha."
"Berusaha saja tidak cukup. Kami butuh pernyataan Alya."
Alya mengangkat wajah.
Bu Santoso melanjutkan, "Dia harus mengatakan bahwa hubungannya dengan Kevin baik-baik saja. Tidak perlu membahas Livia. Cukup tunjukkan bahwa keluarga masih saling percaya."
Baskara berkata, "Kami akan atur."
Alya menyeka bibir dengan serbet. "Tidak."
Sunyi di ujung telepon.
Bu Santoso bertanya tajam, "Itu Alya?"
"Iya."
"Anak kecil, jangan merasa menang hanya karena memegang satu rekaman."
"Saya tidak merasa menang."
"Lalu kenapa terus mempersulit?"
"Karena Kevin belum meminta maaf."
Bu Santoso tertawa dingin. "Minta maaf pada perempuan yang jelas-jelas mencari perhatian?"
Alya berdiri. "Terima kasih, Bu. Kalimat itu terekam dengan jelas."
Maya panik mematikan speaker, tetapi terlambat.
Bu Santoso ikut diam.
Alya memegang ponselnya sendiri. "Mulai sekarang, semua percakapan dengan keluarga Santoso sebaiknya melalui pengacara. Saya lelah mendengar orang kaya menganggap korban sebagai gangguan."
Ia keluar dari ruang makan.
Raka menyusul beberapa menit kemudian. "Kamu mau ke sekolah?"
"Ya."
"Setelah semua ini?"
"Justru setelah semua ini."
Raka menghela napas. "Aku antar."
"Mas ke kantor. Aku bersama Rafi."
"Alya."
Alya berhenti. "Mas Raka, kalau Mas ingin membantuku, jangan berdiri di depanku terus. Berdiri di tempat yang memang harus Mas jaga."
Raka memahami maksudnya.
Kantor.
Ia mengangguk. "Hati-hati."
Di sekolah, isu tentang Alya semakin liar. Ada yang bilang ia pemilik saham. Ada yang bilang ia membuat keluarga Santoso hancur. Ada yang bilang ia anak tidak tahu diri yang baru pulang langsung merebut warisan.
Kesha menyambutnya dengan dua kotak susu dan wajah bersemangat.
"Aku suka hari-harimu. Tidak pernah membosankan."
"Kamu terlalu mudah terhibur."
"Benar. Jadi, kamu ikut seleksi olimpiade nanti?"
"Ikut."
"Bagus. Aku butuh teman yang tidak bodoh."
Alya menatapnya.
Kesha mengangkat tangan. "Maksudku, yang sengaja tidak bodoh."
Sebelum pelajaran dimulai, Dinda masuk ke kelas 12-B. Ia tampak pucat tetapi tetap cantik. Kali ini tidak membawa kue, tidak membawa senyum berlebihan.
"Kak Alya, Mama minta aku pulang lebih dulu hari ini. Tapi aku ingin bilang sesuatu."
Siswa lain langsung memperhatikan.
Dinda menarik napas. "Aku minta maaf kalau kemarin membuat Kakak tidak nyaman."
Kalimat itu aman.
Tidak mengaku salah, tetapi terlihat rendah hati.
Alya bertanya, "Untuk yang mana?"
Dinda mengangkat wajah. "Apa?"
"Yang mana yang membuatku tidak nyaman? Pura-pura pingsan, membiarkan Kevin, atau membantu Mama mengawasi aku?"
Kelas langsung hening.
Wajah Dinda memerah. "Kakak selalu memojokkanku."
"Aku hanya meminta spesifik."
Air mata Dinda muncul lagi, tetapi kali ini beberapa siswa tidak langsung iba. Kesha bahkan menyesap susu dengan santai.
Guru masuk tepat waktu, menyelamatkan Dinda. Ia keluar dengan mata basah, tetapi efeknya tidak sekuat sebelumnya.
Kesha berbisik, "Dia biasanya tidak pernah kalah."
"Tidak ada yang selalu menang."
"Termasuk kamu?"
Alya membuka buku. "Termasuk aku."
Sore hari, Rafi menjemput Alya di gerbang. Namun sebelum ia masuk mobil, seorang kurir menghampiri.
"Paket untuk Alya Wiratama."
Rafi langsung mengambil alih. "Dari siapa?"
Kurir mengangkat bahu. "Tidak ada nama."
Alya melihat kotak kecil itu. "Buka di mobil."
Di dalam mobil, Rafi membuka paket dengan sarung tangan. Isinya foto Eyang Laras sedang duduk di teras rumah Kaliurang. Foto itu baru, diambil dari jarak jauh.
Di belakangnya ada tulisan:
Kalau kamu terus mengganggu Santoso, orang tua di desa bisa jatuh sakit kapan saja.
Udara di mobil berubah dingin.
Alya mengambil foto itu, menatap wajah Eyang yang tidak tahu sedang diawasi.
Rafi berkata pelan, "Aku kirim orang ke Kaliurang sekarang."
"Kirim dua tim."
"Santoso?"
"Mungkin. Atau seseorang yang ingin aku percaya itu Santoso."
Alya menyimpan foto ke dalam tas.
Di kehidupan lalu, mereka membunuh Eyang ketika Alya sudah terlalu lemah untuk melawan.
Kali ini, siapa pun yang menyentuh Eyang akan belajar bahwa Alya tidak lagi menunggu sampai pemakaman.
Ia menelepon Eyang malam itu juga. Suara Eyang terdengar biasa, bahkan sedikit kesal karena Alya menanyakan hal yang sama berkali-kali: sudah makan, sudah minum obat, pintu belakang terkunci atau belum. Namun di akhir panggilan, Eyang berhenti bercanda.
"Ada yang terjadi, ya?"
Alya memandang foto di tangannya. "Tidak ada yang perlu Eyang khawatirkan."
"Kalau kamu bilang begitu, berarti ada banyak hal."
Alya menutup mata sebentar. "Aku akan jaga Eyang."
Eyang tertawa pelan. "Jaga dirimu dulu. Aku ini sudah tua, tapi belum rapuh."
sekarang malah jadi Rafi yang berubah jadi "bayang"🤔