NovelToon NovelToon
Penjelajah Malam (The Nightwalker: After 2012)

Penjelajah Malam (The Nightwalker: After 2012)

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Lain / Horor / Action / Fantasi
Popularitas:304
Nilai: 5
Nama Author: Origin-Reynvold

Ketika matahari terbenam, dunia gaib dan nyata melebur menjadi neraka yang dipenuhi makhluk mengerikan. Hanya para Esper—manusia yang mampu mengendalikan energi spiritualnya—yang menjadi benteng terakhir umat manusia melawan penguasa kegelapan.
Ryan memilih menarik diri dari dunia luar. Selain karena dikucilkan oleh lingkungan sekitar, ia sama sekali tidak tahu bahwa rasa malasnya adalah satu-satunya hal yang menahan kehancuran dunia—atau justru mempercepatnya?
Namun, takdir sialan tidak membiarkannya hidup dengan tenang. Sebuah tantangan besar yang dibalut tragedi mengerikan tiba-tiba mendobrak masuk, dan mengancam nyawa orang-orang di sekitarnya.
Di ambang keputusasaan dan di tengah emosi yang meluap, apakah Ryan akan menemukan alasan untuk mulai bekerja keras demi menjadi lebih kuat? Ataukah situasi ini justru akan memaksa kekuatan besar yang tertidur di dalam dirinya lepas kendali, bahkan sebelum ia sempat mempelajarinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Origin-Reynvold, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rumah Tanpa Jalan Pulang

Begitu dinding penghalang dimensi menutup sepenuhnya, gelombang kejut menyapu kabut tebal yang menyelimuti kawasan itu. Perlahan, kabut menghilang diterpa cahaya mentari pagi.

Suara gemuruh pertarungan di dalam sana mendadak lenyap.

Di bawah siraman cahaya fajar yang samar-samar menembus awan kelabu, siluet beberapa orang mendadak muncul dari balik tikungan jalan.

Sekelompok pria bertubuh tegap dengan seragam antipeluru berwarna biru gelap merangsek maju, memegang pistol mereka dalam posisi siap siaga. Itu adalah tim patroli Nightguard yang berkeliling di sekitar dinding penghalang gaib.

Johandi mendengus pelan, menumpu kedua lututnya yang gemetar. Ia menyeka keringat bercampur debu yang mengotori wajahnya, lalu mendongak menatap seorang unit patroli yang melangkah mendekat dengan ekspresi tegang.

"Komandan Jo!”

Johandi memijat lehernya yang terasa kaku, lalu melirik ke arah langit yang mulai memutih di ufuk timur.

"Sudah jam berapa sekarang?"

"Sudah jam 7 pagi, Pak."

Artinya, satu hari penuh telah berlalu sejak mereka pertama kali terjebak di dalam dimensi terkutuk itu. Waktu di dalam sana berjalan begitu kacau, memanipulasi kesadaran mereka hingga fajar baru ini terasa seperti sebuah ilusi.

“Evakuasi semua siswa yang selamat ke markas pusat," perintah petugas patroli itu melalui radio di bahunya.

"Siapkan tim medis dan segera lakukan pendataan."

Ruang tunggu utama kantor Nightguard terasa pengap, berbaur dengan pekatnya bau kopi murahan dari mesin otomatis di sudut ruangan. Beberapa jam telah berlalu sejak armada evakuasi menurunkan mereka di tempat ini.

Ryan duduk di atas kursi plastik kelabu dengan posisi bersandar santai. Di balik kacamata kotak berbingkai hitamnya, pemuda itu menatap lurus ke depan dengan ekspresi datar.

Di sekelilingnya, suasana berubah menjadi panggung drama yang bising. Satu per satu, pintu kaca besar di area depan terbuka lebar, menampilkan wajah-wajah panik dari para orang tua murid yang datang dengan air mata bercucuran.

Isak tangis kebahagiaan dan pelukan erat segera memenuhi ruangan begitu mereka menemukan anak-anak mereka berhasil keluar hidup-hidup dari petaka malam itu.

Dari sudut matanya, Ryan memperhatikan interaksi tersebut tanpa minat, seolah-olah tontonan emosional di hadapannya hanyalah sebuah iklan televisi yang membosankan.

Langkah kaki yang ragu mendekat ke arah tempat duduk mereka. Isabella, dengan seragam sekolah yang kotor dan robek di beberapa bagian, berdiri di hadapan Ryan, Rahman, dan Agil.

Sisa-sisa ketakutan masih membekas jelas di wajahnya yang pucat, namun matanya memancarkan rasa terima kasih yang mendalam.

"Ryan... Rahman, Agil..." Isabella berdeham pelan.

"Terima kasih banyak untuk semuanya. Kalau bukan karena kalian... aku mungkin tidak akan pernah kembali."

Agil mendengus pelan sembari memalingkan wajah, menyembunyikan rasa canggung di balik rambut pirang kusamnya yang berantakan. Sementara Rahman tersenyum tipis, hendak membalas ucapan siswi tersebut.

"Sama-sama, Isabella. Yang penting kamu—"

"Isabella!"

Sebuah teriakan histeris memotong kalimat Rahman. Sepasang suami istri paruh baya dengan pakaian rapi namun kusut bergegas berlari menembus kerumunan.

Sang ibu langsung menyergap tubuh Isabella, memeluknya dengan begitu erat.

"Astaga, Nak! Kamu tidak apa-apa? Ayo, kita pulang sekarang!"

Sementara itu, sang ayah melayangkan tatapan penuh kecurigaan ke arah Ryan. Tangan gadis itu segera ditarik dengan paksa, menuntunnya melangkah menjauh dengan tergesa-gesa menuju pintu keluar.

Isabella hanya sempat menoleh ke belakang sekali, memberikan tatapan meminta maaf yang pasrah sebelum siluet tubuhnya tenggelam di balik pintu kaca yang tertutup rapat.

Perlahan, keramaian di ruang tunggu itu mulai menyusut seiring dengan perginya para siswa yang dijemput. Hingga akhirnya, di sudut ruangan yang remang itu, hanya tersisa tiga orang saja yang masih bergeming di tempatnya.

Ryan, Rahman, dan Agil.

Rahman mengembuskan napas panjang yang terdengar sangat lelah, membiarkan tubuhnya merosot lebih dalam di atas kursi.

"Akhirnya sepi juga," gumam Agil memecah kesunyian, menatap ujung sepatunya yang dipenuhi noda tanah kering.

Di sudut ruang tunggu yang mulai sunyi, televisi tabung yang terpasang di dinding tiba-tiba memecah keheningan. Setelah suara gemerisik statis sesaat, muncul gambar seorang penyiar berita wanita dengan raut wajah tegang.

"...Melaporkan langsung dari lokasi kejadian, sebuah tragedi supranatural berskala besar baru saja melanda SMK Media Kota Cirebon dini hari tadi. Berdasarkan data sementara yang kami terima, terdapat sejumlah korban jiwa dari sisa-sisa siswa yang tertahan di area sekolah. Namun, otoritas setempat mengonfirmasi mayoritas guru dan murid sudah lebih dahulu pulang sebelum distorsi dimensi sepenuhnya mengisolasi wilayah tersebut..."

Mendengar penuturan itu, Rahman bisa bernapas sedikit lega. Sekolah mereka tidak hancur total, dan jumlah mayat yang tergeletak ternyata tidak sebanyak dugaannya.

Belum sempat ia berucap, layar televisi mendadak berganti dengan gambar Breaking News merah menyala.

"...Kami baru saja menerima laporan darurat. Sebuah insiden kebakaran hebat melanda kawasan perumahan lama yang terletak hanya beberapa blok dari kantor pusat Nightguard. Dilaporkan, satu unit rumah dengan arsitektur khas bergaya tahun 90-an hancur total dilalap api hingga nyaris rata dengan tanah..."

DEG.

Dunia di sekitar Ryan seolah berhenti berputar seketika.

Kacamata kotak berbingkai hitamnya bergeser turun saat seluruh tubuhnya mulai bergetar hebat.

"Satu-satunya rumah berarsitektur 90-an di sektor itu...”

Kalimat-kalimat dari televisi itu mendadak terngiang berulang-ulang di kepala Ryan. Darahnya terasa membeku.

Itu rumahnya.

Itu keluarganya.

"Ryan? Kamu kenapa?" Rahman yang menyadari perubahan drastis pada wajah Ryan melangkah mendekat dengan dahi berkerut cemas.

Ryan tidak menjawab. Pertanyaan Rahman bagai angin lalu yang menguap di udara. Dengan satu sentakan kasar, Ryan bangkit dari kursinya. Sebelum Rahman atau Agil sempat memproses apa yang terjadi, siluet Ryan sudah melesat, berlari memotong lurus menuju pintu keluar utama.

"Hei! Ryan! Tunggu!" teriak Agil, spontan ikut melompat dari posisinya.

"Ryan, jangan keluar dulu!" beberapa petugas administrasi Nightguard di meja depan mencoba menghalangi jalannya dengan mengangkat tangan. Namun, aura dingin yang mendadak menguar dari tubuh Ryan—membuat para petugas itu tersentak mundur secara instinktif akibat tekanan intimidasinya.

Ryan menerobos pintu kaca tanpa memedulikan seruan di belakangnya. Rahman dan Agil yang tidak punya pilihan lain segera menyusul, berlari kencang menerjang koridor luar demi mengejar rekan mereka yang tampak seperti kehilangan kendali.

Begitu menapakkan kaki di aspal jalanan luar, Ryan melirik liar ke segala arah. Matanya menyusuri garis langit pagi yang mulai benderang, hingga akhirnya terpaku pada sisa-sisa kepulan asap hitam tebal yang membubung rendah di antara sela-sela bangunan beton beberapa ratus meter di depan sana.

Ryan memacu langkahnya secepat mungkin.

Teriakan Rahman dan Agil perlahan tenggelam di belakangnya.

Ia terus berlari tanpa menoleh. Dadanya terasa semakin panas setiap kali menarik napas.

Pikiran-pikiran buruk saling berebut memenuhi kepalanya.

Siapa pelaku pembakaran itu? Mengapa keluarganya yang harus membayar harganya?

Sepanjang hidupnya, ia tidak pernah sepanik dan seputus asa ini.

Langkah kakinya membawa Ryan berbelok tajam memasuki kawasan sektor perumahan lama. Jalur aspal di sana sudah dipenuhi oleh mobil polisi, beberapa truk pemadam kebakaran yang masih menyemprotkan sisa-sisa air, serta kerumunan warga setempat yang berbisik-bisik di balik garis polisi kuning menyala.

Di pusat kekacauan itu, rumah yang dulunya berdiri kokoh dengan dinding semen tebal dan atap genting tua kini telah berubah menjadi kerangka hitam yang mengerikan. Puing-puing kayu yang masih membara runtuh di sana-sini, menyingkap isi dalam rumah yang kini terbuka lebar tanpa sekat, hangus terpanggang abu.

Sekilas, memori tentang aroma masakan rumah, tawa hangat, dan sudut tempat tinggalnya yang familier terlintas begitu saja di kepala Ryan, berbenturan keras dengan realitas visual yang ada di hadapannya.

Tepat di depan sisa bangunan itu, sesosok pria bertubuh tegap dengan jaket berlogo Nightguard berdiri membelakangi jalan, menatap lurus ke arah episentrum bekas kobaran api.

Ryan melangkah menerobos kerumunan, mengabaikan seruan peringatan dari seorang polisi yang mencoba menahannya. Suaranya yang biasa datar kini bergetar parah, pecah di tengah keheningan pagi yang kelabu.

"Om Jo...?"

Ryan menarik napas pendek, mencoba menahan gejolak di dadanya. "Apa... apa yang terjadi?"

Mendengar suara yang sangat ia kenali, Johandi tersentak kecil dan berbalik. Sepasang mata sang Esper senior melebar sesaat, dipenuhi keterkejutan yang nyata saat mendapati keponakannya sudah berdiri di sana dengan napas terengah-engah.

Johandi sama sekali tidak menyadari kedatangan Ryan. Padahal, sebelum ia bergegas ke lokasi ini, ia sudah memberikan perintah tegas kepada beberapa bawahannya di markas untuk mengawasi dan menjaga Ryan agar tetap berada di ruang tunggu yang aman, mengisolasinya dari berita buruk ini sejenak.

Namun kini, semua sudah terlambat.

Pria paruh baya yang biasanya selalu punya jawaban atas segala situasi kini mendadak kehilangan kata-kata. Perlahan menundukkan kepalanya dalam-dalam, menghindari tatapan menuntut dari balik kacamatanya.

Ryan terus melangkah.

Kantong jenazah pertama baru saja diletakkan di atas aspal.

Setiap langkahnya terasa begitu berat dan gemetar, seolah-olah tanah tempatnya berpijak siap runtuh dan menenggelamkannya ke dalam kegelapan yang tak berujung.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!