Enam tahun membina rumah tangga, Kirana merasa pernikahannya dengan Aris adalah definisi kebahagiaan yang sempurna. Namun, semua hancur saat Kirana menemukan kenyataan bahwa Aris kembali menjalin hubungan rahasia dengan Sarah, mantan kekasihnya yang dulu gagal dinikahi karena terganjal restu. Alih-alih menangis dan meminta cerai begitu saja, Kirana memilih jalan yang lebih gelap: menghancurkan Aris dari dalam dengan mendekati Bimo, sahabat karib sekaligus rekan bisnis Aris. Sebuah permainan ego, pengkhianatan, dan cinta yang keliru pun dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinarta Firdaus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MALAM DI APARTEMEN YANG TERSEMBUNYI
Di dalam lift yang bergerak naik menuju lantai 18, tidak ada kata-kata yang terucap. Ketegangan di antara mereka sudah melampaui batas verbal. Tangan mereka bertautan erat, saling menyalurkan panas tubuh yang terangsang oleh alkohol dan emosi yang meluap-luap.
Begitu pintu apartemen studio terbuka, Bimo langsung menutupnya dengan tendangan kaki, membiarkan kunci otomatis berbunyi klik di kegelapan. Tanpa sempat menyalakan lampu utama, di bawah temaram cahaya lampu jalanan kota yang masuk melalui jendela kaca besar, mereka kembali berciuman dengan lebih liar.
Bimo membimbing Kirana menuju tempat tidur berukuran queen size di sudut ruangan. Setiap helai pakaian yang terlepas dari tubuh mereka malam itu terasa seperti pelepasan beban masa lalu yang mengikat. Gaun hijau zamrud Kirana jatuh ke lantai, disusul oleh kemeja flanel Bimo.
Malam itu, di atas ranjang yang asing, batasan suci pernikahan enam tahun Kirana resmi hancur berkeping-keping. Namun, Kirana tidak merasa bersalah. Setiap kali Bimo menyentuhnya dengan kelembutan yang memuja, setiap kali pria itu membisikkan namanya dengan nada penuh cinta di antara desah napas mereka, Kirana memejamkan matanya dan membayangkan wajah Aris.
“Satu sama, Aris,” batin Kirana, air matanya menetes di bantal saat tubuhnya menyatu dengan Bimo. “Kamu menghancurkan kepercayaanku di Bali dengan mantanmu, dan malam ini aku menghancurkan kehormatanmu di Jakarta dengan sahabat terbaikmu. Kita berdua adalah pendosa sekarang.”
Bimo memeluk Kirana dengan begitu posesif, seolah-olah jika ia melepaskan pelukannya sedikit saja, wanita itu akan menguap menjadi ilusi malam. Bagi Bimo, malam ini adalah puncak dari segala penantian gila dalam hidupnya. Ia tidak peduli lagi jika esok hari ia harus kehilangan reputasinya sebagai pengacara, ia tidak peduli jika ia harus kehilangan persahabatannya dengan Aris, dan ia tidak peduli jika ia hanya menjadi alat pemuas dendam bagi Kirana. Malam ini, Kirana adalah miliknya secara mutlak.
Keesokan paginya, rintik hujan telah reda, digantikan oleh cahaya matahari pagi yang pucat dan dingin yang menembus celah gorden apartemen studio.
Kirana terbangun terlebih dahulu. Ia merasakan lengan kekar Bimo masih melingkar protektif di pinggangnya. Ia menatap langit-langit kamar selama beberapa menit, mengumpulkan kembali kesadarannya yang sempat tercerai-berai oleh alkohol semalam. Rasa pusing tipis menyerang kepalanya, namun pikirannya kini terasa jauh lebih jernih dan dingin daripada sebelumnya.
Ia menoleh ke samping, menatap wajah Bimo yang masih tertidur pulas. Gurat wajah pria itu tampak begitu tenang, sangat berbeda dengan ekspresi tegang penuh beban hukum yang biasanya ia tampilkan di kantor. Kirana mengulurkan tangannya, mengusap rambut Bimo dengan sangat perlahan agar tidak membangunkan pria itu.
Ada rasa terima kasih yang tulus di hati Kirana untuk Bimo, namun di saat yang sama, sisi dingin dari rencana pembalasan dendamnya kembali mengambil alih kendali otaknya. Bidak pertama telah melangkah melewati batas aman. Bimo kini tidak akan bisa mundur lagi. Pria itu telah terikat secara emosional dan dosa fisik dengannya, menjadikannya sekutu paling setia yang akan mengeksekusi sisa rencana penghancuran Aris tanpa ragu.
Kirana perlahan bergeser keluar dari tempat tidur, memakai kembali pakaiannya yang berserakan di lantai. Ia berjalan menuju jendela kaca besar, memandangi pemandangan kota Jakarta di pagi hari yang mulai sibuk.
Ia mengambil ponsel cadangannya yang ia letakkan di atas meja kerja kecil di sudut ruangan. Ada beberapa panggilan tak terjawab dari Siska, sekretaris Aris, dan satu pesan singkat dari nomor Aris yang dikirim dua jam lalu: "Pagi, Sayang. Pertemuan dengan investor di Bali berjalan sangat lancar. Aku merindukanmu. Besok sore aku pulang."
Kirana menatap pesan itu dengan senyum sinis yang mengembang di bibirnya. Ia mengetik jawaban dengan jari-jari yang stabil, tanpa ada getaran keraguan sedikit pun: "Baguslah kalau lancar, Aris. Aku juga sangat merindukanmu di rumah. Hati-hati di jalan pulang."
Setelah mengirim pesan itu, Kirana berbalik dan melihat Bimo yang mulai menggeliat terbangun dari tidurnya. Pria itu membuka matanya, menatap Kirana yang berdiri di dekat jendela dengan siluet cahaya pagi, dan seulas senyum penuh cinta langsung terukir di wajahnya.
"Pagi, Kirana..." suara Bimo terdengar serak khas orang baru bangun tidur. Ia merentangkan tangannya, mengundang Kirana untuk kembali ke pelukannya.
Kirana berjalan mendekati ranjang, duduk di tepinya, dan membiarkan Bimo menggenggam tangannya sekali lagi. "Pagi, Bimo. Sekarang... mari kita selesaikan bagian akhir dari cerita Aris," ucap Kirana dengan nada suara yang lembut namun sarat akan ancaman yang mematikan bagi suaminya yang sedang berada di Bali.
Batasan telah dilewati, dan jalan menuju kehancuran total Aris kini telah terbuka lebar tanpa ada jalan untuk kembali pulang.