NovelToon NovelToon
HITAM

HITAM

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:515.9k
Nilai: 4.8
Nama Author: musbich

Tidak pernah terbayangkan jika perempuan urakan sepertiku pada akhir nya bisa menikah dengan lelaki pilihan papa yang katanya tampan, baik dan kaya melintir.

Aku terinspirasi dari pernikahan adikku yang berakhir bahagia karena pilihan papa.

Awalnya semua berjalan sesuai harapan, akad nikah yang sakral, resepsi yang mewah dan perlakuan suamiku yang teramat sangat baik. Tapi itu hanya mimpi selama dua hari di hidupku.

Enrico Putra Deisanto, seorang pengusaha dalam bidang farmasi yang menikahiku saat ini. Dia membawaku pulang ke sebuah rumah megah bak istana dengan puluhan pembantu.

Disinilah kisah hitamku dimulai, aku yang mencintainya pada pandangan pertama harus rela mengubur mimpiku untuk hidup bahagia dengan nya. Akhirnya aku tahu dia menikahiku karena paksaan ibu nya yang sedang sakit parah dan bukan kemauan nya sendiri.

Penderitaanku tak berhenti di situ, dengan santainya dia membawa pulang seorang perempuan yang akan tinggal satu rumah dengan kami. Seorang perempuan yang katanya sangat dia sayangi. Kalian tidak akan bisa membayangkan bagaimana jika seorang suami membawa perempuan lain di depan istri sah nya.

ini kisah saya,
ini cerita saya,
saya pemeran utamanya,

lalu apa posisi perempuan itu?

Aku harap dia hanya pemeran pembantu atau pelengkap latar yang hanya bisa diam, aku tetaplah pemilik suamiku yang sah...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon musbich, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

CHELSEA ARBIANSYAH POINT OF VIEW:

🦋🦋🦋

“Aku mencintaimu,” kata enrico tiba tiba yang membuat jantungku hampir berhenti.

Setelah itu jantungku berubah haluan menjadi berdetak tiga kali lebih cepat, aku memegaangi dadaku supaya enrico tidak mendengar detak jantungku. Bagaimanapun posisi kami saat ini sangat dekat, bisa saja dia mendengar detak jantungku yang sudah tak karuan saat ini.

Pipiku mungkin sudah bersemu merah, hanya saja aku berpaling memunggungi nya supaya dia tidak bisa melihat wajahku yang tegang karena ucapan nya barusan. Tapi aku sekarang mencoba berpikir realistis, mungkin dia sedang bercanda. Jadi aku mulai menetralkan hatiku lagi supaya tidak terbawa suasana. Aku takut jika ternyata ini hanya usaha nya untuk mengerjaiku.

“Kebanyakan becanda sampe perasaanku dibuat bercanda, jangan suka mempermainkan perasaan orang lain,” kataku mencoba menetralkan rasa yang baru saja naik ke puncak teratas layak nya roaler coaster.

“Aku serius,” kata enrico lagi yang mungkin saja bisa meledakkan isi hatiku tapi ku tahan karena gengsi, dia sudah menolakku waktu itu mana mungkin dia bisa mempermainkan ku untuk yang kesekian kali nya.

“Lupakan, kita urus surat perceraian kita besok,” kataku cepat mencoba berbicara setenang mungkin masih memunggungi nya dengan hati yang tak karuan.

Sebuah tangan kekar memelukku dari belakang tepat di pinggangku. Sebuah napas berat berhembus tepat berada di tengkukku yang membuatku geli. Tangan satu nya mulai menyingkirkan rambutku agar leherku terekspose bebas, beberapa kecupan dan hisapan lembut ada di leherku yang membuatku memejamkan mata merasakan gelenyar aneh yang menyerang tubuhku.

Ciuman yang awal nya berada di leherku sekarang sudah ada di bibirku. Dia menghisap bibirku dengan lembut berbeda dengan perlakuan nya kemarin padaku.

“Hentikan,” kataku tiba tiba saat wajah Alina muncul dalam pikiranku.

Aku mulai menyingkirkan tubuh nya yang sedikit menindih tubuhku, aku mulai terduduk di ujung kasur.

“Maafkan perlakuanku kemarin,” kata enrico mulai mengusap rambut nya kasar.

“Tersenyum bukan berarti pulih,” kataku lirih mulai melipat tanganku di dada dan menghembuskan napas berat.

“Aku benar benar minta maaf,” kata enrico mulai menyentuh pipiku yang memar membiru karena tamparan nya yang keras kemarin malam.

“Aku benar benar menyesal, aku bahkan membenci diriku sendiri karena telah menyakitimu,”

“Sudahlah, uda terjadi mau gimana lagi,”

“Aku tahu permintaan maafku tidak akan mampu menghapus semua salahku, tapi aku tulus,” kata nya menatapku dalam dan tidak ku lihat ada kebohongan dalam tatapan nya.

“Aku sudah memaafkanmu sebelum kamu minta maaf,” sahutku pelan.

“Benarkah?” Tanya enrico dengan senyum nya yang menawan.

“Tapi kita tetap harus mengurus surat cerai kita,” kataku singkat.

“Berikan aku kesempatan,” kata enrico seraya memelukku yang membuat hatiku bimbang.

Apa dia benar benar sudah mencintaiku?

Tapi kenapa cepat sekali?

Apa aku bisa mempercayai ini?

Tidak ada jawaban dariku, aku masih mematung di tempat. Aku masih merasakan kehangatan tubuh enrico yang memelukku dengan erat. Perlahan dia mulai melepas pelukan nya dan memegang kedua pipiku lembut kemudian mengecup bibirku sebentar dengan lembut pula.

“Kita mulai dari awal,” kata enrico pelan seraya menyelipkan anak rambutku yang sedikit berantakan.

Aku sedikit terkejut ketika dia mulai menggendong tubuhku dan merebahkanku di ranjang milik nya. Dia mulai menyelimutiku dan ikut berbaring di sampingku.

“Tidurlah, kamu pasti lelah,” katanya lembut.

Dia mulai memejamkan mata nya dan memelukku dengan erat.

“Enrico,” panggilku pelan.

“Hem?” dia masih memejamkan matanya.

“Aku tidak bisa tidur,”

“Kenapa?” dia mulai membuka mata nya dan memperhatikan wajahku.

“Kamu memelukku terlalu erat,” kataku pelan dengan wajah yang memerah.

Dia mulai terkekeh dan melepaskan pelukan nya perlahan. Dan malam itu kami tidur bersama tanpa melakukan apapun.

🦋🦋🦋

Saat shubuh tiba, ada usapan lembut di pipiku. Aku membuka mataku malas, ku lihat enrico yang sudah duduk di depanku dengan penampilan nya yang sudah fresh menggunakan sarung. Aku langsung membelalakkan mataku karena terpesona dengan ketampanan nya saat ini.

Benar benar terlihat sempurna, apalagi saat dia tersenyum padaku seperti saat ini. Aku berpura pura mengucek mataku ingin melihat reaksi nya jika aku pura pura ingin tidur lagi. Apakah dia akan mengguyurku dengan air seperti dulu?

Aku menunggu nya beberapa menit tapi tidak ada apapun yang terjadi padaku. Aku mencoba membuka mataku dan sedang melihat nya sholat. Aku masih memperhatikan nya dengan terbaring di atas ranjang. Usai berdoa dia menghampiriku lagi.

“Nggak sholat?” Tanya nya lembut.

Aku mencoba duduk perlahan seraya mengikat rambutku. Aku bergegas ke kamar mandi dan mengambil air wudlu kemudian mengambil mukenah yang sudah disediakan oleh nya.

Dia meninggalkanku sendiri di kamar. Setelah sholat, aku masih rebahan di atas kasur nggak jelas. Aku tidak pergi ke dapur karena di rumah mertuaku pasti sudah ada pembantu yang memasak. Lagipula selera makan ibu mertuaku sudah pulih, jadi aku tidak membuatkan nya makanan manis lagi seperti kolak ataupun bubur sum sum dengan gula merah.

Lama sekali aku berada di dalam kamar nya sampai waktu menunjukkan pukul 6 pagi tapi enrico tidak juga kembali ke kamar. Akhirnya ku putuskan untuk keluar kamar dan melihat suasana apa yang terjadi di luar kamar.

Aku melihat enrico yang sedang menata sarapan dengan dua porsi di atas meja makan. Aku menghampiri nya dan mencoba melihat menu apa yang sedang dimasak nya.

“Apa yang kamu lakukan?” tanyaku.

“Makanlah, aku akan menemanimu sarapan sebelum berangkat bekerja,” kata enrico menyuruhku duduk.

Aku mulai memperhatikan nasi goreng ada di depanku dengan telur setengah matang. Aku mencoba memasukkan satu sendok nasi goreng buatan nya ke mulutku dan rasa nya lumayan hambar.

“Bagaimana? Kamu suka?” Tanya nya cepat.

“Hem, lumayan,” kataku mencoba menikmati masakan nya dengan telur mata sapi setengah matang buatan nya.

“Ini nama nya kurang asin,” kata nya yang mulai mencicipi masakan nya sendiri seraya memasukkan sesendok nasi goreng ke mulut nya.

“Yang penting kan bisa dimakan, bukan nya kamu nggak suka telur setengah matang?” kataku mulai menghabiskan nasi goreng buatan nya.

“Mulai terbiasa karenamu,” sahut nya santai.

“Loh, sudah pada makan?” Tanya ayah mertua.

“Nyicipin nasi goreng nya enrico, yah,” sahutku tersenyum.

“Aku mau mandi dulu, bentar lagi harus berangkat ke kantor,” kata enrico seraya menggengam tanganku lembut dan menarikku ke kamar.

“Apa aku harus menyiapkan pakaianmu?” tanyaku pelan.

“Hem, jika kamu tidak keberatan,” kata nya mulai menutup kamar dan mencari handuk serta masuk ke kamar mandi.

Beberapa menit kemudian dia sudah keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang dililitkan di pinggangbnya hingga tubuh nya yang seperti roti sobek itu terekspose begitu saja. Selain itu, dia juga menggunakan handuk lain nya untuk mengeringkan rambut nya saat ini.

“Tolong bantu aku keringkan rambutku,” ucap nya seraya menyerahkan handuk nya padaku.

Aku mulai berdiri dan mencoba mengeringkan rambut nya seraya berjinjit karena dia memang lebih tinggi dariku. Aku menelan ludahku karena tubuhku dan tubuh nya sempat beberapa kali bersentuhan ketika aku mengeringkan rambut nya.

Tiba tiba dia meraih pinggangku dan mengeratkanku pada tubuh nya, dia mulai menciumku dengan lembut. Aku yang terkejut dan hampir terjatuh tapi masih ditangkap oleh tangan kekar nya hanya bisa berpegangan di leher nya seraya membalas ciuman nya yang semakin lama semakin dalam dan menuntut.

Tangan nya yang mulai menyentuh setiap inchi tubuhku membuatku hanya bisa memejamkan mata menikmati semua permainan nya pagi ini. Dia mulai menggendongku dengan bibir kami yang masih menyatu. Kami melanjutkan ciuman kami di atas ranjang dengan tubuh nya yang menindih tubuhku.

“Apa aku boleh melakukan nya?” Tanya nya dengan wajah yang berkabut.

“Mmmhh…” aku bahkan belum bisa menjawab nya tapi dia sudah menyingkap dressku saat ini seraya menutup bibirku dengan bibir nya.

Jari jari nya masih aktif bermain di setiap inchi tubuhku membuatku hanya bisa memejamkan mata dan menikmati setiap hal yang dia lakukan padaku. Dia mulai menyatukan tubuh kami dan melakukan apapun yang ingin dia lakukan padaku.Tapi kali ini berbeda, dia benar benar melakukan nya dengan hati. Tidak ada rasa sakit yang ku rasakan seperti saat pertama kali kami melakukan nya, mungkin karena kali ini aku juga ingin melakukan nya. Cukup lama kami melakukan nya hingga akhirnya dia terkulai lemas di atas tubuhku. Dia menciumi bibirku beberapa kali dengan lembut.

“Maaf,” itu kata yang terucap dari bibir nya dengan tatapan tulus yang mendalam terhadap diriku. Dia mulai menyelimuti tubuh kami dan memelukku lebih erat lagi.

Drrrtttt…. Drrrtt…. Drrrrt…..

Suara getaran ponsel yang ada di atas nakas membuat tangan nya meraba nakas dan mendapatkan ponsel nya. Dia mulai melihat layar yang bisa ku lihat juga karena aku sedang ada di sebelah nya. Ada nama Zulfikar yang tertera di sana. Dia mulai mengusap layar ponsel nya dan menerima panggilan tersebut.

“Ada apa?” Tanya nya datar.

“Bos, ini sudah jam berapa? Apa bos tidak ingat jika hari ini ada meeting jam 10, ini bahkan sudah jam 8 lebih. Biasanya kan bos selalu tepat waktu, jam 7 sudah ada di kantor. Bos belum memeriksa dokumen nya lagi loh,” cerocos zulfikar tanpa henti.

“Iya, tunggu. Jam setengah sepuluh ku pastikan sampai di kantor,”

“Hah? Apa itu masuk akal? Apa bisa memeriksa document dalam waktu sesingkat itu,”

“Aku masih mau mandi,”

“Masih mau mandi??? Memangnya baru bangun jam berapa? Tidak biasa nya,” cerocos zulfikar.

“Kamu ini istri atau sekretarisku sih? Cerewet sekali,” gerutu enrico.

“Kalau bisa jam 9 uda sampai di kantor,”

“Kamu kirimkan soft file dokumen nya ke ponselku, akan ku periksa selama perjalanan ke kantor nanti,” kata enrico seraya menutup panggilan nya.

Dia menaruh ponsel nya lagi dan menatap mataku dalam sambil tersenyum.

“Aku mandi dulu, kamu membuatku mandi dua kali pagi ini,” kata enrico seraya mengusap pipiku lembut.

“Istirahatlah, kelihatan nya kamu sangat lelah,” kata nya lagi seraya meninggalkanku ke kamar mandi menggunakan handuk nya tadi.

Jangan lupa like, comment and vote ya guys 🙏🙏🙏😊

1
Icha
semangat nulisnya thor 💪😍
Aku mampir yahh dengan like dan rate nya, Jangan lupa mampir dan feedback ke novel ku yahh ❤Sabda Rindu❤
Terimakasih ditunggu kehadirannya 🥰
Isma Rismaya
seru
MamaNa Nazwa
mantap,,,hrs tegas celsi
MamaNa Nazwa
kecanduan ya babang enrico
Yunerty Blessa
makasih kak thor buat cerita nya.. mantap sekali.. sukses dan sehat selalu 😘😘
Yunerty Blessa
akhirnya tamat juga.. Enrico hidup bahagia bersama Chelsea dan anaknya.. makasih kak thor buat cerita nya 👍👍
Yunerty Blessa
sabar..tahan dulu..
Yunerty Blessa
dag dig dug nih..
Yunerty Blessa
Enrico lelaki lembik tak tegas 😠
Yunerty Blessa
Alina ditolong malah marah ..abaikan saja Chelsea..
Yunerty Blessa
makin seru nih..
Amora
Kita punya tugas yang sama , chelsea .
Yunerty Blessa
senang mereka bersatu kembali..
Amora
Sabar , entarkan jadi rebutan adek kakak . Ups ... bahkan sudah mulai diperebutkan 😉🤭
Amora
boleh juga di coba dengan ide ini
Amora
anda benar banget 🤤😋
Yunerty Blessa
yah Chelsea kembali bersama Enrico lagi
Yunerty Blessa
terima lah Enrico kembali Chelsea.. sudah cukup juga dia berkorban..
Yunerty Blessa
akhirnya Enrico dan Chelsea buka puasa lagi 🤣🤣
Yunerty Blessa
jujur saja Enrico tentang Alina
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!