Sinopsis
Selama delapan tahun bertahan hidup di dunia yang telah hancur akibat kiamat zombie, Lily Mahendra berjuang menghadapi kelaparan, monster, dan pengkhianatan. Namun, pada saat ia hampir mencapai harapan terakhirnya, sahabat yang paling ia percayai justru mendorongnya ke tengah gelombang zombie yang mengamuk.
Saat kematian tampak tak terhindarkan, Lily membuka mata dan mendapati dirinya kembali ke masa lalu—tepat satu minggu sebelum kiamat melanda.
Kali ini, ia tidak sendirian. Sebuah Sistem Bertahan Hidup misterius dan Ruang Dimensi yang penuh sumber daya hadir untuk membantunya. Dengan pengetahuan tentang masa depan dan kesempatan kedua yang tak ternilai, Lily bertekad mengubah takdirnya, membalas pengkhianatan yang pernah ia alami, serta melindungi orang-orang yang benar-benar layak dipercaya.
Akankah Lily mampu bertahan dan membangun kehidupan yang lebih baik di tengah kehancuran dunia? Atau akankah takdir kembali menyeretnya menuju akhir yang sama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arju na, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 16 – CERITA AURORA
Malam itu yang mendapat giliran berjaga adalah Lily dan Lea.
Alasan mereka yang berjaga bukan tanpa sebab. Kemampuan bertarung anggota keluarga yang lain masih belum maksimal. Karena itu, Lily dan Lea yang memiliki kemampuan lebih baik memilih mengambil tugas jaga malam.
Angin malam berhembus pelan.
Langit terlihat cerah dengan bulan yang bersinar terang di antara hamparan bintang.
Saat sedang menikmati suasana malam, Lea tiba-tiba berbicara.
"Lo pernah kepikiran nggak sih? Dulu kehidupan kita cuma sekolah, pulang, terus main sama teman. Eh, sekarang malah jadi begini."
Lea tersenyum pahit.
"Kadang gue mikir, kenapa dunia bisa kiamat secepat ini. Tapi di sisi lain gue juga bersyukur karena Mommy, Daddy, Bang Alex, dan lo masih ada di samping gue. Kalau kalian nggak ada, gue nggak tahu harus jalanin hidup gimana."
Lily terdiam beberapa saat sebelum menjawab.
"Gue juga bersyukur kalian semua masih hidup, Kak. Kalau lo dan yang lain nggak ada..."
Lily menggantung kalimatnya.
Mungkin gue bakal kehilangan arah lagi seperti kehidupan gue yang lalu.
Kalimat itu hanya ia ucapkan dalam hati.
Lea tidak mengetahui rahasia kehidupan sebelumnya yang dimiliki Lily.
Saat mereka berdua sedang menikmati angin malam, tiba-tiba seseorang menepuk pundak Lily.
Lily menoleh.
Ternyata Aurora berdiri di belakang mereka.
"Boleh gabung?" tanya Aurora dengan suara lembut.
"Emm, boleh. Duduk aja, nggak ada yang ngelarang," jawab Lily santai.
Aurora tersenyum lalu duduk di antara Lily dan Lea.
"Kak, terima kasih ya udah nolong aku, Bang Evan, sama Mami. Kalau nggak ada Kakak, mungkin kami sekarang udah jadi zombie."
Tatapan Aurora penuh rasa syukur.
"Santai aja. Gue juga kenal sama abang lo. Makanya gue nolong."
Aurora mengangguk mengerti.
Mereka pun mengobrol santai.
Mulai dari sekolah, teman-teman, hingga kehidupan setelah kiamat.
Tanpa terasa waktu terus berjalan hingga menjelang subuh.
Karena kelelahan, Lily akhirnya tertidur dengan kepala bersandar di pangkuan Lea.
Kini hanya tersisa Lea dan Aurora yang masih terjaga.
Lea menatap adiknya dengan lembut.
"Dia udah kerja keras sejak awal kiamat."
Tangannya mengusap rambut panjang Lily.
"Gue juga jarang lihat dia istirahat. Kadang gue kagum sama keberanian adik gue. Nggak kayak gue yang penakut."
Aurora ikut menatap Lily.
Ada rasa kagum di matanya.
"Hemm... aku juga ingin kuat kayak Kak Lily supaya bisa melindungi Mami."
Lea tersenyum kecil.
"Lo nggak ada niatan buat lindungin abang lo juga?"
Aurora langsung menggeleng.
"Untuk apa aku lindungi dia? Dia kan udah kuat."
Aurora tertawa kecil sebelum kembali serius.
"Yang jadi prioritas utama aku itu Mami. Bagaimanapun juga, Mami satu-satunya orang tua yang aku punya sekarang setelah Papi berubah jadi zombie."
Matanya mulai berkaca-kaca.
Lea yang penasaran akhirnya bertanya.
"Kalau boleh tahu, gimana ceritanya Papi lo bisa berubah jadi zombie sementara lo, abang lo, dan Mami lo nggak berubah?"
Aurora terdiam sejenak.
Ia menarik napas panjang sebelum mulai bercerita.
"Waktu itu kami berencana pergi ke mall kota buat beli hadiah ulang tahun anak teman Papi."
Aurora menunduk.
"Tapi tiba-tiba hujan salju turun sangat deras. Kami dan para pengunjung lain akhirnya terpaksa tinggal di mall selama tiga hari."
Lea mendengarkan dengan saksama.
"Setelah tiga hari, hujan salju berhenti. Kami berencana pulang, tapi hujan darah malah turun. Karena itu Mami dan Papi memutuskan untuk tetap bertahan di mall."
Aurora kembali menarik napas.
"Saat hujan darah berlangsung, tiba-tiba seluruh mall diterangi cahaya merah. Waktu Papi mau melihat ke luar, beliau langsung pingsan. Aku, Mami, dan Bang Evan juga ikut pingsan."
Aurora mengepalkan tangannya.
"Ketika kami bangun, semuanya berubah."
Suaranya mulai bergetar.
"Kami melihat banyak orang menggigit satu sama lain seperti kanibal."
Air mata mulai mengalir dari matanya.
"Papi langsung membawa kami kabur tanpa berpikir panjang."
Aurora mengusap air matanya.
"Tapi saat kami hampir berhasil keluar, ada zombie yang menyerang Mami."
Lea terdiam.
Tanpa sadar ia ikut menahan napas.
"Papi langsung mendorong Mami menjauh."
Suara Aurora mulai tersendat.
"Akibatnya... Papi yang digigit."
Air mata mengalir semakin deras.
"Di saat-saat terakhirnya, Papi cuma bilang kalau beliau sayang sama kami bertiga."
Aurora menangis.
"Beliau juga berharap kami bisa bertahan hidup sampai bencana ini berakhir."
Lea memandang gadis itu dengan iba.
Meski Aurora berusaha terlihat kuat, pada akhirnya ia tetaplah seorang gadis muda yang kehilangan ayahnya.
Lea mengusap kepala Aurora dengan lembut.
"Lo nggak usah takut lagi."
Aurora menoleh.
"Kalau lo ikut sama kami, kami bakal berusaha semampu mungkin buat menjaga lo tetap aman."
Aurora tersenyum tipis.
"Makasih ya, Kak."
Tatapannya dipenuhi rasa tulus.
"Aku benar-benar berterima kasih sama keluarga kalian karena mau menampung kami."
Lea mengangguk.
"Nggak usah dipikirin. Sekarang kita udah sama-sama."
Mereka lalu kembali mengobrol.
Tidak lama kemudian rasa kantuk mulai menyerang.
Aurora bersandar di bahu Lea.
Sedangkan Lea ikut memejamkan mata.
Tak lama, keduanya tertidur di luar bersama Lily.
Saat pagi tiba, Mommy Grace keluar dari campervan.
Begitu melihat ketiga gadis itu tidur di luar, ia hanya bisa menggelengkan kepala.
Benar-benar nggak ada takut-takutnya.
"Memangnya mereka pikir ini lagi piknik apa?"
Suara Tante Mauren tiba-tiba terdengar dari belakang.
Mommy Grace langsung terkejut.
"Eh, kodok! Eh, kodok meloncat ke kali! Ih, kamu nih, Ren! Bikin kaget aja!"
Mommy Grace mengusap dadanya kesal.
Tante Mauren hanya tertawa.
"Hehehe... maaf, Mbak. Aku nggak berniat ngagetin kok."
"Hemph."
Mommy Grace mendengus pelan.
"Ya udah. Ayo masak."
Tante Mauren langsung berdiri tegak.
"Siap, Mbak!"
"Ambil kompor portable, mi instan dua belas bungkus, gas dua tabung, sama isi air dari wastafel."
"Siap laksanakan!"
Tante Mauren langsung bergerak.
Tak lama kemudian suara mereka membangunkan Lily.
Lily mengucek matanya.
"Eh, Mom. Udah pagi ya? Maaf, Lily ketiduran."
Mommy Grace tersenyum.
"Nggak apa-apa. Kalau masih ngantuk tidur lagi aja."
Mommy Grace menunjuk campervan.
"Mommy masak dulu. Nanti kalau sarapan sudah siap, Mommy bangunin."
Lily menggeleng.
"Nggak usah, Mom. Lily udah nggak ngantuk."
Ia bangkit berdiri.
"Lily mau mandi dulu."
Setelah berkata begitu, Lily langsung masuk ke dalam campervan.
Begitu sampai di kamar mandi, ia segera masuk ke ruang dimensinya.
Di sana ia mandi dengan nyaman tanpa perlu khawatir kekurangan air.
Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, Lily kembali keluar.
Saat turun dari campervan, ia melihat seluruh keluarganya sudah berkumpul.
Termasuk Evan yang kini sudah sadar.
Lily sedikit tertegun.
"Eh, Evan. Lo udah sadar ternyata."
Entah kenapa wajahnya sedikit memerah saat mengingat kejadian semalam.
Sementara itu Evan tersenyum tipis.
"Iya."
Tatapannya penuh rasa terima kasih.
"Makasih ya udah nolong gue, Mami, sama Aurora."
Lily hanya mengangguk.
"Nggak usah dipikirin."
Setelah itu mereka duduk bersama untuk sarapan.
Suasana terasa hangat meski dunia di luar sedang kacau.
Setelah selesai makan, mereka membersihkan peralatan makan dan bersiap melanjutkan perjalanan.
Daddy Mike lalu bertanya.
"Kira-kira berapa lama lagi kita sampai tujuan?"
Lily membuka peta yang sudah dipelajarinya.
"Kalau berdasarkan peta, kita bakal sampai ke Pangkalan B sekitar satu hari lagi."
Semua orang memperhatikan penjelasannya.
"Kalau perjalanan lancar dan kita nggak banyak berhenti, kemungkinan besok subuh kita sudah sampai."
Semua orang mengangguk.
"Kalau begitu kita lanjut perjalanan sekarang."
Lily lalu bertanya.
"Siapa yang bakal nyetir?"
Daddy Mike menjawab.
"Athar yang mengemudi sampai sore. Nanti gantian Alex. Malamnya Mang Ujang."
"Baik."
Setelah semuanya siap, mereka kembali masuk ke dalam campervan.
Mesin kendaraan dinyalakan.
Perlahan campervan kembali bergerak meninggalkan tempat peristirahatan mereka.
Dengan harapan dan tujuan yang sama, mereka melanjutkan perjalanan menuju Pangkalan B.
Perjalanan panjang itu pun kembali dimulai.
Maaf bgt yaaa telat aku dari tadi pusing laptop aku gak bisa hidup kalo ngetik di hp lama jadi aku mau servis laptop dulu ya mungkin Selasa sudah bener kalo dia cepat yang benerin aku up kok maaf sekali lagi ya
See you next chapter guysss ☺️☺️☺️