NovelToon NovelToon
Gelora Cinta Dalam Dendam

Gelora Cinta Dalam Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:777
Nilai: 5
Nama Author: yourladysan

Rencana pernikahan Amaia dengan putra kedua keluarga Tedjakusuma berakhir sangat jauh dari impian indahnya. Pembatalan pernikahan dan menghilangnya sang calon suami membuat Amaia merasa sangat kecewa. Sementara di sisi lain, Widitama si putra tertua mengajukan diri untuk menggantikan sang adik sebagai suami untuk Amaia.

Amaia yang selama ini hanya menganggap Widitama sebagai kakak, harus pura-pura menerima pernikahan untuk mencari tahu kebenaran tentang pembatalan pernikahannya. Satu rahasia besar yang Amaia lewatkan adalah Widitama sudah lama mencintainya. Bisakah Amaia mengungkap kebenaran dan menerima perasaan Widitama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yourladysan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Karena Terbawa Suasana

Saat ciumannya kian dalam, Amaia memejamkan mata dan melingkarkan kedua lengannya pada leher Widitama. Untuk meningkahi perbuatan gadis itu, Widitama memagut bibirnya dengan sedikit kasar. Ia bisa merasakan jemari Amaia mencengkeram kuat lengan kemejanya.

Apa yang dipikirkan gadis ini? Widitama berusaha menerka-nerka. Karena tak mungkin Amaia melayangkan sebuah kecupan tanpa alasan. Apalagi jika mengingat sikapnya belakangan ini. Saat mengecupnya tadi, tak ada tanda-tanda perempuan itu tengah mabuk alkohol. Widitama hanya menemukannya dalam keadaan yang tampak kacau.

Ia bertanya-tanya, apa yang terjadi? Dan kenapa Amaia terlihat sangat emosional tadi?

Awalnya Widitama merasa kaget. Tapi karena Amaia begitu berani, ia tak mau membiarkannya lolos. Padahal berdosa sekali rasanya bagi Widitama saat menyentuh Amaia dengan sedikit paksaan.

Lagi pula dia sudah sepakat dengan dirinya sendiri untuk menyingkirkan hal-hal sepert itu. Kalau tidak, rencananya bisa gagal total.

Napas mereka menderu saling bertabrakan setelah ciuman itu terhenti. Widitama masih memejam saat ujung hidung bangirnya menempel dengan ujung hidung Amaia. Begitu pula sang istri yang masih menutup mata. Waktu terasa berjalan begitu lambat dan hanya deru napas kasar yang masih terdengar di antara mereka. Karena terbawa suasana, keduanya berciuman panas malam ini.

Detik berikutnya, Amaia mendorong pelan kedua lengan Widitama. Sepasang mata gadis itu menatap ke arah lain. Ke mana saja. Asal tidak pada kedua mata Widitama.

"A-aku turun dulu," ujar Amaia. Begitu pelan seperti setengah bergumam.

Tanpa berkata apa pun, dia melangkah menuruni anak tangga dan meninggalkan Widitama yang mematung di tempat.

Ketika berbalik, sepasang mata Widitama bertemu dengan kedua manik mata Denara. Adiknya itu memasang ekspresi datar yang tak mudah ditebak. Namun, selama ini Widitama tidak bodoh. Dari cara Denara bersikap, ia tahu ada yang tidak beres darinya.

Sebenarnya Widitama bisa saja yakin betul kalau Denara memiliki perasaan yang tak biasa. Namun, apa pedulinya? Ia tak tetarik pada perempuan yang juga menjadi target dalam menjalankan rencananya. Apalagi dia adalah anak Sasti Tedjasukmana. Tidak, tidak akan pernah.

"Mas Widi, tunggu." Denara menghentikan langkah Widitama yang hendak menuruni tangga. "Aku tau kamu nggak akan mau membahas ini, tapi aku masih pensaran. Kamu beneran serius ingin bertanggung jawab atas apa yang dilakukan Kak Rakha? Itu semua bukan ulahmu, kan? Kenapa kamu yang akhirnya harus menikahi jal—maksudku aku Amaia?" Nada bicaranya terdengar penuh kekesalan.

"Kalau sudah tau saya nggak mau bahas, kenapa masih bertanya segala?" Jawaban super dingin dari Widitama membuat Denara terkesiap.

"Mas ...." Suara dibuat sepelan dan semanja mungkin.

Dari dulu Widitama tak pernah menganggap Denara dan Rakha sebagai adik. Tak pernah sama sekali. Ia lakukan hanya demi sebuah tujuan.

Denara menyentuh lengan Widitama. Namun, pria itu menepisnya dengan agak kasar. "Sepertinya kamu ini salah paham. Kata siapa saja bertanggung jawab atas apa yang dilakukan kakakmu itu?"

"Kalau bukan begitu terus kenapa?" Sorot mata Denara terlihat penuh harap cemas. Ia menggigit bibir setengah panik. "Kak Rakha sekarang kabur dan gagal memenuhi keinginan papa. Kata mama, pasti ayah menyuruh kamu menggantikan Kak Rakha untuk mendapatkan kepercayaan Amaia dam Tante Atika."

Sepasang mata Widitama menatap datar. Gadis ini terlalu cerewet, pikir Widitama. Sekali lagi ditepisnya tangan Denara yang hendak meraih lengan kirinya.

"Silakan kamu berpikir seperti apa pun. Tapi yang pasti, saya nggak datang sebagai pahlawan yang menyelamatkan nasib biang onar itu," ucapnya sembari mengingat wajah Rakha. "Saya menikah dengan Amaia karena saya mau. Karena keputusan saya sendiri."

"A-apa? Tapi kenapa ....?"

"Kamu nggak berhak mendengar penjelasan apa pun dari saya."

Tanpa Widitama sadari, kalimat tajamnya menusuk tepat rongga dada Denara. Ia melangkah menuruni anak tangga tanpa peduli lagi pada saudaranya.

...*****...

Sudah cukup lama Widitama tak duduk di ruang keluarga rumah utama Tedjakusuma. Kini ia duduk kembali bersama Amaia di sisi kirinya. Dulu dia pikir Amaia akan tetap bodoh dan duduk di sana bersama Rakha. Tapi syukurlah Rakha yang tak kalah tol*l itu ternyata membukakan jalan untuknya.

Ferdian menyesap tehnya. Sesekali Widitama melirik Amaia yang tampak mati-matian menahan diri untuk bersikap manis di depan mereka. Orang-orang yang penuh dengan topeng. Amaia tak pernah tahu, Widitama sudah lebih lama berpura-pura.

"Jadi bagaimana, Amaia? Kalian ini kan pengantin baru. Pasti harus ada plan untuk honeymoon. Ayah bisa atur tempatnya, di manapun kalian mau. Luar negeri mungkin?" Ferdian angkat bicara lagi setelah sebelumnya mulai membuka obrolan tentang rencana bulan madu pasutri baru.

"Em, sebenarnya dalam waktu dekat aku nggak bisa pergi."

Ucapan Amaia membuat Sasti dan Ferdian bertukar pandang. Hanya Denara—yang sudah bergabung—yang terlihat tak minat dengan obrolan itu.

Amaia melanjutkan, "Seperti yang Ayah tau, di kampus aku sedang sibuk dengan Tugas Akhir. Aku pengen fokus dulu ke sana dan ingin lulus."

"Soal itu gampang. Ayah bisa atur dengan pihak kampus," kata Ferdian.

Widitama menyeringai di balik gelas tehnya. Lihatlah Ferdian Tedjakusuma yang selalu berlagak bisa mengatur segala hal. Karena memiliki kekuasaan dan uang, ia merasa segala hal atau semua orang bisa tunduk pada dirinya.

"Terima kasih, tapi kali ini aku benar-benar ingin mengusahakannya sendri, Ayah," tukas Amalia.

"Ayah nggak perlu cemas tentang bulan madu." Widitama angkat bicara seraya meletakkan cangkir tehnya. "Percayakan saja pada kami. Setelah Amaia siap dan punya waktu yang cukup, saya akan mengajaknya pergi."

Ketika Widitama menoleh padanya, Amaia tersenyum. Ya, Widitama tahu itu senyum yang hadir karena terpaksa.

"Mas Widi benar," kata Amaia, "Ayah nggak perlu khawatir tentang itu. Lagi pula, Mas Widi pasti akan mengusahakan hal seperti itu untuk kami. Iya, kan, Mas?"

Astaga, dia panda sekali berakting, batin Widitama. Tanpa berkata apa pun, Widitama mengangguk.

Sejak tadi hanya menyimak, Sasti pun angkat bicara. "Ya mau gimana lagi, Mas?" tanyanya seraya melirik sang suami. "Kita harus menghargai keputusan Amaia. Ini kan demi pendidikan dia juga dan beberapa kali Amaia sering cerita padaku, bahwa dia hanya ingin segera lulus. Dia ingin membanggakan kita semua. Iya, kan, Sayang?"

Amaia tersenyum tipis. "Iya, Ma."

Mungkin hanya perasaannya saja, Widitama mendengar nada bicara Amaia begitu berat saat menyebut kata 'Ma'. Widitama berani bertaruh, setelah mendengar hasil rekaman itu, Amaia pasti sangat membenci ibu mertuanya.

"Kalau itu mau kalian, ya sudah, Ayah nggak akan memaksa. Asalkan kalian memberi kabar kalau ingin pergi," kata Ferdian. Sepasang matanya melirik Denara. "Oh ya, Dena? Bagaimana dengan progres pemotretanmu? Apa kamu belum bosan? Perusahaan Ayah selalu terbuka kalau kamu ingin bekerja di sana."

Semua mata kini beralih pada Denara yang terlihat ogah menyimak. Ia mengibaskan tangan di depan wajah. Sasti langsung melirik ketus karena sikap tak sopan putrinya.

"Aku baru mulai menekuni dunia modeling, Yah. Jangan minta aku cepat-cepat pindah ke bidang lain," tukas Denara.

"Besok kamu ada jadwal? Kalau nggak ada, kamu ikut Ayah."

"Apa? Ke mana?" Denara terlihat tak nyaman.

Ferdian bangkit dari tempat. "Ketemu teman kerja ayah. Anaknya ingin berkenalan dengan kamu. Besok sopir akan menjemputmu." Tanpa mau berdebat lagi, Ferdian berjalan menjauh dari ruang keluarga.

"Ma!" Denara berteriak jengkel. "Aku nggak mau! Aku nggak suka dikenalin sama anak temennya Ayah. Mama tau apa maksudnya, kan? Ayah pasti mau jodohin aku. Aku nggak mau, aku punya pria yang aku suka." Kedua matanya meliri Widitama sebentar.

Sasti menghela napas. "Jangan banyak protes dan ikuti saja perintah ayahmu."

Denara beranjak setengah jengkel saat menatap ibunya. "Kenapa aku harus patuh? Kak Rakha bisa melawan ayah! Kenapa dia bisa nggak patuh? Sedangkan aku harus?!" tanyanya. Nada bicara Denara sedikit meninggi.

Tak ada tanggapan dari ketiga orang yang ada di sana karena nama Rakha dibawa-bawa. Sesaat berikutnya, Sasti mendongak murka pada sang putri sulung. Di tempat duduk mereka, Amaia dan Widitama hanya menyimak.

"Tutup mulutmu, Denara! Jangan bahas anak itu sekarang. Semua orang sedang kecewa oleh tingkahnya. Kamu nggak memikrikan Amaia yang sedang di sini? Kamu nggak usah bahas-bahas itu lagi," sergah Sasti.

Sorot mata Widitama tampak datar saat menatap Sasti. Bahkan di situasi seperti ini, Sasti masih memakai topeng. Dia hanya tak tahu bahwa topeng itu telah retak, hancur, dan terlepas di hadapan Widitama dan Amaia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!