Mengisahkan tentang dua orang anak kembar yang memilki dunia yang sama. Karena sejak kecil mereka memang tidak pernah terpisahkan.
Rean Arya Partama, kakak dari Sean Kingston yang terkenal sebagai dokter playboy, padahal dirinya bahkan tidak pernah berpacaran sebelumnya. Sosok hangat yang selalu menjadi partner terbaik dalam hidup adik kembarnya, Sean.
Sean Aryo Pratama, seorang dokter muda yang memiliki kesabaran seluar lautan, namun berubah menjadi dingin saat sebuah kecelakaan merenggut seluruh masa depannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tessa Amelia Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 31
Kini mereka sudah berada di depan mess karyawan perempuan, baik Sean maupun Embun masih sama-sama diam.
"Pak-"
"Embun-" ucap mereka bersamaan membuat keduanya merasa canggung.
"Kamu dulu." kata Sean.
"Gak apa-apa, bapak aja duluan." jawab Embun menghormati.
"Saya minta maaf, atas perbuatan saya selama ini." ujar Sean setelah memikirkan semuanya.
"Minta maaf untuk apa, Pak?" tanya Embun tidak mengerti.
"Maaf untuk semua rasa marah, benci dan kecewa saya salama setahun lebih ini terhadap kamu. Seharusnya kamu tidak menerima kebencian itu." katanya menatap Embun dengan tatapan dalam.
Sejenak Embun terhanyut oleh tatapan dalam itu. Tapi seperti ada sesuatu yang sulit untuk di jelaskan olehnya.
"Bukan salah bapak. Karena semua ini kemauan bapak. Lagi pula saya tidak tau apa yang terjadi pada bapak. Tapi, atas nama saya pribadi seharusnya saya yang minta maaf ke bapak atas kerugian bapak akibat perbuatannya." ucap Embun yang bahkan sangat enggan menyebut nama perempuan itu.
"Kalau boleh tau, memangnya kenapa pak? Apa yang terjadi?" tanya Embun penasaran.
"Ini sudah malam. Cepat masuk ke kamar kamu, mandi dan istirahat. Besok kalau masih belum stabil libur saja."
"Saya baik-baik, aja kok Pak. Btw makasih untuk apa yang terjadi malam ini. Kalau bapak gak keberatan saya mau traktir bapak makan malam, gimana?" tawar Embun yang berusaha untuk membalas budi atas perbuatan Sean padanya.
"Kapan?" tanya Sean langsung.
"Kapan bapak bisanya?" tanya Embun balik.
"Sabtu ini. Kamu yang pilih tempatnya atau saya?" terjadi tanya jawab di antara mereka saat ini.
"Bapak aja yang milih tempatnya." jawab Embun lagi.
"Baik kalau begitu. Saya jemput kamu pukul 7 malam di sini."
"Oke. Kalau begitu saya pamit, Pak. Sekali lagi terima kasih." ucap Embun memberikan rasa hormatnya pada Sean.
Dia turun dari mobil mewah itu. Membiarkan Sean pergi setelah mengantarkannya pulang. Namun, baru saja dia berbalik setelah berpamitan pada Sean, kedua temannya sudah langsung menyergapnya.
"Nah, loh! Ketahuan, kan?"
"Astaga!" Embun terkejut saat melihat Fika dan Tasya yang sudah berada di belakangnya saat ini.
Bagaimana bisa mereka disini? Atau jangan-jangan mereka tau jika yang mengantarnya pulang tadi Sean? bagaiman ini?
"Itu tadi siapa? mobilnya ganteng banget. Pasti orangnya juga ganteng kan? Hayo ngaku, itu siapa?" cecar Fika ingin meminta penjelasan dari Embun.
"Tapi tunggu, pipi kamu kenapa? Atau jangan-jangan di tampar itu cowok ya? Kalau gituu gak usah deketin dia lagi! Pokoknya lu harus jauhin tuh cowok! Harus!" ucap Tasya melihat pipi Embun yang lebam.
"Udah, dia orang baik. Ini perbuatan istri papa. Tadi aku berantem sama dia."
"Lah, kok bisa? Terus gimana?" tanya Fika terkejut.
"Udah, besok aja ceritanya. Sekarang ayo masuk, besok kita kerja."
"Tapi itu cowok siapa? ganteng gak? jelasin sekarang gak?"
"Gak! Dia bukan siapa-siapa dan cuma kebetulan kenal aja." jawab Embun santai, tanpa ingin menanggapi teman-temannya lagi.
Sedangkan Sean, dia baru saja kembali dan sampai di rumahnya. Tak lama Rean juga pulang.
"Lembur lagi?" tanya Rean melihat Sean yang baru saja keluar dari mobilnya.
"Gak!"
"Lah, terus dari mana?" tanya Rean penasaran.
"Apa aku harus menjelaskan semuanya? Kamu saja boleh pacaran, kenapa aku tidak?" jawabnya santai membuat Rean terkejut.
Apa kata Sean tadi? pacaran? apa dia sudah ada perempuan baru yang mencuri hati adiknya yang dingin ini?
Sadar akan reaksi Rean yang berlebihan membuat Sean langsung memberi peringatan padanya.
"Jangan ikut campur! Aku masih mencobanya." kata Sean datar.
Tapi bukan Rean namanya jika dia tidak ingin tau lebih jauh lagi.
"Ibu....Sean punya pacar, Ibu!!!!" teriak Rean memanggil ibunya yang langsung keluar saat mendengar teriakan dari anaknya.
Sean langsung sigap membekap mulut Rean yang ingin membocorkan semuanya. Rean ini benar-benar sangat menyebalkan sekali menurutnya.
"Hemmm...ibu, tolong ibu..." gumam Rean yang mendapatkan dekapan oleh Sean.
"Ada apa ini?" tanya ibunya panik melihat kedua anaknya berkelahi begitu.
"Sean, ada apa ini? kenapa Rean begitu?"
"Aku akan merobek mulutmu jika bicara yang tidak-tidak lagi!" ucapnya dengan penuh ancaman membuat Rean semakin tidak takut untuk itu.
"Coba saja!" tantang Rean tanpa rasa takut.
Saat Sean ingin memberi pelajaran pada Rean, tiba-tiba saja dia berteriak keras membuat semuanya langsung panik.
"Aahhhkkk..." Sean berteriak memegangi tangan kirinya yang membuat Rean langsung panik.
Begitu juga dengan ibu dan Papa-nya. Siapa yang tidak panik melihat Sean yang kesakitan begitu.
"Sean, kamu kenapa nak?" tanya ibunya panik.
"Sean, kita ke rumah sakit sekarang!" ujar Papa-nya cepat.
Rean membantu Sean untuk berdiri dan mereka pergi ke rumah sakit. Mereka benar-benar panik melihat Sean yang kesakitan begitu.
***
jevan lho up sn... kok trs di tgl kn
eee jevan noh