Patah hati setelah memergoki kekasih yang begitu ia cintai berselingkuh di belakangnya, membuat Kanaya menyerah pada keadaan. Dengan hati yang masih terluka dan kecewa, ia akhirnya menerima perjodohan yang sejak lama telah direncanakan oleh kedua orang tuanya dengan seorang pria bernama Rafael. Seorang pria tampan namun dingin, tenang, dan sulit di tebak.
Bagi Kanaya, pernikahan itu hanyalah jalan pelarian untuk mengubur rasa sakit hatinya. Namun, siapa sangka dibalik sikap Rafael yang kaku dan tak perduli, tersimpan ketulusan yang perlahan mampu membuat hati Kanaya kembali percaya pada cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noor.H.y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16. Perhatian
Menjelang pagi, sinar matahari menembus tipis di balik tirai, menyelinap di sela-sela tirai kamar hotel dan menciptakan garis-garis cahaya lembut di atas lantai.
Hawa pagi yang masih dingin berpadu dengan rasa lelah setelah rangkaian acara panjang kemarin membuat Kanaya enggan membuka matanya. Ia hanya menggeliat pelan, masih setengah terlelap, lalu tanpa sadar mengeratkan pelukannya pada sesuatu yang terasa nyaman.
Namun sesaat kemudian dahinya berkerut. Benda yang dipeluknya terasa berbeda. Bukan empuk seperti bantal guling, melainkan hangat, kokoh, dan samar-samar menguar aroma sabun serta parfum maskulin yang menenangkan.
Kanaya mengusap pelan dengan pipinya, masih belum benar-benar sadar. Jari-jarinya bahkan bergerak sedikit, mencengkeram kain kaos yang dikenakan sosok di hadapannya.
Beberapa detik berlalu. Lalu kesadarannya perlahan kembali.
Ia membuka sebelah matanya, kemudian yang satunya lagi.
Pandangan yang masih buram itu perlahan menjadi jelas.
Tepat di depannya, wajah Rafael berada hanya beberapa sentimeter darinya. Pria itu masih tertidur lelap dengan napas yang teratur, sementara salah satu lengannya tanpa sadar melingkar longgar di pinggang Kanaya.
Kanaya membeku. Otaknya seakan berhenti bekerja. Dalam sekejap, rasa kantuknya menghilang tanpa sisa.
Matanya membulat, ia mencoba mundur perlahan, tetapi justru merasakan pelukannya sendiri yang masih erat di pinggang Rafael.
Wajah Kanaya memanas hingga ke telinga. Dan pada detik berikutnya, sebuah teriakan nyaring memecah keheningan pagi.
"AAAAAA!"
Suara itu membuat Rafael yang semula masih tertidur langsung mengerjapkan mata dengan kaget, sementara Kanaya sudah bergeser sejauh mungkin di atas ranjang, memeluk bantal dengan wajah merah padam, menatap Rafael seolah baru saja melihat sesuatu yang paling memalukan dalam hidupnya.
Rafael yang semula masih tertidur langsung tersentak bangun. Dengan rambut sedikit berantakan dan mata yang masih setengah terpejam, ia menoleh ke kanan dan kiri sebelum akhirnya memandang Kanaya.
"Ada apa sih ?" tanyanya dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.
Kanaya hanya menunjuk ke arahnya dengan tangan gemetar.
"Ka-kamu ngapain peluk-peluk aku ?!"
Rafael mengernyit bingung. Ia mengikuti arah pandangan Kanaya, lalu menunduk melihat posisi mereka beberapa saat yang lalu. Sekilas ia melirik bantal guling yang kini tergeletak di lantai.
Rafael mengusap wajahnya pelan sambil menarik napas panjang.
"Kamu lupa ? Atau pura-pura nggak ingat ?" kata Rafael, "Kamu sendiri yang peluk saya, seperti kucing yang mencari kehangatan di malam hari." lanjutnya.
Kanaya melebarkan matanya, bibirnya mengerucut tak terima mendengar ucapan Rafael yang menurutnya mengada-ngada.
"Nggak usah asal bicara ya kak !. Enak aja ngatain aku kucing haus belaian, eh maksudku kedinginan." sanggah Kanaya.
"Tadi malam jelas-jelas, aku sudah kasih pembatas di tengah." Kanaya kembali melirik kebawah dimana batal guling itu sudah tergeletak di bawah. "Bisa-bisanya bantalnya udah pada di bawah gini," lanjutnya.
"Dasar modus. bilang aja mau curi-curi kesempatan kan ?! Ngaku aja deh," tunjuk Kanaya, dengan tatapan curiga.
Rafael menaikkan alisnya, "Ck.. Ngapain modus. Kalau pun iya juga tidak masalah sudah sah juga." balasnya datar.
Lalu bangkit dari tidurnya, dan berjalan menuju kamar mandi. Meninggalkan Kanaya yang masih menatapnya kesal duduk di atas ranjang.
Kanaya merebahkan kembali tubuhnya di atas ranjang, "Apa iya aku tanpa sadar meluk dia gitu." gumamnya "Aaakh.. Kanaya, bisa-bisanya sih kamu malah keliatan nyaman banget sih tadi di pelukan dia."
Ia menutup mukanya memakai bantal, kakinya menendang-nendang udara. Mencoba untuk menyingkirkan rasa malu yang sejak tadi menerpanya.
* *
Beberapa menit berlalu, pintu kamar mandi terbuka perlahan.
Kanaya melangkah keluar sambil mengeringkan ujung rambutnya dengan handuk kecil. Wajahnya tampak lebih segar setelah mandi.
Di saat yang hampir bersamaan, terdengar suara klik dari arah pintu kamar.
Rafael berjalan masuk membawa sebuah totebag.
"Siapa yang datang pagi-pagi ?" lirih Kanaya.
"Staf hotel mengantar ini," balas Rafael, menyodorkan totebag yang dibawanya.
"Ini.."
"Baju ganti untukmu," katanya pelan. "Bersiaplah, saya tunggu dibawah untuk sarapan." lanjutnya.
Rafael mengambil ponselnya, lalu berjalan keluar dari kamar.
Kanaya membuka totebag berisikan baju baru, yang entah kapan lelaki itu pesankan untuknya.
"Not bad. Ternyata dia cukup perhatian juga." lirihnya, mengendikan bahunya dengan sudut bibirnya sedikit terangkat.
* *
Kanaya melangkah pelan di antara deretan meja restoran yang mulai dipenuhi tamu hotel. Dress selutut berwarna peach yang dikenakannya bergerak lembut mengikuti langkahnya. Rambut panjang yang dibiarkan tergerai dengan sebuah jepit kecil di salah satu sisi membuat penampilannya terlihat sederhana, tetapi anggun.
Beberapa tamu sempat melirik sekilas ke arahnya sebelum kembali melanjutkan aktivitas masing-masing.
Di sudut restoran, Rafael yang sejak tadi duduk sambil menunggu tanpa sadar menghentikan gerakan tangannya. Tatapannya mengikuti setiap langkah Kanaya yang semakin mendekat.
Dress yang semalam dipilihnya dengan asal karena merasa warna itu cocok, ternyata terlihat jauh lebih indah saat dikenakan Kanaya.
"Cantik." Itulah kata pertama yang muncul di benaknya.
Namun seperti biasa, wajah Rafael tetap datar seolah tidak ada yang istimewa.
Kanaya berhenti di depan meja mereka. "Maaf lama, Kak," ucapnya pelan sambil tersenyum tipis.
Rafael baru tersadar dari lamunannya. Ia berdeham pelan lalu menarik kursi di hadapannya.
"Duduk."
Kanaya mengangguk dan duduk dengan rapi.
Kanaya yang baru saja duduk langsung membulatkan matanya.
Di atas meja telah tersusun berbagai hidangan, mulai dari nasi goreng seafood, omelet keju, dimsum hangat, salad buah, roti panggang dengan selai stroberi, kentang wedges, hingga segelas jus jeruk dan secangkir cokelat hangat.
Ia mengedarkan pandangan perlahan, lalu menoleh kepada Rafael.
"Kakak yakin... pesan sebanyak ini?"
Rafael yang sedang menuangkan teh ke dalam cangkirnya menjawab santai, "Iya."
Kanaya kembali memperhatikan satu per satu hidangan di depannya.
Semakin lama, ekspresinya berubah menjadi heran. Hampir semuanya adalah makanan yang ia sukai.
Nasi goreng seafood tanpa acar, omelet dengan keju yang banyak, jus jeruk tanpa gula, bahkan roti panggang dengan selai stroberi yang selalu menjadi pilihan sarapannya.
Senyum kecil tanpa sadar menghiasi wajahnya.
"Kok kakak bisa tau.." gumamnya pelan.
Rafael mengangkat sebelah alisnya.
"Tau apa ?"
"Ini hampir semuanya makanan favorit aku. Pasti Keisya yang kasih tau kakak ya ?"
Rafael terdiam sesaat, lalu mengambil garpu seolah pertanyaan itu tidak penting.
"Tidak," sanggahnya "Kebetulan saja."
Kanaya menatapnya dengan tatapan penuh selidik.
"Kebetulan yang terlalu tepat."
Rafael tetap memotong omelet di piringnya tanpa mengangkat kepala.
"Saya cuma pesan yang menurut saya enak."
Kanaya masih belum mengalihkan pandangannya. Sulit baginya percaya semua itu hanya kebetulan.
Ia teringat beberapa hari sebelum pernikahan, saat keluarganya beberapa kali makan bersama keluarga Rafael. Mungkin tanpa ia sadari, pria itu memperhatikan apa yang sering ia ambil di meja makan.
Pikiran itu membuat sudut bibirnya kembali terangkat.
Diam-diam, Rafael ternyata jauh lebih perhatian daripada yang ia tunjukkan.
Melihat Kanaya terus tersenyum sendiri, Rafael akhirnya melirik sekilas.
"Kalau terus dilihat, makanannya keburu dingin."
Kanaya terkekeh pelan. "Iya."
Ia mulai menyantap sarapannya dengan lahap, sementara Rafael diam-diam memperhatikan ekspresi puas di wajah Kanaya.
Tanpa sepengetahuan Kanaya, sudut bibir Rafael ikut terangkat tipis.
* *
Setelah selesai makan, Rafael pamit sebentar untuk mengangkat telpon pentingnya. Sedangkan Kanaya masih duduk disana sembari menikmati roti panggang stoberi kesukaannya.
Namun, ia meletakkan rotinya saat ponselnya berdering.
Kanaya segera mengusap ujung bibirnya dengan tisu, lalu meraih ponsel yang tergeletak di samping piring.
Senyum kecil namun terlihat sedikit meledek, langsung terukir saat wajah Keisya muncul di layar.
"Pagi, pengantin baru," goda Keisya dengan senyum jahil. "Gimana kejutannya ? Suka kan ?" ia tertawa di ujung telponnya.
Kanaya melebarkan matanya, refleks melirik ke sekitar memastikan Rafael belum kembali, lalu menjawab pelan,
"Heh.. Dasar sahabat durjana, luknut, bisa-bisanya ya kamu ganti semua baju aku dengan baju haram itu !" geram Kanaya, namun malah membuat Keisya meledakkan tawanya.
"Loh, itu namanya sahabat yang baik dan pengertian tau. Terus gimana malam pertama kalian?"
Kanaya yang sedang meneguk jus jeruknya hampir tersedak. Ia buru-buru menutup mulut sambil batuk kecil.
"Keisya!"
Keisya malah tertawa terbahak-bahak.
"Serius nih. Aku penasaran."
Pipi Kanaya memerah. Ia semakin geram, karena sahabat yang juga adik iparnya sekarang tak henti menggodanya.
"Nggak ada apa-apa."
"Hah?"
"Kamu pikir kita ngapain, hem? Kita cuma tidur, dan apa yang ada di otakmu itu semuanya lebih baik di buang jauh-jauh aja."
"Yah.. Gagal dong."
"Apanya yang gagal."
"Gagal cetak Rafael dan Kanaya juniornya."
"Keisya !!" geram Kanaya, lalu mematikan panggilannya sepihak. Lalu meneguk kembali jus jeruk miliknya.
"Kenapa Keisya ?" tanya Rafael yang tiba-tiba ada di belakangnya, membuat Kanaya hampir kembali tersedak minumannya.
"Nggak papa. Sudah selesai ?" Kanaya menatap Rafael di hadapannya.
Rafael mengangguk, "Ayo bersiap, kita pulang sekarang."
"Sekarang ?"
* * * *
skrng psah kmar,tar lma2 jg dia dtng sndri.....🤭🤭🤭...
yg ngsih btas spa,yg lmpar bntal spa...
tp gengsi buat ngaku sih.....
Aku udh mmpir....slm knal....
btw,gmna nih mlm prtmanya???
bkln perang atw sling adu punggung???atw yg 1 tdr d rnjang,yg 1 d sofa....🤣🤣🤣